Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 210 "Merebut kebahagian orang lain"


__ADS_3

Sheila kini sedang menghapus air matanya, setelah berdebat dengan Raka yang berujung dengan tidak terpenuhi keinginan sang buah hati. Ayah dari anak yang ada di dalam kandungannya itu dengan tega tidak mau mencari apa yang ia inginkan, bahkan Raka dengan terang-terangan mengatakan kalau ia tidak mengharapkan kehadiran anak yang Sheila kandung.


Sakit, itu yang Sheila rasakan saat ini. Jika kebanyakan wanita hamil akan bermanja kepada suaminya, tapi ia berbeda. Suaminya bahkan tidak peduli kepada ia dan bayi yang ia kandung.


Sheila menumpahkan semua kesedihan di hatinya, wanita itu menangis sejadi-jadinya di dalam toilet karena hanya di sinilah ia bisa menangis tanpa diketahui orang lain.


"Kamu jahat mas Raka, kenapa kamu jadi seperti ini. Dulu kamu sangat perhatian kepadaku. Bahkan kamu rela mengabaikan Kasih demi diriku, tapi sekarang kenapa kamu malah memihak Kasih kembali." Tangis Sheila.


Tanpa Sheila ketahui ada seseorang yang sedari tadi mendengar ucapannya itu, dengan senyum mengejek wanita itu mendekati Sheila yang sedang membasuh wajahnya.

__ADS_1


"Seharusnya kamu sadar shei, bahwa ini adalah karma untukmu. Dulu kamu merebut Raka dari Kasih di saat Kasih sedang mengandung, tanpa belas kasihan kamu menyakiti wanita yang sedang mengandung. Bukan cuma satu hati yang kamu sakiti tapi tiga hati Sheila. Dengan teganya kamu merebut seorang suami dari istrinya, dan akibat perbuatanmu ini ada dua orang anak yang kehilangan kasih sayang ayahnya. Jadi jangan merasa paling tersakiti karena apa yang kamu rasakan sekarang adalah hasil dari perbuatanmu dulu. Jangan harap akan ada bahagia dalam hidupmu jika kamu bahagia karena merebut kebahagian orang lain. Seharusnya kamu sadar dan bertaubat, bila perlu minta maaflah kepada Kasih, wanita yang kamu hancurkan kebahagiannya." Tutur Fitri.


Setelah menasehati Sheila, Fitri segera meninggalkan rekannya itu. Ia tidak terlalu ambil pusing, apakah Sheila menerima nasehat dan sarannya. Bagi Fitri dia sudah mencoba mengingatkan kalau tidak mau mendengar, ya tinggal tunggu saja kehancuran dalam hidupmu begitulah pikiran wanita itu.


Sheila hanya menatap tajam kepergian rekannya itu, tangannya terkepal kuat menahan emosinya mendengar semua perkataan Fitri. Sheila tidak terima ketika Fitri menyuruhnya meminta maaf kepada Kasih, wanita itu semakin menaruh dendam dengan mantan istri suaminya itu.


Sedangkan di dalam ruangan CEO lebih tepatnya di ruangan istirahat Arkan, seorang wanita yang tadinya sibuk di dunia mimpi kini mengerjapkan matanya, berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.


"Astaga sudah hampir jam lima sore, ternyata aku sudah tertidur lama." Ucap Kasih sembari membenarkan penampilannya yang sedikit berantakan.

__ADS_1


"Ibu mau kemana?" Tanya Sekretaris Arkan yang melihat istri bosnya keluar dari ruangan Arkan.


"Saya mau pulang, sepertinya suami saya masih lama jadi saya pulang duluan saja." Ucap Kasih tersenyum kepada sekretaris suaminya itu.


"Jangan buk, bapak tidak mengizinkan ibu pulang sendiri. Jadi lebih baik ibu kembali keruangan bapak, apa ibu Kasih menginginkan sesuatu?" Tanya sang sekretaris mencoba menahan istri bosnya itu.


"Tapi saya sudah bosan disini, jadi saya pulang saja. Kamu tidak usah khawatir." Ucap Kasih melihat raut wajah gusar sang sekretaris.


Like, komentar, vote, dan hadiahnya jangan lupa. kok makin sepi sih ... hehehe

__ADS_1


__ADS_2