
Arkan dan Kasih sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar. Keduanya menghabiskan waktu berdua sembari menonton televisi. Semenjak hamil Kasih menjadi semakin manja seperti saat ini ia tengah menikmati cemilan sembari menonton drama Korea favoritnya sedangkan Arkan dengan setia menemani sang istri yang sedang asyik menikmati tontonannya.
Ketika Kasih fokus dengan televisi yang ada di depannya berbeda dengan Arkan yang sedari tadi hanya menatap penuh cinta kepada istrinya. Semakin hari badan wanita yang ada di sampingnya itu semakin berisi, tapi Arkan tidak mempermasalahkan itu, selain baik untuk kandungan Kasih, di mata laki-laki itu Kasih semakin imut dan menggaskan.
"Sayang, tadi Sheila sudah sidang putusan dan dia di hukum lima belas tahun penjara. Kata pengacara keluarga kita dua Minggu lagi baru sidang kasus penganiyaan yang ia lakukan. Pengacara kita juga memberi surat yang di titipkan Sheila untuk kamu. Sepertinya dia sudah menyesali semua perbuatannya sayang, maaf tadi mas baca suratnya. Mas takut isi surat itu adalah ancaman untuk kamu." Ucap Arkan memberitahu, tak lupa ia menampilkan senyumnya karena sudah lancang membaca surat untuk istrinya
"Oh ya, kalau begitu mana suratnya mas?" Pinta Kasih mengulurkan tangannya.
"Sebentar" Arkan pergi mengambil surat tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai membaca surat dari wanita yang pernah merusak kebahagiannya itu, Kasih menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Dalam surat tersebut Sheila meminta maaf kepada Kasih karena sudah merusak rumah tangganya dan mengakui semua kesalahannya. Membuat Kasih merasa iba, apalagi teringat Sheila juga sedang mengandung.
Kasih sangat kasihan dengan nasib anak Sheila, anak yang tidak tahu apa-apa dan tidak berdosa itu harus ikut menanggung penderitaan akibat perbuatan orangtuanya.
Hamil di dalam penjara, dan ketika lahir nanti Sheila harus berpisah dari anaknya. Karena kemungkinan besar anak itu akan di asuh Raka dan keluarga, tidak mungkin pihak rutan membiarkan seorang bayi hidup di dalam rutan, apalagi masih ada keluarga yang pantas merawatnya.
"Mas aku Kasihan dengan Sheila, apalagi dengan nasib anaknya. Hukuman yang ia jalani sangat lama ya mas, pasti setelah ia melahirkan ia juga harus rela merelakan anaknya di asuh oleh mas Raka." Ucap Kasih yang masih terisak.
"Ya mau bagaimana lagi sayang, semuanya terjadi karena ulahnya juga." Ucap Arkan.
__ADS_1
"Tapi aku yakin mas, Sheila melakukan itu karena ia sedang emosi dan gelap mata. Aku yakin dia tidak ada niat untuk membunuh, semuanya terjadi karena emosi yang tidak bisa ia kendalikan. Aku tahu bagaimana rasanya saat melihat suami kita sedang bersama dengan perempuan lain. Dulu aku juga menghajar Sheila habis-habisan untung Kakaknya mas Raka menghentikan aku mas, kalau tidak mungkin sheila habis di tanganku." Ucap Kasih mengingat kembali dimana ia menghajar Sheila ketika menangkap basah Raka dan Sheila di hotel.
Arkan tersenyum membayangkan wanita lemah lembut yang ada dalam pelukannya ini, berubah menjadi singa betina, karena Arkan sudah pernah merasakan amukan dari istrinya.
"Mas bolehkah aku meminta sesuatu?" Ucap Kasih.
"Kamu mau meminta apa sayang, jangan bilang kamu ingin kasus ini di cabut." Tebak Arkan melihat gelagat sang istri.
Kasih tersenyum karena apa yang ada di dalam otaknya sudah di tangkap oleh suaminya.
__ADS_1