
Tangis mama Risma semakin menjadi setelah mendengar perkataan sang Dokter "Ibu harus sehat, jangan tinggalkan Risma Bu, siapa lagi yang menemani Risma kalau ibu pergi, menantuku sudah tidak mau tinggal di sini." ucap mama Risma dengan sengaja agar Kasih semakin bersalah.
Nenek Murni mengelus tangan menantunya itu tak lupa dengan napas yang di buat seolah sesak agar menambah suasana menakutkan. Kasih mendekat dan duduk di samping nenek Murni, wanita itu juga tidak dapat menahan air matanya kala melihat kondisi nenek Murni, di tambah rasa bersalah dalam dirinya karena ia dan Arkan adalah penyebab sakit nenek kambuh.
"Nek maafkan Kasih ya, karena Kasih nenek jadi sakit seperti ini."
"Jangan salahkan dirimu sayang, ini semua salah anak bodoh itu. Nenek mohon jangan pergi dari rumah ini, kalau kamu tidak nyaman tidur di kamar anak bodoh itu, kamu bisa tidur di kamar lain dan tidak usah mau sekamar dengannya. Agar ia tahu rasanya jauh darimu." Pinta nenek Murni dengan suara yang sangat pelan.
Kasih mengangguk dan menanyakan kepada mertuanya apakah nenek Murni sudah makan atau tidak. Mama Risma hanya menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau mertuanya itu tidak mau makan semenjak Kasih meninggalkan rumah. Kasih terkejut dan menatap nenek Murni dengan rasa bersalah, setelah itu Kasih pergi ke dapur dan mulai memasak bubur untuk nenek Murni.
Papa Arman dan Bayu tidak dapat menahan tawa mereka selepas Kasih pergi meninggalkan kamar itu, tidak menyangka kalau mama Risma sangat hebat memainkan perannya, tapi berbeda dengan nenek Murni yang melemparkan bantal kepada menantunya itu.
"Aduh..., ibu kenapa aku di lempar bantal?" tanya mama Risma yang terkejut.
"Dasar menantu kurang ajar, kamu mendoakan ibu cepat mati." ucap nenek Murni.
"Maksud ibu?" tanya mama Risma.
"jangan tinggalkan Risma Bu, siapa lagi yang menemani Risma kalau ibu pergi. Kamu doakan ibu cepat di panggil tuhan." ucap nenek Murni menirukan cara bicara menantunya itu.
"Tadi itu acting Bu, agar target semakin percaya. Jangan baper dong Bu, mana mungkin Risma tega doakan ibu mertua seperti ibu yang sayang bangat sama mantunya," rayu mama Risma sembari memeluk ibu mertuanya itu.
__ADS_1
"Untung sayang, kalau tidak sudah ku pecat jadi menantu." ucap nenek Murni membalas pelukan menantunya.
Kedua lelaki yang menyaksikan adegan itu, hanya menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan kamar karena tidak ingin melihat drama mertua dan menantu itu.
...*****...
Raka sudah berada di cafe tempat di mana ia bertemu dengan Anggun, dari kejauhan ia sudah melihat seorang wanita yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Raka segera mendekati Anggun yang sudah menunggunya , bahkan wanita itu sudah menghabiskan setengah minuman yang ia pesan.
"Maaf tadi macet, kamu sudah lama ya?" tanya Raka yang merasa tidak enak.
"Aku maafkan, dengan syarat kamu yang bayar makan dan minumanku," ucap Anggun bercanda.
Keduanya kemudian tertawa bersama, Anggun memang tipe teman yang seru di ajak ngobrol membuat Raka nyaman berada di dekat wanita itu.
"hahahaha... , kamu tahu aja." ucap Raka tertawa.
Keduanya Asyik mengobrol mulai dari hal umum sampai hal yang bersifat pribadi. Anggun yang menjadi simpanan sugar Daddy tidak menemukan kepuasan dalam bercinta dan harus mencari kepuasan dari laki-laki lain membuat dirinya di ledek oleh Raka.
"Aduh kasihan sekali dirimu gun, makanya jangan mau jadi simpanannya aki-aki. Kamu belum apa-apa dia sudah loyo, pusing kan kamu jadinya." ledek Raka.
"Biarin walau cepat loyo tapi cuannya gak pernah loyo mekar terus. Kalau soal kepuasan aku bisa dapat dari laki-laki lain, dari kamu juga bisa." ucap Anggun mengedipkan matanya.
__ADS_1
Raka yang sedang meminum minumannya terkejut dan membuat ia tersedak "Dasar sinting, gak usah becanda kamu gun."
"Siapa yang bercanda, aku serius raka. Kalau kamu mau ayo kita coba, dijamin goyanganku gak kalah sama istri kamu yang pelakor itu. Kamu gak usah munafik Raka, dari cara kamu memandangku aku tahu isi otak mesummu itu ka, lagian kita sama-sama membutuhkan. Aku butuh kamu untuk memuaskan aku dan aku tahu kamu juga butuh aku karena hubunganmu dengan istrimu itu sedang tidak baikkan."
Raka menelan salivanya, mendengar tawaran Anggun yang menggiurkan itu, tidak dapat Raka pungkiri ia memang tergoda melihat kemolekan tubuh temannya itu, di tambah masalahnya dengan Sheila yang membuatnya pusing dan di tambah lagi melihat mantan istrinya yang sudah menemukan penggantinya bahkan lebih hebat darinya.
"Oke aku mau mencobanya, tapi hubungan kita ini tidak ada keterikatan karena kita sama-sama untung, jadi jangan menuntut di belakang hari." ucap Raka.
"Oke, aku juga pikir-pikir kali mau hidup sederhana dengan kamu, istri pelakormu saja yang bodoh, mau jadi pelakor kok tanggung bangat. Apa dia tidak berpikir sangsi sosial yang akan dia tanggung jika ketahuan sangatlah berat, harusnya ia menimbang apakah sangsi sosial yang ia dapat sebanding dengan laki-laki yang dia rebut. Kalau mau kotor jangan setengah-setengah. Ini cari laki yang biasa aja, kayak aku dong walau sudah bau tanah tapi sultan coy." ucap Anggun.
Raka juga ikut tertawa, lelaki itu memang tidak tersinggung dengan ucapan temannya itu. Karena ia sendiri juga heran kenapa Sheila ingin sekali memilikinya "harap maklum saja istriku itu masih pelakor kelas teri, sedangkan kamu itu pelakor kelas kakap."
Keduanya tertawa bersama sedangkan di sebuah salon seorang wanita sedang melakukan perawatan mengalami bersin-bersin "Hacthii... Hacthii...! Aduh siapa sih yang ngomongin aku." Ucap Sheila yang tiba-tiba bersin.
...*****...
Sedangkan Arkan masih berada di dalam ruangannya, walau jam pulang kantor sudah lewat lelaki itu masih betah berada di dalam ruangannya. Arkan ingin menyelesaikan pekerjaannya agar ia bisa fokus untuk melumpuhkan hati sang istri. Sedangkan sang asisten Rendy masih setia menunggu sang bos yang belum ada tanda-tanda keluar dari ruangannya.
Setengah jam berlalu Arkan baru keluar dari ruangannya yang di sambut senyum sang asisten, membuat Arkan heran dengan kelakuan asistennya itu "Kamu kenapa senyum-senyum begitu, jangan buat aku takut ren, aku masih normal. Sebaiknya kamu cari pacar saja jangan kelamaan jomblo, aku takut kamu belok Ren." Ucap Arkan seolah prihatin.
Apaan sih bos, jangan mikir aneh-aneh deh. Aku senyum karena punya kabar gembira. Aku yakin pak bos pasti senang karena ini tentang mba Kasih." ucap Rendy yang sengaja membuat Arkan penasaran.
__ADS_1
Jangan lupa like, komentar, vote, dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih teman-teman.