
"Sayang bangat ya Bu, padahal kata ibu dia sangat cocok jadi pendamping Arkan." Ucap mama Risma.
Nenek Murni hanya menganggukkan kepalanya , jauh di dalam lubuk hatinya dia masih sangat berharap yang menjadi jodohnya Arkan adalah cucu sahabatnya itu.
...*****...
Di rumah Raka Sekarang sedang ramai karena kakak, kakak ipar dan keponakan Raka sedang berkunjung. Sesuai hari yang di sepakati, yaitu akhir pekan.
Raka dan kedua kakaknya sedang berbincang di ruang keluarga sedangkan Kasih, Dini, dan Sari sedang berada di meja makan menyiapkan makan siang mereka.
"Kas, udah kamu duduk saja biar mba sama Sari dan bik Sarti yang menyiapkan makanan." Suruh Dini.
"Iya Kas, kamu baru sehat jangan terlalu capek nanti kamu drop lagi." Tambah Sari.
Mendengar kedua kakak iparnya melarang untuk ikut mempersiapkan makanan, Kasih hanya bisa menuruti, dia hanya diperbolehkan duduk manis menanti makanan siap di sajikan.
__ADS_1
"Kas, ini waktunya kamu bisa ngerjain Raka mumpung kamu hamil. Mba dulu waktu hamil sering minta ini itu sama mas Rian dan selalu di kabulin, mba bilang kalau itu keinginan calon anaknya. Kamu juga coba sama Raka, Kapan lagi kita bisa minta sesuka hati." Suruh Sari.
"Iya juga ya mba, kenapa aku gak mikir kesitu." Ucap Kasih.
"Kas mba lihat setelah hamil kamu kok gak dandan, biasanya kamu selalu dandan walau tipis-tipis?" Tanya Sari.
"Gak tau kenapa mba, semenjak hamil anak kedua ini aku gak suka dandan dan wajah aku juga kelihatan Kusam, bawaannya tidur terus malas ngapa-ngapain." Jawab Kasih.
"Ih,,, kok kamu gitu sih, jangan malas dandan walau hamil, nanti suami kamu kecantol sama cewe lain, zaman sekarang suami orang lebih menggoda dari pada lajang. Pelakor dimana-mana." Tutur Sari.
Sari tidak mau memberi tahu adik iparnya, karena dia melihat interaksi Raka biasa saja, tapi Sari dapat menyimpulkan bahwa wanita yang bersama dengan Raka punya maksud terselubung, dari tatapannya saja saat menatap Raka semua yang melihatnya pasti tau.
Makanya Sari berusaha mengingatkan Kasih sebelum terlambat.
Sedangkan Kasih yang mendengar nasehat kakak iparnya, hanya bisa tersenyum dan mengiyakan saja.
__ADS_1
Sore Hari kedua saudara Kakak Raka sudah berpamitan, kini rumah kembali sepi Dara yang kelelahan bermain dengan sepupunya seharian sudah tertidur pulas.
Hanya Sarti yang masih sibuk dengan kerjaannya membereskan rumah sedangkan Kasih dan Raka sudah ada di dalam kamar mereka.
Kasih sedang berbaring di ranjang setelah ia selesai membersihkan diri, walau hanya duduk saja tapi ia merasa lelah.
Raka sedang di kamar mandi membersihkan diri, terdengar suara ponsel Raka berbunyi tapi Kasih tidak mempedulikannya. Kasih memang tidak mau menjawab panggilan di ponsel suaminya, karena selama ini yang menelpon suaminya hanya teman kantor,atau teman Raka saja.
Ketika Raka sudah keluar dari Kamar mandi barulah Kasih memberi tahu jika ponselnya dari tadi berbunyi.
Raka langsung melihat siapa yang menelpon dirinya, ternyata Sheila.
"Kenapa Sheila menghubungiku?" guman Raka dalam hatinya.
"Siapa mas, kenapa gak di telpon balik? dari tadi ponsel mas bunyi terus, takutnya penting mas." tanya Kasih.
__ADS_1