Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 79 "Tangisan melepas menantu"


__ADS_3

Wajah Raka dan Sheila langsung merah padam setelah melihat video yang di perlihatkan Anton. Mereka tidak menyangka kalau ternyata ada tamu hotel yang merekam kejadian kemarin.


Rasa malu yang Raka rasakan mampu membungkam mulutnya dan tidak mampu menatap teman-temannya sedangkan Sheila memasang muka tembok yang tidak tahu malu.


"Dasar tidak tahu malu, malah bangga merebut bekas orang. Sepertinya sebentar lagi akan ada surat cinta dari pengadilan di berikan mbak Kasih. Suami modelan seperti ini lebih baik di sedekahkan kepada yang kurang mampu dan yang membutuhkan saja. Sampah memang cocok dengan tempat sampah." Ucap Nadia mengejek pasangan selingkuh di depannya itu.


"Sudah-sudah tak ada gunanya berbicara kepada orang yang sedang di mabuk asmara, walaupun apa yang di lakukan mereka salah tapi menurut mereka itu benar. Suatu saat juga bakal menyesal sudah membuang berlian demi batu kali." Ucap Adam yang membuat semua staf divisi keuangan tertawa.


"Apalagi nanti kalau Kasih dapat pengganti yang lebih oke. Kalau menurutku Kasih itu cantiknya natural gak mesti di dempul dulu baru cantik kayak mba pelakor, banyak sekarang laki-laki yang mau menikahi janda walau punya anak. Biasanya istri yang di selingkuhi dapat pengganti yang lebih dari pada mantannya." tambah Dion yang membuat Raka segera meninggalkan tempat itu karena tidak tahan jadi bahan bulian teman-temannya.


...*****...


Kasih kini sedang sarapan disuapi ibu mertuanya, walau sudah mengetahui masalah yang di alami menantunya tapi mama Dewi belum mau membahas itu.


Hening hanya dentingan sendok yang terdengar tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut keduanya, Kasih berusaha tegar dan mencoba kuat di depan mertuanya sedangkan mama Dewi yang kini menyuapi menantunya itu tidak dapat menahan tangisnya.


tangisan yang semula pelan kini semakin menjadi-jadi yang membuat pertahanan Kasih runtuh ia juga ikut menangis tanpa ada satu kata yang ia keluarkan begitu juga dengan mama Dewi.


Mama Dewi langsung memeluk menantu kesayangannya itu, tanpa tau harus berkata apa hanya pelukan yang semakin erat yang dapat diberikan seolah menguatkan menantunya itu.


"Maafkan mama sayang yang gagal mendidik anak mama untuk menghargai dan tidak menyakiti hati seorang perempuan. Maafkan mama sayang, maafkan mama." Ucap mama Dewi yang merasa bersalah kepada menantunya itu.

__ADS_1


"Mama jangan ngomong seperti itu, ini gak salah mama. Mungkin sudah takdir Kasih harus seperti ini dan mungkin jodoh Kasih bersama mas Raka cuma sampai disini saja ma." Ucap Kasih yang membuat mertuanya terkejut.


Mendengar perkataan menantunya membuat mama Dewi merasakan seperti ada ribuan pisau yang menusuk hatinya, rasa nyeri yang tak terkira mendengar kata-kata itu keluar dari mulut menantunya. Tak pernah terlintas dipikirannya kalau rumah tangga Raka dan Kasih akan berakhir seperti ini, selama ini dia melihat anak dan menantunya itu sangat harmonis. Tapi apa daya Raka lah yang tergoda dengan rayuan wanita lain yang membuat menantunya mengambil keputusan tersebut.


"Apa maksud kamu nak, jangan bilang kamu mau pisah sama Raka. Bagaimana dengan anak-anak kalian sayang?" Tanya mama Dewi.


"Kasih sudah mengambil keputusan dan Ini jalan satu-satunya yang terbaik untuk kami ma." Jawab Kasih dengan tenang.


"Gak, mama gak setuju kalian pisah mama akan ancam Raka agar meninggalkan pelakor itu, Kamu tenang saja mama akan membuat Raka kembali sama kamu sayang, menantu mama cuma tiga kamu, Dini dan Sari gak akan ada yang lain." Ucap mertua Kasih mencoba membujuk Kasih.


"Ma gak ada gunanya mama ancam mas Raka sehingga membuatnya kembali karena hati dan cintanya kepada Kasih sudah mati ma. Kalaupun kami mempertahankan rumah tangga kami hanya akan menjadi hambar dan aku tidak menjamin kalau mas Raka tidak mengulangi perbuatannya itu." Tutur Kasih.


Papa Adi yang sedari tadi di depan pintu mendengar semua pembicaraan antara istri dan menantunya itu.


"Pa, mama gak mau. Kasih harus tetap jadi menantu mama, papa Taukan kalau mama sudah menganggap Kasih seperti anak sendiri." Tangis mama Dewi.


"Ma tapi kita gak boleh egois ma, Kasian Kasih yang akan menjalaninya. Walau Kasih sudah tidak menjadi menantu kita tapi Kasih masih tetap jadi Putri kita. Kamu harus janji sama papa dan mama walaupun kamu berpisah dari anak papa tapi rasa sayang kamu kepada papa dan mama gak boleh berubah. Jika dulu kamu sebagai menantu dikeluarga kami dan ketika kalian nanti sudah berpisah jadilah putri di keluarga papa." Pinta papa Adi yang sudah meneteskan air mata melepas menantu kesayangannya itu.


Mendengar perkataan papa mertuanya Kasih hanya mengangguk diiringi Isak tangis, dia tidak menyangka Kalau kedua mertuanya itu sangat menyayanginya dan berat untuk melepaskannya.


"Kasih janji kepada mama dan papa kalau rasa sayang Kasih kepada mama dan papa tidak akan berubah. Kasih akan sering datang mengunjungi mama dan papa. Terima Kasih sudah mau menganggap Kasih sebagai putri kalian." Ucap Kasih kembali memeluk ibu mertuanya yang terus menangis.

__ADS_1


"Mama jangan nangis terus, Kasih jadi sedih melihatnya." Pinta Kasih.


"Kamu harus janji jangan pernah melupakan mama, ketika kamu nanti benar-benar sudah berpisah dari Raka, kamu jangan menutup komunikasi dari kami, seperti kata papa tadi jadilah putri kami nak." Ucap mama Dewi sekali lagi.


Pagi itu menjadi pagi yang penuh dengan tangisan antara mertua dan menantu yang sama-sama terluka akibat perpisahan yang akan terjadi.


Sedangkan kedua kakak ipar Kasih sudah pulang karena harus bekerja begitu juga dengan istri mereka hanya kedua mertuanya yang menemani Kasih di rumah sakit.


...*****...


Sedangkan di teras belakang kini duduk papa Arman, mama Risma dan nenek Murni sedang menikmati teh mereka.


"Apa Kasih belum menghubungi ibu?" Tanya mama Risma yang mendapat gelengan kepala dari ibu mertuanya.


"Mungkin dia belum pulih makanya belum menghubungi ibu. Kamu tenang saja ma, papa sudah menyuruh anak buah papa mengawasi Kasih secara diam-diam. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Ucap Papa Arman memberitahu.


"Seharusnya papa memecat suami dan wanita yang jadi selingkuhan suami Kasih itu pa." Ucap mam Risma.


"Yang jadi pemimpin perusahaan sekarang itu kan anak kamu ma. Jadi suruh saja dia yang memecatnya." Ucap papa Arman


"Percuma ngomong sama Arkan, apa yang akan mama ucapkan hanya akan menjadi angin lewat baginya. Papa kan sudah tahu sifat arkan." Balas mama Risma yang membuat Papa Arman tertawa

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya agar author semakin semangat dan rajin up-nya. terimakasih.


__ADS_2