Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 89 " Belum habis masa Iddahnya"


__ADS_3

Tidak terasa hari sudah sore, Nenek kasih dan nenek Murni asyik bercerita, sedangkan Sarti menjaga baby Ardy dan Dara sibuk bermain, mama Risma dan Kasih sibuk di dapur membuat kue.


"Tante, terima Kasih ya sudah bantuin Kasih buat kue dan terima Kasih sudah memberi resep rahasia Tante." Ucap Kasih.


Mama Risma hanya tersenyum mendengar ucapan terima kasih dari Kasih.


"Kapan kamu mau buka toko kamu?" tanya mama Risma.


"Besok Tante, tapi masih seadanya Tante maklum Tante modalnya pas-pasan." Ucap Kasih sambil tersenyum.


"Kalau kamu butuh modal bilang sama Tante, biar Tante bantu, jangan malu-malu dong sama Tante." Ucap mama Risma.


"Gak usah Tante, Kasih gak mau merepotkan Tante. Nanti saja ketika hasil penjualan rumah Kasih sudah ada, Kasih jadikan sebagian untuk modal usaha tante." Tolak Kasih secara halus.


Melihat penolakan Kasih, semakin membuat mama Risma salut kepada Kasih. Perempuan yang tidak mau menerima belas Kasih seseorang. Di jaman sekarang banyak orang yang di tawarkan bantuan secara cuma-cuma dan orang itu langsung menerima, tetapi Kasih tidak mau menerima bantuan dari orang lain ketika ia merasa masih sanggup dan mampu, serta ia masih sabar menunggu semua proses walau akan memakan waktu yang sedikit lebih lama.


Karena Kasih tidak mau menerima bantuan yang di tawarkan mama Risma secara cuma-cuma, wanita itu langsung memutar otaknya. Setelah mendapat ide untuk membantu Kasih ia segera pamit kepada Kasih untuk pulang karena hari sudah sore.


Kasih mengantarkan mama Risma ke depan sesampai di depan mama Risma mengajak ibu mertuanya itu untuk pulang dan langsung berpamitan kepada Kasih dan neneknya.


...*****...


Suasana di meja makan serasa sepi walau semua penghuni rumah ikut bersantap, nenek Murni yang bosan dengan keadaan seperti ini hanya dapat menghela napasnya dengan kasar.


"Ada apa lagi Bu?" Tanya papa Arman.


"Ini rumah sudah seperti kuburan, sepi bangat. Ibu bosan tiap hari suasana di rumah ini seperti tempat bertapa. Kapan rumah ini ramai dengan suara anak-anak bermain ya?" Pancing nenek Murni.


Arkan merasa akan ada badai yang mengusik ketenangannya, inilah mengapa Arkan tidak mau tinggal di rumah orangtuanya. Arkan akan selalu mendengar keluhan dari nenek dan mamanya yang menginginkan cucu darinya.

__ADS_1


Tapi apa boleh buat dia sudah berjanji akan tinggal di rumah orang tuanya dan akan memenuhi permintaan sang nenek yang akan menjodohkannya dengan janda beranak dua itu.


"Suruh saja cucu ibu menikah biar rumah ini tambah rame." Usul papa Arman.


"Calonnya belum habis masa Iddah man." Jawab nenek Murni.


Papa Arman dan mama Risma tertawa mendengar perkataan nenek Murni sedangkan Arkan terus mengunyah makanannya seolah tidak mendengar apa-apa.


"Pa besok Kasih mau buka toko kue tapi sayang sepertinya dia kekurangan modal, tadi mama mau bantu memberi modal tapi Kasih menolak dia bilang mau nunggu hasil penjualan rumah mereka dengan mantan suaminya itu." Aduh mama Risma.


"Terus, papa harus apa? Mama sudah coba menawarkan bantuan tapi Kasih menolak jadi gimana dong?" Tanya papa Arman.


"Jadi maksud mama begini pa, bagaimana kalau kita yang jadi pembeli rumahnya Kasih dan mantan suaminya, dengan begitu Kasih bisa dapat modalnya lebih cepat dan toko kuenya jadi lebih bagus dan lengkap." Usul mama Risma.


"Ide bagus Risma, kamu memang menantu ibu yang paling pintar." Ucap nenek Murni sembari menepuk lengan menantunya itu.


"Ya sudah mama sama ibu jangan cemberut begitu dong, besok papa akan urus agar kita membeli rumah itu, supaya Kasih bisa menambah modal usahanya." Tambah papa Arman.


Keduanya menganggukkan kepala dan tersenyum bahagia mendengar papa Arman mau menuruti ide mereka.


"Arkan mama juga mau bilang, kalau ada acara di perusahan bilang sama mama biar snacknya dari toko kuenya Kasih." Pinta mama Risma


"Ma Kitakan sudah ada toko langganan, lagian bukan aku kali yang ngurusin begituan." Jawab Arkan.


"Mulai sekarang tidak usah memesan di toko tersebut, pesannya di toko Kasih saja. Kamu tidak Kasihan melihat Kasih yang berjuang menghidupi ke dua anaknya." Tanya mama Risma.


Mendengar kata-kata mamanya yang menyinggung anak-anak Kasih, membuat hatinya merasa iba, apalagi Arkan teringat dengan bayi Kasih yang sudah di azankannya itu. Bayi yang baru lahir ke dunia itu, harus kehilangan kasih sayang dari seorang ayah.


"Ya sudah terserah mama deh, aku ikut saja." Ucap Arkan agar mamanya tidak protes lagi.

__ADS_1


Setelah itu semua keluarga papa Arman kembali melanjutkan makan malam mereka.


Keesokan harinya papa Arman menyuruh anak buahnya untuk mengurus surat jual beli tanah dan rumah tersebut.


Raka dan Sheila kini sudah tidak menyembunyikan hubungan mereka di kantor, toh semua orang sudah mengetahui semuanya.


Tatapan mata yang seolah mengejek dan menatap jijik selalu mereka dapatkan di perusahaan, keduanya menebalkan muka dan menganggap semua angin lalu.


Seperti sekarang ketika jam makan siang di kantin perusahaan Raka dan Sheila duduk berdua dibelakang bangku rekan kerjanya.


Ketika mengetahui Raka dan Sheila duduk di belakang mereka Adam dan Dion saling menatap, sedangkan Anton dan Nadia menatap jijik pada rekannya itu.


"Huh..... kok panas bangat ya di sini, Bawaannya pengen emosi saja." Ucap Fitri yang sudah kembali dari cuti melahirkannya.


Ada rasa tidak suka ketika ia kembali bekerja, ia sudah menjadi staf biasa dan Sheila tetap menempati posisinya Fitri, padahal dulu Sheila hanya jadi pengganti sebelum Fitri masuk kembali. Alasan yang di berikan atasan mereka pun tidak masuk akal untuk mengantikan posisi Fitri.


"Ya tentu saja panas mba, orang ada setan di sini. Awas mba suami mba di jaga, nanti di embat juga sama tu setan." Sindir Nadia.


Raka hanya dapat terdiam saja sementara Sheila sudah emosi dan ingin melabrak Fitri dan Nadia tetapi di larang Raka.


Raka dan Sheila menyantap makan siang mereka walau kadang Telinga mereka harus panas dengan sindiran dan ejekan teman-temannya di perusahaan, apalagi setelah Kasih dan Raka resmi bercerai semakin banyak cacian yang mereka dapatkan.


Ketika sedang asyik mengunyah makanannya tiba-tiba ponsel Raka berbunyi dan ternyata pengacaranya yang menelpon dan mengatakan kalau rumahnya sudah ada pembeli dan di harapkan kepada Raka dan Kasih segera bertemu dengan calon pembeli nanti sore agar proses jual beli segera di lakukan.


"Siapa mas?" Tanya Sheila penasaran.


"Pengacara, katanya rumah mas dan Kasih ada yang mau beli." Jawab Raka yang membuat raut wajah Sheila bahagia seketika.


Jangan lupa like, komentar, vote dan Hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih banyak ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2