
"Aku harus segera minum pil KB mas, bisa-bisanya aku lupa." Ucap Kasih.
Mendengar ucapan sang istri dengan cepat tangan Arkan menarik istrinya kedalam pelukannya. Arkan memeluk dan menciumi sang istri.
"Awas dulu mas, aku minum pilnya sebentar baru lanjut meluknya!" Seru Kasih yang berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Sayang, bagaimana kalau kamu gak usah minum pil itu lagi?" Tanya Arkan hati-hati.
Walau ia sangat ingin memiliki anak tapi Arkan tidak akan egois, jika Kasih belum siap ingin memiliki anak ia akan bersabar karena yang mengandung dan bertarung nyawa adalah istrinya.
__ADS_1
"Maksud mas aku gak usah minum pil KB itu lagi, terus kalau nanti aku hamil bagaimana?" Tanya Kasih yang bingung, karena di awal pernikahan mereka, Arkan yang menyuruhnya untuk mengkonsumsi pil pencegah kehamilan itu.
"Kalau kamu hamil ya bagus sayang kita jadi orang tua, kenapa takut kamu kan punya suami." Jawab Arkan sembari menyelipkan rambut Kasih yang sedikit berantakan.
"Bukannya mas gak mau aku hamil ya, buktinya sejak pertama kita berhubungan badan mas yang memberikan Kasih pil pencegah kehamilan." Ucap Kasih mengingatkan Arkan.
Arkan sedikit tersentil dengan ucapan sang istri, apa yang di katakan istrinya itu benar. Waktu itu Arkan belum siap menjadi ayah karena dia belum tahu mau di bawa kemana hubungan rumah tangga mereka. Menikah dengan Kasih juga karena terpaksa
Tapi kini semua sudah berubah, laki-laki itu sudah jatuh dalam pesona perempuan yang kini menjadi istrinya. Rasa sayang, cinta dan takut kehilangan semakin besar ia rasakan. Ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan Kasih dan anak-anak mereka.
__ADS_1
Mewujudkan keinginan kedua orang tua dan neneknya yang sangat menginginkan kehadiran penerus keluarga mereka. Arkan ingin Kasih mengandung anaknya yang akan memperkuat ikatan di antara mereka.
"Bukan tidak ingin sayang, tapi mas tidak mau hadirnya seorang anak dalam rumah tangga kita tapi tidak ada cinta di antara kita. Mas juga punya alasan lain kenapa waktu itu mas memberimu pil pencegah kehamilan." Tutur Arkan.
"Alasan lain?" Kasih bertanya dengan wajah yang semakin penasaran.
"Hmmmm, Mas tidak mau membahayakan nyawa kamu karena waktu itu kamu belum lama melahirkan Ardy, mas tahu bagaimana kamu berjuang ketika melahirkan Ardy (Author ingatkan ya, ketika Kasih melahirkan baby Ardy yang membawa Kasih ke rumah sakit itu Arkan dan asisten Rendy bahkan Arkan yang mengazankan baby Ardy, siapa tahu ada yang lupa) mas tidak ingin kasih sayangmu kepada Ardy terbagi karena dia masih kecil sayang. Sekarang Ardy sepertinya sudah siap jadi Abang. Mas janji walaupun kamu nanti hamil anak mas, kasih sayang mas tidak akan berkurang kepada Dara dan Ardy. Mas akan memperlakukan mereka sama, karena semuanya adalah anak-anak mas. walaupun di dalam darah Dara dan Ardy tidak mengalir darah mas, tapi mas sangat menyayangi mereka dan mas tidak pernah menganggap mereka anak sambung mas. Mereka anaknya mas juga sayang." Ucap Arkan panjang lebar.
Mendengar ucapan suaminya membuat Kasih terharu dan meneteskan air mata, dia tidak menyangka bahwa suaminya mengkhawatirkan keselamatan dirinya untuk segera mengandung waktu itu, padahal Kasih tahu bagaimana keluarga Arkan yang sangat menginginkan kehadiran penerus keluarga mereka. Tetapi laki-laki yang kini sedang memeluknya dengan mesra itu memilih untuk menunda dengan alasan tak ingin anak mereka hadir tanpa adanya cinta, tak ingin putranya terbagi Kasih sayangnya dan satu lagi tak mau keselamatannya di pertaruhkan.
__ADS_1
Jangan lupa komentarnya, like, vote dan hadiahnya biar author semakin semangat.
Gak tahu kenapa author lagi gak semangat buat up, Mungkin karena capek kali ya di dunia nyata.