
Sheila yang sudah sampai di mejanya tidak dapat menyembunyikan rona bahagia dari wajahnya, setelah keluar dari ruangan Raka dia masih terus saja tersenyum sehingga membuat Nadia heran.
" Ngapain kamu senyum-senyum begitu, kesambet setan mana kamu, aku perhatiin setelah keluar dari ruangan Pak Raka tu bibir senyum Mulu, mana lama bangat lagi di ruangannya pak raka, ngapain kmu disitu tebar pesona. Heh... gue ingatin ya sama kamu shei, pak Raka itu suami orang, udah mau punya buntut dua jangan nyari gara-gara kamu." Tutur Nadia.
Nadia memang selalu jutek kepada Sheila sejak pertama mereka bertemu. Entah kenapa ia tidak menyukai perempuan yang satu itu. Hatinya mengatakan kalau Sheila adalah cewek nakal yang berpura-pura polos dan baik hati.
"Mulut kamu sembarangan kalau bicara, itu fitnah namanya nuduh orang tanpa ada bukti yang jelas." Jawab Sheila dengan nada yang sedikit emosi.
"jadi kamu ngapain di dalam lama coba?" tanya Nadia.
" Ya kerjalah, emang ngapain lagi. kamu lupa kalau aku asistennya pak Raka." Jawab Sheila
"cih... asisten lewat jalur orang dalam aja bangga." Ucap Nadia.
__ADS_1
"Dari pada situ gak naik jabatan, kasian deh. iri bilang bos." Ucap Sheila mengejek Nadia.
" Dasar rubah betina, kamu pikir aku takut sama kamu, gayamu selangit baru aja di angkat jadi asisten." cibir Nadia.
Mendengar rekannya yang masih beradu mulut, membuat Anton angkat bicara.
"Sudah sudah... kalian kenapa sih gak pernah akur, apa gak malu tiap ketemu ribut terus. kalian itu bukan anak kecil tapi sudah dewasa. Jadi tolong jangan buat ketenangan di kantor ini jadi hilang. ini kantor bukan pasar." Ucap Anton.
...***** ...
Sedangkan di rumah pak Arman ada nenek Murni yang sedang sibuk mencari calon untuk Arkan. Tapi dari sekian banyak calon tidak ada satupun yang masuk kriteria menantu idaman bagi nenek Murni.
Nenek Murni hanya dapat menghela napasnya, melihat ibunya yang sangat semangat mencari calon istri untuk putranya tapi tiba-tiba wajahnya menjadi murung membuat pak Arman bertanya-tanya.
__ADS_1
"Ibu kenapa wajahnya gak semangat gitu, bukannya tadi ibu sangat semangat mencari calon menantuku?" tanya pak Arman.
"Ibu sudah liat foto dan data diri serta riwayat hidup mereka tapi kenapa gak ada yang cocok menurut ibu." Jawab nenek Murni dengan wajah sedih.
"Gak usah terburu-buru Bu, Arkan saja masih belum tau kembali ke Indonesia kapan?" ucap pak Arkan.
"Andai saja cucu sahabat ibu yang di Medan masih gadis pasti ibu akan menjodohkannya dengan Arkan. Dulu ketika ibu bertemu dengannya dia baru menyelesaikan studinya. Sebenarnya ibu ingin menjodohkan mereka, tapi keburu Arkan mengenalkan Rena kepada kita. Melihat Arkan yang sangat mencintai Rena membuat ibu mengurungkan niat ibu. Menurut ibu dia wanita yang tepat jadi pendamping Arkan." Tutur nenek Murni.
Mendengar cerita mama mertuanya mama Risma yang baru datang dari dapur sambil membawa teh untuk mertuanya penasaran dengan wanita yang di ceritakan nenek Murni.
"Kalau begitu bagaimana kalau sekarang kita jodohkan mereka, kata ibu dia wanita yang tepat untuk Arkan." Ucap mama Risma.
Sudah terlambat Ris, cucu sahabat ibu sudah menikah dan punya anak, kata sahabat ibu cucunya juga tinggal di Jakarta." Tutur nenek Murni.
__ADS_1