
"Saya mohon ibu jangan pulang dulu, bapak tadi menyuruh saya menjaga dan menemani ibu. Kalau sampai bapak tahu ibu pulang, tamatlah riwayat saya ibu, bisa-bisa besok saya kehilangan pekerjaan saya. Jadi saya mohon ibu tunggu sebentar lagi ya." Bujuk sang asisten.
Kasih yang tidak tega melihat wajah memohon wanita yang ada di depannya itu, hanya dapat menghela napasnya melihat tingkah suaminya yang semakin hari semakin posesif terhadapnya.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan menunggu disini." Ucap Kasih menarik kursi dan duduk di samping sekretaris suaminya.
"Ibu sebaiknya menunggu di dalam disini kurang nyaman Bu." Ucap sekretaris tersebut karena merasa canggung duduk berdua dengan istri bosnya.
"Di dalam aku sendiri, tidak ada teman mengobrol. Aku disini saja ya, biar kamu ada temannya juga." Ucap Kasih dengan wajah tersenyum.
Sedangkan wanita itu terheran dengan kelakuan istri bosnya itu, sangat berbeda dengan istri bosnya yang pertama dulu.
Jika Rena dulu sangat menjaga jarak dengan para karyawan suaminya dan terkesan sombong. Tapi berbeda dengan Kasih yang selalu tersenyum dan membalas sapaan para karyawan suaminya, bahkan sekarang ini Kasih dengan cepat berbaur dengan sekretaris suaminya itu.
Keduanya kini mengobrol santai layaknya teman sembari menunggu kedatangan orang yang mereka tunggu.
...*****...
__ADS_1
Didalam mobil mewahnya kini Arkan dan Rendy sedang menembus jalanan untuk sampai ke perusahaan menjemput sang istri. Pertemuan dengan investor tadi sedikit molor , membuat Arkan pulang sedikit lama dari jadwal.
"Ren, bisa tidak kamu cepat bawa mobilnya. Aku takut Kasih terlalu lama menunggu kita." Ucap Arkan yang mengkhawatirkan istrinya.
Rendy hanya dapat menganggukkan kepalanya karena percuma memberi saran pasti tidak akan di terima.
Setelah menempuh perjalan sekitar dua puluh menit, kini Arkan sudah sampai di lobby perusahaan. Lelaki itu dengan langkah cepat memasuki perusahan dan langsung masuk ke dalam lift agar segera sampai di ruangannya, Arkan bahkan tak peduli dengan para karyawan yang menyapanya karena bertepatan sekarang jam pulang kantor.
"Sayang...." Panggil Arkan melihat istrinya terlihat akrab dengan sekretarisnya, bahkan sesekali Arkan melihat kedua wanita itu tertawa, entah apa yang mereka tertawaan.
"Mas, kenapa lama? Capek tahu nunggu mas." Ucap Kasih dengan wajah cemberutnya.
"Aku bosan sendirian di dalam mas, kalau disini ada teman ngobrol jadi gak kerasa nungguin mas." Tutur Kasih.
"Dasar tukang gosip" ucap Arkan menyentil kening istrinya.
"Aduh..., sakit mas. Jahat bangat sih, sayang lihat papa kamu. Papa jahatin mama." Aduh Kasih sembari mengelus perutnya.
__ADS_1
"Ibu Kasih hamil pak?" Tanya Sekretaris Arkan yang nampak bahagia mendengar kabar tersebut.
"Hmmmm, terima kasih karena sudah menjaga istriku dengan baik. Bulan ini kamu akan dapat bonus karena sudah menjaga istriku tanpa terluka sedikitpun." Ucap Arkan sembari mengajak Kasih pulang.
"Terima kasih pak." Ucap wanita itu dengan wajah Bahagia.
Kini Arkan dan Kasih baru keluar dari lift khusus CEO, keduanya berjalan sambil bergandengan tangan dengan mesra.
"Astaga" Ucap Arkan.
"Kenapa mas?" Tanya Kasih.
"Mas lupa mengambil berkas di ruangan mas, ada beberapa berkas yang belum selesai mas periksa." Ucap Arkan memberitahu.
"Ya sudah, sana mas ambil mumpung kita masih disini.Tapi aku tunggu di sini saja ya mas, aku capek bolak balik." ucap Kasih.
"Kamu yakin sayang?" Tanya Arkan yang entah kenapa perasaannya tidak enak untuk meninggalkan istrinya.
__ADS_1
"Yakin mas, disini masih ramai mas lagian mas cuma sebentar jadi jangan khawatir aku pasti akan baik-baik saja."