
Raka hanya tersenyum mendengar ucapan Sheila "Kamu tenang saja walaupun harus ada pembagian harta, itu tidak seberapa karena harta yang kami miliki hanya rumah itu saja sedangkan mobil masih belum beres cicilan. Mas sudah memikirkan itu jauh-jauh hari kalau suatu saat Kasih mengetahui semuanya dan kami berpisah pasti ada pembagian harta, maka dari itu mas membuat rekening baru yang tidak di ketahui Kasih."
Mendengar penuturan lelaki di sampingnya itu membuat Sheila bahagia bukan kepalang, apa yang di khawatirkannya ternyata tidak akan terjadi. Tetapi senyum di wajahnya langsung pudar ketika ketika Raka berkata sesuatu yang membuatnya tidak suka.
"Tapi aku akan memperjuangkan hak asuh anak karena aku tidak mau berpisah dari anak-anak ku." Ucap Raka yang cukup mengejutkan wanita di sampingnya itu.
"Tidak bisa dibiarkan ini, aku gak mau kalau anak-anaknya mas Raka dia yang mendapatkan hak asuhnya. Kalau mas Raka yang merawatnya tentu saja membutuhkan biaya yang besar, belum lagi jika kami jadi menikah otomatis kami akan tinggal satu atap. Aku tidak bisa bayangkan tiap hari harus melihat tingkah anak-anak yang menyebalkan. Aku tidak ingin merawat anak yang bukan anak kandungku." Ucap Sheila dalam hati.
"Shei kamu kenapa melamun honey, kamu dengarkan tadi mas bicara apa?" Tanya Raka sambil menyelipkan rambut Sheila yang sedikit berantakan.
" A... apa tadi mas, maaf ya tadi aku lagi mikirin tentang anak mas yang lucu." Jawab Sheila berbohong.
"Mas tadi bilang Kamu mau kan nanti merawat dan menyayangi anak-anaknya mas seperti anak kandungmu sendiri?" Tanya Raka.
"Bukannya aku tidak mau honey merawat anak-anaknya Honey ,tapi kalau kalian bercerai bukannya hak asuh anak akan jatuh kepada ibu apalagi mereka masih di bawah umur." Ucap Sheila mencoba memberi penjelasan agar Raka mau mengurungkan niatnya.
"Aku pasti bisa mendapatkan hak asuh anak-anakku shei, apalagi kalau aku memakai pengacara yang bagus dan satu lagi Yang bisa jadi alasan agar aku yang mendapatkan hak asuh anak-anakku yaitu kenyataan Kasih tidak mempunyai pekerjaan alias pengangguran dengan begitu dia tidak mempunyai penghasilan untuk membutuhi kebutuhan anak-anak." Seringai Raka memikirkan kalau Kasih akan kalah melawannya di pengadilan nanti. Raka juga berpikir Kasih tidak akan sanggup menyewa pengacara yang akan mempermudah dirinya menang.
Mendengar perkataan Raka Sheila hanya bisa melebarkan senyum palsunya. Padahal dalam hati ia tidak Sudi merawat anak-anaknya Kasih,
...*****...
__ADS_1
Papa Adi dan mama Dewi kini sedang berjalan keruang rawat menantunya dengan tergesa-gesa, rasa tak sabar kini dirasakan kakek nenek tersebut yang ingin bertemu dengan cucu dan menantunya. Sesampai di depan kamar kasih mama Dewi membuka pintu secara perlahan takut menganggu menantunya dan benar saja Kasih kini sedang beristirahat.
Melihat kedua orang tuanya sudah sampai membuat Rian memberi isyarat agar tidak bersuara dan menyuruh orang tuanya masuk.
Setelah melihat keadaan menantunya yang kini sudah baik-baik saja, barulah mama Dewi menanyakan keadaan cucunya.
Riko dan Rian mengajak mama dan papanya keruang bayi sementara Sari dan Dewi menunggu di ruangan Kasih.
mama Dewi menangis melihat keadaan cucunya itu, tak sanggup melihat cucunya yang lahir prematur dengan berat badan yang kurang ditambah lagi beberapa selang berada di tubuhnya membuat wanita paruh baya itu tidak tega.
"Pa kasihan sekali cucu kita harus merasakan semua ini, dia harus lahir sebelum waktunya. Kenapa Kasih ceroboh? Seharusnya dia tidak naik sepeda motor saat hamil, itu sangat berbahaya. Apa Raka tidak melarangnya, tapi tidak mungkin pasti Kasih yang naik sepeda motornya tanpa sepengetahuan Raka." Ucap mama Dewi seolah menyalahkan Kasih.
Papa Adi tidak menjawab pertanyaan istrinya, ia malah heran kenapa Raka tidak ada disini sementara istri dan anaknya hampir celaka.
Mendengar mamanya seolah menyalahkan Kasih dengan apa yang terjadi membuat emosi Riko kembali dengan tidak sadar ia berkata sedikit keras kepada wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Mama jangan pernah menyalahkan Kasih disini, mama seharusnya menyalakan anak kesayangan mama itu. Ini semua terjadi karena dia dan kalau mama ingin tahu penyebab Kasih berakhir di rumah sakit ini juga karena dia." ucap Riko dengan nada sedikit keras.
Mama Dewi yang terkejut kenapa anak keduanya itu begitu marah, dan lebih membela adik iparnya dari pada adik kandungnya.
" Riko kamu lebih berpihak kepada Kasih daripada adikmu sendiri." ucap mama Dewi tidak habis pikir.
__ADS_1
"Ya Riko lebih berpihak kepada Kasih dari pada bajingan itu, ingin rasanya aku kembali menghajarnya,Dasar laki-laki Brengsek." Umpat Riko.
Ketika melihat istrinya ingin menjawab perkataan Riko papa Adi langsung memberi isyarat agar istrinya diam.
"Maksud kamu apa nak, papa dan mama tidak mengerti. Kamu mengatakan bahwa adik kamu bajingan, apa yang sebenarnya terjadi apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Tanya papa Adi yang sudah penasaran.
"Pa sebaiknya kita ke kantin rumah sakit, agar tidak menggangu ketenangan di sini, apalagi yang akan kami bicarakan ini sangat serius." Ajak Rian.
Mama Dewi yang sudah tidak sabar begitu mereka sampai di kantin, ia langsung menyuruh kedua anaknya berkata jujur kepada mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi, jangan buat mama dan papa penasaran?" Tanya wanita itu mendesak agar anak-anaknya berbicara.
"Kami memergoki Raka berduaan dengan seorang wanita di dalam hotel ma." Ucap Rian akhirnya memberitahu kedua orangtuanya.
"Jadi karena Raka dan seorang wanita di hotel kalian mengatakan adik kalian itu berselingkuh, bisa saja kan kalau ia sedang ada kerjaan di hotel tersebut, mungkin mereka sedang ada meeting." Ucap mama Dewi yang masih membela anaknya itu.
Rian hanya dapat geleng-geleng kepala karena mamanya masih belum percaya pada apa yang ia katakan. Rian memang sangat paham kalau mamanya paling tidak terima kalau anak terakhirnya itu dicap jelek oleh orang lain termasuk mereka. Apalagi selama ini Raka memang anak yang terkenal baik dan tidak banyak tingkah berbeda dengan ia dan Riko yang selalu berulah ketika mereka remaja bahkan sampai sebelum mereka menikah.
Sedangkan Riko yang sudah emosi langsung berkata kepada mamanya kalau apa yang di katakan abangnya itu benar.
"Mama bilang mungkin ia sedang meeting atau ada kerjaan di sana. Apa setelah aku menceritakannya dengan detail mama masih ingin membela anak kesayangan mama itu. Meeting apa mereka di dalam kamar berduaan dengan tubuh telanj*Ng dan menyatu." Ucap Riko yang membuat kedua orang tuanya syok dengan kata-kata Riko.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih.