
"Sebentar saya ambilkan pak." Ucap Kasih kemudian pergi ke kamarnya.
Papa Arman sudah mengirimkan semua bukti perselingkuhan Raka setelah Kasih mengambil keputusan menggugat cerai Raka.
"Ini pak bukti-bukti perselingkuhan suami saya, ini foto-foto mesra suami saya dengan selingkuhannya yang saya dapatkan dari ponsel suami saya, ini bukti struk pembayaran disebuah mini market di bali, suami saya membeli alat kontraseps* beserta bukti cctv minimarket tersebut yang membuktikan kalau suami saya sedang berbelanja dengan selingkuhannya ada juga bukti suami saya menjadi tamu hotel X dan bukti cctv kalau mereka menginap di kamar yang sama di Bali dan yang terakhir saya menangkap basah suami saya sedang melakukan hubungan badan dengan selingkuhannya di sebuah hotel di Jakarta dan banyak saksi pak, ada kedua kakak ipar saya dan dua staf hotel." Tutur Kasih.
"Bagus, sepertinya kita akan dengan mudah memenangkan perkara ini, karena kita mempunyai bukti yang kuat dan saya akan memasukkan berkas-berkas nak Kasih ke pengadilan agama agar segera di proses, karena semua berkas beserta bukti sudah lengkap saya izin pamit dulu. Saya akan mengabari bagaimana langkah yang harus kita lalui setelah saya memasukkan berkas kamu ke pengadilan.
Setelah kepergian pengacara tersebut Kasih langsung pamit untuk istirahat ke kamarnya, sedangkan kedua orang tua Raka masih duduk di ruang tamu, mereka masih syok dengan begitu banyaknya bukti yang di miliki menantunya.
"Pa kesalahan apa yang sudah kita perbuat di masa lalu sehingga kita mempunyai anak sebejat itu. Mama malu pada menantu kita pa, mama tidak berhasil mendidik anak kita pa, anak yang selalu mama banggakan ternyata tidak lebih dari seorang bajingan. Mama sekarang setuju kalau Kasih berpisah dari Raka dan mama akan mendoakan kalau di masa yang akan datang Kasih di beri jodoh yang jauh lebih baik dari anak kita. Oh ya tuhan, sehancur apa hati menantuku itu melihat suaminya berselingkuh, mama gak akan merestui Raka dengan pelakor itu pa." Ucap mama Dewi.
"Sabar ma ini bukan salah mama, kita sudah berusaha mendidik Raka tapi Raka sendiri yang memilih jalan ini, papa yakin suatu saat anak itu akan menyesali perbuatannya ini. Sebaiknya kita juga istirahat hari sudah semakin malam." ajak papa Adi.
...*****...
Sudah seminggu berlalu hari ini adalah hari dimana Kasih akan menjemput anak keduanya di rumah sakit, Kasih di temani Riko dan Sari untuk menjemput putranya tak lupa juga Dara yang merengek ingin ikut menjemput adiknya.
Setelah sampai di rumah sakit Riko segera menyelesaikan administrasi sedangkan Kasih dan Sari sedang berkonsultasi dengan Dokter yang menangani bayi Kasih.
Setelah semua selesai mereka segera keluar dari rumah sakit membawa bayi Kasih pulang ke rumah.
"Mama kenapa papa belum pulang? Lama bangat sih keluar kotanya dan kenapa papa gak pernah telepon kita ma, biasanya kalau papa kerja keluar kota papa selalu telepon mama dan Dara. Papa selalu bilang kalau papa rindu Dara dan mama, tapi kenapa sekarang tidak?" Tanya Dara dengan polosnya.
__ADS_1
Melihat Kasih yang terdiam membuat Riko tahu kalau adik iparnya itu tidak sanggup menjawab pertanyaan Dara.
"Dara sayang, papa Dara sedang banyak kerjaan makanya lama pulangnya, papa Dara sedang sibuk sekali dan tidak sempat menelepon Dara dan mama, nanti kalau papa pulang papa bawa uang banyak." Jawab Riko.
...*****...
Di rumah Kasih kini sedang sibuk mempersiapkan acara aqiqah bayinya Kasih yang akan di adakan besok. Bahkan di sini juga ada Rian dan Dini yang sedang membantu kedua orangtuanya mempersiapkan acara aqiqah keponakannya itu.
Ketika kedua kakak ipar Kasih sudah pulang papa Adi bertanya apa Kasih apakah sudah mempersiapkan nama untuk cucunya.
"Nak apa kamu sudah mempersiapkan nama untuk cucu papa ini?" Tanya papa Adi.
"Sudah pa, Alhamdulillah Kasih sudah mempersiapkannya pa, namanya Ardyaz Keenan Albirru yang berarti Laki-laki yang tegas, kuat, penyebar kebaikan dan penuh kebahagiaan." Ucap Kasih.
"Ardy ma supaya mudah di ingat." Jawab Kasih
"Jadi nama kamu Ardy sayang, seperti arti nama kamu jadilah laki-laki yang kuat agar kamu bisa melindungi mama dan kakakmu dan semoga dengan kelahiranmu menjadi obat dan penyebar kebaikan dan kebahagiaan untuk mamamu nak." Ucap mama Dewi.
Kasih sedang menangis di dalam kamarnya, ia memandangi kedua anaknya yang sedang terlelap di ranjang, tak menyangka pernikahannya hancur karena hadirnya wanita lain di hidup suaminya. Kasih semakin menangis mengingat ia sebentar lagi akan berpisah dari Raka laki-laki yang masih dicintainya itu.
Tapi rasa cinta itu kini semakin menipis dibanding rasa marah, kecewa dan bencinya Kasih.
"Maafkan mama ya nak, kalau mama tidak bisa memberikan keluarga yang utuh kepada kalian, sebentar lagi kita akan hidup bertiga saja. Mama janji akan menjadi mama dan papa yang baik untuk kalian." Ucap Kasih kemudian mencium kedua kening anaknya.
__ADS_1
...*****...
"Honey besok aku mau pulang ke rumah." Ucap Raka yang membuat Sheila terkejut.
"Kamu gak takut sama keluarga kamu honey?" tanya Sheila.
"Sepertinya Kasih melarang kedua abangku untuk memberi tahu kedua orang tua ku honey, Dia pasti takut aku ceraikan makanya sampai sekarang baik-baik saja kalau tidak pasti sekarang mereka sudah menemukan aku." Tutur Raka.
"Tapi kamu janji gak akan ninggalin aku kan honey?" Tanya Sheila.
"Pasti honey, Kasih tidak akan berani macam-macam karena dia sangat tergantung kepadaku. Wanita pengangguran itu pasti takut aku ceraikan karena kalau kami cerai siapa yang akan menafkahinya dan satu lagi mana ada laki-laki yang mau menerima wanita hamil dan satu anak perempuan." Ucap Raka kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
Keesokan harinya di rumah Kasih kini sedang di adakan Aqiqah untuk baby Ardy, hanya acara sederhana tak lupa Kasih mengundang keluarga nenek Murni, teman-teman akrab Raka di kantor, dan pengacara. Setelah acara selesai pengacara datang sekalian memberi kabar kalau berkas Kasih sudah di terima dan Minggu depan akan di lakukan sidang pertama yang membuat seluruh keluarga bahagia.
"Bu Kasih ini surat dari pengadilan tolong di berikan kepada suami ibu agar dia datang di persidangan pertama." Ucap pengacara.
"Biar saya saja yang memberikannya." Ucap papa Adi.
Setelah itu Mereka kembali menikmati hidangan yang tersedia, Sedangkan di halaman rumah kini Raka heran melihat banyak mobil yang terparkir, dengan rasa penasaran dia langsung masuk kedalam rumah dan melihat semua keluarga dan teman-teman kantornya di sana, dan yang lebih membuat Raka terkejut adalah melihat Kasih menggendong bayi dan melihat perut istrinya itu sudah tidak buncit lagi.
"Kasih..."
Jangan lupa like, komentar, vote dan Hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya teman-teman terimakasih.
__ADS_1