
Seminggu setelah perceraian, Kasih sudah pindah ke ruko bersama dengan Sarti dan kedua anaknya, sedangkan orang tua Raka sudah kembali ke rumahnya.
Setelah membantu mantan menantunya itu pindahan dan beberes di rumah baru kedua orang tua Raka pamit pulang ke rumah mereka,mama Raka berpesan kepada Kasih agar sering menghubungi mereka.
"Kamu harus ingat walaupun kamu dan Raka sudah berpisah jangan pernah berubah dengan mama dan papa, kamu memang sudah bukan menantu kami tapi sekarang kamu adalah Putri kami nak. Jadi jangan lupa selalu kabari mama dan papa, kalau kamu perlu bantuan jangan lupa hubungi mama dan papa." Ucap mama Dewi sembari mencium kening baby Ardy.
"Iya ma, terima kasih sudah selalu menemani dan ada untuk Kasih. Mama dan papa kalau ke Jakarta jangan lupa mampir ke sini." Ucap Kasih melepas kepergian mantan mertuanya itu.
...*****...
Raka kini sudah tiba di rumahnya untuk mengambil barang-barangnya, ia memasuki rumah penuh kenangan tersebut. Raka mengingat kembali semua momen indah bersama Kasih dan Dara, rumah yang dulu penuh dengan cinta dan kehangatan itu sudah hancur berantakan.
Ada rasa tak rela ketika Raka mengingat semuanya, apalagi saat Raka mengingat kehamilan Kasih yang kedua, rasa bahagia Raka bertambah dua kali lipat ketika mengetahui bayi yang di kandung Kasih berjenis kelamin laki-laki tapi Raka sendirilah yang menghancurkan semuanya, Apa aku bisa sebahagia dengan Kasih ketika nanti bersama Sheila pikirnya. Tak mau terlalu lama mengenang masa lalu Raka segera mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumah itu.
Sebelum benar-benar pergi Raka kembali menatap rumah itu untuk yang terakhir kalinya, ada rasa sakit melihat tulisan dijual di pagar rumah itu.
Hati kecil Raka tidak rela kehilangan rumah tersebut, terlalu hangat dan banyak cinta yang ia lewati di rumah itu.
Tapi Raka menyakinkan hatinya kalau ia akan lebih bahagia dengan Sheila.
...*****...
Sheila yang sedang menyiapkan makan malam untuknya dan Raka sangat bahagia karena sebentar lagi ia dan Raka akan bersatu, Raka sudah berjanji akan menikahinya dalam waktu dekat ini.
"Aku tidak menyangka jalanku akan semulus ini. sebentar lagi aku akan menjadi istrinya mas Raka. Bahkan aku tidak perlu memikirkan bagaimana cara menyingkirkan perempuan itu. Dia secara suka rela memberikan suaminya untukku." Ucap Sheila dengan bangga.
Ketika sedang asyik dengan pikirannya Sheila mendengar suara pintu apartemennya terbuka. Sheila segera menghampiri Raka yang baru masuk dengan membawa barang-barangnya.
__ADS_1
"Sudah semua mas, sini aku bantu bawakan." Tawar wanita itu.
Raka hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju kamar Sheila.
"Mas mandilah dulu, setelah itu kita makan malam. Aku sudah memasak tadi." Ucap Sheila.
Raka segera pergi untuk membersihkan dirinya dan bergegas ke ruang makan karena memang dia sudah lapar.
Ketika menikmati makan malamnya, Raka sebenarnya tidak suka dengan makanan yang Sheila masak. Rasanya sangat berbeda jauh dari masakan Kasih.
"Bagaimana masakan aku mas, enak gak?" tanya Sheila.
Raka yang tidak mau menyakiti hati wanita yang di cintainya itu terpaksa berbohong "Enak kok sayang, tapi lain kali kamu gak usah capek-capek masak, kita pesan saja ya. Kamu pasti sudah capek kerja seharian jadi jangan memasak lagi, aku gak mau kamu capek." Ucap Raka berbohong.
Mendengar perkataan Raka membuat Sheila seperti terbang ke langit yang ke tujuh, ia merasa Raka tidak ingin dirinya terlalu lelah padahal Raka mengatakan itu karena tidak suka dengan masakannya.
...*****...
"Sepertinya kita undur dulu ris, soalnya besok ibu mau ketemu dengan sahabat ibu yang dari Medan itu." Ucap nenek Murni.
"Asyik dong kumpul sama sahabat lama, sayang bangat ya cucunya sudah menikah kalau tidak papa yakin kalau nenekmu pasti akan menjodohkan kamu dengan cucunya nak." Goda papa Arman.
Arkan hanya cuek mendengar perkataan papanya ia dengan santai menghabiskan makan malamnya tanpa peduli dengan obrolan keluarganya.
"Itu dia yang membuat ibu ragu Arman. sepertinya sahabat ibu datang ke Jakarta untuk menjenguk cucunya yang baru saja bercerai." Ucap nenek Murni.
"Jadi ceritanya ibu mulai ragu antara memilih Kasih atau cucu sahabat ibu itu. Ya.... padahal Risma sudah cocok bangat sama Kasih Bu." Ucap mama Risma terlihat kecewa.
__ADS_1
"Siapa bilang mama ragu, Kasih itu sudah terpilih jadi kandidat no 1 untuk menjadi menantu di keluarga kita." Tutur nenek Murni yang membuat mama Risma kembali bersemangat.
"Tapi nek, bukannya Kasih baru melahirkan kalau aku nikah sama dia berarti gak bisa ngasih nenek cicit segera dong. Nenek tahu sendiri kalau Kasih lahiran anak keduanya dengan operasi Caesar. Kalau Arkan nikah sama dia nenek harus sabar sampai dia pulih dulu." Ucap Arkan mencoba menggoyahkan hati sang nenek
"Tidak apa-apa kan masih ada dua anak Kasih jadi nenek bisa sabar menunggunya." Jawab nenek Murni yang tidak mempermasalahkan itu.
"Haduh, sepertinya harapan satu-satunya untuk menggagalkan rencana perjodohan ini gagal sudah. Lebih baik aku jalani ke depannya bagaimana, toh siapa pun perempuan yang akan menjadi istriku sama saja." Ucap Arkan dalam hati.
...*****...
"Mba Sarti, aku sama Dara mau pergi menjemput nenek ke bandara, mba jaga Ardy dulu ya." Pamit Kasih.
"Iya hati-hati di jalan mba" ucap Sarti mengantarkan Kasih dan Dara sampai ke pintu.
Sarti sangat salut melihat majikannya itu, Kasih wanita baik hati yang di kecewakan oleh cintanya, harus tegar menghadapi kerasnya hidup, berjuang dari awal demi kedua buah hatinya walau kadang Sarti sering memergoki majikannya itu sedang menangis seorang diri.
Kasih tetaplah wanita walaupun berusaha tegar dan kuat tapi namanya perpisahan tetap akan menyakitkan walau kita sudah ikhlas, tapi kadang kenangan itu sering datang tanpa di undang yang membuat luka yang sudah mulai kering basah kembali.
Kasih Dara dan neneknya sudah sampai di rumah, hari sudah malam dan mereka sedang menyantap makan malam bersama.
"Maaf ya nek, rumah Kasih tidak senyaman rumah yang dulu, apalagi disini nenek harus naik turun tangga, doakan Kasih agar di mudahkan rezekinya supaya bisa membeli rumah yang nyaman untuk kita." Ucap Kasih.
Mendengar ucapan cucunya membuat neneknya Kasih meneteskan air mata, ia tidak menyangka kalau nasib cucunya berakhir seperti ini, mengingat dulu Raka datang meminang cucunya dengan sangat baik. Apalagi Raka dulu sangat mencintai cucunya itu tak pernah terbesit di benaknya kalau Raka tega menduakan cucunya.
"Kasih bagaimana kalau kita pulang ke kampung saja?" Usul nenek Kasih.
**Maaf kemarin gak up, karena anak saya sakit jadi rewel dan gak bisa konsentrasi untuk menulis.
__ADS_1
Jangan lupa untuk like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih teman-teman**.