Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 130 "Kemarahan Kasih"


__ADS_3

Raka tertawa mendengar cerita Anggun yang mencari kepuasan dari pria lain.


"Tidak usah mengejek rak karena nasib kita tidak jauh beda," ucap Anggun kemudian meminum winenya.


"Nasib kita tidak sama karena istriku pintar di ranjang," ucap Raka.


"Jelas pintar dong , kalau gak pintar mana mungkin dia berhasil merebut kamu dari istri pertama kamu."


Tidak terasa malam semakin larut keduanya masih asyik dalam perbincangan yang tiada ujungnya, Raka baru pergi dari sana ketika jam menunjukkan jam dua dini hari. Mereka juga sudah tukaran nomor dan berjanji akan sering nongkrong bareng.


Raka yang sudah sampai di apartemen langsung masuk ke dalam kamar dan menemukan istrinya yang sudah tertidur lelap.


Lagi-lagi Raka menghela nafas melihat kelakuan istrinya yang tidak peduli atau khawatir pada dirinya yang terlambat pulang, berbeda dengan Kasih waktu dulu yang selalu menunggu kepulangannya karena menghawatirkan Raka. Lagi-lagi tanpa sadar Raka membandingkan Kasih dengan Sheila.


Raka yang sudah mengantuk langsung membaringkan tubuhnya di samping Sheila.


...*****...


Keesokan harinya Kasih sedang menyiapkan baju yang akan di pakai oleh Arkan, ia menunggu Laki-laki itu selesai dari kamar mandi. Arkan mendekati istrinya yang sedang duduk melamun di tepi tempat tidur mereka.


Arkan berdehem agar sang istri menyadari keberadaannya dan terbukti hal itu berhasil.

__ADS_1


"Mas kamu sudah selesai, ini baju kamu." ucap Kasih berdiri meninggalkan suaminya itu.


"Kamu mau kemana kas, duduklah di sini temani aku, nanti kita keluar bersama." pinta Arkan.


Mendengar perintah dari suaminya itu membuat perempuan itu mengurungkan niatnya untuk pergi, padahal perempuan itu sedang malas berhadapan dengan suaminya itu.


Rasa kecewa dan sakit hati yang di alami perempuan itu sangatlah sakit dikala mereka melakukan penyatuan sang suami malah menyebutkan nama wanita lain saat puncak kenikmatan itu tiba. Wanita mana yang tidak sakit mendengar suaminya menyebut nama almarhumah istri pertamanya di saat mereka bercinta, entah sejak kapan rasa cinta itu mulai tumbuh di hati Kasih untuk Arkan.


Walau Arkan sudah mewanti-wanti dirinya agar tak jatuh hati karena akan membuatnya sakit hati karena cinta yang tidak terbalas.


Sedangkan tersangka utama Atas sakit hati seorang wanita itu tidak menyadari kalau dirinya kelepasan menyebut nama. Melihat sikap istrinya yang lebih banyak diam membuat Arkan heran dan menyuruh Kasih untuk tetap menunggunya, karena ia akan bertanya apa yang terjadi dan akan menyelesaikannya.


Setelah memakai pakaiannya, Arkan meminta bantuan istrinya untuk memasangkan dasi untuknya " Kasih bisa kamu bantu aku untuk memasang dasi?" tanya Arkan.


"Kamu kenapa sih kas, dari tadi kenapa kamu diam terus, gak biasanya kamu seperti ini. Apa aku ada salah sama kamu?" tanya Arkan.


Kasih masih sama, dia masih dalam mode silent walau Arkan dari tadi mengajaknya bicara. Ingin rasanya ia mencubit bibir lelaki itu yang tidak punya rem ketika menyebut nama istri pertamanya tanpa tahu kondisi dan waktu yang tepat. Arkan yang sedari tadi berusaha berkomunikasi dengan istrinya akhirnya tersulut emosi.


"Kasih, kamu kenapa sih dari tadi diam terus, kalau ada yang salah bilang saja, jangan diam terus dan gak nyaut kalau suami ngomong, tolong ya hargain aku sebagai suami kamu." ucap Arkan dengan suara yang agak tinggi.


"Kamu mau di hargain sebagai seorang suami, tapi kamu gak bisa menghargai aku sebagai seorang istri. Walau kamu tidak mencintai aku dan tidak akan pernah bisa melupakan Rena, tapi tolong hargai aku sedikit saja."

__ADS_1


"Mau kamu apa lagi sih kas, aku sudah lebih menghargai kamu dan jangan pernah kamu melibatkan Rena dalam masalah ini karena dia tidak ada sangkut pautnya dengan ini." bentak Arkan yang marah karena Kasih sudah lancang menyeret wanita yang ia cintai dalam rumah tangga mereka.


"Justru istri tercinta kamu itulah masalahnya disini, yang ada di dalam otakmu cuma Rena Rena Rena dan Rena saja. Aku juga tidak pernah menyuruhmu untuk melupakan wanita bahkan di dalan kamar yang aku tempati semuanya hanya foto istrimu itu tapi aku tidak protes tapi bisa tidak ketika kamu menyentuhku tolong jangan sebut nama wanita lain, yang kamu sentuh itu adalah Kasih bukan Rena. Tolong hargai perasaan saya. Saya tau tuan Arkan kalau dalam pikiranmu itu saya hanyalah pemuas nafsumu. Ingat saya juga manusia yang punya hati dan perasaan." Teriak Kasih dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


Arkan terpaku melihat kemarahan Kasih, selama menjadi istrinya Kasih tidak pernah semarah ini, dia hanya akan mengikuti apa saja yang Arkan katakan tanpa membantah apapun, Arkan sadar dia sudah salah menyebut nama Rena tadi malam, dia memang sudah keterlaluan terhadap istrinya itu.


"Kasih maafkan aku. Aku tidak sadar menyebutkan nama Rena, seharusnya kamu tidak marah karena tidak ada cinta di antara kita." ucap Arkan yang menambah luka di hati wanita itu.


Kasih hanya tersenyum pias mendengar ucapan suaminya itu "Aku yang salah mas, harusnya aku tidak membiarkan perasaan ini tumbuh kepada Laki-laki yang tidak pernah menatapku. Setelah mendengar perkataanmu, aku merasa seperti Pelac*r yang menjajakan dirinya kepada Laki-laki yang tidak mempunyai perasaan cinta untukku, dan aku hanya pemuas nafsumu saja. Kamu tau mas cemburu yang paling menyakitkan adalah cemburu kepada orang yang sudah tiada." ucap Kasih pergi meninggalkan Arkan.


Sedangkan mama Risma yang mendengar semua pertengkaran anak dan menantunya itu segera bersembunyi setelah melihat menantunya keluar dari kamar dengan isak tangis yang membuatnya emosi melihat kelakuan anaknya.


Tidak lama setelah Kasih keluar, Arkan ikut menyusul mencari istrinya itu, tetapi rencananya harus gagal karena mama Risma yang sudah berada di hadapannya.


"Mama ngapain di sini?" tanya Arkan.


"Benar-benar ya, kamu jadi Laki-laki gak punya perasaan, otak kamu kamu simpan di mana? bisa-bisanya kamu menyebut nama Rena saat bersama Kasih. Kamu seharusnya bersyukur dapat wanita seperti Kasih, jangan sampai kamu menyesal kalau nanti ada Laki-laki yang merebut Kasih darimu." ucap mama Risma meninggalkan anaknya


Sedangkan di dalam apartemen sepasang suami istri kini sedang terjadi pertengkaran.


Sheila yang tidak terima dengan kelakuan suaminya yang pulang larut malam menjadi pemicunya.

__ADS_1


"Jangan atur hidupku kalau kamu sendiri tidak mau mendengar perintahku, aku sudah bilang lahirkan untukku seorang anak." ucap Raka yang pergi meninggalkan Sheila di meja makan.


Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih teman-teman.


__ADS_2