
Tak ingin membuat keributan tengah malam begini apalagi melihat amarah sang istri Arkan mengambil kunci mobil dan ponselnya yang berada di atas meja "Baik mas akan pergi, mas akan memberi waktu untukmu menenangkan diri dan mas akan menjemputmu dan anak-anak." ucap Arkan.
"Jangan harap aku akan mau pulang sebelum kamu bisa memenuhi permintaanku."
Arkan keluar dari ruko itu kemudian menghidupkan mobilnya dan pergi meninggalkan sang istri.
Lelaki itu berpikir kemarahan Kasih akan menghilang setelah membiarkan istrinya menenangkan diri beberapa hari. Arkan tidak pulang ke rumah melainkan ke apartemen tempat ia tinggal bersama Rena dulu, sesampai di sana lelaki itu memasuki kamar mereka di mana terdapat banyak sekali Foto-foto bahkan melebihi yang ada di rumah orangtuanya.
Arkan menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dimana dulu ia tidur bersama Rena, semua kenangan seolah berputar di kepalanya. Kenangan indah bersama Rena dan putri mereka, Arkan tidak bisa menghapus semua itu tapi Arkan juga tidak ingin kehilangan Kasih dan kedua anaknya. Arkan sudah terlalu sayang terhadap kedua anak tidak berdosa itu.
Arkan menatap foto berukuran besar yang terpajang di kamar itu, senyum indah dan wajah cantik almarhumah Rena menghiasi dinding kamar itu "Rena apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan Kasih, aku tidak ingin menghapus kenanganmu dari hidupku, tapi aku juga tidak ingin kehilangan Kasih. Aku tidak tahu perasaan apa yang aku rasakan ini, tapi membayangkan Kasih pergi dari hidupku aku juga tidak bisa. Apa aku sudah jatuh cinta kepadanya, tidak aku tidak jatuh cinta kepadanya aku hanya terbiasa dengan keberadaannya. Hanya kamu yang aku cintai ren, hanya kamu pemilik hatiku. Rena apa kamu marah jika aku menghilangkan semua kenangan tentang kamu, dan apa kamu akan marah jika suatu saat nanti aku mencintai Kasih. Aku tidak tahu apa aku sudah jatuh cinta kepadanya atau hanya terbiasa. Bantu aku Rena, aku bingung, aku takut aku tidak ingin bercerai Rena." ucap Arkan berbicara kepada foto almarhumah istrinya itu.
Arkan yang sudah kelelahan perlahan memejamkan matanya dan terbawa ke alam mimpi di dalam mimpinya ia bertemu dengan Rena yang sedang menggendong putri kecil mereka. wanita cantik itu mendatangi Arkan yang sedang berdiri sendiri di tengah kegelapan, Arkan melihat seberkas sinar yang menyilaukan matanya, dari arah cahaya itu muncul Rena yang sedang menggendong putri mereka.
"Rena, kamu datang sayang. Mas sangat merindukan kalian. Ayo kita pulang sayang." ajak Arkan menarik tangan istrinya, tapi sayangnya ia tidak bisa menyentuh Rena.
__ADS_1
Rena tersenyum melihat suaminya itu "Mas relakan dan ikhlaskan kami mas, dunia kita sudah berbeda, kami sedih melihat kamu terus meratapi kepergian kami. Lanjutkan hidupmu dan kejarlah kebahagiaan mu, cerita kita sudah usai dan bukalah cerita baru bersama Kasih tanpa ada bayang-bayang kami mas. Aku dan putri kita sudah bahagia di sini dan kamu juga harus bahagia dengan keluargamu, cukup kamu kirimkan doa untuk kami dan jangan buat Kasih menangis lagi, jemputlah dia dan hapus air matanya, jangan pikirkan aku lagi karena aku merestui kalian." Setelah mendengar permintaan istrinya itu Rena dan putrinya itu perlahan menjauh dan hilang di telan cahaya itu.
"Rena... Rena... Renaaaaa...." Teriak Arkan terbangun dari tidurnya.
Napasnya tidak beraturan dan Arkan merasakan lelah luar biasa, pria itu berdiri dan keluar dari kamarnya mengambil air minum di dapur. Satu gelas tandas ia minum karena kehausan, lelaki itu duduk termenung di meja makan mengingat semua mimpinya. Arkan menangis tersedu-sedu karena menyadari kesalahannya yang membuat Rena dan anaknya tidak tenang karena selama ini dia egois tidak mau mengikhlaskan kepergian mereka dan disaat bersamaan dia juga sudah menyakiti wanita yang kini menjadi istrinya.
"Rena maafkan keegoisan ku, mulai hari ini aku akan mengikhlaskan kepergianmu dan putri kita semoga kalian bahagia di surga sana dan terima Kasih sudah merestui mas dan Kasih. Mas akan menjemput Kasih dan membuka lembaran baru dengannya.
Setelah merasa tenang, Arkan tidak dapat tertidur lagi padahal jam sudah menunjukkan jam 04.00 pagi. Lelaki itu memutuskan kembali ke rumah orangtuanya karena besok pagi ia ada jadwal rapat penting dengan perusahan dari luar negeri.
Sesampai di rumah Arkan langsung memasuki kamarnya karena semua penghuni rumah sedang terlelap pulas terbukti dengan tidak adanya yang menyambutnya. Karena tidak bisa memejamkan matanya lagi, Arkan memutuskan memilih untuk memeriksa pekerjaannya di ruang kerja yang terhubung dengan kamarnya, hingga matahari menunjukkan sinarnya barulah Arkan bersiap untuk berangkat ke kantor, ia akan menyelesaikan semua urusan kantor baru menjemput istrinya karena Arkan akan memberi waktu bagi Kasih agar wanita itu bisa meredakan emosinya.
Arkan turun dengan pakaian kantor yang sudah rapi tak lupa tas kerja di tangannya, ia duduk di meja makan dan menyapa semua anggota keluarga yang sudah menunggunya untuk sarapan.
"Pagi semuanya, maaf karena kalian sudah menunggu lama, mari kita sarapan." ucap Arkan mengambil selembar roti dan mengoleskan selai di atas roti itu.
__ADS_1
"Kamu sendiri mana istri kamu?" tanya Bayu pura-pura tidak tahu apa yang terjadi di rumah tangga sepupunya itu.
Bayu memang mengetahui semua permasalahan yang sedang di hadapi lelaki tampan yang jadi sepupunya itu karena nenek dan kedua orang tua Raka sudah menceritakannya bahkan mereka secara terang-terangan meminta bantuan Bayu.
Merasa gemas dengan kelakuan sepupunya itu Bayu setuju dan mau bekerja sama dengan nenek dan orang tua Arkan. Bayu akan membuat manusia kutub itu menyadari perasaannya untuk istrinya dengan cara membuat Arkan cemburu. Bayu bahkan sudah melihat foto Kasih yang di perlihatkan nenek Murni kemarin.
Arkan tidak tahu harus menjawab apa, jika keluarganya tahu Kasih sedang marah dan tidak mau pulang tamatlah riwayatnya, Arkan menelan salivanya karena takut menghadapi kemarahan dua wanita penguasa rumah mereka "Kasih sedang di ruko dia tidak pulang karena pesanan kue cukup banyak dan akan memakan waktu kalau harus bolak balik ke sini." ucap Arkan berbohong.
Mendengar kebohongan putranya membuat mama Risma semakin geram "Kalau Kasih tidak bisa pulang seharusnya kamu juga tidak usah pulang ke sini temani istrimu, mana tanggung jawab kamu sebagai suami. Kamu sanggup membiarkan dia tinggal di Sana, awas ya kalau ada apa-apa dengan menantu dan cucu-cucuku. Mama kirim kamu ke hutan belantara." ancam mama Risma.
"Kalau kamu ada masalah dengan istrimu cepat selesaikan jangan sampai berlarut-larut, tidak baik nanti kamu menyesal." Ucap nenek Murni mengingatkan.
"Kalau kamu sudah tidak mau, berikan saja padaku." ucap Bayu tiba-tiba.
Jangan lupa like, komentar, vote dan hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya, karena dukungan kalian sangat berarti dan memacu semangat author untuk terus berkarya.
__ADS_1