Luka Yang Kau Beri

Luka Yang Kau Beri
Bab 91 "Pendekatan dengan calon anak sambung"


__ADS_3

Dara yang ketakutan langsung berlari mengadu kepada papa Arman.


"Kakek, Dara dimarahin sama om ganteng itu." Aduh Dara yang kini sudah duduk di pangkuan papa Arman.


Mendengar aduan dari bocah kecil itu, papa Arman langsung mengarahkan pandangannya ke tempat yang Dara tunjuk. Ternyata di sana sudah berdiri seorang lelaki yang menatap heran kepadanya.


Papa Arman tersenyum sambil menyuruh Arkan mendekat, Arkan hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, ia berjalan mendekati papanya dan gadis kecil tersebut kemudian mendaratkan bokongnya di sofa yang berseberangan dengan tempat duduk papa Arman dan Dara.


"Di mana papa mendapatkan bocah ini, Apa papa mau mengangkatnya jadi anak?" Tanya Arkan masih menatap dingin ke arah Dara membuat bocah itu mempererat pelukannya di leher papa Arman dan menyembunyikan wajahnya.


"Bisa gak wajahmu itu di kondisikan, pasang muka senyum dan ramah mu dulu. Kamu gak lihat Dara ketakutan. Bagaimana mau cepat dapat emaknya, anaknya saja sudah ketakutan melihatmu. Seharusnya kamu ambil hatinya supaya jalan mendapatkan emaknya terbuka lebar." Omel papa Arman.


"Jadi dia anaknya Kasih yang mau di jodohin sama aku itu pa. Kok bisa ada di sini, apa mamanya juga di sini? Tanya Arkan.


"Cieh... cieh... yang gak sabar ketemu calon istri, sabar dulu Kasih masih dalam masa Iddah. Papa tahu kamu sudah lama gak menikmati surga dunia, jangan-jangan sudah karatan lagi itu si Otong. Sabar dulu ini ujian." Ledek papa Arman.


"Papa apaan sih, siapa juga yang gak sabar ketemu itu perempuan. Papa kalau ngomong jaga dong mulutnya apalagi di samping papa ada anak kecil." Ucap Arkan mengingatkan.


"Ya sudah papa salah, kalau begitu kamu dulu yang jaga Dara. Ajak main kek, hitung-hitung pendekatan supaya nanti kamu terbiasa karena sebentar lagi kamu akan punya 2 anak." Ucap papa Arman sembari memberikan Dara ke pangkuan Arkan.


Dara yang takut awalnya tidak mau dan ingin menangis karena takut, tetapi setelah di bujuk oleh papa Arman akhirnya Dara mau walau masih takut.


"Papa mau kemana, jangan tinggalin kita berdua dong pa, Arkan gak bisa jaga ni bocah sendiri." Teriak Arkan yang melihat kepergian papanya.


"Papa mau istirahat dari tadi papa sudah bermain dengan Dara, pinggang papa rasanya mau patah dan perlu istirahat." Jawab Papa Arman dengan enteng dan pergi meninggalkan Arkan dan Dara.

__ADS_1


Setelah kepergian Papanya, Arkan menatap bocah yang ada di pangkuannya itu, Arkan sedang berpikir bagaimana caranya agar anak itu tidak takut lagi dengannya.


"Dara mau gak berenang sama om, di taman belakang ada kolam berenang loh, berenang sama om yuk?" ajak Arkan.


"Dara gak bisa berenang om?" Jawab Dara dengan pelan.


"Kamu gak usah takut, om jago kok berenang. Jadi kamu aman berenang sama om sekalian om ajarin deh." Bujuk duda itu.


Mendengar perkataan Arkan membuat Dara lupa akan ketakutannya kepada pria itu, ia langsung mengangguk dan tersenyum bahagia.


Sesuai dengan janjinya Arkan mengajari calon anak sambungnya itu berenang, kecanggungan yang di rasakan saat awal bertemu tadi sudah hilang. Bahkan sekarang mereka terlihat akrab, begitu juga dengan Dara bocah itu sudah tidak takut lagi dengan Arkan. Dara bahkan sudah berani memanggil pria itu dengan sebutan om ganteng.


"Dara kita udahan dulu ya renangnya, nanti kalau kelamaan kamu sakit. Nanti mama kamu marah lagi sama om." Bujuk Arkan.


"Iya om tahu mama kamu gak marah, tapi kalau Dara sakit nanti mama Dara kasihan harus jagain Dara sakit, terus yang jaga toko kue siapa?" Ucap Raka mencoba membujuk gadis mungil itu.


Setelah mendengar ucapakan om gantengnya Dara akhirnya mau mengakhiri acara renangnya dengan Syarat Arkan harus mau menemani ia berenang jika Dara berkunjung ke sini lagi.


Dara sedang di gantikan bajunya oleh mba Sarti sedangkan Arkan kini duduk di ruang keluarga sembari bermain dengan ponselnya.


Mama Risma datang menghampiri Arkan dengan baby Ardi dalam gendongannya.


"Nak tolong kamu gendong Ardi dulu, mama kebelet mau ke kamar mandi." Suruh mama Risma yang langsung meletakkan Ardi di gendongan anaknya.


Arkan yang ingin protes hanya dapat menghela napas kasar karena sang mama yang sudah tak terlihat lagi wujudnya.

__ADS_1


"Kenapa hari ini aku jadi pengasuh anak, tadi kakaknya sekarang adiknya jangan bilang kalau habis ini mamanya." Ucap Arkan bicara sendiri.


Baby Ardi yang sedang di gendongannya pun ikut tertawa, mendengar ocehan Arkan.


"Kenapa kamu tertawa, kamu suka melihat om menderita begini, kamu harus tahu yang mengazani kamu waktu lahir itu om, jadi kamu harus nurut sama om ya, jangan nangis ." Perintah Arkan yang membuat baby Ardy semakin tersenyum.


Arkan seakan tersihir dengan senyuman bayi mungil yang menggemaskan itu, tanpa Arkan sadari ia sudah mendekatkan wajahnya ke wajah baby Ardy, mencium pipi bulat bayi tersebut.


"Kamu montok sekali, gemes bangat sih. Kenapa ayahmu bodoh sekali meninggalkan kalian demi wanita penggoda itu. Om janji kalau om jadi menikah dengan mama kalian om akan menjadi ayah terbaik untuk kamu dan kakakmu. Om pastikan kamu dan kakakmu tidak akan kekurangan kasih sayang seorang ayah." Ucap Arkan yang terus mencium baby Ardi.


Mama Risma yang baru selesai dari kamar mandi mendengar semua ucapan anaknya itu, tak terasa ia menitihkan air matanya mengingat sudah lama anaknya itu tidak tersenyum seperti ini.


"Mama yakin nak, Kasih dan anak-anaknya akan membuat warna dalam hidup kamu kembali, walau mama yakin sekarang kamu menerima perjodohan ini karena terpaksa. tetapi mama yakin Kasih akan mampu meruntuhkan tembok pertahananmu itu. Mama akan selalu mendoakan kebahagiaanmu nak, semoga kamu juga cepat move on dari Rena, karena dia juga sudah bahagia di alam sana dengan putri kalian." Ucap mama Risma dalam hati.


Mama Risma tidak jadi menghampiri Arkan, dia berjalan ke dapur untuk membantu asisten rumah tangganya menyiapkan makan siang.


Seolah memberikan ruang kepada Arkan agar dapat mendekatkan diri dengan calon anak sambungnya itu. Setelah selesai menata makanan di meja mama Risma memanggil semua orang kemudian mendekati Arkan yang sedang berdiri menggendong bayi mungil itu.


Dari kejauhan Arkan sudah melihat mamanya yang mendekat dan ingin berbicara tetapi Arkan memberi isyarat kalau baby Ardi sudah tidur.


Setelah meletakkan baby Ardi di kamar dengan di jaga mba Sarti, mereka memulai makan siang mereka di tambah dengan satu anggota baru yaitu Dara.


"Arkan nanti sore kamu antarkan nenek dan mama ke rumah Kasih untuk mengantar Dara dan Ardi" Titah sang nenek.


Jangan lupa like, komentar, vote dan Hadiahnya agar author lebih semangat dan rajin up-nya terimakasih banyak ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2