
"Kalau istri mas gak bisa melayani mas, di sini ada yang selalu siap sedia mas." Goda Sheila sambil membelai rahang Raka.
Sedangkan Raka sangat menikmati sentuhan perempuan itu telah berhasil membangkitkan sesuatu di bawah sana.
Sheila yang dapat merasakan sesuatu yang bangun di bawah sana tersenyum puas karena Raka sudah masuk dalam permainannya.
Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut Sheila kembali meraba wajah Raka mulai dari kening, hidung, kemudian bibir Raka.
Tak berhenti disitu Sheila langsung mendekatkan bibirnya dengan Raka dan mulai menciu* dengan rakus.
Raka juga membalas aksi Sheila, sehingga terjadilah pergumulan antara mereka.
Raka yang tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, langsung melahap santapannya.
Kini kedua manusia yang terbawa suasana itu sedang asyik dengan aktivitasnya tapi sayang kegiatan itu harus di hentikan ketika sedang berada di puncak nirwana, ponsel Raka berbunyi menandakan ada panggilan masuk.
__ADS_1
Mendengar ponselnya berbunyi Raka langsung tersadar dengan apa yang dilakukannya. Segera Raka menyudahi aksi mendaki gunungnya.
Sheila yang terkejut dengan aksi Raka yang berhenti ketika ia sedang ada dipuncak kenikmatan dengan teganya Raka tidak melanjutkannya.
"Mas kok berhenti?" Tanya Sheila.
"Maaf shei mas kelepasan, sebaiknya kamu turun dari pangkuanku." Suruh Raka.
Mendengar perintah Raka, Sheila langsung turun dan berdiri di samping Raka walau dengan raut wajah yang kecewa, sedangkan Raka langsung mengangkat ponselnya.
Ternyata Akhir pekan di sepakati oleh kakak beradik tersebut untuk bertemu karena hanya itu waktu senggang yang mereka punya.
Setelah menemukan hari yang tepat, panggilan tersebut pun putus.
Raka yang heran kenapa Sheila masih berdiri di samping segera menyuruhnya kembali mejanya.
__ADS_1
"Shei ngapain kamu masih disini, kembali sana ke mejamu." Suruh Raka.
Sheila yang menganga dengan perkataan Raka hanya bisa mengumpat di dalam hati.
"Dasar laki-laki tidak berperasaan, setelah puas dengan tubuhku seenaknya menyuruhku pergi untung cinta. Awas saja aku akan buat kamu bertekuk lutut di hadapanku." Ucap Sheila dalam hati.
"Kenapa diam shei, sudah sana kamu keluar." Ucap Raka.
Bukannya langsung melangkahkan kakinya ke arah pintu, tetapi Sheila kembali memberi satu kecupan lagi pada Raka tapi kali ini bukan di bibir melainkan di pipi Raka.
Kemudian ia berbisik di telinga Raka " Kalau mas mau melanjutkan kegiatan yang tadi, mas bisa hubungi aku atau datang ke apartemen aku, yang tadi nanggung mas." Ucap Sheila dengan nada bicara yang sensual dan tak lupa meniup telinga Raka.
Kemudian Sheila berjalan meninggalkan ruangan Raka.
Kini tinggal Raka seorang diri di dalam ruangannya, dia tidak menyangka bisa melakukan itu kepada Sheila, Raka yang sedang berperang dengan batinnya semakin pusing karena hatinya berkata jangan mengkhianati pernikahannya tapi dia tidak bisa menahan hasr*tnya.
__ADS_1
"Untung tadi kak Riki menelpon kalau tidak bisa-bisa bablas tadi. Tapi ternyata Sheila lihai juga, padahal dia masih gadis beda dengan Kasih yang selalu pasrah gak mau inisiatif duluan. Kenapa aku jadi membandingkan mereka." ucap Raka yang mulai membanding-bandingkan antara Kasih dan Sheila.