
Kini Raka sudah berada di ruangannya, lelaki itu terlihat menangis penuh penyesalan, ia kembali mengingat betapa sulitnya ia untuk sampai pada posisi sebagai manager keuangan di perusahaan besar ini, bahkan jadi karyawan biasa saja Raka sudah bangga dan bahagia karena ia bisa memenuhi kebutan keluarga kecilnya.
Tangis Raka semakin menjadi kala mengingat betapa indahnya kenangan bersama Kasih, mulai dari menikah sampai memiliki anak, Kasih selalu menyemangatinya dan selalu menerima apa yang di berikan Raka tanpa mengeluh. Bahkan Kasih sangat bisa mengatur keuangan hingga mereka bisa membeli rumah sederhana tempat mereka berlindung.
Raka sangat menyesali kebodohannya, kala tergoda dengan kebahagiaan semu yang di tawarkan oleh wanita yang menyusup dalam hidupnya kala ia dan Kasih berada dalam fase tidak baik dalam hubungan rumah tangga mereka.
Kekhilafan dan nafsu yang tidak bisa ia tahan membawanya kepada kehancuran seperti sekarang ini. Dulu ia mempunyai segalanya, keluarga yang harmonis, istri yang sangat di idam-idamkan dan bisa dikatakan nyaris sempurna, anak yang sehat dan pintar. Walau ia hanya karyawan biasa tapi ia merasa hidupnya dulu lebih bahagia, terarah daripada sekarang.
Raka sangat merasa bodoh kala itu mau menuruti permintaan Sheila hingga ia menggelapkan uang perusahaan demi mencukupi gaya hidup Sheila yang mewah.
Raka juga sangat menyesal ketika ia teringat bagaimana dulu keluarganya mengingatkan ia agar berhenti bermain api, jika ia mendengarkan nasehat dari abang-abangnya mungkin saat ini ia masih bisa hidup damai dan bahagia bersama Kasih dan kedua anaknya.
__ADS_1
Raka membereskan barang-barangnya sebelum ia meninggalkan ruangan yang ia tempati beberapa tahun ini. Tak menyangka karir yang ia bangun dengan susah payah akan hancur akibat keserakahannya.
Dengan langkah gontai ia meninggalkan ruangan tersebut, tapi sebelum keluar ia menghapus air matanya. Tak ingin orang lain melihat sisi lemahnya. Raka tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, ia tidak yakin apakah akan ada perusahaan yang akan menerimanya.
Raka keluar dari ruangannya, semua rekan dari divisi keuangan menatap Raka dengan tatapan iba bercampur kesal.
Iba karena melihat karir Raka yang hancur, kesal karena mengingat perbuatan Raka dan Sheila dulu.
"Kamu yang sabar, pasti ada hikmah di balik semua ini." ucap Adam mencoba menyemangati.
"Kamu pasti kuat menghadapi semua ini. Semoga jika kita bertemu lagi keadaan kamu sudah lebih baik dari hari ini." tambah Dion.
__ADS_1
"Yang sabar, semoga kamu cepat dapat kerjaan baru." Ucap Nadia.
Semuanya memberi kata penyemangat dan salam perpisahan, kecuali Fitri dan Anton.
Fitri merasa ia sudah mengatakan apa yang ingin ia katakan ketika tadi di ruangan Raka.
Raka memaksakan bibirnya tersenyum, laki-laki merasa bersyukur mempunyai rekan yang baik seperti mereka, semua temannya berubah karena kelakuannya juga.
"Terima Kasih, aku minta maaf jika selama bekerja disini pernah membuat kalian marah atau kesal. Aku pamit, semoga di lain waktu kita bertemu dengan keadaan bahagia." Ucap Raka tulus.
Raka melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut, hingga Raka sampai di pintu tiba-tiba terdengar suara "Aku harap kamu sadar dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Semoga sukses di tempat baru." Ucap Anton.
__ADS_1
Akhirnya ia memberi kata perpisahan dengan sahabatnya itu, walau masih kesal dengan Raka tapi tidak di pungkiri ia juga merasa kasihan dengan nasib sabahatnya itu.