PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 100


__ADS_3

"Terimakasih Pak. Hati-hati dijalan," ucap Maura setelah mobil yang mengantarnya tadi berhenti tepat didepan rumahnya dan setelah dirinya turun dari dalam mobil yang mengantarnya tadi.


"Siap. Saya permisi dulu ya." Maura menganggukkan kepalanya tak lupa ia juga melambaikan tangannya kala mobil Mommy Della mulai melaju.


Dimana saat mobil itu sudah tidak bisa Maura lihat, perempuan itu segera masuk kedalam area rumahnya.


Dan dengan menghela nafas sesaat, ia membuka pintu utama rumah tersebut.


Satu kata yang menggambarkan keadaan rumah itu yaitu sepi. Sangat-sangat sepi seperti biasanya kala dia ditinggal Erland bekerja. Tapi suasananya kali ini sangat-sangat berbeda. Kalau dulu mungkin ia akan cuek tapi sekarang ia merasa kehilangan.


"Huh tenang Maura. Erland hanya pergi sementara kok dan akan pulang secepatnya," ujar Maura untuk menguatkan dirinya sendiri. Dan saat dirinya sudah sedikit tenang, ia masuk kedalam rumahnya dan tujuan utamanya yaitu ke dapur.


Ia tersenyum melihat lauk pauk yang tertata rapi dibalik tudung saji yang baru saja ia buka.


"Entah aku harus bersyukur bagaimana lagi telah mendapatkan lelaki sebaik, sabar dan sangat perhatian seperti Erland ini. Dan sayangnya kenapa aku baru menyadarinya belum lama ini. Huh, maafkan aku, Er," gumam Maura dengan mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi makan. Lalu tanpa berkata lagi, ia mulai mengambil makanan yang ada di hadapannya itu. Menyantap dengan nikmat hasil masakan sang suami.


"Rasa yang akan aku rindukan beberapa hari kedepan," gumam Maura kala dirinya telah selesai mengisi perutnya yang sedari tadi pagi tak ia isi.


Dimana setelahnya Maura merogoh ponselnya, ia berniat untuk mengirimkan sebuah pesan kepada sang suami sekaligus agar Erland tau jika nomor ponselnya tak Maura blokir lagi.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain, Erland yang tengah berada di ruang meeting untuk menindak lanjuti lebih dalam lagi permasalahan yang tengah ia hadapi mengenai perusahaan yang telah rugi ratusan juta itu.


Dan ditengah-tengah ia berbicara serius dengan para petinggi perusahaan, suara dering ponselnya terdengar. Yang mana membuat Erland menghentikan aktivitasnya tadi. Dan yap, setelah terkena omelan dari sang Daddy, Erland tidak lagi mematikan ponselnya walaupun tengah meeting sekalipun.


Erland kini menatap layar ponselnya sampai kerutan dikeningnya terlihat.


"Nomor siapa ini," gumam Erland.


"Pak, ada apa?" tanya sang sekretaris saat melihat gelagat tuannya yang tampak berbeda.


"Kamu lanjutkan ucapanku tadi!" perintah Erland secara tiba-tiba yang membuat sang sekretaris melongo tak percaya. Ayolah, tadi kan yang bicara Erland kenapa dirinya yang harus meneruskan ucapan bosnya itu. Kalau presentasi, tak masalah baginya karena ada materi yang sudah ia pelajari. Tapi konteksnya kali ini berbeda. Ia tak mungkin melanjutkan ucapan bosnya itu yang keluar secara spontan dari bibir Erland tanpa ada teks satu katapun.


Sedangkan Erland, laki-laki yang saat ini tengah di gerutui oleh sang sekretaris, ia tak peduli. Toh ia juga tidak mendengar gerutuan itu. Dan dirinya memilih untuk fokus ke ponselnya, tanpa memperhatikan acara meeting kali ini.


📨 : 08******


"Hay Er. Kamu sudah sampai belum? Kalau sudah sampai nanti kabarin aku ya. Aku, istrimu, Maura."


Erland hampir tersedak ludahnya sendiri kala membaca kalimat terakhir dari pesan yang baru ia ketahui jika pesan itu dari Maura. Entah ada angin apa sampai Maura mengakui jika dirinya adalah istri dari seorang Erland Drake Abhivandya. Tapi Erland tak peduli entah Maura tengah kesurupan atau apalah yang terpenting isi pesan dari sang istri tadi membuat dirinya bahagia setengah mati. Bahkan tak terasa bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman yang otomatis membuat semua orang yang sedari tadi menatap sekertaris Erland tadi, mengalihkan pandangannya kearah Erland yang duduk tepat disamping sang sekretaris berada.

__ADS_1


Bisik-bisik pun mulai terdengar dari mulut-mulut semua orang di ruang meeting itu. Mungkin mereka menganggap jika pimpinan mereka tengah tidak sehat lebih tepatnya sudah tidak waras lagi.


Sekretaris Erland yang melihat bisik-bisik dari semua orang pun ia menyenggol lengan sang atasan.


"Ck, apaan sih Fif? Kan saya tadi sudah bilang, ganti alih tugas saya untuk sebentar saja. Saya lagi sibuk ini dan jangan diganggu," ucap Erland tanpa mengalihkan pandangannya kearah ponselnya bahkan tangannya bergerak lincah mengetik satu persatu kata yang akan menjadi sebuah kalimat balasan yang nantinya akan ia kirimkan ke sang istri tercinta. Tentunya hal itu ia lakukan dengan senyum yang masih mengembang.


"Ishhhh saya tau Pak kalau saya sekarang tengah mengambil alih tugas bapak. Tapi bapak bisa tidak jangan senyum-senyum sendiri sepertinya ini. Bapak tidak lupakan kalau di ruangan ini banyak orang-orang penting perusahaan. Malu Pak sama mereka. Mana bapak sekarang jadi bahan gosip para laki-laki disini lagi. Astaga Pak. Hentikan sekarang juga dan jangan tersenyum. Karena aku tadi sempat mendengar pertanyaan dari salah satu orang disini, mereka menebak jika bapak saat ini tengah terkena gangguan jiwa," ucap sang sekertaris mengingatkan atasannya itu untuk bersikap biasa saja. Jangan senyum-senyum sendiri seperti itu, tolonglah jangan sampai dirinya mendapat tugas tambahan yaitu untuk mengusir para perempuan, pendamping dari orang-orang penting di perusahaan saat ini yang tentunya semakin tertarik dengan Erland hanya karena laki-laki itu memperlihatkan senyumannya tadi.


Erland melirik kearah sang sekretaris dengan tatapan tajamnya sembari bergumam, "Awas saja kalau kamu sampai bohong dengan saya."


Sang sekertaris hanya bisa mendengus kesal dengan ucapan dari sang atasannya itu. Sedangkan Erland, setelah ia mengatakan ucapannya tadi, ia segara mengalihkan pandangannya kearah sekitar. Dan seperti yang dikatakan oleh sang sekretaris tadi jika semua pasangan mata saat ini tengah mengarah kepadanya.


Erland tampak kikuk sendiri jadinya, tangan kanannya pun ia gerakan untuk menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Lalu setelahnya ia melirik kearah sekertarisnya berada sembari Erland berkata, "Kenapa kamu tidak memberitahu saya kalau semua orang yang ada disini tenaga menatap kearah saya."


Sang sekretaris melongo tak percaya. Bukannya baru beberapa saat bibirnya ini tadi mengatakan situasi yang tengah terjadi saat ini kepada sang bos, justru Erland yang selaku bos malah bertanya lagi. Oh astaga! Tolong tahan laki-laki muda itu agar tak melempari Erland dengan gelas yang berada dihadapannya itu. Tapi untungnya dia yang memiliki tingkat kesabar yang sangat-sangat luas pun ia membalas ucapan dari Erland tadi dengan senyuman di bibirnya, "Maaf-maaf nih ya Pak sebelumnya saya sudah mengatakan jika bapak tengah menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di dalam ruangan ini. Tapi bapak malah mengabaikan begitu saja. Dan hasilnya saat bapak lihat sendiri apa yang saat ini tengah terjadi, bapak malah menyalahkan saya yang tidak memberitahu bapak. Astaga Pak Pak. Sudahlah Pak, terserah bapak saja. Dan lebih baik hiraukan tatapan semua orang yang ada di sini dan mulai lah meetingmu ini kembali agar kita bisa cepat-cepat menyelesaikan masalah yang ada disini dan segera kembali pulang ke Indonesia."


Ucapan panjang lebar dari laki-laki muda alias sekretaris Erland itu, membuat Erland sendiri mendengus kasar. Dan dengan menaruh kembali ponselnya diatas meja meeting akhirnya Erland melanjutkan meetingnya yang sempat tertunda tadi hanya karena fokus dengan pesan dari Maura yang hampir membuat Erland terbang sampai langit ke tujuh dan semoga saja ia tak dihempaskan lagi oleh Maura nantinya.


...****************...

__ADS_1


60 Like yokkkk... gassss😅❤️


__ADS_2