
Erland termenung menikmati denyut jantungnya yang tak kunjung mereda setelah 30 menit lebih saat ia keluar dari dalam kamar mandi tadi. Hingga suara pintu terbuka membuat Erland mengalihkan atasinya ke sumber suara. Seketika mata Erland terbuka lebar, ia langsung berlari saat mengetahui jika sumber dari bunyi tadi adalah Maura. Ya, Maura tak melakukan apa yang Erland tadi sudah pesankan kepadanya untuk memanggil dirinya jika wanita itu sudah selesai dengan aktivitasnya di dalam kamar mandi tersebut, dan justru ia berjalan sendiri dengan sesekali meringis menahan perih di area sensitifnya itu.
"Maura, apa yang kamu lakukan?" Erland yang sudah berada dihadapan sang istri langsung berucap bahkan tangan kanan Maura yang masih bertengger di daun pintu sudah ia pindahkan di bahunya. Dan tanpa aba-aba lagi, Erland mengendong tubuh Maura ala bridal style tapi tak urung omelan tetap keluar dari bibirnya.
"Aku kan tadi sudah bilang sama kamu, kalau sudah selesai teriak saja. Bukan malah nekat jalan sendiri seperti tadi. Gimana kalau darah itu keluar lagi dari bawah sana dan kamu akan semakin kesakitan?" Maura meringis mendengar ucapan Erland yang tentunya terdengar berlebihan sekali karena darah yang keluar tadi malam tidak akan pernah keluar lagi.
Erland perlahan menurunkan tubuh Maura diatas ranjang dan dengan menatap lekat wajah Maura dengan kedua tangan yang berkacak pinggang ia melanjutkan omelanya tadi, "Kalau di kasih tau sama suami itu jangan diam saja seperti ini."
Maura menggaruk pelipisnya. Ia ingin menimpali ucapan Erland sedari tadi tapi saat bibirnya sudah terbuka dan bersiap untuk mengeluarkan suara, dirinya kala cepat dengan ucapan Erland.
"Sayang ih. Kamu dengar gak sih apa yang aku katakan dari tadi," kesal Erland.
"Iya Erland. Aku dengar kok. Aku mengaku kalau apa yang aku lakukan tadi salah. Jadi aku minta maaf. Janji gak akan ngulangi lagi. Dan hmmmm Er, darah itu tidak akan keluar lagi karena darah tadi malam bertanda jika aku masih gadis. Dan berhubung kamu sudah merenggut kegadisanku, darah itu tidak akan keluar entah saat aku bergerak, berjalan, berlari atau kita berhubungan lagi," ucap Maura dengan suara yang mendadak menjadi lirih saat mengucapakan tiga kalimat terakhir.
"Benarkah?" Entah Erland pura-pura bodoh atau memang bodoh beneran. Yang jelas dia dulu termasuk siswa berprestasi dan tentunya dia pernah nakal yang harusnya tanpa Maura jelaskan ia tau tentang hal itu. Tapi entahlah mungkin dia amnesia sesaat sekarang karena terus terang saja fokus dirinya harus terbagi dengan merasakan degup jantungnya yang tak kunjung kembali normal.
Maura yang mendapat pertanyaan pun ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari suaminya tadi.
"Jadi kalau kita berhubungan lagi seperti semalam, kamu tidak akan merasakan sakit lagi?" Maura tampak terdiam. Mau menjawab, ia malu tapi kalau tidak menjawab pasti Erland akan mendesaknya nanti. Jadi dengan terpaksa dan dengan semburat merah muda di kedua pipinya yang berusaha untuk ia sembunyikan Maura menjawab dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Apa iya?" Erland masih memastikan. Ia benar-benar takut jika melakukan hubungan seperti semalam justru akan membuat Maura terluka. Bahkan dirinya tadi sempat berpikir untuk tidak melakukan hubungan suami-istri lagi untuk kedepannya karena lagi-lagi ia tak ingin menyakiti istrinya.
Maura tanpa menghela nafas. Dirinya memilih untuk mengganti topik pembicaraan saja daripada ia mati karena malu dengan pembahasan yang sebenarnya sangat intim itu.
"Er, aku lapar. Bisakah kita makan saja sekarang," ujar Maura.
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku." Erland masih saja kukuh ingin memastikan ucapan dari Maura tadi.
"Aku kan tadi sudah menjawab dengan anggukkan," balas Maura.
"Tapi itu belum membuatku yakin 100% dengan ucapanmu tadi." Maura memutar bola matanya malas.
Erland tampak terdiam sebelum ia menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Baiklah. Aku akan tanya ke dokter perihal ini."
Maura hanya bisa melongo dibuatnya. Padahal dirinya tadi hanya bercanda saja tapi tanpa ia sangka jika Erland malah menganggap jika apa yang ia katakan tadi adalah sebuah keseriusan.
"Jangan aneh-aneh deh Er. Jangan tanya perihal masalah ranjang kita ke orang lain. Malu," ujar Maura.
"Lah kamu kan tadi kasih ide ke aku untuk tanya dokter saja. Lagian aku juga takut Ra kalau kamu akan terluka lagi jika aku menginginkan seperti malam tadi. Dan untuk memastikannya lebih baik aku mengikuti saran kamu. Jika saat Dokter nanti bilang kamu akan terluka kembali saat kita berhubungan maka aku putuskan untuk tidak melakukannya kedepannya karena aku benar-benar tidak mau kamu merasakan sakit seperti ini," ucap Erland dengan raut wajah yang sangat kentara jika ia khawatir dengan Maura.
__ADS_1
Sedangkan Maura, ia yang sedari tadi melongo tambah melongo lagi mendengar ucapan Erland yang tak ingin menyentuhnya kembali. Yang benar saja. Kalau dia tidak ingin menyentuh Maura, saat dia terpancing napsunya dia akan melampiaskannya ke siapa? Ke sabun? Bermain solo? Atau jangan-jangan Erland akan melampiaskannya ke perempuan lain di luar sana lagi. Kemungkinan-kemungkinan negatif yang berputar di otak Maura saat ini membuat Maura kesal setengah mati. Dan dengan memberikan tatapan tajam kearah Erland yang ternyata laki-laki itu sudah duduk di sampingnya, ia bersuara, "Oh kamu tidak mau menyentuhku lagi dengan alasan kamu tidak mau menyakitiku padahal didalam benakmu, kamu mau menyalurkan napsumu ke perempuan lain kan."
Tudahan yang diberikan Maura membuat Erland terkejut, jauh sekali pikiran Maura ini.
Hingga tangannya yang sedari tadi diam, kini bergerak untuk menyentil kening Maura.
"Pikiran kamu itu lho, terlalu jauh. Aku tidak akan pernah mengkhianati kamu. Tidak ada didalam benakku untuk mencari perempuan lain. Aku benar-benar takut membuat kamu kesakitan lagi." Maura yang tadi sempat meringis karena sentilan Erland yang cukup kuat dengan tangan yang bergerak untuk mengusap keningnya, ia semakin kesal dengan Erland. Bukan kesal karena pikiran negatifnya kepada sang suami hingga menimbulkan tuduhan seperti tadi. Tapi ia cukup kesal karena Erland tidak kunjung percaya jika semuanya akan baik-baik saja jika mereka melakukan hal tersebut lagi.
"Kan aku tadi sudah bilang kalau semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak akan merasakan sakit sama sekali seperti semalam. Kamu paham apa yang aku ucapan ini tidak sih!" kesal Maura.
"Iya aku paham. Tapi---"
"Kalau kamu peham harusnya kamu juga percaya dengan apa yang aku katakan," ucap Maura.
"Tapi sayangnya aku tidak percaya. Dan seperti yang kamu katakan tadi aku nanti akan pergi ke rumah sakit untuk---hmpttt." Belum juga Erland melanjutkan perkataannya, serangan mendadak dari Maura membungkam mulutnya.
Ia sempat terkejut dengan Maura yang tiba-tiba mencium bibirnya. Dan keterkejutannya tak sampai di situ saja, ia semakin dibuat terkejut saat Maura berdiri dari posisi duduknya tadi, tanpa melepaskan ciuman mereka hingga saat perempuan itu sudah berdiri dihadapan Erland, ia langsung melepaskan ciuman itu kemudian mendorong tubuh Erland yang hanya duduk di pinggir ranjang. Hingga saat tubuh Erland telentang diatas ranjang, Maura merangkak naik tanpa memperdulikan bagian bawahnya yang masih perih.
Dan saat Maura sudah berada di atas tubuh Erland, ia berucap, "Aku akan membuktikan apa yang aku ucapkan tadi. Jadi bersiaplah."
__ADS_1
Setelah ucapan itu Maura lontarkan, kegiatan seperti tadi malam kembali terulang bahkan sekarang Maura yang memimpin permainan. Ia tak mengindahkan ucapan Erland yang terus menolaknya hingga akhirnya Erland hanya bisa pasrah saja dengan terus berdoa didalam hatinya agar Maura tak kesakitan lagi.