
Orang yang tengah menggedor pintu rumah Maura tadi kini berkacak pinggang dengan wajah yang ia pasang segalak mungkin kepada Maura.
Sedangkan Maura yang tadi sempat terkejut ia kini memperlihatkan deretan gigi rapinya itu sebelum ia kini bersuara.
"Ehhhh ada neng Meli. Masuk neng," ucap Maura sembari membuka pintu rumahnya itu semakin lebar. Yap, orang yang tengah bertamu itu adalah Meli, sahabat Maura dari mereka duduk di sekolah menengah pertama sampai saat ini. Sahabat yang tadi juga sempat menelpon untuk meminta penjelasan kepada Maura karena perempuan itu tidak mengabari dirinya jika sudah menikah.
Meli yang mendapat tawaran dari Maura pun, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia bergegas masuk kedalam rumah sederhana namun sangat-sangat nyaman untuknya itu. Dan tanpa diminta untuk duduk, Meli tak segan-segan duduk terlebih dahulu.
Maura yang melihat hal itu pun ia hanya menggelengkan kepalanya. Namun ia juga penasaran kenapa sahabatnya itu bisa sampai di rumahnya hanya dalam 5 menit saja setelah ia menyebutkan alamat rumah tersebut. Apa mungkin Meli tengah berada di sekitar perumahan itu tadi saat perempuan itu menghubunginya? Haishhhh entahlah, Maura juga tidak perduli akan hal itu dan dia memilih untuk segera mendekati Meli kemudian ia ikut duduk di salah satu kursi di ruang tamu.
"Kapan kamu menikah?" Baru juga Maura mendudukkan bokongnya dan belum sempat melakukan basa-basi kepada Meli, sahabatnya itu justru langsung bertanya to the point kepadanya. Dimana hal tersebut mau tak mau Maura jawab.
"3 hari yang lalu."
"Kenapa gak ngundang aku? Apa kamu sudah tidak menganggap aku sebagai sahabatmu lagi? Atau karena kamu sudah bahagia karena menemukan laki-laki idamanmu sampai kamu melupakanku? Sialan banget ya kamu," cerocos Meli dengan melempar bantal sofa ke arah Maura yang untungnya bisa di tangkap oleh Maura.
"Bukan gitu Meli. Aku tidak pernah melupakanmu dan aku masih menganggap kamu sebagai sahabatku kok. Hanya saja pernikahanku ini dadakan juga bersifat privat karena aku mau pernikahan ini tidak di ketahui oleh orang banyak. Dan jika kamu berpikir aku sudah menemukan laki-laki idamanku, kamu salah besar karena laki-laki yang menikahi aku ini jauh dari kriteriaku," ucap Maura dengan mengerucutkan bibirnya.
"Maksud kamu?" tanya Meli dengan kerutan di keningnya sepertinya perempuan itu tak paham dengan ucapan dari Maura tadi.
__ADS_1
"Ck, jadi aku sama suamiku ini menikah tanpa landasan cinta. Kita menikah secara dadakan. Kita berdua juga baru kenal beberapa hari saja sebelum menikah. Itupun pertemuan kita berdua tidak disengaja," jelas Maura.
"Kalau tanpa dilandasi oleh cinta, kenapa kamu mau menikah dengan dia? Atau jangan-jangan kamu hamil duluan sama laki-laki lain tapi karena laki-laki itu tidak mau tanggungjawab, kamu memilih mencari laki-laki yang mau menikahi kamu." Maura memelototkan matanya. Enak saja dirinya dituduh hamil duluan oleh sahabatnya itu. Walaupun dirinya memang nakal dan sudah terpengaruh oleh budaya barat tapi masih bisa di pastikan kalau dia ini masih ting-ting alias pusakan laki-laki manapun belum pernah masuk kedalam mahkotanya.
Dan karena perkataan Meli yang kelewat sembarangan itu, tangan Maura kini bergerak untuk menepuk gemas bibir Meli sembari berkata, "Mulutmu itu seenaknya ya kalau ngomong. Gini-gini aku masih perawan tau."
"Ya kan siapa tau. Lagian kamu tadi kan bilang kalau kamu menikah dengan suamimu itu tanpa rasa cinta dan secara mendadak. Jadi jangan salahkan aku jika berpikir kalau kamu hamil duluan." Maura memutar bola matanya malas.
"Gak semua orang yang menikah secara dadakan itu memiliki kasus yang sama ya Maimunah. Dan untuk meluruskan otakmu yang berpikir negatif itu, aku ceritakan masalah aku ini. Dengar baik-baik ya." Meli menganggukkan kepalanya sembari ia memasang telinganya dan memajukan kepalanya agar lebih dekat dengan Maura.
Sedangkan Maura, ia mengambil nafas panjang sebelum ia mulai menceritakan awal mula dirinya bertemu dengan Erland sampai akhirnya ia menikah dengan dia.
"Ya gitulah. Lagian ini mulut asal nyeplos aja sih. Haishhhh menyebalkan," ujar Maura yang masih sebal dengan dirinya sendiri kala mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Sudahlah. Terima saja. Ini mungkin sudah menjadi nasib kamu. Tapi aku penasaran dengan suamimu itu. Apa dia tampan?" tanya Meli karena Maura tidak menjelaskan nama ataupun ciri-ciri dari Erland tadi. Setiap dia bercerita, dia hanya menggunakan kata suami atau laki-laki sialan, terus saja begitu sampai cerita itu selesai tadi.
Maura yang ditanya seperti itu, ia tampak membayangkan wajah Erland sebelum dirinya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan dari Meli.
"Kalau tampan kenapa kamu malah menyesal menikah dengan dia. Hitung-hitung buat memperbaiki keturunan." Maura mendelik, tak suka dengan ucapan dari Meli.
__ADS_1
"Lha maksud you, aku jelek gitu sampai aku harus cari laki-laki tampan untuk memperbaiki keturunan. Karena perlu kamu tau ya, kalaupun aku memiliki keturunan dari laki-laki jelek aku yakin anakku akan cantik dan ganteng karena gen dariku yang sangat kuat. Lagian buat apa laki-laki tampan jika dia tidak mapan. Aku kasih tau ya, Mel. Dia memang tampan, aku akui itu tapi dia hanya seorang sopir yang gajinya saja hanya 2 juta perbulan. Kamu sendiri tau kan pengeluaranku setiap hari berapa banyak, belum lagi harga skincareku yang harganya jauh lebih tinggi dari gaji dia. Dan untungnya skincareku itu masih ada tapi jika nanti habis aku mau beli pakai uang apa coba? Karena semua fasilitas yang diberikan oleh Mama sama Papa sudah dihentikan saat aku sudah menikah dengan Erland. Belum lagi aku harus mikir gimana cara bayar listrik, air dan sebagainya karena aku tidak boleh minta uang tambahan ke dia saat uang 2 juta itu habis sebelum tanggal satu. Kamu bayangin saja Mel, gimana menderitanya aku nanti yang harus hidup pas-pasan. Arkhhhh bisa stress aku." Maura mengacak-acak rambutnya sendiri. Sedangkan sang sahabat justru kini tengah terkekeh.
"Kok kamu malah ketawa sih! Kamu seneng ya kalau aku menderita?" perotes Maura yang tak suka melihat tawa dari sang sahabat yang justru semakin membuat hatinya terluka.
"Gak. Aku tidak suka lihat kamu menderita hanya saja aku ketawa karena dengar kamu yang dengan entengnya bilang kalau kamu akan stress hidup dalam kesederhanaan. Padahal jika dipikir-pikir nih ya, ada baiknya juga kamu dapat suami tidak kaya seperti yang kamu harapkan itu. Karena dengan di hadirkan suamimu ini dalam hidup kamu, bisa mengajarkan kamu hidup dalam kesederhanaan, menjauh dari dunia kemewahan yang justru membuat kamu serakah dan berperilaku semena-mena alias sombong. Jadi bersyukurlah mulai sekarang karena hidup itu tidak melulu tentang uang. Kejayaan perusahaan keluarga kamu juga sewaktu-waktu bisa gulung tikar yang mengakibatkan kamu harus hidup sederhana juga pada akhirnya. Dan dari sini belajarlah untuk menghargai suamimu itu. Masih untung kamu diberi uang 2 juta perbulan, kalau tidak mati kamu," ucap Meli.
"Tapi tunggu dulu sebentar, kamu tadi mengatakan nama suamimu kan?" Maura menganggukkan kepalanya.
"Coba katakan sekali lagi karena sepertinya aku pernah mendengar nama itu," pinta Meli.
"Nama dia, Erland." Meli melebarkan matanya.
"Tuh kan apa aku bilang!" teriak Meli histeris hingga membuat Maura terperanjat kaget dibuatnya.
...****************...
Hay Hay Hay apakah ada yang rindu denganku yang jarang cuap-cuap manja? Sepetinya sih tidak. Kalian hanya rindu double upku saja. Benar kan? Ngaku gak kalian!
Kalau memang rindu aku double update, yok gasss kan 50 like sebelum jam 12 siang. Jangan lupa juga buat tinggalin LIKE, VOTE, KOMEN dan HADIAH ya. See you and love you ❤️
__ADS_1