PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 122


__ADS_3

Maura tampak mengerucutkan bibirnya dengan kedua tangan yang sedari tadi terlipat di depan dadanya. Yakinlah ia saat ini tengah kesal kepada suaminya.


Sedangkan Erland yang merupakan alasan Maura tengah kesal saat ini ia terkekeh sebelum duduk di kursi makan di sebelah sang istri.


"Cemberut mulu sih," ucap Erland dengan mencolek dagu Maura yang langsung di tepis oleh perempuan tersebut. Bahkan Maura saat ini langsung merubah posisi duduknya menjadi membelakangi Erland.


Erland yang melihat itu, ia terkekeh kembali. Lucu juga jika Maura tengah ngambek seperti ini. Tapi yang tidak lucu semakin lama Erland membiarkan Maura ngambek maka semakin lama juga dirinya di diami oleh istrinya.


Erland berpindah tempat ke kursi lainnya agar ia bisa menatap wajah sang istri. Tapi saat dirinya baru mendudukkan tubuhnya, Maura berniat untuk membelakangi dirinya lagi namun kalah cepat dengan Erland yang langsung mencegahnya. Maura tak tinggal diam, ia memberontak berusaha melepaskan diri dari kedua tangan Erland yang berada di lengannya.


"Oke oke fine aku minta maaf atas apa yang aku lakukan tadi saat di kamar mandi," ucap Erland yang berhasil membuat Maura menghentikan aksi memberontaknya. Tapi tetap saja raut wajah yang tak sedap dipandang itu masih ia perlihatkan.


"Aku beneran khilaf tadi jadi gak bisa mengontrol diriku sendiri agar tidak berbuat hubungan intim di dalam kamar mandi. Sumpah Ra, aku khilaf suwer deh," sambung Erland dengan kedua jarinya yang membentuk peace ia tujukan kearah Maura. Ya, yang membuat Maura kesal setengah mati adalah saat mereka di kamar mandi tadi bukannya langsung mandi melainkan melanjutkan permainan mereka hingga membuat Maura kewalahan.


"Khilaf kok terus minta," ujar Maura ketus yang membuat Erland meringis dibuatnya.


"Ya---ya udah deh maaf. Gak lagi-lagi. Kalau aku nanti pengen berbuat itu aku akan tahan, aku gak akan nyentuh kamu." Ucapan Erland membuat Maura mendelik di buatnya.


"Kalau gak mau nyentuh aku terus kamu mau nyentuh perempuan lain?" Erland mengerjabkan matanya sebelum ia menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Mulai deh pikiran negatifnya. Ini udah kedua kalinya lho kamu nuduh aku. Hati-hati ucapan itu bisa jadi doa." Maura semakin mendelik di buatnya.


"Oh jadi kamu mau ucapanku tadi jadi kenyataan! Jahat banget sih kamu!" Maura kini memukuli tubuh Erland, melampiaskan kekesalannya.


Erland hanya pasrah saja saat ini di jadikan samsak hidup oleh istrinya. Tak berbicara sepatah katapun untuk menimpali ucapan dari Maura tadi, ia juga tak menghentikan aksi Maura yang terus saja memukuli dirinya. Biarkan saja Maura melakukan apa yang ia inginkan dan saat perempuan itu sudah sedikit reda emosinya Erland akan kembali angkat suara.


Dan benar saja beberapa saat setelahnya Maura menghentikan pukulannya namun setelah ia melampiaskan kekesalannya, kepalanya ia tundukkan dibarengi dengan tubuh yang bergetar, tanda jika dirinya tengah menangis sembari ia berucap, "Jahat bangat hiks."


Erland hanya menghela nafas panjang sebelum ia merengkuh tubuh Maura, membawa tubuh itu keatas pangkuannya lalu ia peluk tubuh tersebut dan karena tak ada perlawanan dari Maura, Erland mengusap lembut punggung sang istri.


"Aku sudah bilang kan tadi di kamar. Sampai kapanpun aku tidak punya niatan untuk menduakan kamu. Prinsipku saat aku menikah maka aku akan hidup bersama dengan istriku, menjadikan kamu satu-satunya untuk selamanya tanpa ada orang lain di rumah tanggaku. Makanya didalam perjanjian kita dulu aku tidak mau ada kata cerai diantara kita karena aku hanya ingin hidup selamanya dengan seorang perempuan yang namanya aku ucapkan di depan penghulu. Walaupun ada satu perjanjian dimana kita boleh nikah lagi, aku tetap tidak mau. Tapi kalau kamu mau cari suami lain, walaupun dengan berat hati, aku persilahkan selagi itu bisa buat kamu bahagia aku tidak mempermasalahkannya asalkan kita masih bersama," ujar Erland yang membuat Maura sempat terkejut. Ia sempat lupa akan janji yang dulu ia minta kepada Erland.


"Sudah ya jangan nangis lagi. Dan aku harap dengan penjelasan yang sudah aku katakan tadi kamu tidak berpikir negatif lagi tentangku. Aku hanya tidak mau membebani kamu saja. Jika kamu tidak mau berhubungan denganku lagi katakan saja. Tapi untuk yang tadi di kamar mandi aku benar-benar minta maaf karena aku gak bisa nahan napsuku. Kamu mau kan maafin aku," ucap Erland membalas tatapan Maura.


Maura menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak mau memaafkanku?" tanya Erland sedikit khawatir dengan respon yang diberikan oleh Maura tadi.


"Jangan bahas itu lagi. Aku sudah memaafkanmu. Aku akan usahakan untuk tidak berpikir negatif lagi tentang kamu. Dan jika kamu menginginkannya setidaknya bicara dulu sama aku bukan kayak tadi yang tiba-tiba meluk dan langsung cium gitu aja, jatuhnya kamu kayak lagi perkosa aku tau," ujar Maura dengan mencebikkan bibirnya kala ia mengingat adegan di dalam kamar mandi tadi.

__ADS_1


Ucapan dari Maura disambut dengan senyuman oleh Erland.


"Baiklah aku akan tanya dulu ke kamu nanti dan aku tidak akan mengulangi apa yang sudah aku perbuat tadi." Erland kembali memeluk tubuh Maura. Senang sekali rasanya saat Maura memaafkannya dan istrinya itu juga masih mengizinkan dirinya untuk menyentuh tubuh perempuan yang saat ini didalam dekapannya itu. Karena jujur saja tubuh Maura sudah menjadi candu untuknya.


Maura kali ini membalas pelukan dari Erland, tak lupa senyum indahnya akhirnya terbit juga di bibirnya. Tapi hanya beberapa saat saja sebelum ia ingat sesuatu. Hingga ia kembali melepaskan pelukannya. Hanya pelukan saja yang ia lepas tapi ia masih duduk di atas pangkuan Erland.


Erland memincingkan alisnya kala ia mendapat tatapan lekat dari Maura. Apa dirinya melakukan kesalahan lagi kepada sang istri? Tapi setelah ia ingat-ingat, tak ada kesalahan yang ia buat setelah mendapat maaf dari Maura beberapa menit yang lalu.


Rasa penasaran Erland sudah tak bisa ia sembunyikan lagi. Dan dirinya memilih untuk bertanya saja.


"Kenapa natap aku seperti itu? Aku ngelakuin salah lagi?" Maura menggelengkan kepalanya.


"Terus?" tanya Erland.


"Ada sesuatu yang sepertinya perlu kita bicarakan," ujar Maura yang membuat Erland kembali memincingkan alisnya.


Maura yang paham jika Erland tengah bingung dengan apa yang barusan ia katakan pun ia menambah ucapannya tadi.


"Tentang pernikahan kita." Seketika tubuh Erland membeku di tempatnya saat ini. Ia penasaran kenapa Maura akan membahas pernikahan mereka? Apa ada masalah dengan rumah tangga mereka yang tak Erland ketahui? Dan masih banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi otaknya tentang apa yang akan Maura katakan nanti tapi tak urung Erland juga merasa takut. Takut jika Maura justru akan melepaskannya.

__ADS_1


__ADS_2