
Dengan perasaan yang membuncah, Erland memasuki rumahnya. Ia hari ini sengaja pulang lebih awal lebih tepatnya hanya bekerja setengah hari saja, pasalnya ia akan merayakan keberhasilan dia yang telah membuat keluarga Jaya bangkrut. Tentunya keberhasilannya itu tidak luput dari campur tangan Daddy Aiden. Daddy Aiden memang tidak suka jika menyeret masalah pribadi dengan pekerjaan tapi perlu di garis bawahi jika masalah pribadinya itu tidak terlalu serius dan tidak sampai membuat anak dan cucunya merasa nyawanya terancam. Jika sudah menyangkut keluarga, maka Daddy Aiden dengan tegas akan melakukan segala cara untuk memberikan pelajaran kepada orang tersebut tak peduli jika orang tersebut adalah kliennya sendiri. Karena ia sudah berani mengusik ketenangan keturunannya maka jangan salahkan Daddy Aiden ketika bertindak.
Erland menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencari keberadaan sang istri yang tak ia temui di ruang tamu.
"Sayang! Aku pulang!" teriak Erland sembari kakinya ia langkahkan menuju ke kamarnya.
Dimana saat ia sampai di dalam kamar, ia tersenyum kala melihat punggung Maura yang tengah tertidur dengan membelakangi dirinya.
Tanpa mengucapakan sepatah kata lagi, Erland mendekati Maura, naik keatas ranjang tanpa melepas pakaiannya dan juga tanpa melepas sepatu yang tengah ia kenakan. Dimana saat dirinya sudah berada di belakang Maura, ia langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan erat. Dimana hal tersebut berhasil membuat Maura terusik dari tidurnya.
"Enghhh," lenguhan keluar dari bibir Maura dengan perlahan membuka matanya.
Erland yang melihat Maura telah terbangun pun ia tersenyum kemudian ia mengecupi pipi Maura yang membuat kesadaran Maura terkumpul sepenuhnya.
"Ishhhh, ganggu banget sih," ucap Maura dengan membungkam bibir Erland kala ingin mendarat kembali ke pipinya. Dan setelahnya ia memposisikan dirinya menjadi menghadap kearah Erland. Tapi saat dirinya sudah berhadapan dengan sang suami, ia langsung memeluk tubuh Erland dengan sangat erat, menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami. Hingga membuat Erland kini terkekeh geli, ia gemas dengan tingkah Maura.
Dengan tangan yang ia gerakkan untuk mengelus rambut Maura, Erland berucap, "Sayang bangun dulu yuk."
Maura menjawab ucapan dari Erland tadi dengan gelengan kepala.
"Aku masih ngantuk. Lagian ini jam berapa sih?" tanya Maura tanpa merubah posisinya.
__ADS_1
"Jam satu siang. Bangun dulu lah sayang, aku mau mengajak kamu kesuatu tempat lho ini," ujar Erland.
Maura yang sedari tadi merasa nyaman di dalam dada bidang Erland itu, ia kini menyembulkan kepalanya, dengan tatapan mata yang menyipit.
"Jam satu siang?" Erland menganggukkan kepalanya.
"Ehhhh beneran ini lagi jam satu siang?'' Lagi dan lagi Erland menganggukkan kepalanya.
"Kalau saat ini jam satu siang, kenapa kamu sudah pulang?" tanya Maura.
"Ya karena hari ini aku hanya bekerja setengah hari saja karena setengah harinya lagi aku akan mengajak kamu ke suatu tempat," ucap Erland.
"Kamu mau mengajakku pergi?" tanya Maura memastikan. Ia takut Erland hanya bercanda saja. Karena terus terang saja Maura saat ini benar-benar sangat jenuh di rumah. Walaupun tubuhnya terasa sakit dan juga kurang fit, tapi ia ingin sekali jalan-jalan hari ini.
Maura yang tak melihat ada kebohongan di mata Erland pun ia dengan senyum lebar bangkit dari posisi rebahannya tadi. Bahkan ia saat ini sudah turun dari atas ranjang.
Dan dengan memposisikan tangannya dengan posisi hormat, ia berkata, "Siap laksanakan bos."
Setelah mengucapkan perkataannya tadi, Maura langsung bergegas pergi menuju ke kamar mandi. Tapi baru juga ia ingin masuk ke dalamnya, ia kembali berlari menuju kearah Erland berada. Dimana hal tersebut membuat Erland yang tadinya terkekeh, kini mengerutkan keningnya.
"Kenapa balik lagi?" tanyanya.
__ADS_1
"Kita mau pergi kemana memangnya? Kalau boleh request, aku mau kita pergi ke tempat yang banyak makanan seafoodnya karena aku pengen banget makan udang, cumi, kerang, dan kepiting," ucap Maura. Membayangkan makanan-makanan yang ia inginkan membuat dirinya jadi ngiler sendiri. Tapi sesaat setelahnya ia tersadar jika semua makanan yang ia sebutkan tadi bukanlah makanan yang murah harganya.
Dan saat Erland ingin menjawab pertanyaan serta keinginan Maura, niatnya itu terhenti kala sang istri lebih dulu berkata, "Tapi tunggu dulu, kamu punya uang atau tidak? Karena kalau kita pergi dan pakai uang sisa yang aku pegang, gimana nasib kita nanti beberapa hari kedepan? Jadi lebih baik kita tidak jadi saja deh keluarnya daripada kita menghambur-hamburkan uang yang kita punya."
Erland sempat tercengang mendengar penuturan dari Maura tadi. Apalagi melihat sang istri sudah duduk di pinggir ranjang kembali. Istrinya itu memang sudah berubah ternyata.
Keterkejutan Erland hanya sesaat saja sebelum sebuah senyuman kembali ia berikan kepada Maura.
"Kamu tenang saja sayang. Kita jalan-jalannya pakai uang yang baru saja aku dapatkan. Jadi kamu tidak perlu khawatir lagi. Kita akan tetap jalan-jalan tanpa harus mengurangi uang yang kamu pegang," ujar Erland dengan memberikan elusan di kepala Maura.
Maura kini menolehkan kepalanya dengan kerutan di keningnya.
"Kamu dapat bonus lagi?" tanya Maura yang diangguki oleh Erland tanpa melunturkan senyumannya.
"Berapa?" tanya Maura.
"2 juta." Maura memincingkan alisnya sebelum ia mengangguk-anggukkan kepalanya namun tak urung ia kembali angkat suara, "Bos kamu sangat royal sekali ya. Hampir tiap hari kamu dapat bonus. Bukannya aku tidak bersyukur atas rezeki yang kita dapatkan. Tapi aku merasa heran saja saat baru mengetahui ada bos yang se-royal bos kamu itu. Memang aku akui jika keluarga Abhivandya itu sangat kaya raya. Tapi bukan berarti dia kasih bonus dengan nilai yang lumayan banyak setiap harinya. Biasanya kalau bos kasih bonus dengan jumlah jutaan itu hanya satu kali dan itu biasanya di bayar saat akhir bulan sekalian gajian. Dan kalau mau kasih bonus setiap hari pasti jumlahnya hanya 50 sampai 100 ribu saja. Jadi aku merasa aneh dengan bosmu itu, apa dia bingung menghabiskan uang sampai dengan entengnya selalu memberikan bonus ke kamu?"
Erland terdiam kala Maura berucap tadi. Tapi tak urung hatinya juga berdebar. Bahkan ia sempat berpikir, apakah dirinya ini terlalu jahat karena sampai sekarang ia masih menyembunyikan identitasnya kepada sang istri padahal ia lihat-lihat Maura sudah banyak berubah seperti yang dia inginkan walaupun belum sepenuhnya. Tapi setidaknya Maura menunjukkan perubahannya itu dengan pesat. Dari Maura yang suka berfoya-foya, menghabiskan setiap waktunya di bar dengan baju mininya, keras kepala, ingin menang sendiri, tidak suka di atur dan suka kebebasan menjadi Maura yang memiliki sifat lemah lembut, tak meninggikan suaranya saat Erland menasehati dirinya, tidak lagi menginjakkan kakinya di dunia malam itu bahkan pakaiannya sudah seperti pakaian manusia pada umumnya, sifat Maura saat ini benar-benar sangat berbanding terbalik dengan sifat Maura sebelumnya. Dan ini lah yang menjadi Erland kini tengah berpikir keras apakah sudah saatnya ia harus mengungkapkan identitasnya kepada Maura? Atau ia akan tetap merahasiakan hal ini kepada istrinya itu?
...****************...
__ADS_1
Yang gak kasih LIKE di Bab sebelumnya saat aku crazy up, jahat banget, sedih banget tauπ Dan kalian yang udah LIKE makasih banget ya karena kalian udah bikin aku semangat lagi. Dan yakinlah saat aku Crazy up dan lihat LIKEnya yang gak seperti biasanya dan gak merata ada yang naik ada yang turun tuh bikin aku harus mikir berkali-kali kalau mau kasih kalian Crazy up lagi karena ya itu LIKEnya gak imbang banget tau dari Bab satu ke Bab lainnya. Jadi ayolah kerjasamanya, kalian kasih like, aku semangat nulisnya. Kalian juga mau kan kalau aku Crazy up lagi. Kalau mau tinggalkan jejak. Dan yang kemarin gak kasih LIKE jangan di temenin π
See you next eps bye π Jangan lupa juga kasih VOTE, HADIAH, dan KOMEN! Love you sekebun untuk kalian semua β€οΈ