
Ketiga perempuan berbeda usia itu kini telah sampai di salah satu restoran yang tak terlalu jauh dari butik milik Vivian. Ketiganya pun juga sudah memesan makanan untuk mereka dan selama menunggu pesanan mereka jadi, mereka sudah tidak canggung lagi untuk sekedar bercakap atau bercanda gurau bersama. Maura yang memang mudah sekali berbaur dengan orang lain, tak menunggu waktu lama, ia sudah mulai akrab dengan Vivian. Dan hal tersebut membuat Vivian sedikit lega ketikan melihat Maura tidak lagi gugup seperti pertama kali mereka bertemu tadi.
Mereka masih asik dengan candaan mereka sampai tiba-tiba satu ide muncul di otak Vivian. Ia mengeluarkan ponselnya, memotret Maura secara diam-diam yang tentunya hasil jepretannya itu ia langsung kirimkan ke adiknya tercinta.
📨 To : My badboy brother
"Lihat nih Kakak sama siapa?"
"Lagi ngalamun aja cantik ya Er. Heran Kakak, bisa-bisanya kamu dapatin perempuan secantik ini. Nemu dimana sih Er?"
^^^Send.^^^
Erland yang tengah meeting dengan salah satu kliennya pun ia mengalihkan pandangannya sesaat kearah ponselnya saat layar di ponselnya itu berkedip. Ia melihat sekilas nama pengirim pesan tadi. Dimana saat ia melihat nama Kakaknya, ia mengabaikannya. Nanti saja ia akan membukanya saat meeting yang tengah terjadi saat ini sudah selesai.
"Saya rasa ide yang kita rencanakan ini cukup bagus untuk mendukung progres kemajuan dari kerjasama kita. Dan semoga kedepannya saat kita sama-sama menjalankan ide yang sudah kita susun ini tidak ada kendala apapun dan terus berjalan lancar," ucap Erland sembari menutup map di tangannya. Map yang berisikan perkembangan dari kerjasama yang terjalin dari kedua belah pihak.
"Aamiin, semoga saja Pak."
Erland tersenyum sembari menganggukkan.
"Baiklah kalau begitu, saya rasa pembahasan ini kita akhiri sampai disini. Terimakasih sudah mempercayakan AWA Grup untuk terus menjalin kerjasama dengan perusahaan bapak," ucap Erland sembari menyodorkan tangannya kehadapan laki-laki paruh baya dihadapannya itu.
"Saya yang berterimakasih karena berkat kerjasama ini perusahaan saya yang hampir gulung tikar bisa kembali bangkit lagi," ujar laki-laki paruh baya tersebut dengan membalas uluran tangan dari Erland tadi. Dimana ucapan dari laki-laki tadi dibalas dengan senyuman oleh Erland.
"Kalau begitu saya dan sekertaris saya permisi dulu ya Pak. Maaf jika kita tidak sopan karena langsung pergi begitu saja karena masih ada beberapa pekerjaan yang harus kita selesaikan," kata laki-laki itu merasa tak enak hati kepada Erland.
__ADS_1
"Tidak perlu meminta maaf Pak. Saya memaklumi jika bapak banyak kerjaan. Hati-hati saja dijalan," ujar Erland.
"Terimakasih atas perhatiannya Pak Erland. Kalau begitu kita permisi terlebih dahulu. Mari Pak Erland, Pak Afif." Lagi dan lagi Afif juga Erland hanya membalas dengan anggukan saja tanpa melunturkan senyuman mereka.
Dan saat kliennya telah pergi, Erland melonggarkan dasinya yang terasa melilit lehernya sebelum tangannya bergerak, mengambil ponselnya untuk melihat pesan yang baru saja di kirimkan oleh sang Kakak.
Matanya terbuka lebar saat melihat wajah Maura di dalam sebuah foto yang baru saja Kakaknya itu kirimkan. Senyum manis pun turut terbit di bibirnya kala membaca pesan yang dikirimkan oleh Vivian.
"Tentu saja istriku ini perempuan paling cantik sedunia," gumam Erland yang membuat Afif yang tak sengaja mendengar ucapan dari Erland tadi langsung menghentikan aktivitasnya yang baru membereskan map-map dari klien mereka tadi. Lalu ia menolehkan kepalanya kearah Erland dengan kerutan di dahinya.
"Dan aku menemukan dia di pinggir jalan pufttt." Erland langsung menutup bibirnya kala ia ingin tertawa keras saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Maura yang cukup lucu baginya.
Namun sesaat setelahnya senyuman Erland hilang saat melihat ada sesuatu yang beda dengan Maura. Ahhhh Erland tau jika Maura sudah berganti pakaian. Mungkin itu salah satu pakaian yang dia beli di butik sang Kakak tadi. Tapi ia cukup kesal kala pakaian Maura cukup rendah di bagian dada sehingga memperlihatkan dada mulus Maura, walaupun tidak sampai memperlihatkan belahan dada tapi tetap saja Erland sedikit tidak suka.
Dengan wajah yang tertekuk, Erland membalas pesan Vivian tadi.
"Siapa yang memilihkan dress yang saat ini dipakai oleh Maura?"
Tak berselang lama balasan dari Vivian masuk kedalam ponselnya.
📨 : Kak Vi
"Yang milihin Kakak. Memangnya kenapa?"
^^^"Terlalu rendah di bagian lehernya 😤"^^^
Vivian yang sudah membaca balasan dari Erland, ia terkekeh melihat emoticon yang di selipkan di belakang deretan kata yang adiknya itu ketik. Sangat menggemaskan. Namun tak urung Vivian kembali mengirim sebuah balasan kepada Erland.
__ADS_1
📨 : Kak Vi
"Model dress yang dipakai Maura masih aman Erland. Jadi kamu tenang saja selagi tidak terlihat belahan dadanya."
Erland mendengus melihat balasan dari sang Kakak. Kakaknya sih bisa tenang, tapi Erland tidak sama sekali. Sumpah demi apapun, Erland tidak rela dada Maura dilihat oleh orang lain apalagi laki-laki lain.
Saat Erland ingin membalas pesan dari Vivian tadi, tiba-tiba ia merasa curiga dengan foto Maura tadi. Ia seperti familiar dengan tempat yang tengah Kakak dan istrinya itu kunjungi saat ini. Hingga Erland kini melihat kembali foto Maura. Dimana saat itu juga matanya terbuka lebar.
"Astaga, gawat!" ucap Erland yang berhasil membuat Afif yang sedari tadi merasa ada yang aneh dengan bosnya semakin menatap Erland sebelum ia angkat suara.
"Bos, apa yang gawat?" tanya Afif penasaran.
Erland menatap kearah Afif sekilas sebelum dirinya memperlihatkan room chat dirinya dengan Vivian. Ahhh tidak, lebih tepatnya ia memperlihatkan wajah Maura itupun hanya sesaat saja sebelum ia menarik kembali ponselnya itu.
"Kamu coba lihat di sekitar sini apa ada orang yang di foto tadi," perintah Erland.
"Memangnya itu foto siapa? Kenapa saya harus mencarinya di sini? Apa orang itu sangat berbahaya?" Tanya Afif.
"Ck, banyak tanya sekali kamu, Afif. Tinggal jalankan apa yang saya perintahkan saja apa susahnya sih?" ucap Erland sedikit kesal karena sekertarisnya itu terlalu cerewet dan banyak tanya.
Sedangkan Afif, ia mencebikkan bibirnya tapi tak urung ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restoran tersebut. Sampai ia menemukan sosok perempuan yang memakai dress yang sama persis seperti foto perempuan di ponsel sang bos tadi.
Dan dengan menganggukkan kepalanya, ia berucap, "Arah jam 9, perempuan itu disana."
Erland melirik sekilas kearah yang di katakan oleh Afif tadi. Dan benar saja disana ada Vivian dengan dua perempuan yang duduk berhadapan dengan Kakaknya itu. Dan ia yakin kalau dua perempuan itu adalah istri dan mertuanya.
"Sialan," umpat Erland dan dengan cepat ia meraih buku menu yang tergeletak diatas meja di hadapannya. Tingkah tak biasa Erland ini semakin membuat Afif penasaran. Belum juga ia mendapatkan jawaban dari ucapan Erland yang sempat melontarkan kata istri, sekarang dirinya semakin di buat penasaran siapa perempuan yang diperlihatkan oleh Erland tadi? Ada hubungan apa sebenarnya bosnya itu dengan perempuan tersebut? Sumpah demi apapun Afif ingin sekali mendekati perempuan yang saat ini tengah duduk didalam restoran yang sama dengan mereka. Bertanya langsung dengan perempuan itu mengenai hubungan dia dan bosnya. Karena jika dirinya bertanya dengan Erland, ia yakin pasti bukan jawaban yang Erland berikan kepadanya melainkan sebuah omelan.
__ADS_1
Sedangkan Erland, ia menundukkan kepalanya, agar bisa melihat ponsel yang saat ini berada di tangannya, tentunya buku menu yang ia ambil tadi masih ia gunakan untuk menghalangi wajahnya agar tidak terlihat oleh orang lain terutama Maura. Dan dengan satu tangan, ia membalas pesan kepada Vivian. Memberitahu kepada Kakaknya itu jika mereka berada di satu restoran yang sama.