PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 110


__ADS_3

Setelah kepergian dari keluarga Edrea, sepasang suami-istri itu memilih kembali ke kamar mereka. Ya, kamar mereka karena seperti yang dikatakan oleh Maura tadi jika mereka berdua akan satu kamar mulai hari ini dan mungkin seterusnya.


"Kamu tidak mandi terlebih dahulu?" tanya Maura kala melihat Erland merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Erland yang tadinya menutup matanya, kini ia membuka kembali matanya tersebut.


"Nanti saja lah kalau sudah sore sekalian," jawab Erland kembali menutup matanya.


"Kalau makan? Kamu tidak lapar? Hmmm maksudku ini kan sudah waktunya makan siang? Kamu tidak makan dulu baru nanti tidur lagi?" tanya Maura, bukan tak ada maksud ia menyuruh Erland untuk menjauh darinya untuk beberapa saat, ia memiliki maksud melakukan hal itu agar dirinya bisa menghubungi Edrea. Jangan tanya lagi untuk apa, yang jelas untuk menyelesaikan urusannya tadi yang belum sempat ia katakan kepada adik iparnya.


Lagi dan lagi reaksi pertama yang Erland perlihatkan adalah matanya yang ia buka sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya dengan mata yang kini menatap lurus kearah Maura yang masih berdiri di depan pintu yang sudah di tutup rapat itu.


"Kamu lapar?" tanya Erland yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Maura.


"Lah kamu saja tidak lapar apalagi aku yang menghabiskan dua porsi makanan tadi. Perutku saat ini masih begah sayang. Jadi tidak mungkin aku akan makan lagi. Mungkin kalau sudah sore, aku akan merasa lapar kembali, tapi untuk sekarang, aku tidak merasakan lapar sama sekali. Hanya rasa kantuk yang sedari tadi aku tahan. Jadi kalau kamu tidak lapar kesini," ujar Erland dengan melambaikan tangannya agar Maura mendekatinya.

__ADS_1


Maura yang tadi sempat menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat mendengar jawaban dari sang suami, tak urung dirinya kini melangkahkan kakinya mendekati Erland dan saat ia sudah sampai dihadapan sang suami, belum sempat ia bertanya kenapa? pinggangnya sudah lebih dulu ditarik oleh Erland hingga membuat tubuh Maura kini duduk dipangkuan sang suami.


Maura memekik tertahan dengan ulah Erland. Sedangkan Erland, laki-laki itu tampaknya tak peduli. Dirinya bahkan sudah menelusupkan wajahnya di ceruk leher Maura sembari ia berkata, "Temani aku tidur lagi. Peluk aku seperti tadi karena pelukanmu membuatku merasa nyaman."


Hembusan nafas Erland yang menerpa leher Maura membuat perempuan itu meremang sesaat sebelum dirinya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ka---kalau gitu lepas dulu pelukannya. Dan lebih baik kita ganti posisi menjadi rebahan. Karena kalau kita mempertahankan posisi ini saat kamu tidur nanti kita bisa ja---Aaaaa!" teriak Maura tak bisa ia tahan lagi saat Erland dengan entengnya mengangkat tubuh Maura dan menjatuhkan tubuh istrinya itu secara perlahan kearah ranjang. Dan tanpa memberikan peluang kepada Maura untuk bergerak terlebih dahulu, Erland langsung merangkul Erland tubuh Maura, mengunci tubuh kecil itu menggunakan tangan dan kakinya.


Maura yang sekarang tengah cosplay menjadi guling sang suami pun ia hanya bisa menghela nafas panjang dan pasrah.


"Tepat sasaran!" batin Erland bergembira didalam hatinya tanpa tau reaksi Maura saat ini tengah membelalakkan matanya. Ingin sekali ia memukul kepala Erland tapi ia ingat perkataan Edrea waktu itu. Alhasil dirinya memilih untuk tidak melakukan apa yang ia ingin lakukan dan lagi-lagi ia pasrah saat ini.


Tak hanya pasrah saja melainkan tangan Maura kini bergerak, mengusap lembut kepala sang suami yang semakin membuat Erland berbunga-bunga dan nyaman. Hingga tak terasa matanya mulai sayu dan berakhir alam mimpi yang saat ini menguasai dirinya.


Maura yang merasakan rangkulan Erland mengendor, ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Erland hanya untuk melihat apakah Erland benar-benar tidur atau belum. Setelah memastikan jika Erland benar-benar tidur, helaan nafas keluar dari hidung Maura sebelum dirinya kembali merubah posisinya kembali mendekat ke tubuh Erland. Dimana di posisi tersebut akan Maura manfaatkan untuk mengirimkan pesan kepada adik iparnya.

__ADS_1


Jari jemari Maura bergerak lincah mengetik huruf menjadi kata yang akan ia kirimkan ke Edrea nantinya. Ia membaca ulang rangkaian kata yang sudah ia ketik itu dengan menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa saat dirinya membaca ulang ketikannya itu membuat dirinya ragu untuk mengirim pesan tersebut.


"Apa ini merupakan keputusan terbaik yang akan aku ambil?" gumamnya yang tentunya dengan suara lirih agar Erland tak terusik dalam tidurnya.


"Dan apakah dengan aku meminta bantuan dengan Edrea, dia tidak keberatan membantuku dan dia tidak membocorkan masalah ini ke Erland maupun orang lain? Karena kalau sampai dia membocorkan hal ini kepada orang lain aku akan malu setengah mati," sambungnya. Ia benar-benar ragu saat ini padahal tadi tekatnya sudah sangat bulat.


Maura kini mengusap wajahnya dengan helaan nafas berkali-kali sebelum dirinya berkata, "Yakin Ra, keputusan yang kamu ambil ini sudah keputusan yang terbaik. Kamu tidak akan pernah menyesal di kemudian hari dan ingat dengan cara ini kamu akan membuat Erland bahagia. Sudah cukup kamu buat Erland selalu kecewa dan marah atas apa yang telah kamu lakukan jadi sekarang giliran dia bahagia. Dan ingat sudah ada kata sah yang berarti kamu selamanya akan bersama dengan Erland dan jika kamu menunda-nundanya lagi, kamu yang akan mendapatkan dosa besar yang akan kamu pertanggungjawaban di akhirat nanti," gumam Maura panjang lebar tentunya untuk meyakinkan dirinya sendiri jika keputusannya ini sudah yang terbaik yang telah ia ambil.


Dimana setelah ia mengatakan hal tersebut lagi dan lagi Maura menghela nafas panjang sebelum jari tangannya yang bergetar itu menekan ikon kirim di ponselnya dengan degup jantung yang terpacu sangat kencang. Bahkan ia kini sudah menaruh ponselnya begitu saja di belakang tubuh Erland dan kedua tangannya saat ini ia gunakan untuk menutup wajahnya yang ia yakini saat ini sudah semerah tomat. Membayangkan reaksi Edrea saat nanti adik iparnya itu membaca pesannya membuat dirinya malu sendiri.


Sedangkan disisi lain Edrea yang tengah bersantai dengan makanan ringan yang berada di pangkuannya serta jus yang berada dihadapannya mengalihkan penglihatannya dari layar televisi ke ponselnya saat ia mendengar nada dering ponselnya berbunyi.


Edrea mengerutkan keningnya saat melihat nama Kakak iparnya yang terpampang jelas di layar ponselnya itu sebelum tangannya kini bergerak untuk mengambil ponselnya tersebut.


"Ada apa nih, jangan bilang kalau salah pencet juga," ujar Edrea namun tak urung ia membuka pesan dari Kakak iparnya itu. Dimana saat Edrea membaca setiap baris pesan itu hampir saja dirinya tersedak makanan yang sedari tadi ia kunyah.

__ADS_1


"Gila!" jerit Edrea sampai berdiri dari posisi duduknya saat ia sudah menyelesaikan membaca pesan tersebut. Ia benar-benar tak menyangka sang Kakak ipar akan mengirimkan pesan tersebut kepadanya. Tapi tak urung Edrea saat ini tengah senyum-senyum sendiri dibuatnya.


__ADS_2