PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 218


__ADS_3

Semakin lama elusan yang di berikan oleh Maura di kepala Anya membuat sang pemilik terusik dari tidurnya. Lenguhan kecil pun terdengar.


"Enghhhhh." Gadis kecil itu tampak merenggangkan otot-otot tubuhnya dengan tangan yang ia gunakan untuk mengucek mata indah itu.


"Good morning, Anya," ucap Maura saat ia melihat gadis kecil tersebut membuka matanya.


Anya yang melihat orang lain berada di dalam satu kamar yang sama dengan dirinya ia dengan cepat mendudukkan tubuhnya. Namun tak ada suara yang keluar dari bibir dia. Anya setia membungkam mulutnya, ia cukup enggan untuk membalas ucapan selamat pagi dari Maura tadi.


Maura yang mengerti keadaan Anya pun ia hanya menganggukkan kepalanya tanpa melunturkan senyumannya.


"Nanti kalau Anya sudah benar-benar sadar, turun ke bawah ya sayang. Aunty tunggu di bawah sama Oma," ujar Maura. Nyatanya Maura yang berniat untuk mendekatkan dirinya ke gadis kecil itu justru niatannya ia urungkan. Ia memilih untuk mengalah saja karena tak ingin membuat Anya merasa risih kepadanya. Dan mungkin ia akan mendekati Anya secara perlahan saja.


Setelah mengucapakan perkataannya tadi, Maura berdiri dari posisi berjongkoknya tadi. Ia menyempatkan dirinya untuk mengacak rambut Anya yang sudah berantakan itu. Kemudian setelahnya barulah Maura pergi dari depan Anya sekaligus keluar dari dalam kamar tersebut, meninggalkan Anya yang diam-diam menatap kepergian dirinya dari ekor matanya.


Saat pintu kamar itu tertutup kembali, Anya langsung turun dari atas ranjang. Ia berlari menuju kearah pintu kamar tersebut. Sesampainya ia didepan pintu itu, Anya memutar kenop pintu dan membuka pintu tersebut hanya sedikit.


Gadis kecil itu menatap kepergian Maura satu celah pintu yang ia buka tadi. Dan saat ia sudah benar-benar tak melihat tubuh Maura, ia membuka lebar pintu itu dengan kedua tangannya ia letakkan di depan dadanya yang berdetak kencang sampai membuat anak perempuan itu terduduk di lantai dingin didepan kamar sang Daddy, tanpa sepengetahuan orang lain.


Anya tampak mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan. Walaupun awalnya sangat sulit dan hampir membuat Anya menangis, tapi akhirnya gadis kecil itu berhasil menormalkan nafasnya. Detak jantungnya yang tadi berdetak tidak normal, kini sudah normal kembali.


Anya mengusap peluh yang membasahi keningnya itu. Lalu kemudian ia bengkit dari posisi duduknya tadi. Anya memejamkan matanya sesaat sebelum anak perempuan itu melangkahkan kakinya, berlagak seperti tak terjadi apa-apa kepadanya sebelumnya. Ia hanya tak ingin membuat semua orang yang ada di rumah ini khawatir kepadanya jika mereka mengetahui apa yang barusan terjadi kepadanya. Ia benar-benar seperti bunglon, menyebunyikan apa yang tengah ia derita dari orang lain padahal usia dia masih sangat kecil. Sangat sulit di masuk akal, anak sekecil Anya yang baru berusia 5 tahun itu sudah pintar membohongi semua orang. Ia bersikap baik-baik saja padahal aslinya dia sedang berusaha mati-matian melewati masa sulitnya. Dan seperti saat ini contohnya, walaupun dadanya masih terasa sedikit nyeri, Anya memperlihatkan senyum manisnya kala tatapannya bertemu dengan tatapan Mommy Della.


Bahkan gadis kecil itu kini berlari agar segara sampai di depan sang Oma.


"Good morning Oma," ucap Anya kala dirinya sudah berada di hadapan Mommy Della.


Mommy Della tersenyum kemudian mengangkat tubuh cucunya itu keatas pangkuannya.


"Good morning too sweetie. Bagaimana tidurnya? Apakah nyenyak dan apakah kamu mimpi indah tadi malam?" tanya Mommy Della sembari membenarkan rambut sang cucu yang berantakan itu.


"Hmmm ya, sweetie tadi malam tidur nyenyak dan tentunya sweetie juga mimpi indah," jawab anak perempuan tersebut.


"Wahhhhh benarkah? Apakah Oma boleh tau, mimpi indah seperti apa yang Anya mimpikan tadi malam?" Anya menggelengkan kepalanya.


"No, yang boleh tau hanya Anya saja. Oma tidak boleh tau," ujar Anya yang membuat Mommy Della merubah ekspresi wajahnya, seolah-olah ia tengah bersedih karena Anya tak memberitahu mimpi anak itu.


"Yahhh, padahal Oma juga mau tahu lho," ujar Mommy Della.


"Tapi Anya tidak mau memberitahu Oma. Wlekkk," ucap Anya dengan menjulurkan lidahnya.


Mommy Della yang gemas pun ia menciumi wajah Anya hingga membuat sang empu tertawa terbahak-bahak.


Maura yang sedari tadi melihat interaksi dua orang berbeda usia itu kini ia ikut tersenyum hanya karena ia melihat senyum manis dari Anya.


"Hahahaha stop, Oma! Anya capek ketawa!" ucap Anya mencoba menghindari ciuman dari Mommy Della tadi. Dan ucapan dari Anya tadi membuat Mommy Della menghentikan aksinya. Tapi kini giliran dua tangannya yang ia tangkupkan di kedua pipi Anya, sedikit menekan pipi itu sampai bibir Anya mengerucut lucu.


"Oma!" ucap Anya dengan suara tak jelas. Mommy Della terkekeh sebelum ia menjauhkan tangannya dari pipi sang cucu.


"Baiklah-baiklah maafin Oma. Dan sekarang lebih baik sweetie sarapan gih. Biar aunty Maura yang menemani sweetie. sweetie mau kan?" ujar Mommy Della yang sepertinya tau niat Maura ingin lebih dekat lagi dengan salah satu cucunya itu.


Jika dari beberapa cucu dari keluarga Abhivandya ini memang Anya lah yang paling sulit di dekati oleh orang lain dan jangan tanya siapa cucu dari keluarga itu yang paling mudah di dekati oleh orang lain karena jawabannya sudah si kembar, keturunan dari Edrea dan Leon. Maura yang sudah membuktikannya sendiri pun juga setuju akan hal tersebut.


Anya terdiam dengan melirik kearah istri dari salah satu Unclenya itu.


Maura yang menyadari lirikan itu pun ia menelan salivanya sendiri lalu ia berkata, "Sepertinya Anya belum mau sama Maura, Mom. Jadi lebih baik Anya sarapan sama Mommy saja."


Mommy Della sempat mengerutkan keningnya. Namun saat melihat tatapan memohon dari Maura, ia hanya bisa pasrah saja menuruti keinginan sang menantu.


Namun saat ia ingin angkat suara, ucapan Anya menghentikannya.


"Baiklah. Anya sarapan dulu ya Oma. Bye Oma." Anya menyematkan sebuah kecupan di pipi Mommy Della lalu setelahnya ia segara turun dari pangkuan wanita paruh baya tersebut. Dan sebelum ia pergi, Anya menatap sekilas kearah Maura sembari barkata, "Ayo aunty."

__ADS_1


Tentu saja hal tersebut membuat Maura terkejut bukan main. Dan saking tak percayanya dia mendengar ucapan Anya tadi yang memanggilnya, ia menatap kearah Mommy Della.


"Mom, Maura tidak salah dengar kan kalau Anya tadi panggil Maura dengan sebutan aunty?" tanya Maura tentunya setelah Anya menjauh dari mereka.


Mommy Della tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Apa yang kamu dengar tadi tidak salah sama sekali Maura. Dan lebih baik kamu segara menyusul dia sebelum dia nanti berubah pikiran dan kembali cosplay jadi es batu," ujar Mommy Della tentunya diangguki semangat oleh Maura. Perempuan yang tengah berbadan dua itu bergegas menyusul kepergian Anya tadi.


Mommy Della yang melihat kebahagiaan dari sorot mata Maura, ia terkekeh gemas.


"Kenapa aku bisa punya cucu dan menantu se-menggemaskan seperti mereka berdua sih. Kan kalau begini, bawaannya pengen gigit mereka. Tapi takut kalau aku sampai ngelakuin hal itu pawang mereka langsung cosplay jadi singa. Hih, membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk merinding apalagi mengalaminya secara langsung. Tapi aku benar-benar gemas dengan mereka. Arkkhhhhhhh!" Saking Mommy Della yang tak bisa menahan kegemasannya kepada menantu dan cucunya itu, ia sampai melampiaskan keinginannya tadi ke bantal sofa. Ia mengigit bantal itu dengan brutal, membayangkan jika yang tengah ia gigit saat ini adalah pipi Maura dan Anya.


...****************...


"Anya mau makan pakai lauk apa?" tanya Maura yang sudah siap untuk mengambilkan makanan untuk Anya.


Tanpa menatap kearah Maura, Anya menggerakkan tangannya, menunjuk kearah piring yang berisikan ayam goreng.


"Anya mau ayam goreng?" Anya menganggukkan kepalanya. Dan dengan senang hati Maura mengambilkan ayam goreng tadi.


"Sama apa?" tanya Maura. Siapa tau gadis kecil itu ingin meminta lauk yang lain. Namun ternyata Anya menggelengkan kepalanya tanda hanya ayam goreng saja yang ia inginkan.


Maura yang paham pun ia menganggukkan kepalanya kemudian ia mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di samping Anya.


Anya mengerutkan keningnya, menatap Maura. Harusnya piring yang sudah berisi makanan untuknya itu diletakkan di depannya, bukan malah di pengang oleh Maura.


"Aaa buka mulutnya," ucap Maura dengan menyodorkan satu sendok makan kearah Anya.


Gadis kecil itu terdiam, menatap kearah makanan yang berada di depan mulutnya dan menatap wajah Maura secara bergantian.


Maura memincingkan alisnya saat bibir Anya masih terbungkam.


"Ada apa? Kenapa Anya tidak membuka mulut Anya untuk menerima makanan yang aunty sodorkan ke hadapan Anya. Aunty pengen menguapi Anya, dan Anya tau ini keinginan baby yang ada di perut aunty. Kalau Anya tidak mau membuka mulut Anya, dan menolak suapan dari aunty, baby akan bersedih nanti di dalam sini," ucap Maura yang menjadikan calon anaknya untuk memancing Anya mau menerima suapan darinya.


"Anya, please aunty mohon. Tolong Anya mau ya di suapi oleh aunty," pinta Maura.


"Please Anya." Maura memohon dengan sangat kepada gadis kecil itu.


Dan setelah permohonan yang Maura layangkan untuk kesekian kalinya, akhirnya Anya mau membuka bibirnya. Dan satu suapan kini berhasil masuk kedalam mulut Anya. Tentunya Maura sangat senang karena usahanya tak sia-sia.


Suapan itu terus berlanjut sampai makanan yang berada di piring di genggaman Maura itu sudah habis tak tersisa. Hal itu lagi-lagi membuat Maura tersenyum bahagia. Rasanya ia saat ini tengah menyuapi anaknya sendiri. Padahal dulu ia tak menyukai anak kecil yang jika ia bertemu dengan anak kecil, pasti ia ajak bertengkar, tapi entah dapat dorongan darimana, ia justru bersikap sebaliknya. Mungkin ini pengaruh dari dirinya hamil, jadi sifat keibuannya muncul.


"Nih minum." Maura menyodorkan segelas air putih kepada Anya yang langsung di terima oleh gadis kecil itu. Lalu Anya minum sampai tersisa setengah. Kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Anya turun dari kursinya, melangkahkan kakinya menjauh dari ruang makan yang membuat Maura menghela nafas panjang.


"Cukup sulit juga ya mendekati orang yang sifatnya kayak kutup utara, mana dia masih kecil lagi akan semakin sulit saja untuk menaklukkannya. Huh," gumam Maura. Kemudian ia beranjak menuju dapur untuk menaruh piring serta gelas bekas makan dan minum Anya tadi. Hanya sekedar menaruh saja karena setibanya dia di dapur, piring dan gelas tadi langsung di ambil oleh salah satu maid di rumah tersebut dan dirinya di suruh untuk kembali bersantai saja. Maura mengangguk pasrah dan menuruti apa yang di perintahkan oleh maid tadi. Ia akan pergi dan bergabung dengan Mommy Della serta Anya yang mungkin tengah berada di ruang keluarga.


Tapi sayang, saat ia sudah sampai di ruangan tersebut, ia tak melihat Mommy Della dan Anya disana.


"Kemana mereka?" tanya Maura dengan dirinya sendiri.


"Apa mereka ke kamar Anya ya. Anya kan belum mandi, jadi mungkin Mommy membantu memandikan dia. Hmmm sepertinya sih memang begitu. Ya sudah lah, aku menunggu saja disini. Toh mereka nanti juga akan kembali kesini untuk bermain," ujar Maura dengan mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa yang berada di ruangan tersebut. Dan untuk menemani kesendiriannya, Maura memilih untuk menyibukkan dirinya dengan ponsel miliknya, berselancar di sosial media dengan sesekali membalas pesan dari sang suami.


...****************...


Maura tak melunturkan senyumannya kala ia melihat foto-foto Anya yang sempat ia potret tadi. Gadis kecil itu ternyata mulai mengakrabkan dirinya dengan Maura sehingga dia tadi mengajak bermain aunty barunya tersebut. Tentunya hal itu membuat Maura senang bukan kepalang. Ia seperti mendapat uang 1 trilyun saat Anya mengajak dirinya bermain. Rasa bahagia tak bisa lagi Maura deskripsikan.


Dan kini ia tak bosan-bosan menatap foto Anya di dalam layar ponselnya.


Erland yang baru selesai membersihkan tubuhnya karena ia baru pulang dari kantor, ia mengerutkan keningnya saat melihat senyuman di bibir sang istri.


"Lihat apa sih? Kok kelihatanya bahagia banget," celetuk Erland yang tentunya membuat Maura langsung menatap kearahnya.

__ADS_1


"Sayang kesini buruan!" perintah Maura.


"Ada apa?" tanya Erland.


"Jangan banyak tanya dulu ih. Sini dulu nanti kamu juga akan tau." Dengan patuh sekaligus penasaran Erland melangkahkan kakinya mendekati Maura. Dan saat ia sudah berada disamping sang istri, Maura menyodorkan ponselnya kehadapan Erland.


"Coba kamu lihat, foto Anya. Cantik kan?" Erland menatap kearah layar ponsel tersebut dan seulas senyuman ia perlihatkan.


"Sepertinya kamu sangat sayang sekali dengan Anya sampai-sampai kamu mau memfoto dia secara diam-diam," ujar Erland yang benar adanya. Maura tadi memang memfoto Anya dengan diam-diam, tapi hasil fotonya tetap saja cantik.


"Ck, biarin dong. Karena kalau aku tidak memfoto dia secara diam-diam, aku tidak akan mempunyai foto Anya. Tau sendiri kan kalau dia kutup Utara. Tapi kalau kamu tanya aku sayang sama dia, aku akan jawab dengan lantang kalau aku memang sangat sayang sama dia sejak kita bertemu. Seperti cinta pada pandangan pertama. Dia anak yang manis dibalik sifatnya yang cuek bebek itu," ujar Maura yang diangguki setuju oleh Erland.


"Dan apa kamu tau sayang. Dia tadi mengajakku main juga lho," sambung Maura memamerkan kedekatannya dengan Anya.


"Benarkah?" Maura mengangguk antusias.


"Wahhhhh sepertinya ada yang sebentar lagi jadi bestie nih," ucap Erland yang membuat Maura tersenyum.


"Semoga saja. Kalau aku dan Anya dekat, aku akan membuat dia terus tersenyum sampai ia lupa caranya bersedih," tutur Maura yang mendapatkan elusan di kepalanya dari sang suami.


"Terimakasih atas niatanmu itu sayang. Dan semoga apa yang kamu inginkan tercapai," ucap Erland yang juga memiliki harapan yang sama dengan Maura.


"Ya sudah kalau gitu, aku ganti baju dulu. Kamu mandi sana gih, keburu malam dan airnya akan semakin dingin nanti." Dengan patuh Maura menganggukkan kepalanya. Ia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sedangkan Erland, laki-laki itu segara mengganti pakaiannya.


...****************...


Tak terasa sudah satu minggu lamanya Maura dan Erland tinggal di kediaman keluarga Abhivandya. Dan tepat hari ini mereka harus pulang karena kedua orangtua Maura sudah kembali ke rumahnya.


"Aunty beneran mau pulang sekarang?" Pertanyaan itu terlontar dari bibir mungil Anya yang saat ini berada di dalam kamar Erland saat Maura tengah bersiap-siap untuk kepulangan nanti sore.


Maura tersenyum lalu ia merubah posisi duduk lesehannya itu kehadapan Anya. Ia memegang kedua lengan gadis kecil itu.


"Aunty janji, aunty akan sering-sering main ke rumah sweetie. Kalau tidak sweetie bisa ke rumah aunty. Nanti kita bermain bersama lagi, oke," ucap Maura. Ya, hubungan mereka saat ini sudah menghangat, panggilan sweetie pun juga sudah Maura gunakan untuk memanggil Anya, tentunya anak itu tak menolak sama sekali, justru sangat senang saat mendengar pertama kali Maura memanggilnya dengan sebutan sweetie sama seperti orang-orang yang ia sayangi.


Sifat Anya pun juga berubah tidak lagi seperti kutup utara saat berhadapan dengan Maura, ia justru sangat manja dengan istri Erland itu. Bahkan saking lengketnya dia dengan Maura, ia tak mau diajak pulang ke rumah pribadi milik Zico sendiri. Masih terekam jelas di otak Maura saat Zico mengajak Anya pulang. Anak itu terus merengek dan menolak mentah-mentah ajakan Zico tentunya dengan ia yang memeluk erat tubuh Maura saat ini.


"Sweetie tidak mau pulang. Sweetie mau sama aunty saja. Kalau Daddy mau pulang, pulang saja sendiri. Pokoknya sweetie mau tetap disini bersama aunty. Sweetie akan pulang kalau aunty juga pulang!"


Kata-kata itu beberapa hari yang lalu membuat Zico frustrasi tapi tidak dengan yang lainnya yang justru tertawa terbahak-bahak karena tidak seperti biasanya Anya menolak ajakan Daddy-nya itu. Karena anak itu pasti akan menjadi orang nomor satu jika Zico mengajak orang-orang pergi. Tapi sekarang lihatlah, anak itu justru memilih ditinggalkan Daddy-nya daripada berpisah dengan Maura. Dan pada saat itulah, Zico memilih mengalah dan berakhir ia dan Anya tetap menginap di rumah keluarga Abhivandya. Tapi mengalahnya Zico dibarengi dengan ia yang berkata, "Andai saja kamu belum menikah. Sudah aku bawa pulang kamu, Ra."


Tentunya ucapan Zico yang berniat bercanda itu membangunkan singa yang tengah tertidur. Alhasil Erland langsung mengomeli Zico bahkan jika Daddy Aiden tidak memisahkan mereka, sudah dipastikan Erland menghajar saudaranya tersebut.


Kembali lagi dengan Maura dan Anya yang saling berhadapan di dalam kamar Erland. Mata Anya saat ini terlihat berkaca-kaca. Dan sebelum ia meneteskan air matanya, Maura langsung meraih tubuh Anya kedalam pelukannya dan saat itulah tangis Anya pecah.


"Stttt, jangan nangis. Kita kan masih bisa bertemu lagi nanti. Pintu rumah aunty selalu terbuka lebar untuk sweetie. Sweetie mau datang setiap hari ke rumah aunty, silahkan akan aunty sambut dengan pelukan seperti ini," ujar Maura sebelum ia melepaskan pelukannya. Ia menangkup kedua pipi Anya, dengan jari jempolnya yang ia gerakkan untuk menghapus air mata gadis kecil tersebut.


"Jadi please aunty mohon, sweetie jangan nangis lagi ya. Kalau sweetie nangis begini, bawaannya aunty juga mau ikut nangis," ucap Maura yang langsung membuat Anya menggelengkan kepalanya.


"Tidak boleh. Aunty tidak boleh menangis. Kalau aunty menangis, baby akan ikut bersedih. Sweetie tidak mau aunty menangis," ucap Anya sembari memeluk kembali tubuh Maura.


Maura tersenyum lalu membalas pelukan Anya tak kalah erat, "Kalau sweetie tidak mau melihat aunty menangis, sweetie juga jangan menangis dong. Udah ya, hapus air mata berharga sweetie itu."


Anya dengan cepat menghapus air matanya yang menetes di pipinya menggunakan punggung tangannya.


"Sweetie sudah tidak menangis lagi aunty. Sweetie janji, setiap hari sweetie akan pergi El rumah aunty. Sweetie akan bermain setiap hari dengan aunty dan baby," ujar Anya.


"Tentu sayang. Aunty tunggu kedatangan sweetie di rumah," balas Maura. Dan setelahnya tak ada percakapan lagi diantara mereka berdua. Keduanya hanyut dalam pelukan hangat yang tengah terjadi saat ini. Dan tanpa mereka sadari jika interaksi mereka berdua tadi tak lepas dari sepasang mata yang mengintip mereka di celah pintu kamar yang tak di tutup secara sempurna.


Orang itu tampak menghela nafas panjang, sebelum dirinya menutup pintu itu rapat-rapat. Ia menyandarkan tubuhnya di pintu kamar tersebut sembari bergumam, "Sayang, aku merindukanmu."


Bukan, orang itu bukan Erland melainkan Zico. Niatnya tadi ia ingin pergi ke kamarnya, tapi saat ia melewati kamar Erland yang pintunya tak tertutup sempurna, membuat dirinya penasaran akan penampakan di dalam kamar adiknya itu sekaligus ingin melihat hal apa yang putrinya itu lakukan di dalam sama bersama dengan aunty barunya. Tapi saat ia mengintip kedalam, ia justru melihat interaksi dua perempuan berbeda usia itu yang sangat menyentuh hatinya hingga membuat dirinya teringat sosok perempuan yang sampai saat ini masih di dalam hatinya. Tak ada satupun perempuan yang mampu menggantikan sosok ibu dari Anya itu di hati seorang Akalanka Zico Bagaskara.

__ADS_1


Kenangan-kenangan yang telah mereka berdua buat, terus menjerat Zico sampai laki-laki itu tak tau harus dengan cara apa ia melepaskan jeratan yang sudah istrinya itu ciptakan karena pada dasarnya ia juga belum ikhlas melepaskannya.


__ADS_2