PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 145


__ADS_3

Vivian yang baru meminum minuman yang baru saja sampai, ia melirik sekilas kearah ponselnya yang berdering sebelum salah satu tangannya bergerak mengambil ponselnya itu. Dimana saat ia membaca pesan yang dikirimkan oleh Erland, hampir saja ia menyemburkan minuman yang masih di dalam mulutnya. Tapi untungnya ia bisa mengendalikan dirinya, minuman itu memang tidak menyembur keluar, namun ia telan dan berakhir dirinya tersedak.


"Uhuk uhuk uhuk!"


Kedua perempuan yang sudah sibuk dengan makanannya, secara bersamaan menatap kearah Vivian. Dan dengan cepat keduanya langsung menyodorkan minuman mereka kearah Vivian.


Dengan Maura yang kini angkat suara, "Kak Vi hati-hati kalau makan atau minum tuh. Maura sama Mama juga tidak akan merebut makanan Kak Vi kok."


Vivian yang kini tengah meredakan batuknya dengan meminum minuman miliknya sendiri sembari salah satu tangannya menepuk-nepuk dadanya, ia bisa menghela nafas lega kala sudah tak terbatuk lagi.


Dan dengan cengiran dibibirnya ia membalas ucapan dari Maura tadi, "Hehehe maaf-maaf sudah menggangu dan bikin Tante juga Maura khawatir. Aku baik-baik saja kok. Dan terimakasih atas perhatiannya Tan, Ra."


Kedua perempuan dihadapannya menganggukkan kepalanya.


"Lain kali hati-hati Kak. Tersedak itu juga bisa bikin orang meninggal lho," ucap Maura.


"Hehehe iya Ra. Kakak akan hati-hati setelah ini," balas Vivian yang hanya diangguki oleh Maura sebelum perempuan itu kembali melahap makanannya begitu juga dengan Mama Dian.


Sedangkan Vivian, ia justru mengedarkan pandangannya, mencari posisi Erland berada. Ia memejamkan matanya saat ia melihat punggung Erland juga melihat Afif disana. Padahal dirinya tadi berharap jika pesan balasan Erland tadi hanya candaan dari sang adik, tapi ternyata Erland sedang tidak bercanda kepadanya. Dan karena hal itu Vivian saat ini bingung harus bagaimana. Karena Erland tadi bilang, jika Vivian tidak boleh membiarkan Maura menyadari keberadaan Erland. Pasalnya Erland saat ini tengah memakai pakaian formal yang tentunya saat keduanya bertemu, Maura akan curiga kepada Erland dan semuanya akan terbongkar sebelum Maura bisa berubah total.

__ADS_1


Saking bingungnya mencari cara, Sheilla sampai menggigit ujung jarinya. Sampai ia mengalihkan pandangannya dari Erland ke hadapannya, dimana saat ia melihat Mama Dian, ia tersenyum cerah. Mungkin dengan meminta bantuan Mama Dian, ia bisa terus mengalihkan pandangan Maura agar perempuan itu tidak menyadari keberadaan Erland.


Vivian kini menggerakkan kakinya, menendang pelan kaki Mama Dian. Tapi Mama Dian malah...


"Aws sakit," erang Mama Dian dengan mengelus kakinya sebelum tatapan matanya beralih kearah Vivian yang tengah memberikan kode kepadanya. Tapi sayang ia tak paham dengan kode dari Vivian itu.


Sedangkan Maura yang mendengar erangan dari Mama Dian, ia segara menatap intens kearah Mamanya. Tatapan penuh kekhawatiran pun tak bisa Maura sembunyikan.


"Mama kenapa?" tanya Maura.


Mama Dian yang sedari tadi mencoba mengartikan kode dari Vivian, fokusnya harus beralih saat Maura berucap tadi.


"Mama yakin hanya di gigit semut?" Mama Dian menganggukkan kepalanya.


"Mama yakin sayang, kan Mama yang merasakan. Udah ah Mama mau lanjut makan lagi," ucap Mama Dian. Dan agar Maura semakin percaya dengannya, Mama Dian melahap kembali makanannya. Ia sengaja berbohong kepada Maura karena entah kenapa ia sangat yakin jika kode yang Vivian berikan tadi hanya boleh diketahui olehnya saja tidak dengan Maura.


Maura yang melihat sang ibu kembali melahap makanannya, ia menghela nafas lega. Ia kira ada hal serius yang membuat Mamanya itu kesakitan. Tapi berhubung tidak, Maura kembali fokus dengan makanannya. Dimana hal tersebut membuat Mama Dian melirik kearah Vivian yang masih memberikan kode kepadanya. Tapi kali ini bibir Vivian ikut bergerak mengatakan, "Lihat tepat di pojok bagian belakang, tepat di sudut kanan!"


Mama Dian yang kali ini paham dengan kode serta pergerakan bibir Vivian. Ia menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya, barulah ia menolehkan kepalanya ke tempat yang Vivian maksud.

__ADS_1


Mata Mama Dian terbuka sempurna saat melihat tubuh menantunya disana. Walaupun laki-laki itu tengah membelakangi mereka, tapi Mama Dian tetap bisa mengenalinya.


Dan dengan menunjuk kecil kearah Erland, Mama Dian berucap tanpa suara, "Erland!"


Vivian yang menangkap kata itu pun ia menganggukkan kepalanya. Dimana hal tersebut membuat Mama Dian justru panik sendiri. Bergerak kesana-kemari dengan gelisah. Hingga pergerakan Mama Dian itu membuat Maura merasa terganggu.


"Mama kenapa sih gerak mulu perasaan? Jangan bilang Mama di gigit semut lagi," ucap Maura.


Dan ucapan dari Maura itu juga membuat satu ide muncul di otak Mama Dian.


"Sepertinya iya Ra. Punggung Mama sepertinya tengah di gigit semut. Jadi ayo kamu ikut Mama sekarang ke kamar mandi buat ambilin tuh semut-semut nakal yang sudah berani gigit Mama," ucap Mama Dian. Tanpa menunggu persetujuan dari Maura, wanita paruh baya tersebut sudah lebih dulu menarik tangan Maura yang dengan terpaksa Maura harus berdiri dari duduknya. Belum juga Maura bersiap untuk melangkah, Mamanya itu kembali menarik tangannya secara kasar yang hampir membuat Maura terjatuh. Namun untungnya ia bisa menyeimbangkan dirinya sehingga tak jadi terjatuh. Dia sekarang malah berlari saat Mama Dian juga berlari tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Kepergian dari perempuan itu, tak lepas dari lirikan mata Erland. Dan setelah memastikan keduanya tak terlihat lagi, dengan pergerakan cepat Erland langsung berdiri dari duduknya. Lalu berlari keluar dari restoran tersebut tanpa memperdulikan orang-orang yang merasa aneh dengan kejadian barusan.


Sedangkan Afif yang ditinggal begitu saja tanpa bos-nya itu mengatakan sepatah katapun kepadanya, ia melongo tak percaya. Tapi beberapa saat setelahnya ia ikut berlari sembari mengucapkan, "Bos, tunggu!"


Vivian yang melihat kepergian Erland tadi langsung membuat dirinya menghela nafas lega dengan menyandarkan tubuhnya disandaran kursi yang tengah ia duduki.


"Huh, untung saja Mama Dian pintar jadi bisa membantuku untuk memecahkan masalah tadi. Jika tidak, entahlah apa yang akan aku lakukan agar bisa membantu Erland tetap merahasiakan identitasnya yang sesungguhnya. Lagian sampai kapan sih tuh anak mau menyebunyikan identitas aslinya? Apa dia tidak capek kucing-kucing kayak gini terus? Dan Maura, kenapa bisa dia tidak curiga sama sekali dengan Erland? Haishhhh sudahlah, dua orang itu memang sulit di tebak isi pikirannya. Yang satu terlalu pintar berbohong, yang satunya lagi terlalu mudah di bohongi. Huh," ucap Vivian dengan menghela nafas panjang dan memijit pangkal hidungnya merasa pusing hanya karena memikirkan kehidupan rumah tangga adiknya itu yang menurutnya penuh kebohongan. Ia juga takut jika suatu saat nanti kebohongan yang selalu Erland lakukan itu akan meledak seperti bom bunuh diri yang menghancurkan diri Erland sendiri.

__ADS_1


__ADS_2