
"Kurang ajar, mereka berani-beraninya mengumbar kemesraan di depan khalayak ramai seperti ini. Dasar tidak tau malu!" gumam orang tersebut yang kebetulan tadi dirinya melihat keberadaan Erland di rumah sakit itu saat dirinya baru sampai di tempat tersebut. Awalnya ia mengira jika rencananya kemarin yang menghasut Maura agar menceraikan Erland berhasil dengan beranggapan jika Erland datang ke rumah sakit ini untuk menjemput putrinya, Orla. Tapi tak disangka saat ia ingin mendekati Erland dan untuk menyapanya, ia melihat keberadaan Maura juga disana. Dan tak berselang lama, ia melihat adegan mesra yang justru membuat dirinya muak. Dan yap, orang yang itu adalah Mama Rina, ibunda dari Orla.
Dengan tatapan tajam yang menghunus tepat ke arah Maura, Mama Rina kembali berucap, "Ini tidak bisa di biarkan. Kamu harus menyerah, Maura. Kamu harus berpisah dengan Erland demi kebahagiaan putriku, Orla. Aku tidak akan tinggal diam. Jika penghasutan yang sudah aku lakukan kemarin gagal. Maka aku akan melakukan cara yang lain sampai kalian berdua memang benar-benar berpisah. Aku akan melakukan cara apapun sampai harus membunuhmu pun akan aku lakukan, Maura jika kamu memang tidak mau menyerah juga. Jadi jangan salahkan aku jika bertindak keji nanti."
Mama Rina terus menatap kepergian sepasang suami istri itu, sebelum dengan perasaan marah, ia memutuskan untuk segara pergi ke kamar inap milik sang putri.
Sedangkan Maura yang sedari tadi terbengong tapi kakinya terus melangkah mengikuti langkah Erland, akhirnya otaknya yang tadi masih loading kini sudah bisa mencerna semua kejadian barusan sehingga ia kini menatap wajah Erland dari samping.
"Kenapa kamu menciumku di depan umum?" tanya Maura yang berhasil menjadi Erland menatapnya.
"Memangnya kenapa? Tidak boleh seorang suami mencium istrinya sendiri? Toh apa yang aku lakukan ini sebagai bentuk pembuktian ke semua orang yang tadi menatapku penuh dengan puja, jika aku ini sudah memiliki seorang istri yang sangat aku sayangi. Jadi sudah tidak ada celah sedikitpun untuk mereka masuk kedalam hatiku, karena seluruh hatiku milik kamu sepenuhnya. Tidak hanya hatiku saja tapi tubuhku juga. Semua yang aku punya adalah milik kamu. Kecuali nyawa karena nyawaku hanya milik sang pencipta saja," balas Erland yang ditanggapi anggukan kepala oleh Maura, sebelum perempuan itu menundukkan kepalanya. Ucapan Erland itu berdampak besar bagi perasaan Maura. Ia yang tadinya marah, kemarahan itu dengan mudahnya sirna begitu saja hanya karena ucapan Erland tadi. Ia menunduk pun karena tak ingin Erland melihat semburat merah di pipinya.
Tapi sayangnya, tanpa Maura ketahui, Erland sudah melihat pipi tomat itu yang membuat dirinya gemas, ingin menggigit pipi istrinya itu. Namun hal itu tentunya Erland tahan karena ia tak ingin Maura marah kembali kepadanya dan juga tak ingin membuat Maura semakin malu atas niatannya itu. Jadi ia hanya bisa tersenyum melihat Maura yang sangat menggemaskan itu.
Keduanya terus melangkah sampai akhirnya mereka sampai di depan ruang kerja dokter kandungan.
Tok tok tok tok!
Erland mengetuk pintu tersebut tak berselang lama, pintu dihadapan mereka berdua di buka dari dalam dan langsung menampilkan seorang suster di balik pintu tersebut.
"Tuan Erland dan Nyonya Maura, silahkan masuk. Dokter Leli sudah menunggu di dalam," ucap suster tersebut sangat ramah.
Erland menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari suster tadi. Kemudian dengan menggenggam tangan Maura dengan sangat erat, mereka memasuki ruang Dokter Leli tersebut.
Dokter Leli yang melihat kedatangan salah satu adik pemilik rumah sakit pun ia berdiri dari posisi duduknya untuk menyambut kedatangan Erland dan Maura.
"Wahhhhh ternyata benar apa yang dikatakan dokter Adam tadi jika tuan Erland dan istrinya lah yang datang. Saya kira tadi Dokter Adam hanya bercanda saja dan malah dirinya dan Nyonya Yola lah yang justru kesini," ucap Dokter Leli untuk basa-basi saja.
Dan tentunya hal itu hanya di respon dengan wajah datar Erland, sedangkan Maura tersenyum kecil. Perempuan itupun juga tidak tau harus merespon ucapan dari Dokter Leli tadi bagaimana. Jadi jalan ninjanya, ia hanya tersenyum saja.
Senyuman Maura tadi di balas senyuman pula oleh Dokter Leli sebelum perempuan itu berkata, "Silahkan duduk dulu tuan dan nyonya."
Tak segan-segan lagi, sepasang suami istri itu langsung mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di hadapan Dokter Leli saat ini.
Dokter Leli pun juga ikut mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Jadi keluhan Nyonya Maura apa? Dan sudah berapa lama Nyonya telat datang bulan?" tanya Dokter Leli.
"Untuk keluhan tidak ada. Dan saya juga tidak telat datang bulan karena pada bulan ini saya sudah datang bulan. Kita kesini hanya untuk memastikan apakah benar saya hamil atau tidak karena saya tadi pagi melakukan pengetesan dan hasilnya positif tapi yang membuat saya heran, kemarin saya juga melakukan pengetesan dengan alat testpack tapi hasilnya negatif. Saya bingung harus percaya yang mana. Jadi kita memutuskan ke sini hanya untuk memastikan itu saja," jelas Maura.
Dokter Leli tampak menganggukkan kepalanya.
"Apa hasil testpack itu kalian bawa? Kalau kalian bawa coba saya lihat dulu," ucap Dokter Leli.
"Tidak. Kita tidak membawa alat itu satupun," jawab Maura.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu tidak apa-apa. Kita langsung melakukan pemeriksaannya saja. Mari Nyonya Maura, ikut saya." Dokter Leli berdiri dari duduknya diikuti oleh Maura yang juga berdiri. Dan seperti yang dikatakan oleh Dokter Leli sebelumnya, Maura saat ini mengikuti langkah kaki Dokter Leli yang memasuki satu bilik ruangan yang hanya di batasi dengan tirai kain saja di dalam ruangan tersebut.
Saat Maura sudah masuk kedalam, ia terkejut saat melihat Erland juga ikut masuk.
"Kamu mau ngapain ikut kesini. Yang disuruh mengikuti Dokter kan hanya aku saja bukan sama kamu. Jadi sana pergi. Kamu nunggu di luar saja," ujar Maura dengan memberikan dorongan kepada Erland. Tapi dorongan itu tak berdampak sedikitpun untuk Erland. Tubuh laki-laki itu tak bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri saat ini.
"Tidak. Aku tidak mau keluar dari sini. Aku juga mau lihat secara langsung pemeriksaan ini sekaligus untuk menemani kamu," ucap Erland.
"Kamu kira aku anak kecil yang takut di periksa sendirian. Jadi sana ih keluar!" Maura masih kekeuh untuk mengusir Erland. Tapi Erland tak mau kalah, laki-laki itu masih mempertahankan posisi tubuhnya yang tengah di dorong sekuat tenaga oleh Maura.
Dokter Leli yang melihat adegan tersebut, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
Tapi karena ia tak ingin melihat sepasang suami-istri itu terus bertengkar, Dokter Leli memutuskan untuk angkat suara, "Sudah tidak apa-apa nyonya Maura. Kalau tuan Erland mau melihat pemeriksaannya secara langsung tidak masalah."
Ucapan dari Dokter Leli itu menghentikan Maura yang terus mencoba untuk mengusir Erland.
"Tuh dengerin apa kata Dokter Leli," timpal Erland yang langsung mendapatkan pelototan mata dari Maura. Sebelum perempuan itu memilih untuk naik keatas brankar dan merebahkan tubuhnya di atas sana.
Sedangkan Erland, laki-laki itu terkekeh kecil, merasa jika dirinya saat ini menang dari Maura.
"Ketawa terus, kesurupan baru tau rasa kamu!" ceplos Maura yang membuat Erland menghilangkan senyum indahnya tersebut.
Lagi dan lagi Dokter Leli hanya menggelengkan kepalanya.
"Sudah-sudah, lebih baik kita mulai pemeriksaan saja," ujar Dokter Leli menengahi sepasang suami-istri itu.
Saat di tahap USG itu, Dokter Leli tersenyum.
"Lihatlah, di rahim nyonya Maura sudah terdapat kantung janin," ujar Dokter Leli dengan menunjuk kearah lingkaran kecil yang di tampilkan di layar USG tersebut. Kedua orang yang tak tau maksud dari Dokter Leli pun mereka dengan serempak bertanya, "Kantung janin itu apa?"
Dokter Leli menatap kearah Maura dan Erland secara bergantian tanpa melunturkan senyum di bibirnya.
"Kantung janin itu janin adalah sebuah kantung berisi cairan yang mengelilingi embrio atau sel telur yang telah dibuahi selama beberapa minggu pertama perkembangannya. Jadi dalam artian lain jika Nyonya Maura saat ini tengah mengandung dan perkiraan usia kandungannya 4 minggu alias satu bulan," ucap Dokter Leli menjelaskan.
Erland yang mendengar hal tersebut pun ia tak bisa bohong lagi, ia benar-benar sangat bahagia. Akhirnya akhirnya akhirnya ia akan menjadi seorang ayah juga.
Erland pun tak henti-hentinya mengucap syukur atas rahmad yang telah Allah berikan kepadanya, "Alhamdulilah ya Allah, Alhamdulillah."
Sedangkan respon yang diberikan oleh Maura justru berbanding terbalik dengan Erland. Perempuan itu justru bingung sendiri sampai akhirnya ia yang tak tahan untuk merasakan kebingungan itu pun ia angkat suara, "Dokter tidak sedang bercanda kan sekarang? Dan apa yang dokter katakan tadi memang benar?"
Tatapan mata dari Dokter Leli yang tadi melihat kearah Erland kini berganti menatap kearah Maura. Tak hanya Dokter Leli saja yang mengalihkan pandangannya, melainkan Erland pun juga sama. Laki-laki itu kini mengerutkan keningnya, "Maksud kamu apa sih sayang? Jelas-jelas Dokter Leli tadi bilang kalau di rahim kamu sudah ada kantung janinnya. Kita juga tadi melihat sendiri kantung janin itu. Jadi sudah bisa dipastikan kalau apa yang dikatakan oleh Dokter Leli tadi benar adanya jika kamu saat ini tengah hamil bukan hanya sekedar candaan atau Dokter Leli sedang membohongi kita."
Dokter Leli menganggukkan kepalanya, "Benar apa yang di katakan oleh tuan Erland, nyonya. Jika saya sedang tidak bercanda dan apa yang saya sampaikan itu lah yang sebenarnya tengah terjadi."
"Kalau memang semuanya benar, kenapa saya kurang lebih satu minggu yang lalu datang bulan? Harusnya kan kalau orang hamil, aku tidak perlu datang bulan lagi kan?"
__ADS_1
"Memang benar orang yang sedang hamil itu tidak akan datang bulan selama masa kehamilannya. Tapi ada juga satu istilah di kedokteran yang bernama pendarahan implantasi. Pendarahan ini biasanya terjadi karena adanya proses pelekatan sel telur yang dibuahi pada dinding rahim yang mengakibatkan dinding rahim terluka dan mengakibatkan ada darah yang keluar. Jadi darah itu mungkin yang nyonya anggap sebagai darah haid," jelas Dokter Leli.
"Apa pendarahan ini bahaya Dok?" tanya Erland yang tiba-tiba khawatir dengan kondisi istrinya serta calon buah harinya itu.
"Tuan Erland tenang saja. Pendarahan implantasi ini normal terjadi di saat hamil muda. Tapi harus tetap diperhatikan, jika pendarahan terus terjadi, maka bisa memicu keguguran," ujar Dokter Leli.
"Memicu keguguran Dok?" tanya Erland kembali yang diangguki oleh Dokter Leli.
Dokter Leli kembali mengalihkan pandangannya kearah Maura yang sedari tadi diam, "Nyonya Maura boleh saya bertanya?"
Maura mengerjabkan matanya sebelum dirinya menganggukkan kepalanya.
"Apa Nyonya saat ini masih mengalami pendarahan?" tanya Dokter Leli yang dijawab gelengan kepala oleh Maura.
"Syukurlah kalau memang pendarahan itu sudah selesai dan tidak keluar lagi. Aku tadi juga melihat jika semuanya baik-baik saja tidak ada yang perlu di khawatirkan," ujar Dokter Leli yang membuat Erland menghela nafas lega.
"Kalau begitu biar saya siapkan vitamin dan beberapa obat lainnya," ucap Dokter Leli. Tapi saat dirinya ingin keluar, suara Maura menghentikan niatannya tadi.
"Tunggu sebentar Dok." Dokter Leli memutar tubuhnya sehingga ia yang tadi membelakangi Maura kini menghadap kearah pasiennya lagi.
"Ya, kenapa nyonya?" tanya Dokter Leli.
Maura tampak menggigit bibir bawahnya. Ia ragu-ragu ingin bertanya sesuatu kepada Dokter Leli. Sehingga sampai 5 menit telah berlalu, Maura tetap diam.
"Apa ada yang perlu di tanyakan nyonya? Kalau ada, sebisanya akan saya jawab. Tapi kalau tidak, saya akan segara keluar," ujar Dokter Leli
Maura tampak menghela nafas panjang sebelum dirinya berkata, "Jadi begini Dok. Saya mau bertanya apakah orang yang meminum pil KB bisa hamil?"
Dokter Leli mengerutkan keningnya, entah kenapa dia saat ini curiga kepada pasiennya itu. Tak hanya Dokter Leli saja yang curiga dengan ucapan Maura tadi, melainkan Erland pun juga sama. Laki-laki itu saat ini menatap lekat wajah Maura.
"Apa yang kamu maksud sayang?" tanya Erland.
Maura tak menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Ia tetap menunggu jawaban dari Dokter Leli atas pertanyaan yang ia layangkan tadi.
"Jadi begini Nyonya. Orang yang melakukan KB tetap bisa hamil jika orang itu berhenti melakukan KB itu sendiri. Contohnya, KB suntik, ia tetap akan hamil jika masa KB itu sudah usai dan tidak melakukan KB lagi. Dan kalau meminum pil KB, penyebab bisa hamil karena tidak teratur meminumnya. Bahkan KB dengan cara KB spiral tetap bisa hamil jika spiralnya di copot," jelas Dokter Leli.
"Tapi jika boleh tau kenapa nyonya Maura bertanya hal itu? Apa sebelumnya nyonya melakukan KB?" tanya Dokter Leli yang sudah tak bisa mencegah kekepoan.
Maura lagi-lagi ia menggigit bibir bawahnya. Dokter Leli yang menyadari hal tersebut pun, ia mengusap lengan Maura, "Tidak apa-apa. Nyonya katakan saja. Jika memang benar Nyonya meminum pil KB itu, kapan terakhir Nyonya meminumnya?"
Untuk yang kesekian kalinya, Maura menghela nafas panjang sebelum dirinya menganggukkan kepalanya.
"Ya, memang benar saya meminum pil KB itu dan terakhir saya meminumnya sekitar 5 atau 4 hari yang lalu," jawab Maura.
Tentunya jawaban dari Maura itu membuat Erland terkejut setengah mati. Ia yang tinggal dengan Maura setiap hari tidak menjamin ia tau segalanya tentang istrinya itu dan salah satunya ia tak mengetahui jika selama ini istrinya itu sudah mengkonsumsi pil KB. Sebegitu tak mau kah Maura mengandung calon anak mereka. Bohong jika Erland tak marah ataupun kecewa dengan apa yang di lakukan oleh Maura itu, ia sangat-sangat marah dan kecewa entah itu dengan Maura atau dirinya sendiri yang kurang memperhatikan istrinya. Sampai ia kecolongan satu hal besar yang baru ia ketahui ini.
__ADS_1
...****************...
Hayyy semua ku kembali lagi. Maaf ya akhir-akhir ini bahkan kemarin gak up dan gak bisa double up. Aku lagi gak enak body soalnya. Maaf ya, dan buat gantinya eps ini dan mungkin kedepannya, aku akan buat satu eps 2000 kata atau lebih dan biasanya jumlah kata itu buat 2 eps. Kalau cuma 1000 kata akan aku double up InsyaAllah. Sekali lagi maaf ya yang udah nunggu. Dan terimakasih semuanya yang udah setia sama cerita ngalor-ngidul ini. Love you sekebun ❤️