PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 210


__ADS_3

Tidur Erland terusik saat ia mendengar suara ketukan pintu kamar yang terus terdengar tanpa henti.


"Ck, siapa sih. Ganggu orang tidur aja," gumam Erland dengan membuka matanya perlahan, menatap kearah pintu berada sebelum tatapan matanya itu ia alihkan kearah Maura yang masih terlelap dalam mimpi.


Senyum manis kini tercetak di bibir Erland saat dirinya memandang wajah damai tulang rusuknya itu. Ia membelai lembut wajah Maura, menyentuh mata, hidung serta bibir istrinya itu secara bergantian, sebuah kecupan pun kini mendarat di kening Maura. Cukup lama Erland menempelkan bibirnya di kening sang istri sebelum aksinya itu terhenti kala suara ketukan kembali ia dengar.


Erland berdecak setelah dirinya menjauhkan wajahnya dari wajah istrinya. Perlahan namun pasti, Erland turun dari atas ranjang, tak ingin Maura sampai terganggu. Helaan nafas lega Erland keluarkan saat ia tak melihat pergerakan dari tubuh Maura setelah dirinya turun dari ranjang tadi. Dan tak menunggu lama lagi, Erland bergegas mendekati pintu kamar tersebut. Lalu ia segara membuka pintu itu, ia ingin tau siapa gerangan yang mengganggu waktu istirahatnya di pagi buta seperti ini.


Saat pintu itu ia buka lebar, dirinya bisa melihat ada satu perempuan yang merupakan art di rumah keluarganya tersebut berdiri di depan pintu kamar. Terlihat art tadi sempat terkejut saat melihat Erland, pasalnya penampilan Erland kali ini sangat-sangat mengkhawatirkan di mata art itu. Bagaimana tidak menghawatirkan jika Erland terlihat seperti orang depresi dengan mata bengkak dan rambut acak-acakan.


Sedangkan Erland yang eemaot menangkap gelagat art yang tampak terkejut tadi, ia tak peduli. Dirinya memilih untuk langsung bertanya tujuan art itu kenapa mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa?" tanya Erland tanpa ada senyum yang menghiasi wajah datarnya itu.


Art tadi tampak gelagapan, dengan segara ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah Erland kembali.


"Anu itu hmmm---"


"Jangan membuang waktu saya. Segera katakan tujuan kamu mengetuk pintu kamar ini. Tapi jika kamu memang tidak ada tujuan sama sekali dan hanya berniat iseng untuk mengganggu tidur saya dan istri saya, lebih baik segara pergi dari sini," ujar Erland dengan tegas.


Art tadi mengeratkan cengkramannya di baju yang tengah ia kenakan karena aura Erland saat ini benar-benar membuat dia hampir mati berdiri.


"Ma---Maaf tuan. Saya tidak bermaksud untuk mengganggu waktu istirahat tuan dan nona Maura. Saya kesini hanya ingin memberitahu jika tuan Aiden saat ini telepon dan ingin bicara dengan tuan," ujar art tadi dengan takut.


Terlihat jelas kerutan di kening Erland saat mendengar ucapan dari art tadi. Untuk apa Daddy-nya itu telepon dengan menelepon rumah mertuanya? Bukankah Erland ataupun Maura memiliki ponsel yang bisa mereka hubungi? pikir Erland. Namun sesaat setelahnya ia berdecak kala mengingat jika ponsel miliknya ada di kamar Maura begitu pula dengan ponsel sang istri ia tadi malam sempat ia lihat tergeletak diatas nakas kamar mereka.


"Katakan telepon mana yang saat ini terhubung dengan Daddy saya?" tanya Erland.


"Di ruang keluarga tuan. Saya akan tunjukkan," jawab art tadi lalu kemudian ia memutar tubuhnya, melangkah lebih dulu dari Erland.


Sedangkan Erland, ia menyempatkan dirinya untuk menatap kedalam kamar lagi untuk memastikan apakah Maura masih tidur atau sudah bangun? Tapi ternyata Maura masih tidur, tak terusik sedikitpun membuat Erland kini menghela nafas lega sebelum dirinya menutup pintu kamar tersebut kemudian ia bergegas menyusul kepagian dari art tadi.


"Telepon ini tuan yang terhubung dengan tuan Aiden." Art tadi menunjuk telepon rumah yang gagang teleponnya tergeletak diatas meja kecil, menandakan jika sambungan telepon yang tengah terjadi tidak terputus.


Erland menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih. Kamu boleh kembali bekerja," tutur Erland.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi." Art tadi membungkukkan tubuhnya guna berpamitan kepada majikannya yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Erland sebelum art tadi pergi dari hadapan laki-laki tersebut.


Erland yang sudah memastikan jika art tadi menjauh, ia meraih gagang telepon lalu ia dekatkan telah di telinganya.


"Halo, assalamualaikum. Ada apa Dad?" ucap Erland to the point.


📞 : "Waalaikumsalam. Dari mana saja kamu? Daddy telepon lewat ponsel pribadi kamu, gak diangkat-angkat. Sudah mau kurang ajar sama Daddy?"


Erland menggaruk kepalanya saat ia mendengar omelan dari kepala keluarga Abhivandya itu.


"Maaf Dad, ponsel Erland tertinggal di kamar begitu pula dengan ponsel Maura jadi Erland tidak tau jika Daddy tadi sempat telepon Erland karena Erland semalam tidur di kamar tamu," ujar Erland dengan jujur.


Terdengar helaan nafas kasar dari sebrang tentunya siapa lagi perlakuannya jika bukan Daddy Aiden orangnya.


📞 : "Lain kali kalau mau pindah kamar, pastikan benda-benda penting seperti ponsel harus ada di genggaman kamu. Kalau kayak gini kan orang yang mau menghubungi kamu jadi ribet sendiri harus minta nomor telepon rumah dari mertua kamu dulu hanya untuk menelepon kamu," ujar Daddy Aiden yang sepertinya laki-laki paruh baya itu sangat kesal dengan sang putra.


"Iya iya Dad, Erland tidak akan mengulangi lagi. Nanti Erland akan pastikan ponsel Erland 24 jam berada di samping Erland. Jadi maaf ya Dad atas kesalahan yang Erland lakukan ini. Tapi jika boleh tau ada hal apa Daddy telepon Erland di pagi-pagi buta seperti ini?" ucap Erland dengan menatap kearah jam dinding yang menunjukkan pukul setengah 5 pagi.


📞 : "Hmmm, awas saja jika kejadian ini terulang kembali, ponsel kamu, Daddy jual karena gak ada gunanya juga. Daddy telepon kamu hanya mau memberitahu jika nanti kamu tidak perlu ke kantor dulu."


Erland yang mendengar perintah dari Daddy Aiden, ia mengerutkan keningnya.


"Kenapa Erland gak di bolehin ke kantor hari ini?" tanya Erland tak mengerti dengan arah pembicaraan sang Daddy.


📞: "Ck, Daddy kemarin sudah mengirim pesan ke kamu mengenai sidang si nyonya Jaya yang hampir melukai Maura, sidangnya kan di buka hari ini Erland. Kamu gimana sih? Atau jangan-jangan kamu tidak membuka pesan dari Daddy lagi," ujar Daddy Aiden yang benar adanya. Erland belum sempat membuka pesan dari Daddy Aiden karena sibuk dengan Maura.


"Maaf Dad, Erland lupa. Jadi Erland perlu datang ke persidangan itu dengan Maura atau cukup sendiri saja?" tanya Erland sekaligus untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka tadi karena ia tak ingin terkena omelan untuk yang kedua kalinya dari sang Daddy.


📞 : "Ya harus sama Maura lah. Kan yang di butuhkan dalam persidangan nanti Maura bukan kamu. Toh kamu juga tidak penting, Maura yang lebih penting. Dia nanti akan dijadikan saksi atas kejahatan yang sudah di lakukan oleh nyonya Jaya waktu itu kepada Maura. Jadi dia harus ikut hadir di persidangan karena kehadiran dia akan mempermudah jalannya sidang dan keputusan hakim nantinya," tutur Daddy Aiden.


"Baiklah Dad, Erland nanti akan bicarakan tentang persidangan ini ke Maura setelah dirinya bangun. Tapi jika Erland boleh tau, sidang itu dimulai jam berapa?"

__ADS_1


Lagi-lagi terdengar dengusan diseberang sebelum suara Daddy Aiden kembali terdengar.


📞 : "Pukul sembilan, tidak lebih ataupun tidak kurang. Jadi usahakan kamu dan Maura sampai dipersidangan nanti sebelum jam 9."


"Baik Dad. Akan Erland usahakan kita sampai sebelum sidang dimulai."


📞 : "Ya sudah kalau gitu. Daddy tutup teleponnya. Titip menantu Daddy jangan sampai dia terluka, kalau dia terluka maka Daddy akan bunuh kamu," ujar Daddy Aiden penuh dengan ancaman.


Erland yang mendengar hal tersebut pun ia memutar bola matanya malas. Sebisa mungkin bahkan dengan nyawa yang menjadi taruhannya, ia akan melindungi Maura karena ia tak ingin melihat juga tidak ingin membiarkan perempuan yang ia cintai itu terluka.


"Tidak akan Dad, Erland pastikan Maura tidak akan pernah terluka."


📞 : "Oke, Daddy pegang ucapanmu itu. Daddy tutup teleponnya, assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Setelah balasan salam dari Erland tadi, sambung telepon tersebut benar-benar terputus.


Erland langsung menaruh gagang telepon tadi ke tempatnya yang sebenarnya dengan helaan nafas panjang. Lalu setelahnya, ia berjalan meninggalkan ruang keluarga itu menuju ke kamar tamu kembali.


...****************...


Setalah kembalinya ia dari berbicara dengan Daddy Aiden lewat sambungan telepon, Erland tak tidur kembali. Dirinya memilih untuk mengerjakan pekerjaan kantornya guna meringankan beban Afif yang hari ini terpaksa harus ia beri amanat untuk menghandle semua pekerjaan kantor. Tentunya saat ia mengerjakan pekerjaannya itu, ia duduk tepat di samping tubuh Maura yang terbaring.


Lenguhan dari pergerakan dari Maura mengalihkan perhatian Erland. Laki-laki itu menolehkan kepalanya kearah Maura dan tersenyum manis kala sang istri perlahan membuka matanya.


"Good morning sweet heart," sapa Erland dengan memberikan usapan lembut di kepala Maura.


Maura yang masih mencoba mengumpulkan nyawanya, ia memiringkan tubuhnya sampai menghadap kearah Erland, menatap wajah sang suami dengan wajah polosnya. Hal itu membuat Erland gemas dan berakhir ia mencubit pelan hidung Maura.


"Ihhhh, sakit," keluh Maura dengan menyingkirkan tangan Erland dari hidungnya.


Erland terkekeh dibuatnya, "Maaf sayang. Kelepasan tadi. Lagian kamu kenapa gemesin banget sih padahal baru juga bangun tidur."


Maura mencebikkan bibirnya.


"Dari dulu gemesin," ujar Maura lalu setelahnya ia mendudukkan tubuhnya membuat Erland refleks merapikan rambut Maura.


"Lagi apa?" tanya Maura kepo.


"Ini aku lagi ngerjain kerjaan kantor. Kamu mau lihat?" tawar Erland yang dibalas gelengan oleh Maura.


"Gak ah, gak minat, takut pusing lihat banyaknya tulisan rumit yang membahas soal perkantoran," tolak Maura yang dibalas senyuman oleh Erland.


"Ya sudah kalau gak mau lihat. Dan sebaiknya kamu mandi sana gih biar lebih fresh. Nanti setelah mandi ada hal yang ingin aku katakan ke kamu." Maura mengerutkan keningnya.


"Kamu mau mengatakan apa? Kenapa tidak sekarang saja? Kenapa harus menunggu aku mandi dulu? Perasaan aku tidak bau-bau amat walaupun belum mandi." Maura mengendus badannya sendiri. Ia pikir Erland menyuruh dirinya mandi terlebih dahulu sebelum mereka saling berbincang-bincang karena ia bau badan, tapi setelah ia mencium bau badan sendiri, ia rasa tubuhnya masih wangi.


"Kamu memang masih wangi sayang. Tapi lebih baik mandi dulu biar kamu sadar 100%," ujar Erland yang membuat Maura berdecak. Namun tak urung dirinya bergegas turun dari atas ranjang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.


Tentunya kepergian dari Maura itu tak lepas dari pandangan Erland sampai tubuh Maura hilang dibalik pintu kamar mandi.


Saat Maura sudah tak terlihat lagi, Erland menyimpan laptop keatas nakas, kemudian ia bergegas keluar dan tujuannya kali ini ke dapur untuk membuatkan susu ibu hamil untuk Maura.


Erland selalu melempar senyum kala beberapa art menyapa dirinya, sampai tiba dirinya di dapur Erland langsung di sambut para koki yang memasak hidangan untuk sarapan mereka.


"Selamat pagi tuan muda," sapa sekitar 5 orang yang berada di dalam dapur tersebut.


Tentunya Erland lagi-lagi tersebut tapi kali ini ia menjawab, "Selamat pagi juga. Semangat bekerja."


Kelima orang tadi mengangguk tak lupa dengan senyum mereka. Sedangkan Erland, laki-laki itu memilih untuk segara melakukan niatnya pergi ke dapur tadi. Tentunya masuknya Erland ke dapur itu membuat kelima orang tadi terdiam, sebelum salah satu dari mereka berkata, "Jika tuan Erland ingin membuat susu, biar kita saja yang membuatkan untuk tuan. Tuan tinggal duduk saja."


Erland menolehkan kepalanya.


"Ahhhh tidak usaha. Saya bisa sendiri lagian saya membuatkan susu untuk istri saya," ujar Erland dengan mengangkat dus susu hamil itu, memperlihatkan kepada kelima orang tadi yang ia yakini mereka belum tau tentang kabar Maura yang tengah mengandung karena memang di dalam rumah tersebut yang sudah tau Maura hamil hanya kedua orangtua Maura saja.


Terlihat jelas wajah kelima orang tadi tengah terkejut.


"No---nona Maura hamil?" Erland menganggukkan kepalanya dan dengan senyuman ia kembali menatap kearah gelas yang berisi susu itu, ia mengaduk susu tersebut sembari berkata, "Benar, istri saya tengah hamil. Saya minta doanya ya, agar janin dan ibunya sehat terus dan diperlancar saat melahirkan nanti."

__ADS_1


Senyum lebar kini mereka berlima perlihatkan, mereka turut berbahagia atas berita kehamilan nona muda mereka. Dan artinya mulai saat ini mereka harus memperhatikan pola makan Maura dan memastikan jika yang dimakan oleh Maura harus memenuhi kebutuhan janin.


"Tentu saja tuan. Doa kita akan terus menyertai nona Maura dan janin yang saat ini tengah beliau kandung. Kita turut bahagia atas kabar ini. Selamat ya tuan," ujar kepala koki.


"Terimakasih atas doa dan ucapan selamatnya. Ya sudah kalau begitu saya ke kamar dulu," pamit Erland yang diangguki oleh kelima orang tadi.


Erland yang melihat anggukkan kepala mereka, ia kini melangkah kakinya kembali ke kamar tamu.


Dan tentunya kepergian Erland yang meninggalkan berita bahagia itu langsung ke-lima orang tadi sebarkan dari satu mulut ke mulut yang lain agar mereka juga tau jika nona mereka tengah berbadan dua, jadi tak sampai satu hari berita kehamilan Maura itu sudah sampai di telinga semua orang yang berada di rumah tersebut.


Sedangkan Erland, laki-laki yang sudah berada di dalam kamar kembali, ia tersenyum kala Maura sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh dari sebelumnya.


"Duduk sini," ucap Erland dengan menepuk-nepuk kasur yang berada disebelahnya, mengisyaratkan agar Maura duduk di tempat yang ia tepuk tadi.


Maura yang tadinya ingin segara ke kamar pribadinya karena dirinya saat ini hanya menggunakan handuk kimono, mengurungkan niatnya dan memilih mendekati sang suami. Tak lupa ia juga duduk di tempat yang Erland tadi perintahkan.


Erland kini mengambil susu yang sudah ia buat tadi lalu memberikannya kepada Maura. Tanpa ba-bi-bu lagi, Maura mengambil satu gelas susu tersebut lalu meminumnya secara perlahan. Ia sudah tau jika susu itu khusus untuk ibu hamil karena pagi ini bukanlah pertama kalinya Erland menyajikan susu tersebut melainkan sudah kedua kalinya karena yang pertama kemarin sore sebelum mereka pergi ke pasar malam.


Maura yang sudah selesai menenggak satu gelas susu tadi, gelas yang sudah kosong itu ia berikan kembali kepada Erland.


"Jadi apa yang akan kamu katakan tadi denganku?" tanya Maura yang sudah kepo maksimal.


Erland kini meraih kedua tangan Maura, menatap wajah sang istri sebelum ia berkata, "Pagi ini kita ke pengadilan."


Nafas Maura tercekat kala mendengar kata pengadilan. Jantungnya berpacu sangat cepat dengan otaknya yang terus berpikir untuk apa suaminya itu mengajak ke pengadilan? Apa jangan-jangan Erland mau...


Maura menggelengkan kepalanya, menghalau pikiran negatif yang tiba-tiba menyerang otaknya itu.


"Sayang kenapa?" tanya Erland khawatir saat ia melihat Maura terus menggelengkan kepalanya.


"Katakan, apa salahku?" Erland mengerutkan keningnya.


"Hah? Kamu bilang apa sih sayang? Memangnya kamu salah apa? Perasaan kamu tidak memiliki salah apapun kepadaku. Masalah kita tadi malam juga sudah selesai dengan kita yang saling memaafkan. Jadi kamu tidak memiliki salah apapun kepadaku, sayang," ujar Erland bingung.


"Kalau memang aku tidak memiliki salah apapun, kenapa kamu mau mengajak aku ke pengadilan agama? Kamu mau menceraikan aku kan?" Erland melongo dibuatnya. Ternyata Maura salah paham kepadanya.


"Siapa yang mau berpisah sama kamu sih sayang? Dan kenapa pikiran kamu sampai di sana? Aku memang mengajak kamu ke pengadilan tapi pengadilan ini beda dengan pengadilan agama," ujar Erland.


"Ehhh jadi kita tidak ke pengadilan agama?" Erland menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu, kita mau ke pengadilan buat apa?" tanya Maura.


"Jadi gini sayang. Kamu ingat kan dengan orang yang menyerang kamu di rumah sakit?" Maura menganggukkan kepalanya.


"Nah, kita ke pengadilan itu untuk menjadi saksi perbuatan dia, lebih tepatnya kamu yang menjadi saksi." Terlihat Maura sempat terkejut dengan ucapan Erland tadi.


"Berarti dia." Maura menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Iya, kelakuan dia akan di pertanggung jawabkan di penjara. Jadi untuk melancarkan dia agar segara masuk ke dalam jeruji besi, kamu harus memberikan ke saksi sebagai korban. Kamu tidak masalah kan sayang?" tanya Erland, ia cukup khawatir melihat reaksi yang di perlihatkan oleh Maura tadi.


Maura menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak masalah," ujar Maura.


"Kalau tidak masalah kenapa wajah kamu seperti itu? Kayak gak terima kalau orang yang sudah mencelakai kamu harus masuk penjara."


"Ck, apaan sih. Aku sangat rela kalau memang dia harus di penjara. Aku hanya terkejut saja. Dan siapa yang menjebloskan dia ke penjara?" ucap Maura sebelum tatapan matanya kini menghunus tajam kearah Erland.


"Jangan bilang kalau kamu orangnya," tuduh Maura yang dibalas gelengan kepala oleh Erland.


"Tidak, bukan aku orang yang sudah menjebloskan wanita itu ke penjara melainkan Daddy dan Mommy. Awalnya memang aku yang ingin bergerak sendiri untuk menyeret wanita itu ke penjara, tapi sayangnya, mertua kamu yang sangat menyayangi kamu itu meminta biar mereka saja yang bergerak dan mereka menyuruhku untuk menjagamu saja disini," jelas Erland.


"Mommy sama Daddy?"


"Iya. Sudahlah jangan di pikirin lagi. Lebih baik kita berdua siap-siap karena persidangan nanti akan dimulai pukul 9 pagi yang artinya kita masih punya waktu 1 setengah jam untuk siap-siap sekali sarapan sebelum kesana," ujar Erland lalu berdiri posisi duduknya tanpa melepaskan genggaman tangannya.


Maura yang tadi terdiam pun ia kini menghela nafas. Awalnya ia tak ingin membawa masalah ini ke jalur hukum, tapi jika kedua mertuanya itu melakukannya, ya tentunya Maura sangat bersyukur. Dan dirinya juga tidak perlu khawatir lagi jika nanti dirinya keluar rumah, ia akan bertemu dengan wanita psikopat itu. Maura juga sangat bersyukur memiliki mertua yang sangat sayang kepada dirinya.


Maura kini ikut berdiri, lalu setelahnya mereka berdua keluar dari dalam kamar tamu itu dengan tangan yang saling bergandengan.

__ADS_1


...****************...


Eps ini 2700 lebih kata kalau dijadiin eps udah 3 eps. Jadi anggap saja aku udah triple up ya. Jangan minta lagi, awas😂 Btw jangan lupa LIKE VOTE HADIAH dan KOMEN ya. See you next eps bye 👋


__ADS_2