
Setengah jam telah berlalu, dimana saat itu Maura yang menunggu masakannya jadi dengan bermain game di ponselnya, perempuan itu saat ini berdiri dari posisi duduknya di kursi makan. Dan dengan langkah lebar ia mendekati masakannya itu.
"Hmmm sepertinya udah matang deh. Aku angkat aja lah," gumam Maura. Kemudian ia berjalan mengambil dua serbet yang akan ia gunakan untuk mengangkat wajan tersebut dan memindahkan masakannya ke mangkuk yang sudah ia siapkan sedari tadi.
Tanpa mematikan api kompor terlebih dahulu, Maura mengangkat wajan tersebut dengan perlahan mulai memindahkan sayurannya itu kedalam mangkuk. Namun saat ia memindahkan masakannya itu, uap panas yang dihasilkan dari masakannya terus menerus menerpa wajahnya hingga dengan refleks Maura melepas satu tangannya berniat ia gunakan untuk mengusap wajahnya yang terasa panas itu. Tapi sayang seribu sayang, niatannya untuk meredakan rasa panas di wajahnya itu justru mendatangkan petakan baginya.
Pasalnya wajan yang masih ada isinya itu yang tengah ia pegang dengan satu tangan saja membuat posisi wajan itu miring hingga...
Currrr! Brakkk!
"Awsss! Panas!" ucap Maura kala kuah sup tadi mengenai kedua kakinya. Dan karena sempat terkejut tadi, ia menjatuhkan wajan tersebut yang lagi-lagi mengenai salah satu kakinya. Tak hanya disitu saja serbet yang ia pegang pun ia lempar kesembarang arah dan tanpa ia duga ternyata serbet tersebut mendarat tepat diatas kompor dengan api yang menyala.
Disaat Maura tengah merasakan panas di kakinya yang sepertinya akan melepuh itu, dirinya di kejutkan dengan adanya kobaran api yang menyambar serbet tersebut.
"Astaga api. Kebakaran, ya tuhan!" teriak Maura heboh dan dengan menahan rasa perih di kakinya itu, Maura bergerak menuju ke wastafel dengan membawa baskom di tangannya. Mengisi air sampai penuh lalu dengan cepat ia menuju ke arah kompor tersebut. Namun sepertinya nasib sial tengah berpihak kepadanya. Pasalnya saat dirinya sudah hampir dekat kompor tersebut, bahkan dia sudah siap mengguyur kobaran api itu dengan air yang ia bawa, justru dirinya terpeleset saat itu juga yang mengakibatkan air yang ingin ia guyurkan ke kobaran api itu malah mengguyur dirinya sendiri.
Dimana hal itu membuat Maura menangis, perutnya sudah lapar sejak tadi ehhh malah hari ini ia dibuat sial karena ulahnya sendiri dengan kedua kaki yang sudah memerah dan bokongnya yang baru saja mencium lantai, sangat sakit ia rasakan. Belum lagi dengan kompor yang semakin berkobar membuat dirinya pasrah saat ini. Dan sepertinya sumpah serapah yang ia berikan kepada Erland tadi justru berbalik dan menerpa dirinya.
__ADS_1
"Hari ini Maura mati Pa, Ma. Maafin Maura and see you di surga," ucap Maura dengan derai air mata yang terus membasahi pipinya.
Maura kini menyembunyikan wajahnya di lipatan kedua lengan yang ia tumpukan ke kedua kakinya, menunggu ajalnya yang sebentar lagi akan menjemputnya, pikir Maura.
Namun beberapa saat setelahnya ia merasakan jika tubuhnya melayang. Ia berpikir jika nyawanya sudah berpisah dengan raganya. Tapi saat dirinya membuka mata, ia tampak terbengong sebelum ia berucap, "Erland."
Erland yang memang tengah menggendong tubuh Maura ala bridal style pun ia menundukkan kepalanya sekilas, menatap wajah Maura sebelum ia mengalihkan pandangannya kembali.
Dimana tujuan Erland saat ini adalah membawa Maura untuk duduk di kursi depan rumah. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu di dalam nantinya. Dan setelah ia mendudukkan Maura, tanpa berkata apapun kepada istrinya itu Erland dengan cepat menuju ke arah dapur meninggalkan Maura yang menatap kepergiannya.
Erland berdecak kala melihat kekacauan di dapur tersebut tapi tak urung dirinya dengan cepat mengambil kain lalu ia basahkan kemudian ia taruh diatas kobaran api diatas kompor tersebut hingga apinya berhenti menyala dan barulah Erland mematikan petikan di kompor tersebut. Bahkan ia segera melepas gas kompor itu lalu membawanya ke halaman belakang rumah. Takutnya jika dirinya tetap membiarkan gas itu terpasang akan meledak saat itu juga.
Sebelum ia menggeleng-gelengkan kepalanya kala melihat tumpahan air dimana-mana.
"Filingku memang tidak pernah meleset," gumam Erland sembari mulai membersihkan kekacauan di dalam dapur tersebut. Ya, saat dirinya di kantor tadi, ia tiba-tiba kepikiran dengan rumahnya. Ia sudah mencoba untuk menghalau pikirannya itu tapi justru ia semakin kepikiran hingga ia memutuskan untuk pulang kerumahnya. Dan setibanya ia di rumahnya, ia mendapati bau kain yang tengah terbakar. Dimana hal itu membuat Erland berlari cepat menuju kearah dapur. Benar saja jika bau yang barusan ia cium itu berasal dari sana. Tapi saat dirinya ingin mematikan kobaran api itu, ia justru melihat tubuh Maura yang tengah menangis sesenggukan dengan keadaan yang cukup memprihatinkan.
Erland yang niatnya tadi ingin mematikan kobaran api, memilih untuk menyelamatkan nyawa Maura terlebih dahulu. Karena jika Maura mati nanti dia pasti yang akan disalahkan karena Maura sudah menjadi tanggungjawabnya. Jadi untuk kebaikan dirinya agar tidak di tuduh macam-macam akhirnya Erland memilih untuk mengamankan Maura terlebih dahulu dan mengorbankan keselamatannya sendiri yang harus bertarung dengan kobaran api yang sewaktu-waktu akan meledakkan gas yang tersambung dengan kompor tersebut.
__ADS_1
Namun syukurnya, semuanya bisa Erland atasi dengan keadaan dia yang tidak terluka sedikitpun.
Erland terus membersihkan semua kekacauan di dapur tersebut sampai 30 menit lamanya akhirnya semuanya selesai.
Erland kini berjalan menuju ke depan rumah tersebut untuk menghampiri Maura yang masih saja menangis disana.
"Semuanya sudah baik-baik saja jadi tidak perlu menangis lagi. Dan lebih baik kamu bersihkan tubuh kamu itu dulu. Buat luka yang ada di kakimu nanti aku bantu buat ngobatinnya," ucap Erland saat dirinya sudah berdiri di samping tubuh Maura, laki-laki itu masih saja menampilkan wajah datarnya.
Maura yang mendengar suara dari Erland pun ia menolehkan kepalanya kearah sang suami. Dan dengan sesenggukan ia berucap, "Hiks ka---kakiku sakit. Aku tidak bisa berjalan sendiri. Hiks, Erland bantu aku hiks."
Maura mengulurkan kedua tangannya, terlihat seperti anak kecil yang minta di gendong oleh ayahnya.
Erland yang sebenarnya masih sebal setengah mati dengan sang istri perkara kejadian kemarin ditambah dengan kejadian saat ini pun tak urung membuat Erland tetap saja memberikan bantuan kepada Maura. Erland kini menggendong Maura kembali ala bridal style menuju ke kamar perempuan itu.
"Langsung ke kamar mandi?" tanya Erland yang diangguki oleh Maura.
Erland membawa tubuh Maura ke dalam kamar mandi, ia mendudukkan tubuh istrinya itu di dalam bathub.
__ADS_1
"Jangan lepas pakaianmu dulu. Biar aku ambilkan baju ganti untukmu." Tanpa menunggu persetujuan dari Maura, Erland bergegas keluar dari kamar mandi tersebut dan memilihkan baju ganti untuk Maura tak lupa ia juga mengambilkan handuk untuk istrinya itu. Dimana ia menghela nafas kala lagi dan lagi ia tak menemukan pakaian yang layak di pakaian oleh Maura ataupun perempuan lain. Namun mau bagaimana lagi, Erland tidak memiliki pakaian perempuan lain yang bisa ia pinjamkan untuk Maura pakai. Alhasil dengan terpaksa Erland tetap memilihkan pakaian ganti dengan baju yang Maura punya. Tapi ia memilih baju oversize milik Maura dan celana tidur yang tidak ketat seperti jejeran hot pant yang perempuan itu miliki. Tak lupa Erland juga mengambil pakaian dalam untuk istrinya itu dengan semburat merah di pipi laki-laki tersebut saat melihat pakaian dalam Maura yang membuat dirinya kembali terbayang-bayang akan kejadian di malam saat Maura telanjang bulat didepan matanya. Namun sesaat setelahnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya, menghalau pikirannya yang sudah mulai kemana-mana itu. Sebelum ia akhirnya kembali masuk kedalam kamar mandi.
"Aku taruh pakaian kamu dan handuk disini. Kalau nanti sudah selesai, panggil aku. Aku tunggu di dalam kamarmu," ujar Erland lalu setelah ia menaruh pakaian Maura ditempat yang sekiranya bisa dijangkau oleh Maura, Erland bergegas keluar, meninggalkan Maura yang terus menatap kepergian dirinya bahkan sampai pintu kamar mandi itu Erland tutup pun perempuan itu masih memandangnya hingga setetes air mata yang tadi sudah sempat berhenti kini keluar lagi. Entah air mata itu berarti apa, Maura pun juga tidak tau dengan perasaan yang tengah ia rasakan saat ini.