PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 115


__ADS_3

Satu jam setelah Erland pergi, Maura terlihat gelisah. Bukan, ia gelisah bukan karena dirinya takut di rumah sendirian atau tengah mengkhawatirkan Erland, melainkan ia gelisah karena memikirkan akan melakukan aksinya itu kapan. Ia tadi sempat berpikir akan melakukan aksi itu saat Erland sudah bekerja dimana saat itu masih ada satu hari lagi. Karena ia sangat yakin jika Erland libur kerja, laki-laki itu tidak mungkin keluar rumah dan ia tidak bisa bersiap diri untuk melakukan aksinya tersebut. Tapi berhubung Erland saat ini tiba-tiba pergi entah kemana dan sudah satu jam lamanya, Maura berpikir, apakah hari ini adalah hari yang tepat dimana ia menyerahkan kehormatannya kepada Erland selaku suaminya itu atau ia akan melakukannya seperti rencananya sebelumnya?


Maura terus menimbang-nimbang keputusan apa yang akan ia ambil sembari ia sesekali bergumam, "Sekarang atau nanti?"


"Kalau aku menunda lagi, apa aku tidak menambah dosa? Tapi kalau aku melakukannya sekarang aku harus memulainya darimana? Dan Erland akan pulang jam berapa? Takutnya saat aku menyiapkan segalanya termasuk mentalku nanti, dia tiba-tiba datang lagi," ucap Maura gelisah.


Bahkan saking gelisahnya, bibir bawahnya sedari tadi ia gigit, kakinya terus ia gerakkan melangkah mondar-mandir didalam kamarnya.


15 menit kemudian Maura menghentikan langkahnya dan dengan helaan nafas panjang ia berkata, "Oke. Kita lakukan saja sekarang! Aku tidak mau menambah dosa lagi dan aku tidak mau membuat Erland kecewa lagi! Ini keputusanku jadi let's go kita bersiap sekarang juga."


Akhirnya keputusan final keluar dari bibir Maura, dimana setelah ia mengatakan tekadnya tadi, ia langsung bergegas menuju ke kamarnya yang dulu untuk memilih mana lingerie yang akan ia pakai.


Maura menggigit bibirnya kembali saat menatap lingere yang bentuknya tak ada yang sedikit tertutup itu. Tapi mau tak mau agar rencananya itu berjalan dengan lancar, ia mengambil lingerie berwarna merah cerah tanpa peduli lagi bentuknya seperti apa. Dan setelah mengambil satu lingerie, Maura berlari kecil kembali masuk kedalam kamar utama yaitu kamar dirinya dan juga Erland. Kemudian ia bergegas masuk kedalam kamar mandi tentunya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu karena kebetulan saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lebih. Jadi sudah cukup pas lah jika Erland nanti akan menerkamnya...ehhh.

__ADS_1


Hanya membutuhkan waktu 20 menit akhirnya Maura telah selesai membersihkan tubuhnya dan sudah memakai lingerie tersebut sebelum dia keluar dari dalam kamar mandi. Langkah kakinya kini membawa dirinya menuju ke meja rias yang sudah ada di dalam kamar tersebut tentunya Erland tadi yang memindahkan.


Maura memandang dirinya sendiri di pantulan kaca rias tersebut dimana saat itu juga ludahnya sangat susah sekali ia telan, entah kenapa dirinya shock dengan penampilannya saat ini. Ia memang sangat gemar memakai pakaian seksi tapi untuk kali ini pakaian yang ia kenakan bukan lagi seksi melainkan ia hampir telanjang bulat. Bagaimana tidak coba, jika hanya aset berharganya dibawah sana yang tertutup oleh kain yang sedikit tebal namun masih bisa dilihat oleh kasat mata sedangkan untuk kedua buah dadanya, tidak tertutup sama sekali hanya ujungnya saja yang tertutup bordir dari lingerie yang ia pakai. Itupun jika dirinya sedikit menundukkan tubuhnya, tetap saja bagian yang sedikit tertutup itu akan terlihat juga.


Maura kini menghela nafas panjang sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya di kursi rias tersebut. Dan dengan tangan yang kini bergerak untuk mengambil make up yang akan mempercantik dirinya nanti, ia bergumam, "Tidak apa-apa Maura. Ini semua demi mendapatkan pahala."


Setelah bergumam, tangan Maura dengan lentik memperindah lagi wajahnya tentunya dengan make-up tipis saja.


Dan saat Maura tengah menyiapkan rencananya, Erland yang sedari tadi sudah berputar mencari keberadaan Afif pun, sekertarisnya itu tak kunjung juga ia temukan. Hingga decakan kini keluar untuk kesekian kalinya dari bibir Erland. Apalagi nomor telepon Afif tak bisa ia hubungi yang semakin membuat dirinya ingin sekali mencincang Afif saat dia sudah bertemu dengan orang itu.


"Kemana sih orang itu. Sudah satu jam lebih aku sampai di lokasi yang dia kirim tapi dia tidak juga muncul," ucap Erland dengan mengedarkan tatapan tajamnya ke sekelilingnya. Namun tetap saja ia tak menemukan keberadaan Afif.


"Apa jangan-jangan dia sudah ketangkap lagi sama orang-orang yang ingin menculiknya? Ck, kalau tau gitu, aku gak perlu repot-repot buat pergi kesini dan nolongin dia. Haishhhh sudahlah aku pergi saja. Buang-buang waktu," ujar Erland. Ia yang memang sudah kepalang sebal itu tak lagi memikirkan nasib Afif. Dan dirinya memilih untuk segara pergi dari lokasi tersebut. Namun baru saja ia menghidupkan mesin mobil dan berniat untuk melajukan mobilnya hmmm lebih tepatnya mobil Afif tersebut, ia terkejut bukan main saat tiba-tiba saja lampu mobilnya menyorot seseorang yang tengah berdiri tepat didepan mobil itu.

__ADS_1


"Astagfirullah! Setan!" erang Erland dengan mengelus dadanya yang berdegup kencang itu. Namun tak urung ia segara menurunkan kaca mobilnya tersebut dan sedikit mengeluarkan kepalanya lalu dirinya berucap, "Woyy Afif. Ngapain disitu? Masuk sekarang!"


Ya, orang yang berdiri di depan mobil yang dikendarai oleh Erland tadi adalah Afif, laki-laki yang sedari tadi ia cari keberadaannya. Dimana teriakan dari Erland tadi mengalihkan pandangannya Afif yang sedari tadi terus menatap ke arah sekitarnya.


"Bos Erland!" ucap Afif sangat kentara sekali kebahagiaan yang terpancar di mata laki-laki tersebut.


Erland yang mendengar ucapan dari Afif pun ia memutar bola matanya malas.


"Masuk sekarang setan! Sebelum saya tinggal kamu!" ujar Erland kesal. Tidak tau saja sekertarisnya itu jika Erland saat ini takut terjadi sesuatu kepada Maura. Dirinya kini benar-benar tak bisa untuk meninggalkan Maura sendirian di rumah dalam waktu yang lama apalagi saat malam hari tiba. Ia takut hal-hal yang tak ia inginkan menerpa sang istri.


Sedangkan Afif yang mendapat ancaman itu ia segera berlari dan langsung masuk kedalam mobilnya tepat di kursi sebelah Erland.


"Bos. Kita pergi dari sini sekarang juga karena saya tadi sudah sempat ingin di tangkap oleh komplotan orang jahat itu. Dan sekarang mereka tengah mengejar saya kembali. Ayo bos kita pergi, cepat!" ujar Afif dengan menggoyang-goyangkan lengan sang bos yang langsung di geplak oleh Erland dengan tatapan malas. Padahal Afif tadi yang sangat lama untuk masuk kedalam mobil tapi giliran sudah masuk, sekertarisnya itu menyuruh dia untuk segara pergi dari lokasi tersebut. Menyebalkan. Tapi walaupun begitu Erland bergegas melajukan mobilnya karena ia juga mengingatkan akan istrinya yang sedari tadi ia khawatirkan. Jadi dia tidak mau berlama-lama lagi dan tanpa di perintahkan oleh Afif, ia mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan tinggi. Tak peduli dengan Afif yang sedari tadi berteriak meminta dirinya untuk mengurangi kecepatannya. Ia benar-benar tak peduli karena yang ia pedulikan saat ini adalah ia cepat sampai di apartemen Afif dan segara pulang ke rumah.

__ADS_1


Bahkan selama ia didalam perjalanan pun Erland terus berdoa agar Maura selalu di lindungi oleh Tuhan dari apapun yang akan menggangu istrinya itu.


__ADS_2