
Erland masuk kedalam mobilnya setelah dirinya selesai berbelanja dan setelah ia menaruh barang belanjaannya tadi di bagasi mobil. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Hari ini kesabarannya benar-benar di uji. Tidak hanya masalah pekerjaan saja yang menumpuk melainkan harus menghadapi dua perempuan yang sialnya sepasang ibu dan anak.
"Sampai kapan sih mereka harus menggangguku seperti ini terus. Apa mereka tidak capek? Aku saja yang di ganggu capek lho. Huh, emang dasar ya buah itu jatuh tidak jauh dari pohonnya. Anaknya ngejar-ngejar aku karena tampan dan kaya, ibunya pun sama saja. Kalau kayak begini rasanya aku selalu di kejar-kejar sama pegawai toko yang tengah menjual pakaian yang tengah di obral. Menyebalkan!" erang Erland. Dirinya ingin sekali marah, tapi ia rasa tidak ada gunanya juga dirinya marah pasalnya tidak ada orang yang sudah memancing emosinya di hadapannya.
Dengan helaan nafas berkali-kali sampai emosinya sedikit mereda, Erland segera menjalankan mobilnya menuju ke kediamannya. Ia harus segara bertemu dengan penyejuk hatinya sebelum dirinya di buat gila karena memikirkan tingkah Orla dan sang ibu dari perempuan itu.
Sedangkan disisi lain, Ibu dari Orla yang memiliki nama Rina telah sampai di kediamannya. Dengan langkah penuh emosi, ia mendekati pintu utama rumahnya, membuka pintu rumah tersebut cukup keras hingga membuat beberapa maid yang masih berkeliaran, terkejut akan aksinya tadi. Tapi ia mana peduli. Dia justru melangkahkan kembali kakinya sembari berkata, "Dimana suami saya dan Orla?"
Entah siapa yang ia layangkan pertanyaan, yang penting ia mendapat jawaban dari salah satu maid disana yang memberanikan diri mendekati dirinya sembari berucap, "Tuan besar dan nona Orla tengah berada di ruang keluarga nyonya."
Tanpa mengucapkan sepatah katapun apalagi mengucapkan kata terimakasih kepada maid yang sudah memberikan ia infomasi mengenai keberadaan anak dan suaminya, Mama Rina justru bergegas menuju ke ruang keluarga. Dan benar saja saat dirinya sampai di ruangan tersebut ia bisa melihat sepasang anak dan ayah tengah menatap layar televisi dengan sesekali bercanda gurau. Masih dengan emosi yang membara, wanita paruh baya tersebut segera mendekati kedua orang itu.
"Minggir," ucap Mama Rina memisah anak dan ayah itu yang tampak seperti perangko, menempel satu sama lain.
Orla dan sang Papa saling pandang satu sama lain. Bingung kenapa wanita paruh baya itu datang tiba-tiba dengan amarah yang terlihat jelas di wajahnya.
"Ck, bisa minggir gak sih?" ujar Mama Rina yang ia tujukan kepada Orla. Tapi berhubung anaknya itu tidak melakukan apa yang sudah ia perintahkan, dirinya dengan kasar menarik lengan Orla sampai perempuan itu berdiri dari posisi duduknya dengan ringisan kesakitan akibat perlakuan sang ibunda.
Setelah Orla berdiri, barulah Mama Rina duduk tepat disamping sang suami, memeluk lengan suaminya itu dengan sangat erat membiarkan Orla yang terus melontarkan protesan kepada-nya.
__ADS_1
"Mama apa-apaan sih? Mama tau gak apa yang sudah Mama lakukan tadi itu menyakiti fisik Orla. Lihat nih lengan Orla jadi merah gini karena ulah Mama!" ucap Orla tak terima. Ia tak segan-segan menaikan intonasi suaranya.
Sayangnya tak ada respon sama sekali dari sang ibunda. Wanita paruh baya itu tampak diam dengan mata terpejam tak lupa dadanya naik turun mencoba meredakan emosinya.
Tapi hal itu justru membuat Orla kesal setengah mati.
"Mama---" Saat dirinya ingin kembali angkat suara, sang Papa menatapnya dengan menggelengkan kepalanya. Kalau ia biarkan Orla terus melontarkan protesannya, ia yakin setelah itu pasti ada perang dunia ke 3 di rumah mereka. Jadi untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, lebih baik Papa Jaya menengahinya.
"Duduk," perintah Papa Jaya dengan tatapan mata yang masih bersitatap dengan sang putri. Mau tak mau, dengan hati yang dongkol, Orla mengikuti perintah sang Papa dengan mendudukkan tubuhnya di sisi Papa Jaya yang lainnya.
Saat Papa Jaya memastikan Orla duduk dengan tenang walaupun bibirnya mengerucut dan tatapan matanya melengos kearah lain. Laki-laki paruh baya itu mengalihkan pandangannya kearah sang istri yang masih berposisi seperti tadi.
"Erland. Pria muda itu kurang ajar sekali sama Mama, Pa!" rengek Mama Rina yang membuat Papa Jaya menghela nafas panjang. Ternyata benar tebakannya tadi jika alasan kemarahan dua perempuan kesayangannya itu adalah orang yang sama.
Orla yang mendengar nama laki-laki yang sudah merebut hatinya itu di sebutkan oleh sang Mama, ia menolehkan kepalanya kearah Mama Rina.
"Erland? Mama marah gara-gara Erland?" Mama Rina melirik sekilas kearah sang putri kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Memangnya Erland kenapa?" Kali ini Papa Jaya yang bertanya.
__ADS_1
Mama Rina menegakkan posisi duduknya dengan memutar tubuhnya sepenuhnya agar ia bisa berhadapan langsung dengan Papa Jaya dan Orla sebelum dirinya bercerita tentang sikap Erland yang seolah-olah tidak mengenal dirinya, berlagak cuek dan berakhir mempermalukan dirinya.
"Mama tidak mau tau. Pokoknya Erland harus jadi menantu Mama! Bagaimanapun caranya! Kalau dia jadi memantu di rumah ini dia tidak akan bisa melakukan hal yang sama seperti tadi. Dia benar-benar melukai hati Mama, Pa. Dan salah satu cara balas dendam hanya membuat dia mau menikahi Orla," ucap Mama Rina menggebu-gebu. Sedangkan Orla, perempuan itu kini tersenyum merekah.
"Jadi Mama setuju kalau Orla menikah sama Erland?" tanya Orla memastikan.
Tatapan Mama Rina yang tadi menatap sepenuhnya kepada sang suami kini beralih kearah sang putri dengan memutar bola matanya malas, "Hanya orang bodoh yang tidak mau memiliki menantu seperti Erland. Dan kamu tau, dia tadi ke mini market beli sayuran. Sepertinya dia ingin hidup mandiri. Jadi sudah sangat pas jika kamu menikah dengan dia. Tidak hanya tampan, mapan dan kaya tapi dia laki-laki yang mandiri."
Orla yang merasa jika dirinya sudah mengantongi restu dari sang ibunda pun kini ia beranjak dari tempat duduknya, berpindah ke samping sang Mama lalu memeluk tubuh wanita paruh baya tersebut yang membuat Mama Rina memincingkan alisnya.
"Apa nih peluk-peluk?" tanya Mama Rina merasa curiga dengan sang putri karena Orla memang akan bermanja-manja dengan dirinya jika perempuan lajang itu meminta sesuatu kepadanya.
Orla tak menjawab pertanyaan dari sang Mama, ia malah semakin mengeratkan pelukannya dengan senyum yang semakin merekah.
Mama Rina yang cukup penasaran, ia menatap kearah Papa Jaya yang juga tengah tersenyum melihat tingkah menggemaskan Orla.
"Pa, dia kenapa?" Mama Rina menyenggol lengan suaminya yang membuat laki-laki paruh baya itu menatap kearahnya. Dan tanpa melunturkan senyumannya, Papa Jaya berkata, "Besok kita akan melamar Erland untuk Orla."
Jangan tanya lagi reaksi dari Mama Rina. Ia sangat terkejut tentu saja. Siapa yang tidak terkejut tiba-tiba sang suami mengatakan jika ingin melamar seorang laki-laki untuk putrinya. Ayolah, mereka itu berada di pihak perempuan yang harusnya di lamar terlebih dahulu bukan malah mereka yang melamar. Dan tentunya apakah pantas jika pihak perempuan yang melamar terlebih dahulu?Kalau mereka nanti sudah melamar terus di tolak bagaimana? Masih banyak lagi pertanyaan yang tiba-tiba muncul di dalam benaknya. Ia bukannya takut tentang hal-hal yang akan terjadi nanti, tapi ia hanya belum siap saja menerima keadaan dan harus menahan malu jika memang lamaran mereka di tolak mentah-mentah oleh keluarga Abhivandya.
__ADS_1