
"Aku sudah siap. Ayo berangkat," ucap Maura kala dirinya telah mendekati Erland yang sedari tadi fokus dengan ponselnya di ruang tamu.
Erland menolehkan kepalanya kearah Maura dengan salah satu alis yang terangkat saat matanya melihat penampilan Maura dari atas sampai bawah. Hingga tatapan matanya terhenti di celana yang tengah Maura pakai. Celana yang sangat kebesaran bahkan sampai menutupi kaki istrinya itu walaupun Maura sudah memakai high heels sekalipun. Ingin sekali Erland tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Maura yang baru ia sadari jika sang istri saat ini tengah memakai celana miliknya. Namun sebisa mungkin ia menahan tawanya itu agar Maura tak marah kepadanya atau malah berniat mengganti pakaian yang tengah ia kenakan dengan pakaian seksi miliknya.
Maura yang melihat tatapan Erland tertuju kearah celananya dengan cengiran serta menggaruk tengkuknya yang tak gatal, Maura berucap, "Hehehe maaf tadi aku gak izin mau pinjam celana kamu."
Erland mengalihkan pandangannya kearah Maura dengan senyum yang mengembang.
"Tidak apa-apa. Celanaku cukup baik saat kamu pakai daripada kamu harus memakai celana pendek atau rok mini kamu itu. Pakailah karena aku mengizinkan kamu untuk memakai semua barangku yang ada di rumah ini." Erland mengusap kepala Maura dengan sayang. Ya walaupun sebenarnya celana miliknya yang saat ini tengah di kenakan oleh Maura memiliki sobekan di salah satu lutut, tapi tak apa lah. Itu lebih mendingan daripada ia membiarkan Maura keluar dari rumah mereka menggunakan pakaian mini milik perempuan itu.
Penampilan Maura, anggap saja itu pakai high heels oke.
"Terimakasih," balas Maura yang diangguki oleh Erland. Dimana setelahnya sepasang suami-istri tersebut berjalan keluar dari dalam rumah dengan bergandengan tangan. Bahkan saat mereka sudah masuk kedalam mobil, gandengan tangan yang tadi sempat terlepas kini kembali mengait satu sama lain. Hingga mobil yang di jalankan oleh Erland, melesat membelah jalanan yang pagi ini sedikit renggang.
Tak butuh waktu lama hanya sekitar 30 menit, Erland telah sampai di kediaman mertuanya. Ia tak langsung pergi begitu saja, dirinya memilih untuk turun terlebih dahulu, membukakan pintu untuk istrinya tercinta.
"Terimakasih," ucap Maura yang diangguki oleh Erland tak lupa senyuman juga ia berikan.
"Ayo masuk sekarang," ajak Erland ketika Maura justru berdiam diri di samping mobilnya.
"Ehhh kamu ikut masuk?" tanya Maura.
"Iya lah. Gak sopan tau sayang kalau aku hanya pergi mengantarmu saja tanpa mampir dulu setidaknya sampai bertemu sama Mama lah."
"Tapi kan kamu harus kerja. Mama juga akan paham kok kalau sampai kamu tidak mampir dulu ke rumah. Bahkan lihatlah jam sekarang sudah menunjukkan pukul 8 yang artinya saat kamu sampai ke tempat kerja kamu akan telat," ucap Maura.
__ADS_1
"Tidak apa-apa telat sayang. Aku tadi juga sudah izin kok sama pak bos. Jadi telat sedikit tidak apa-apa lah," balas Erland yang membuat Maura hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Jadi ayo tunggu apa lagi, kita masuk sekarang," ucap Erland dengan meraih tangan Maura untuk ia genggam kembali. Dan setelahnya, mereka berdua mulai berjalan mendekati pintu utama rumah tersebut.
Saat keduanya telah menghadap langsung kearah pintu bercat putih, satu tangan Erland yang masih bebas kini bergerak, mengetuk pintu rumah tersebut. Hanya tiga kali ketukan saja pintu itu sudah di buka oleh seorang art.
Art itu sempat terkejut saat melihat nona muda yang sudah dua bulan lebih ini tak ia lihat setelah menikah. Ia semakin terkejut saat melihat penampilan Maura yang lebih tertutup dari sebelumnya.
Maura yang dilihat secara intens oleh wanita yang sedikit lebih muda dari Mamanya itu, ia memutar bola matanya malas.
"Biasa aja kali lihatnya, bik. Dan Maura gak di persilahkan masuk nih?" ucap Maura yang berhasil membuat art tadi mengerjabkan matanya. Dan dengan senyum malu karena dirinya tertangkap basah tengah menatap lekat penampilan nonanya itu, ia membuka pintu utama rumah tersebut dengan lebar sembari berkata, "Silahkan masuk nona dan tuan."
"Terimakasih bik," ucap Maura maupun Erland secara berbarengan. Dan tentunya lagi-lagi hal tersebut membuat wanita yang tak muda lagi terkejut. Baru pertama kali ia mendengar nonanya itu mengucapakan kata terimakasih kepadanya. Mimpi apa ia semalam sampai-sampai ia harus mendengar kata langka dari bibir anak majikannya itu yang tentunya bisa membuat hati art itu senang tiada tara.
"Mama dimana bik?" tanya Maura kala dirinya telah masuk kedalam rumah bahkan sudah duduk disalah satu sofa yang ada di ruang tamu. Ia melihat-lihat ke sekelilingnya, tidak ada yang berubah sama sekali seperti sebelum dirinya meninggalkan rumah ini.
"Tolong bibik saja yang manggil Mama," ucap Maura yang dibalas anggukan serta senyuman dari art tadi. Ia merasa kebahagiaannya bertambah dua kali lipat saat Maura mengucapakan kata tolong. Bahkan untuk memastikan jika dirinya sedang tidak bermimpi, ia mencubit lengannya sendiri. Dan saat dirinya merasakan sakit, ia baru percaya jika apa yang baru saja ia alami semuanya nyata.
Hingga tak terasa art yang masih tersenyum penuh kebahagiaan itu sampai di depan pintu kamar majikannya.
Tok tok tok!!
"Permisi Nyonya. Nona Maura datang kesini!" ucap art itu dengan sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai di dalam kamar majikannya.
Tak berselang lama, pintu kamar itu terbuka dan memunculkan Mama Dian di balik pintu tersebut.
"Dia sudah sampai?" tanyanya yang diangguki art tadi.
__ADS_1
"Dimana dia sekarang?"
"Di ruang tamu." Mama Dian bergegas menuju ke lantai satu. Di susul oleh art yang mencoba menyamakan langkah kakinya. Dan setelah langkah kaki mereka sama, art itu angkat suara.
"Nyonya tunggu sebentar." Mama Dian menghentikan langkah kakinya, menolehkan kepalanya kearah sang art yang berdiri disampingnya
"Ada apa?" tanya Mama Dian.
"Saya mau bicara sesuatu dengan Nyonya. Ini masalah nona Maura." Mama Dian mengerutkan keningnya. Ada apa dengan anaknya itu. Apakah kebiasaan buruknya yang selalu bikin masalah tak hilang dari dirinya setelah menikah? Ia benar-benar penasaran dengan apa yang akan di bicarakan oleh artnya itu.
"Kenapa dengan Maura, bik?" tanya Mama Dian.
"Nona Maura berubah nyonya. Nona Maura sekarang bisa mengatakan kata terimakasih dan tolong kepada saya tadi. Ini benar-benar kejadian langka nyonya," jawab art tak bisa lagi menyebunyikan kebahagiannya.
Mama Dian menganggukkan kepalanya karena ia juga sempat berpikir jika Maura saat ini sudah sedikit merubah dirinya. Contohnya putrinya itu selalu mengucapkan kata salam dengan sopan kala dirinya menelepon dia. Jadi ia tidak kaget dengan info yang baru diberikan oleh artnya itu. Hingga...
"Tapi yang lebih mengejutkan lagi, penampilan nona Maura berubah total yang dulunya sering memakai pakaian seksi sekarang Nona memakai celana panjang yang hampir menutupi seluruh kakinya dan baju putih yang dilapisi cardigan panjang." Mama Dian sempat melongo kali ini setelah mendengar informasi lanjutan yang ia dengar.
"Kamu yakin? Kamu tidak salah lihat kan?"
"Tidak nyonya. Saya tidak salah lihat. Kalau nyonya tidak percaya, nyonya lihat saja sendiri." Mama Dian menganggukkan kepalanya sebelum dirinya berlari menuruni anak tangga dan tentunya artnya tadi mengikuti langkah kakinya sampai di ruang tamu.
Dimana saat dirinya sudah sampai di ruang tamu, tatapan matanya langsung tertuju ke arah Maura dengan bibir yang terbuka lebar dan kedua mata yang terbuka sempurna saat melihat dengan mata kepalanya sendiri perubahan Maura saat ini sama persis seperti yang di katakan oleh artnya tadi.
Mungkin orang lain akan menganggap respon Mama Dian ini terlalu lebay, tapi Mama Dian mana peduli karena ia benar-benar shock melihat Maura mau memakai pakaian yang hampir tertutup itu. Padahal dia dulu sering menasehati Maura untuk selalu berpenampilan tertutup bahkan ia juga sempat melakukan satu tidakan untuk membakar semua pakaian Maura yang sangat seksi itu dan menggantikan pakaian yang ia bakar tadi dengan pakaian yang layak di pakai. Tapi Maura justru marah besar kepadanya. Dan berakhir ia membeli pakaian dengan model yang semakin terbuka yang membuat Mama Dian hanya bisa pasrah saja dengan penampilan sang putri karena jika ia kembali menyingkirkan baju-baju Maura, perempuan itu pasti akan membeli yang baru dengan model yang semakin terbuka lagi.
Tapi lihatlah sekarang, anaknya itu mau memakai pakaian tertutup dan ia sangat yakin jika perubahan Maura tak lepas dari didikan Erland. Tidak salah memang ia menerima Erland menjadi menantunya. Dan tolong ingatkan Mama Dian untuk berterimakasih dengan menantunya itu karena sudah sedikit merubah Maura menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1