
"Maura!" panggil Mama Dian kala dirinya sudah menemukan keberadaan sang putri tercinta.
Maura yang merasa dirinya dipanggil pun ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara.
"Ya, ada apa Ma?" tanya Maura.
"Pilih bajunya nanti lagi ya. Karena ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu," ucap Mama Dian yang tentunya membuat Maura mengerutkan keningnya.
"Ada yang mau ketemu sama Maura? Siapa?" tanya Maura penasaran.
"Nanti kamu juga akan tau sendiri. Ayo ikut Mama sekarang." Mama Dian menarik pelan salah satu tangan Maura yang tidak membawa beberapa potong pakaian yang sudah ia pilih tadi.
Maura hanya pasrah saja, ia mengikuti tarikkan dari sang Mama yang ternyata membawanya ke ruang tunggu.
Dimana kedatangan keduanya langsung membuat seorang perempuan yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya mengalihkan pandangannya sebelum dirinya berdiri dari posisi duduknya dengan senyum lebar.
"Ini dia orangnya yang mau bertemu dengan kamu," ucap Mama Dian menunjuk kearah Vivian. Maura mengikuti arah tujuk ibunya itu. Ia membalas senyuman yang Vivian berikan kepadanya sebelum dirinya berbisik, "Ma, bukannya perempuan itu adalah pemilik dari butik ini. Kenapa dia cari Maura? Maura tidak sedang mencuri lho ini Ma. Semua pakaian yang sudah Maura pilih ini kan Mama yang akan bayar. Tapi kenapa dia malah ingin menemui Maura. Maura tidak sedang membuat masalah kan Ma?"
Sumpah demi apapun Maura saat ini bingung sendiri. Perasaan dirinya sedang tidak membuat masalah sama sekali saat ia mulai masuk ke butik ini sampai saat ini. Tapi kenapa si pemilik butik ingin bertemu dengannya? Maura sangat ingat betul wajah perempuan yang saat ini tengah menatapnya sama persis dengan perempuan yang dulu melayani dirinya dan Erland saat mencari sepasang pakaian pengantin. Apa jangan-jangan perempuan itu mencari dirinya karena Erland lah yang sebenarnya membuat masalah? Tidak membayar pakaian pengantin mereka dulu mungkin? Tapikan dia sendiri dulu yang melihat Erland membayar pakaian pengantin mereka di depan matanya. Jadi tidak mungkin karena hal itu. Kalau begitu karena apa dong? Haishhhh entahlah Maura bingung sekarang.
__ADS_1
Mama Dian yang mendengar ucapan dari Maura, ia berdecak kesal.
"Kalau sampai kamu mencuri tidak mungkin Mama mau memanggil kamu terlebih dahulu seperti tadi. Karena Mama akan langsung meninggalkan kamu. Jadi hilangkan pikiran negatifmu itu. Dia memang pemilik butik ini tapi dia mau bertemu dengan kamu bukan karena kamu tertangkap basah tengah mencuri tapi dia ingin berkenalan sama kamu. Kenalin dia namanya Vivian, kamu panggil dia Kakak Vivian karena dia lebih tua dari kamu," ucap Mama Dian mulai mengenalkan Vivian kepada Maura sebelum dirinya mengalihkan pandangannya kearah Vivian.
"Vi, kenalin ini Maura, putri Tante," sambung Mama Dian yang membuat Vivian langsung menyodorkan tangannya kehadapan Maura, yang segera dibalas oleh Maura.
"Vivian," ucap Vivian memperkenalkan dirinya.
"Ma---Maura, Kak." Vivian tersenyum kala melihat sang adik ipar tengah gugup rupanya.
"Tidak perlu gugup begitu Maura. Kakak tidak gigit lho ini. Dan kamu tenang saja Kakak mau bertemu dengan kamu hanya mau berkenalan, siapa tau kita bisa menjadi lebih dekat seperti hubungan Kakak dengan Tante Dian. Bukan karena Kakak mau menangkap kamu karena ketahuan mencuri. Karena kalaupun kamu nanti mencuri, Kakak akan membiarkan saja kamu kabur dengan hasil curianmu itu karena gampang saja, Kakak hanya perlu meminta uang ke suami kamu untuk membayar pakaian-pakaian yang sudah kamu curi," ucap Vivian tentunya dengan kalimat terakhir yang hanya bisa ia suarakan di dalam hatinya.
"Coba sini aku lihat." Vivian semakin mendekati Maura sampai-sampai Mama Dian harus bergeser tempat, membiarkan dua perempuan itu saling bercengkrama.
Vivian mengambil satu persatu dress ataupun gaun yang tengah Maura bawa, memberikan penilaian pakaian-pakaian itu cocok atau tidak dengan Maura karena ia sangat tau betul selera Erland bagaimana. Jadi anggaplah Vivian ini Erland sekarang.
"Kakak rasa tiga dress ini kurang cocok sama kamu. Tapi kamu tenang saja, Kakak ada model dress yang sepertinya sangat cocok sama kamu. Kamu mau mencobanya?" tawar Vivian.
"Ahhh tidak usah Kak. Aku rasa 5 dress ini sudah cukup untukku," ucap Maura menolak secara halus tawaran Vivian. Ia merasa tak enak saja dengan pengunjung lain di butik itu jika dirinya harus di layani secara langsung oleh pemilik butik.
__ADS_1
"Kata siapa 5 dress ini sudah cukup untuk kamu. Mama kan tadi sudah bilang, beli yang banyak," timpal Mama Dian.
"Tapi Ma---"
"Ck, sudah tidak ada tapi-tapian lagi. Vi, bawa dia gih lihat baju yang mau kamu perlihatkan ke dia," ucap Mama Dian tak ingin mendengar protesan dari Maura kembali.
Vivian yang mendengar ucapan dari Mama Dian, ia tersenyum kearah wanita paruh baya itu. Ia tau niat sebenarnya Mama Dian itu jika dirinya ingin membantunya untuk mendekati Maura.
Jadi Vivian tidak mau membuang waktu lebih lama lagi, ia meraih tangan Maura sembari berkata, "Ayo. Kakak akan tujukan dress dan gaun yang cocok sama kamu."
Maura hanya bisa menghela nafas panjang sebelum dirinya menganggukkan kepalanya.
Kedua perempuan itu kini melangkahkan kakinya menjauhi tempat ruang tunggu itu dengan membiarkan dress serta gaun yang sekiranya cocok dengan Maura tadi tergeletak di atas sofa disamping tubuh Mama Dian yang sudah mendudukkan tubuhnya kembali di sofa itu tentunya dengan senyuman mengembang. Bahagia saat ia bisa membantu Vivian mendekati Maura. Sedangkan ketiga gaun yang menurut Vivian tidak cocok dengan Maura, perempuan itu bawa dan di serahkan kepada salah satu karyawannya untuk dikembalikan ke tempat semula.
Kebahagiaan yang terpancar dari wajah Vivian dan Mama Dian serta interaksi dari ketiga orang tadi tak lepas dari dua pasang mata yang sedari tadi menyaksikan semuanya. Rasa panas yang mendera hati keduanya semakin menjadi. Hingga dengan perasaan kesal setengah mati keduanya kembali duduk di tempatnya semula. Bibir yang sedari tadi terkatup kini kembali angkat suara.
"Menyebalkan menyebalkan menyebalkan. Kita yang sedari tadi menunggu Vivian malah tidak di lirik sedikitpun sama dia. Dan dia malah menyapa orang lain. Dimana sebenarnya tata krama dia? Bukannya dia dari keluarga terpandang tapi malah mengabaikan orang yang jelas-jelas sudah menunggunya? Vivian ini benar-benar tidak mencerminkan jika dirinya keturunan konglomerat. Sialan," ucap Mama Rina penuh dengan umpatan yang tentunya ia tujukan kepada Vivian. Ia merasa benar-benar tak di hargai dan harga dirinya di injak-injak oleh Vivian.
Orla yang sama sebalnya dengan sang Mama, ia hanya memilih diam saja tanpa menimpali ucapan dari Mama Rina atau ikut mengumpati Vivian secara terang-terangan. Walaupun didalam hatinya ia tetap mengumpat bahkan menyumpah serapahi Vivian. Tapi disisi lain, ia juga takut, takut jika perempuan yang ia dengar bernama Maura itu sudah lebih dulu merebut hati Vivian sehingga perempuan itu berada di pihak Maura untuk di jodohkan kepada Erland. Karena ia lihat-lihat Maura masih lajang dengan penampilan yang cukup sederhana menggambarkan jika perempuan itu masih anak kuliahan. Tidak, Orla tidak akan membiarkan Vivian mendukung Maura untuk berjodoh dengan Erland. Vivian harus berada di pihaknya dan Erland hanya cocok dengannya bukan dengan Maura ataupun perempuan lain! Erland hanya cocok dengan Orla, titik!
__ADS_1