PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 183


__ADS_3

"Kok kamu diam sih. Kamu tidak mau menuruti apa yang aku mau? Katanya sayang. Kalau sayang kenapa di ajak buat cari makanan keinginanku kamu gak mau?" tutur Maura yang kembali ke mode judesnya.


Erland menggaruk ujung hidungnya.


"Aku kan belum jawab sayang. Kenapa kamu asal menuduhku begitu saja sih? Aku diam itu karena aku menunggu kamu mau lanjutin ucapanmu atau tidak. Tapi ternyata tidak. Dan akan aku jawab, kita besok kesana. Tapi tunggu sebentar, kita harus cek tiket pesawatnya dulu. Kalau nanti tiket pesawat kesana sudah sold out semua untuk penerbangan besok, di undur tidak apa-apa kan?" tanya Erland. Berharap memang tidak ada tiket untuk penerbangan besok, pasalnya Erland besok ada meeting dengan salah satu kliennya.


Tapi jawaban Maura membuat dirinya harus menghela nafas panjang.


"Aku tidak mau tau. Pokonya kita besok harus tetap ke Jogja. Mau pakai pesawat kek, mau pakai kereta kek, mau pakai mobil, atau motoran tidak masalah asalkan kita tetap kesana," ucap Maura tak ingin di bantah lagi oleh Erland.


"Baiklah-baiklah, apapun yang kamu mau akan aku usahakan untuk memenuhinya," ujar Erland dengan pasrah. Dan dengan terpaksa ia harus menyuruh Afif untuk mengundur jadwal meetingnya mungkin sampai 3 hari kedepan karena tidak mungkin mereka pulang pergi hanya dalam satu hari, Erland sih sebenarnya tidak masalah tapi ia sangat khawatir jika Maura nanti akan kelelahan jika memang mereka harus pulang pergi dalam waktu satu hari.


Sedangkan Maura, ia kembali merubah ekspresi wajahnya yang tadi tampak cemberut kini sumringah.


"Nah gitu dong. Kan makin sayang. Love you se-kebun sayang," ujar Maura dengan memeluk tubuh Erland dengan sangat manja.


"Love you too, sayang." Erland menyematkan satu kecupan lagi di puncak kepala Maura, dan dengan mengelus rambut Maura, tangan kanannya mengotak-atik ponselnya. Mencari tiket pesawat yang sekiranya masih ada.


Hingga beberapa saat akhirnya Erland mendapatkan tiket itu tapi sebelumnya ia harus konfirmasi ke Maura terlebih dahulu. Siapa tau kan istrinya itu tak mau memakai pesawat itu dan di jam tersebut.


"Sayang," panggil Erland.


"Iya," jawab Maura tanpa mengalihkan pandangannya ke ponsel yang berada di tangannya.


"Aku sudah dapat tiketnya tapi---" Dengan gerakan cepat Maura menetap Erland sembari berkata, "Benarkah?"


Erland menganggukkan kepalanya, "Tapi jadwal berangkatnya pukul 6 sore."


"Jam 6 sore?" Lagi-lagi Erland menganggukkan kepalanya untuk menjawab ucapan dari Maura.


"Kenapa jam segitu berangkatnya? Apa tidak ada jadwal penerbangan di pagi hari kalau tidak ya siang lah?" Erland menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tiket pesawat di pagi dan siang sudah habis. Tinggal di jam 6 saja yang masih. Jadi gimana? Masih mau pakai pesawat atau alternatif lain?" tanya Erland.


Maura tampak berpikir sesaat sebelum ia menghela nafas panjang.


"Aku tadi sebenarnya sudah cek tiket kereta dan semuanya sudah habis. Jadi ya sudah lah ambil tiket pesawat itu saja karena kalau kita mau ke Jogja pakai mobil atau motor kasihan kamu nanti pasti akan kecapekan," tutur Maura.


Erland tersenyum mendengar ucapan dari Maura, ternyata istrinya itu sangat peduli padanya.


"Baiklah kalau begitu aku pesan tiketnya dulu. Dan kalau boleh izin, aku besok akan tetap kerja tapi mungkin aku akan pulang di jam 12 siang buat bantu kamu untuk siap-siap. Gimana? Kamu izinin aku kan? Karena jujur saja besok pagi aku harus meeting dengan klien dari Singapura. Kasihan beliau jika meeting ini tertunda," jelas Erland.


"Tidak masalah kalau kamu mau kerja dulu. Yang penting kita besok tetap harus pergi ke Jogja," tutur Maura.


"Tentu saja sayang. Kita besok tetap pergi kok, nih lihat aku sudah pesan dua tiket pesawat tadi untuk kita." Erland menunjukkan layar ponselnya yang tengah menampilkan pemberitahuan pemesanan tiket berhasil.


Dengan senyum yang tak luntur, Maura kembali memeluk tubuh Erland sembari berkata, "Terimakasih terimakasih terimakasih banyak sayang."


"Sama-sama kesayangan. Dan lebih baik kita sekarang tidur dulu yuk, sudah hampir tengah malam. Good night sayang," ucap Erland dengan berusaha merebahkan tubuhnya tanpa melepaskan pelukan dari Maura tadi. Tak lupa setelah ia berhasil merebahkan tubuhnya, ia mengecup setiap inci wajah Maura.


Sedangkan Maura, ia terkekeh geli dan setelah Erland menjauhkan kepalanya dari wajah Maura, Maura membenamkan wajahnya di dada bidang Erland tapi tak lupa dirinya membalas ucapan dari Erland tadi, "Good night juga sayang."


...****************...


Pada saat waktu subuh, Maura yang sudah terbiasa terbangun saat mendengar suara adzan pun ia lebih dulu bangun dari pada Erland.


Ia meregangkan otot di tubuhnya saat ia sudah mendudukkan tubuhnya. Lalu kemudian barulah ia membangunkan Erland.


Tak sulit membangunkan Erland, cukup menepuk lembut pipi Erland, laki-laki itu akan langsung bangun.


"Assalamualaikum, good morning suami," sapa Maura yang membuat Erland tersenyum.


"Waalaikumsalam, good morning istri," balas Erland dengan suara berat khas seseorang yang baru bangun tidur.

__ADS_1


"Sholat yuk, udah adzan," ajak Maura yang diangguki oleh Erland.


Lalu setelahnya sepasang suami-istri itu segera melaksanakan kewajiban mereka. Tak lupa setelah melaksanakan sholat, mereka juga menyempatkan untuk membaca Al-Qur'an lebih tepatnya Erland menyimak bacaan Maura yang harus sesekali ia benarkan.


"Alhamdulillah," ucap Erland maupun Maura setelah mereka selesai membaca ayat suci Al Qur'an tersebut.


"Sayang, aku mandi dulu tidak apa-apa kan?" ucap Maura.


Erland melirik kearah jam dinding yang berada di dalam kamar tersebut yang ternyata masih menunjukkan pukul setengah 6.


"Tidak masalah sayang. Mandilah sana, biar aku yang membereskan ini semua," ujar Erland yang diangguki oleh Maura.


Perempuan itu segara melepaskan mukena yang ia kenakan tadi, melipatnya kemudian ia berjalan menuju ke lemari untuk meletakkan mukena tadi. Tapi kala dirinya baru juga melangkahkan kakinya, suara Erland menghentikan langkahnya.


"Tunggu dulu sayang." Maura otomatis memutar tubuhnya, menghadap kearah Erland.


"Iya?" tanya Maura.


"Kamu tidak lupa kan dengan permintaan Mama kemarin yang kemarin malam aku sampaikan ke kamu?" Maura tampak mengerutkan keningnya, mengingat permintaan Mamanya yang di sampaikan lewat Erland. Sampai akhirnya ia mengingatnya.


"Oh tentang pembuktian aku hamil atau tidak?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Iya aku ingat. Dan aku akan mencobanya sekarang. Tapi ingat, seperti yang aku katakan kemarin, jika hasilnya tetap negatif jangan ada yang kecewa. Awas saja kalau aku tau salah satu dari kamu, Mama atau Papa yang kecewa, aku tidak akan pernah menampakkan diriku dihadapan orang yang kecewa itu," ujar Maura tentunya dengan ancaman.


"Tidak akan, sayang. Aku sudah menerima jika memang kamu belum hamil sekarang," balas Erland, walaupun dirinya tak bisa bohong jika jantungnya kini berdetak lebih kencang, padahal ia sudah melihat hasilnya kemarin. Tapi tetap saja hal itu bisa membuat Erland kembali tegang.


"Ya sudah kalau begitu aku coba test dulu sebelum mandi." Erland menganggukkan kepalanya.


Anggukan kepala itu membuat Maura melanjutkan langkah kakinya. Dan kini dengan membawa satu kantong plastik yang di berikan oleh Erland tadi malam, Maura memasuki kamar mandi.


Erland yang melihat pintu kamar mandi sudah di tutup kembali, ia segera membereskan barang-barang yang tadi ia dan Maura gunakan untuk ibadah. Dan setelahnya ia menunggu hasil testpack yang di lakukan Maura saat ini dengan cemas.

__ADS_1


Sedangkan Maura berbanding terbalik dengan Erland, jika Erland cemas maka Maura sangat tenang. Ia menunggu hasilnya muncul dengan bermain game online dari ponselnya.


Sampai ia rasa hasil testpack tersebut sudah muncul, ia mematikan ponselnya, kemudian ia segera meraih benda kecil itu, untuk melihat hasilnya yang entah masih negatif seperti kemarin atau justru berubah.


__ADS_2