PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 97


__ADS_3

Edrea membaca isi pesan tersebut. Ia sangat ingin tertawa saat itu juga. Namun karena situasi dan kondisinya tidak memungkinkan untuk dirinya tertawa, dengan semaksimal mungkin ia menahan tawanya itu. Lalu ia memilih untuk melipat kertas tadi sebelum ia mengembalikannya ke Maura.


"Kakak tenang saja. Di dalam surat ini kan bang Erland bilang kalau dia hanya pergi sebentar saja yang artinya dia nanti akan kembali menemui Kakak. Dan apa yang dikatakan oleh Daddy Aiden tadi mungkin benar adanya jika bang Erland tengah menjalankan perintah beliau. Kakak tidak perlu berpikir negatif lagi ya, tenang saja. Ahhhh satu lagi bang Erland tidak akan semarah ini dengan Kakak. Aku ini adiknya, tau jika bang Erland itu laki-laki yang sangat-sangat sabar jadi tidak mungkin hanya karena masalah kalian tadi malam membuat bang Erland pergi dan tidak akan kembali. Bang Erland tidak seperti itu Kak. Mungkin kalau kecewa, iya. Tapi Rea yakin jika kekecewaan bang Erland hanya sedikit saja. Dan kalau nanti bang Erland sudah kembali. Rea sarankan untuk Kak Maura minta maaf dengan bang Erland. Tapi lebih baiknya lagi, kalau Kak Maura kasih apa yang bang Erland mau hmmm lebih tepatnya kasih hak bang Erland. Kak Maura juga tidak perlu takut, tidak sakit kok. Buktinya Rea malah ketagihan sampai udah punya buntut dua. Enak lho Kak, beneran deh percaya sama Edrea," ucap Edrea panjang kali lebar sekaligus untuk meyakinkan Edrea jika semuanya akan baik-baik saja saat dia nantinya memberikan hak Erland.


"Benarkah begitu?" tanya Maura memastikan dimana hal tersebut diangguki oleh Edrea tak lupa senyuman juga turut perempuan itu berikan kepada Kakak iparnya itu.


"Baiklah kalau begitu aku akan mencobanya nanti. Tapi kalau boleh, aku minta nomor ponsel Erland," tutur Maura.


"Hah? Kak Maura mau minta nomor bang Erland?" Maura menganggukkan kepalanya.


"Kak Maura gak punya nomor bang Erland?" Sumpah demi apapun Edrea tak percaya jika Kakak iparnya tidak memiliki nomor suaminya sendiri. Astaga demi apapun Edrea tidak mengerti jalan pikiran sepasang suami-istri itu. Ia memang tau kisah awal mulai kenapa mereka berdua bisa menikah, tapi apakah tidak memiliki nomor satu sama lain tidak terlalu keterlaluan? Tapi menurut Edrea itu sangat keterlaluan.


"Dulu Kakak pernah punya nomor Erland. Tapi karena satu dan lain hal, nomor Erland, Kakak blokir dan sudah Kakak hapus," jawab Maura merasa benar-benar bodoh telah melakukan itu semua. Dimana hal tersebut membuat Edrea menghela nafas panjang, ternyata begitu ceritanya. Baiklah Edrea sekarang tau alasannya.


"Baiklah. Aku kasih nomor bang Erland. Tunggu sebentar," ujar Edrea dan dengan cepat ia mulai mencari kontak nomor sang Kakak. Dan setelah menemukannya, ia langsung menyerahkan ponselnya ke tangan Maura agar sang Kakak ipar segera menyalin nomor ponsel milik Erland.

__ADS_1


"Sekalian tulis nomor ponsel Rea ya Kak. Siapa tau Kakak mau minta solusi ke Rea tentang urusan ranjang," ucap Edrea dengan menaik turunkan alisnya tak lupa senyum jahilnya ia perlihatkan.


Maura yang melihat hal tersebut pun ia tampak malu-malu sembari berucap, "Kamu apa-apaan sih, Rea. Jangan menggoda Kakak."


"Canda Kak. Tapi kalau memang Kakak punya niatan seperti yang Rea tadi katakan ya tidak masalah. Sebisa mungkin Rea akan kasih solusinya," tutur Edrea masih saja menggoda Kakak iparnya itu. Dimana hal tersebut hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Maura.


Setelah dirinya mengatakan masalahnya tadi kepada Edrea, ia merasa sedikit lega. Setidaknya ia sudah mendapatkan solusi apa yang akan ia lakukan nanti jika memang Erland kembali.


Dimana setelahnya kedua perempuan itu tampak mengobrol bersama, lebih tepatnya Edrea yang saat ini cerewet, menceritakan apa saja yang bisa ia ceritakan agar Maura tidak kembali bersedih mengingat Erland yang sampai saat ini entah dimana keberadaannya.


📞 : "Halo assalamualaikum. Ke---" Belum juga Erland menyelesaikan ucapannya, Daddy Aiden lebih dulu memutus ucapan sang putra.


"Jangan banyak basa-basi. Katakan sekarang kamu ada dimana? Sedari tadi dihubungi tidak bisa! Kamu tau, Maura tengah mencari kamu dan sekarang dia ada disini! Dan kamu tau Er, keadaan istri kamu sangat-sangat memprihatinkan. Kedua matanya sebab dan dia tadi juga sempat menangis. Kamu apakan menantu Daddy hah?!" cerocos Daddy Aiden. Ia benar-benar sangat kesal dengan putranya itu. Bisa-bisanya dia tidak bisa dihubungi saat situasi genting seperti ini.


Erland yang berada di sebrang sana cukup terkejut dengan ucapan dari Daddy Aiden tadi. Tapi tunggu dulu, Maura menangis kenapa? Apa gara-gara tadi malam? Atau gara-gara dia yang pergi tanpa berpamitan langsung dengan Maura? Dan apa tadi kata Daddy Aiden, Maura tengah mencari dia? Erland tidak salah dengar kan? Darimana juga Maura tau alamat keluarganya? Astaga, banyak sekali pertanyaan yang membuat Erland penasaran.

__ADS_1


📞 : "Tunggu sebentar Dad, Mau---"


"Jangan banyak tanya kamu. Katakan dimana kamu sekarang berada?"


Erland memijit pangkal hidungnya namun tak urung ia menjawab pertanyaan dari Daddy Aiden tadi.


📞 : "Erland sekarang lagi ada di Singapura, Dad. Cabang perusahaan kita yang ada disini tengah ada masalah. Dan Erland tadi secara mendadak harus pergi ke negara ini. Erland juga merasa bersalah karena tidak izin langsung dengan Maura tadi. Tapi hanya meninggalkan sebuah pesan saja. Jadi mungkin alasan Maura menangis karena ini," ujar Erland. Yap, sejak pukul 3 pagi tadi ia dibangunkan oleh sekertarisnya yang terus menelepon dirinya, memberitahu jika ada masalah penting di kantor cabang. Dimana hal tersebut membuat Erland harus cepat-cepat berangkat ke negara itu namun ia tadi juga sempat menyiapkan segala keperluan untuk Maura. Dan kenapa ponselnya tak bisa dihubungi? Karena setibanya Erland di negara itu, ia langsung melakukan meeting besar-besaran untuk mengevaluasi kinerja karyawannya dan tentunya membicarakan masalah yang tengah kantornya itu hadapi saat ini. Jadi ia tak punya waktu luang hanya untuk memegang ponselnya itu dan ia baru bisa membuka ponselnya ketika dirinya baru istirahat saat ini. Begitu juga dengan sang sekretaris yang sama sibuknya dengan dia.


Daddy Aiden yang mendengar jawaban dari Erland pun ia mengusap wajahnya frustasi.


"Astaga, Erland! Kalau kamu mau pergi itu setidaknya izin dulu sama Maura. Kamu tau tidak semua orang yang ada disini bingung harus memberikan alasan apa kepada istrimu itu. Dan kamu tau, mertua kamu sampai turun tangan dan mereka berdua juga ada disini," omel Daddy Aiden.


📞 : "Maaf Dad. Erland akui Erland salah. Dan sampaikan juga ke Mama dan Papa, Erland meminta maaf telah merepotkan mereka berdua. Tapi Dad, kalau boleh tau keadaan Maura sekarang gimana? Dia masih nangis kah atau sudah bisa ketawa lagi?" tanya Erland yang tiba-tiba khawatir dengan sang istri.


"Tanya saja sendiri ke istrimu itu. Jangan tanya ke Daddy!" ucap Daddy Aiden yang sudah cukup kesal dengan sang putra. Bahkan setelah ia mengatakan perkataannya tadi, Daddy Aiden langsung menutup sambungan telepon mereka secara sepihak tanpa perduli dengan apa yang akan Erland ucapkan setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2