
Maura terus uring-uringan setelah dirinya tak menemukan keberadaan Erland yang dengan teganya tidak menyiapkan makanan untuknya atau bahan makanan yang bisa ia masak. Maura pun sudah mencari keberadaan Erland di seluruh sudut rumah itu namun ia tak menemukan laki-laki tersebut.
"Sialan kemana lagi sih tuh laki. Gak bertanggungjawab banget. Kalau kayak gini lama-lama aku beneran mati kelaparan," ucap Maura dengan berkacak pinggang. Tatapannya sedari tadi menatap lurus kearah pintu utama rumah tersebut yang tertutup rapat. Hingga...
Ting Ting Ting Ting!
Mata Maura berbinar kala ia mendengar suara tukang bakso yang sepertinya tengah berkeliling dan kebetulan melewati rumahnya itu.
"Mau bakso. Tapi aku kan gak punya uang. Apa aku ngutang dulu ya? Hmmmm bisa di coba daripada aku beneran mati," gumam Maura dan dengan berlari, ia menuju ke dapur untuk mengambil mangkuk. Untung saja di rumah itu perabotan sudah komplit jika tidak mungkin saat itu juga Maura tanpa pikir panjang kabur dari rumah tersebut. Maura kembali berlari dengan tujuan menghampiri tukang bakso yang tengah berjalan.
"Mang! Beli!" teriak Maura yang berhasil membuat tukang bakso tadi menghentikan dorongan gerobaknya itu tepat didepan pintu pagar rumah Maura.
"Mau beli berapa neng?" tanya penjual bakso itu. Maura yang mendapat pertanyaan itu ia menggigit bibir bawahnya. Ia ingin jujur saat ini tapi jika dia jujur di awal takutnya si penjual bakso itu tak mengizinkan dia untuk hutang dulu. Dan untuk menghindari hal itu terjadi, Maura lebih baik berbohong demi kebaikan bersama. Hmmmm ralat demi kebaikan Maura sendiri.
"Anu itu mang, hmmmm satu porsinya berapa?" tanya Maura.
"10 ribu." Maura menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah satu porsi saja mang."
"Siap. Tunggu sebentar ya neng." Tanpa curiga sedikitpun penjual bakso tersebut dengan senang hati melayani pesanan Maura tadi.
"Ini neng baksonya," ucap penjual bakso itu dengan menyerahkan satu porsi bakso di hadapan Maura yang membuat mata perempuan itu berbinar.
"Wahhhhh sepertinya enak nih." Maura mengambil mangkuk yang sudah berisi bakso yang terlihat mengiurkan itu.
__ADS_1
Dan tanpa menunggu waktu lama, dengan duduk lesehan tanpa peduli pakaiannya yang saat ini tengah ia pakai kotor, Maura memakan dengan nikmat bakso tersebut hingga tak terasa bakso itu sudah lenyap ia makan semua.
"Huh, kenyang." Maura menepuk-nepuk pelan perutnya dengan menutup matanya. Sebelum matanya yang tertutup itu kini terbuka kembali saat suara seseorang masuk kedalam indar pendengarannya.
"Neng." Ya, suara itu adalah milik penjual bakso tadi yang sedari tadi menunggu Maura sampai selesai melahap bakso buatannya itu.
"Iya mang, kenapa ya?" tanya Maura yang entah beneran tidak tau atau hanya pura-pura saja.
"Uang untuk bayar baksonya mana?" Penjual bakso itu menengadahkan tangannya tepat di hadapan Maura.
Maura kini tampak meringis dengan tangan yang menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari ia berdiri dari posisi duduknya tadi.
"Hmmm begini mang. Sebelumnya saya minta maaf sekaligus terimakasih ke mamang." Penjual bakso itu tampak mengerutkan keningnya, tak paham dengan maksud dan tujuan dari ucapan Maura tadi.
"Jadi begini mang. Saya sangat-sangat berterimakasih karena mamang sudah menyelamatkan saya dari kematian karena kelaparan. Dan saya minta maaf karena hmmmm saya tidak punya uang untuk membayar bakso ini," sambung Maura dengan cengiran di bibirnya.
"Kalau tidak punya uang kenapa berlagak beli bakso saya? Saya tidak mau tau, sekarang juga kamu harus membayar bakso itu!" pinta penjual bakso tadi dengan nada suara yang sudah tidak bisa santai lagi seperti sebelumnya.
"Kan saya sudah bilang tadi mang kalau saya tidak punya uang. Kalau saya punya, saya tidak akan mengucapakan kata maaf dan akan langsung membayarnya."
"Halah alasan saja kamu. Pokoknya bayar sekarang. Enak saja sudah makan enak-enak, perut kamu juga sudah terisi penuh malah gak bayar," semprot penjual bakso tersebut tak mau kalah.
"Halah cuma 10 ribu doang. Ikhlasin ngapa mang. Mang juga tidak akan rugi hanya karena ikhlasin uang segitu."
"10 ribu doang kata kamu. Heyy perlu kamu tau ya uang 10 ribu itu sangat berharga buat saya. Kalau tidak berharga buat saya, saya tidak mau jualan bakso keliling seperti ini. Jadi jangan harap saya bisa mengikhlaskan uang 10 ribu itu. Dan bayar sekarang!"
__ADS_1
"Kan saya tadi bilang gak punya uang."
"Saya tidak peduli yang penting buat saya, kamu bayar bakso-bakso yang kamu makan tadi," ucap penjual bakso itu ngotot. Dimana hal tersebut membuat Maura tampak menghela nafas.
"Ya sudah gini saja deh. Anggap saja bakso yang saya makan tadi sebagai hutang. Besok Mamang kesini lagi buat nagih hutang itu ke suami saya. Karena suami saya belum ngasih uang belanjaan ke saya hari ini. Dan saya pastikan saat itu juga uang 10 ribu itu akan di lipat gandakan menjadi 100 ribu oleh suami saya. Gimana? Mamang setuju kan? Lumayan lho dari 10 ribu eh jadi 100 ribu, untung 90 ribu," ucap Maura yang tak ingin perdebatan yang sempat terjadi itu memanas dan ia memilih untuk memberikan pilihan tersebut. Ya walaupun niat awalnya dia ingin ngutang tapi dia mencoba keberuntungannya, siapa tau dapat gratisan. Tapi setelah ia mencoba, keberuntungannya itu tampaknya sedang tidak berpihak kepadanya untuk saat ini.
Penjual bakso itu tampak memikirkan ucapan dari Maura tadi. Ia ingin menerima tawaran dari perempuan itu tapi ia tak yakin jika ucapan dari Maura bisa di pegang karena wajah-wajah Maura adalah wajah orang yang tidak bisa di percaya, menurut penjual bakso tersebut.
"Mang. Gimana?" tanya Maura membuyarkan lamunan penjual bakso itu.
"Lumayan tau mang. Mau ya," ucap Maura dengan menarik turunkan alisnya.
Tampak penjual bakso tersebut menghela nafas panjang.
"Baiklah. Saya setuju. Tapi awas saja jika kamu berbohong. Saya akan mengumpulkan orang-orang di komplek rumah ini untuk mendemo kamu," ancam penjual bakso itu yang membuat Maura kini memutar bola matanya malas.
"Manusia-manusia di negara ini hidup penuh dengan ancaman. Gak Mama, gak Erland ehhh sekarang tukang bakso pun juga mengancamku. Sialan," gerutu Maura tentunya dengan umpatan.
Walaupun hatinya tengah ngedumel kesal, berbanding terbalik dengan wajah Maura yang kini tengah memperlihatkan senyum manisnya ke penjual bakso didepannya itu.
"Tenang saja mang. Saya tidak pernah mengingkari ucapan saya. Tapi besok kalau bisa cari suami saya saja ya. Nama suami saya, Erland. Karena kalau cari saya, takutnya saya sedang pergi besok." Penjual bakso itu hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Kalau begitu terimakasih sekali lagi ya mang. Dan semoga jualannya malam ini laris manis tanjung kimpul," sambung Maura dengan menggebrak gerobak bakso itu yang membuat penjual bakso tersebut melototkan matanya. Sedangkan Maura yang melihat pelototan mata itu, ia kembali meringis lalu dengan cepat ia menjauh dari sisi gerobak tersebut.
Penjual bakso yang tak ingin gerobaknya kenapa-napa pun ia memilih untuk melanjutkan kelilingnya. Urusan dengan Maura, akan ia selesaikan besok saja seperti perjanjian mereka berdua.
__ADS_1
Maura yang melihat penjual bakso itu pergi dari hadapannya ia melambaikan tangannya sembari berteriak, "Hati-hati dijalan mang. Sekali lagi hatur thank you!"
Penjual bakso itu mengabaikan teriakan dari Maura tadi, sedangkan perempuan itu menghela nafas lega setelah menyelesaikan drama yang untungnya tak jadi sampai tahap adu jotos. Dan dengan menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan jika tak ada tetangganya yang keluar dan melihat semua kejadian tadi, Maura bergegas untuk masuk kedalam rumahnya meninggalkan mangkuk yang ia gunakan untuk wadah bakso tadi di tengah gerbang masuk rumah tersebut.