PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 167


__ADS_3

Maura yang masih dalam posisi marah dengan air mata yang terus menerus mengaliri pipinya, ia semakin dibuat sebal kala melihat Erland bukannya langsung menjelaskan tentang apa yang baru saja ia tau itu kepada dirinya atau setidaknya langsung menuruti apa yang di minta olehnya, laki-laki itu justru malah terdiam dengan tatapan mata kosong. Hingga rasa sebal Maura yang sudah berada di ubun-ubun itu, ia mengayunkan tangan kanannya dan mendarat cukup keras di perut sang suami yang berada di hadapannya. Hal itu berhasil membuat Erland tersadar dari lamunannya.


"Aws sakit sayang," ringis Erland sedikit ia buat-buat.


"Bodoamat. Aku gak perduli karena lebih sakit aku yang sudah kamu bohongi selama ini!" ujar Maura yang berhasil membungkam mulut Erland kembali.


Sedangkan Maura, setelah mengatakan perkataannya tadi, ia langsung bangkit dari posisi duduknya, berjalan menuju ke salah satu sudut kamar tersebut.


Erland mengerutkan keningnya saat ia melihat Maura ternyata menghampiri satu koper yang sudah di persiapkan oleh istrinya itu.


"Lho kamu jadi pergi?" tanya Erland yang entah sedangkan berlagak bodoh atau memang bodoh betulan.


Sedangkan Maura yang di tanya seperti itu ia menghentakkan kakinya, namun tak urung dirinya menjawab, "Gak. Aku mau pup sambil bawa koper!"


Diam-diam jawaban dari Maura itu membuat Erland tersenyum sangat tipis saking tipisnya Maura sampai tak melihat senyuman tersebut.


"Oh jadi cuma pup aja. Ya udah sana gih pup keburu keluar di celana nanti," balas Erland yang kelewat santai tak se-menegangkan tadi.


"Ihhhh apa yang aku katakan tadi bukan apa yang mau aku lakukan! Aku mau pulang! Aku mau pulang! Aku mau pulang! Aku mau pulang! Huwaaa!" teriak Maura dengan mengeraskan suara tangisannya. Tentunya hal itu membuat Erland langsung kelabakan sendiri dibuatnya. Dia bergegas mendekati Maura, mendekap tubuh istrinya itu.


Tapi hanya sesaat saja sebelum Maura mendorong tubuhnya hingga pelukan mereka terlepas.


"Jangan peluk-peluk! Antar aku pulang sekarang juga! Kalau kamu tidak mau, aku pulang sendiri, jalan kaki!" ujar Maura. Kemudian ia menarik koper yang berisi barang-barangnya itu keluar dari dalam kamar.


Erland tentu saja dirinya langsung mengikuti langkah Maura, tapi bedanya ia kini tersenyum. Bukan karena ia bahagia Maura pergi, tapi ia merasa lucu saja saat melihat istrinya itu tengah marah seperti ini. Ia kira saat Maura tau siapa dirinya yang sebenarnya, perempuan itu akan mengamuk sejadi-jadinya atau lebih parahnya mungkin rumah yang mereka tempati saat ini akan rubuh di buatnya dan Erland mati di tangannya. Tapi ternyata tidak, istrinya itu justru terlihat seperti anak kecil yang tengah merajuk saja.


"Kamu beneran mau jalan kaki?" tanya Erland kala mereka telah sampai di depan pintu utama.


Maura menolehkan kepalanya, memberikan tatapan tajam kearah suaminya.


"Menurut ente? Ya gak lah! Cepat! Antar aku sekarang juga!" ujar Maura yang sepertinya berubah pikirannya dengan ancaman yang ia berikan tadi. Mengingat jika jarak rumahnya dengan rumah kedua orangtuanya cukup jauh. Bisa pingsan di tengah jalan jika dirinya nekat jalan kaki nanti.


"Ambil koperku! Taruh di bagasi! Aku tunggu di mobil! Gak pakai lama!" ujar Maura seperti majikan galak yang menyuruh anak buahnya.

__ADS_1


Seperti yang ia katakan tadi, tanpa menunggu persetujuan dari Erland, ia langsung melangkahkan kakinya mendekati mobil Erland, masuk kedalamnya dan menutup pintu mobil itu dengan kasar. Membuat Erland hanya menggelengkan kepalanya.


"Banting-banting aja deh tuh pintu mobil. Kalau bisa hancurin sekalian selagi bisa buat meredamkan amarah dia, ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Daripada dia meminta pisah kan berabe urusannya, jadi biarkan dia mau merusak apapun fasilitas yang aku punya. Aku akan membiarkan dia melakukannya," ujar Erland yang tau betul jika istrinya saat ini tentunya tengah marah besar kepadanya. Tapi entah alasan apa yang membuat Maura tidak sampai mengamuk seperti monster. Apa mungkin memang Maura sudah benar-benar berubah? Kalau iya, Erland akan semakin merasa bersalah.


"Kamu yakin mau pulang ke rumah Mama sama Papa, sayang? Kamu gak mau liburan kemana gitu?" tanya Erland kala dirinya juga sudah masuk kedalam mobilnya.


"Gak! Jangan coba-coba merayuku dan menyogokku dengan iming-iming liburan ya karena semua itu tidak akan mempan!" ujar Maura tanpa menolehkan kepalanya kearah Erland.


"Ya kan aku cuma nawarin aja. Kalau gak mau ya sudah," kata Erland sembari mulai menjalankan mobilnya. Tapi beberapa saat setelah ia berkata, ia sempat mendengar Maura bergumam, "Dasar pelit! Kuburannya sempit baru tau rasa!"


"Heh! Siapa yang ngajarin ngomong kayak gitu! Doain suami sendiri kok sama hal-hal yang gak baik. Gak boleh, dosa," ralat Erland yang membuat Maura semakin mengerutkan bibirnya. Tapi tentu saja perempuan itu terus menggerutu didalam hatinya.


Setelah itu tak ada lagi percakapan dari sepasang suami-istri tersebut. Hingga Erland yang penasaran setengah mati siapa gerangan yang sudah berani memberitahu identitas dirinya yang asli kini ia bertanya.


"Sayang, kamu kan sekarang sudah tau siapa aku yang sebenarnya. Tapi aku mau tanya nih, siapa yang sudah kasih tau kamu tentang aku?" tanya Erland dengan hati-hati.


Maura melirik sekilas kearah Erland sebelum dirinya berkata, "Kepo, kayak Dora!"


Erland yang mendengar perkataan dari Maura, mendelik kearah istrinya itu. Sedangkan Maura, ia kembali menatap kearah samping jalan.


"Ck, siapapun orangnya yang pasti dia orang baik karena sudah membantuku mengetahui semua apa yang kamu rahasiakan selama ini! Gak kayak kamu, katanya suami sendiri tapi tega bohongin istri. Gak tau apa gimana rasanya di bohongi selama ini! Sakit, tau gak!" ujar Maura menggebu-gebu tapi tetap saja matanya tak ingin melihat kearah Erland.


"Sayang, aku---"


"Stop! Berhenti!" ucap Maura memutus ucapan dari Erland.


"Tapi---"


"Stop! Berhentiin mobil kamu!" Erland dengan cepat menggelengkan kepalanya. Niat hati dirinya ingin meminta maaf atas kesalahannya, istrinya justru sudah marah besar dan ingin melanjutkan perjalanannya hanya dengan jalan kaki saja, pikir Erland.


"Gak! Gak mau!"


"Aku bilang berhenti ya berhenti!" Maura kini menatap kearah Erland.

__ADS_1


"Aku bilang enggak ya enggak!" balas Erland.


"Berhenti Erland!"


"Gak mau! Aku gak mau kamu jalan kaki sampai di rumah Mama Papa. Aku akui, aku ini jahat karena sudah membohongi kamu tapi aku tidak akan membiarkan kamu jalan menuju ke rumah Mama Papa!" Kata Erland.


"Ishh! Siapa juga yang mau jalan ke sana sih! Aku nyuruh kamu berhenti karena aku mau beli cilok!" Erland yang mendengar perkataan Maura, ia melongo di buatnya. Bahkan ia dengan refleks mengerem mobilnya secara mendadak hingga membuat Maura terhuyung kedepan namun untungnya kepalanya tidak terkantuk di dashboard mobil. Dan untungnya lagi, tak ada kendaraan lain di belakang mobil mereka.


Erland tak menghiraukan kicauan Maura yang tengah marah-marah akibat keteledoran dirinya. Laki-laki itu justru bertanya, "Kamu nyuruh aku berhenti karena kamu mau beli cilok?"


Gerutuan Maura terhenti kala ia mengingat tujuannya tadi. Sehingga tanpa menjawab pertanyaan dari Erland terlebih dahulu, ia menurunkan kaca mobil tersebut, menyembulkan kepalanya dan menatap kearah penjual cilok yang berada di depan sekolah dasar itu.


"Ck, tuh kan gara-gara kamu telat berhenti. Jaraknya lumayan jauh sama mamang cilok. Ck, menyebalkan!" ujar Maura tapi tak urung dirinya membuka pintu mobil tersebut lalu keluar. Dan lagi lagi, ia menutup pintu mobil suaminya dengan kasar.


Sedangkan Erland, ia dengan cepat melepas seat beltnya, merangkak ke tempat duduk Maura tadi sebelum ia menyembulkan kepalanya untuk melihat kepergian Maura. Tapi dirinya di buat heran saat sudah sampai, istrinya itu berlari kearahnya kembali.


"Kenapa?" tanya Erland saat Maura sudah berada di hadapannya.


"Uangnya mana!"


"Lho kamu mau beli tapi gak bawa uang?"


"Ck, tanya mulu ih. Cepetan kasih uang!" ucap Maura tak sabaran yang membuat Erland langsung mengambil dompet yang selalu ia taruh di dashboard mobilnya. Kemudian ia memberikan dompetnya itu kepada Maura.


Maura segara menerima dompet tersebut, mengambil uang 20 ribuan kemudian mengembalikan dompet Erland yang tebal itu ke pemiliknya.


"Terimakasih!" ujar Maura sebelum ia kembali berlari menuju ke penjual cilok tadi. Walaupun dalam posisi marah, Maura tetap mengucapkan kata terimakasih kepada suaminya.


Sedangkan Erland, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Tapi tak urung ia terus menatap kearah Maura, mengawasi istrinya itu dari jarak yang lumayan jauh.


...****************...


Tolong kasih tau kalau ada kesalahan dalam penulisan!

__ADS_1


Oh ya, siapa yang mengira Maura akan marah besar? Kalian salah guys. Di cerita ini kita buat santai aja. Gak ada yang berat-berat. Cerita ini hanya hiburan semata, karena cerita yang lain sudah cukup berat konfliknya jadi kali ini aku khusus buat cerita yang santai aja. Dan berita ini di peruntukkan bagian pembaca yang gak mau nambah beban dan pikiran karena aku tau pasti semua orang tengah banyak pikiran dan berakhir melampiaskan atau berusaha menghilangkan pikiran-pikiran yang mengganggu kalian dengan baca cerita. Jadi kita santai saja. Terus terang aja aku juga kalau nulis konflik berat, bawaannya pikiran mulu😂 Jadi nkkamti aja cerita ini untuk hiburan kalian.


See you next eps bye 👋 Love you kesayangan semua❤️


__ADS_2