
"Tunggu dulu, maksud pembicaraan tuan tadi apa ya? Hukuman? Siapa yang akan kalian hukum? Dan siapa orang yang ingin melukai keluarga kalian?" tanya Papa Jaya yang benar-benar tak mengerti. Sampai pada akhirnya, tiba-tiba ia memiliki satu pikiran negatif tentang putrinya. Ia menolehkan kepalanya kearah Orla yang saat ini tengah menunduk dengan memainkan kuku jarinya, terlihat jelas di wajah perempuan itu jika saat ini ia tengah bersedih karena untuk yang kedua kakinya ia di tolak mentah-mentah oleh keluarga Abhivandya alias keluarga Erland. Dan saat ini ia sadar jika memang sudah tidak ada lagi tempat baginya untuk menjalin hubungan dengan laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta.
Tetes air mata pun kini keluar dari pelupuk mata Orla hingga tiba-tiba suara penuh penekanan dan tuduhan ia dengar dari bibir sang Papa yang tentunya di tujukan untuknya.
"Jangan bilang kamu, Orla yang berniat mencelakai salah satu keluarga Abhivandya seperti yang dikatakan tuan Aiden tadi? Jawab Orla!" bentak Papa Jaya yang membuat Orla terkejut dengan kepala yang ia tegakkan kembali. Lalu setelahnya ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak Pa. Orla tidak pernah berniat untuk mencelakai salah satu keluarga dari Erland. Orla memang suka dengan Erland tapi kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama, penolakan untuk yang kedua kalinya Orla dapatkan tapi demi Allah Orla tidak dendam dengan keluarga Abhivandya sampai berniat melakukan hal yang membahayakan nyawa mereka. Orla tidak segila itu hanya karena cinta Pa, Orla masih waras walaupun hati Orla sakit mendengar penolakan mereka," ujar Orla dengan air mata yang semakin deras membasahi pipinya.
"Jangan pernah berbohong dengan Papa, Orla!" Papa Jaya masih tidak percaya dengan perkataan sang putri.
"Orla tidak pernah berbohong kepada Papa. Apa yang Orla katakan itu benar. Orla tidak pernah atau bahkan punya pemikiran untuk menyakiti keluarga Abhivandya! Orla tidak melakukan hal itu, Pa!" ucap Orla yang tak kalah menaikan nada suaranya.
Sedangkan sang pelaku utama, ia hanya diam di tengah-tengah suami dan anaknya yang tengah bertengkar itu. Tapi tak urung otaknya berputar, mencari sebuah ide bagaimana cara ia mengelak nanti jika memang orang yang dimaksud oleh Daddy Aiden tadi adalah dirinya. Namun jujur saja, Mama Rina sangat yakin jika aksinya tadi pagi tidak diketahui oleh ketiga orang yang berada di depannya itu. Dan berkat kepercayaan dirinya tersebut, ia kini angkat suara untuk menengahi dua anggota keluarganya yang masih beradu suara itu.
"Hentikan! Kalian berdua diam lah!" sentak Mama Rina yang berhasil membuat suami dan putrinya mengatupkan bibirnya mereka.
__ADS_1
"Kalian ini apa tidak malu bertengkar di depan orang lain. Lagian Aiden tadi hanya bertanya lebih tepatnya malah meminta kita untuk ikut mendiskusikan tentang hukuman apa yang pantas untuk orang yang berniat melukai anggota keluarga dia, bukan berarti mereka menuduh Orla sudah berniat melakukan hal keji itu. Lagian Orla kan lagi sakit, mana bisa dia menyerang orang lain yang fisiknya sehat. Dan aku sangat yakin orang yang sudah berniat jahat itu orang lain. Jadi kamu, mas! Jangan menuduh anakmu yang tidak-tidak lagi," ujar Mama Rina.
"Dan sebaiknya kita tanya sama Aiden, siapa orang yang dia maksud itu dan menurut mereka hukuman apa yang akan mereka berikan ke orang itu," sambungnya dengan mengalihkan pandangannya kearah depan lagi, tepat Daddy Aiden berada.
"Jadi jika boleh tau siapa orang yang kamu maksud tadi?" tanya Mama Rina yang kali ini ia tujukan kepada Daddy Aiden.
Daddy Aiden yang semula menyandarkan tubuhnya disandaran kursi kerja Adam, ia kini menegakkan tubuhnya dengan kedua tangan yang ia letakkan diatas meja. Dan dengan tatapan tajamnya yang ia berikan kepada Mama Rina, namun hanya sesaat saja sebelum senyum miring ia perlihatkan lalu ia mengalihkan pandangannya kearah Papa Jaya, kemudian ia mulai angkat suara.
"Apa yang istri tuan jaya katakan sangat benar jika orang yang kita maksud ini bukanlah Orla. Saya yakin putri anda perempuan baik yang akan mengikhlaskan Erland bersanding dengan perempuan lain selain dirinya, tidak seperti ibunya," ucap Daddy Aiden.
"Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar lagi. Karena video yang akan kita lihat akan menjawab semua pertanyaan di kepala kalian bertiga. Dan kalian juga akan tau siapa orang yang saya maksud tadi, sehingga kita nanti bisa berdiskusi tentang hukuman apa yang pantas untuk dia terima," ujar Daddy Aiden lalu setelahnya ia memberikan kode kepada Adam untuk segara memutar video rekaman CCTV yang merekam kejadian tadi pagi.
Adam yang paham pun ia segara melakukan tugasnya. Dan dengan cepat video itu kini mulai di putar setelah Adam memposisikan laptopnya menghadap kearah keluarga Jaya.
Papa Jaya yang baru melihat adegan Mama Rina yang menarik kasar lengan Maura, emosinya sudah meluap.
__ADS_1
Sedangkan Orla, ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini apalagi saat video itu memperlihatkan adegan Mama Rina yang mengayunkan pisau kearah Maura, sumpah demi apapun Orla tak menyangka ibunya akan melakukan hal keji seperti ini.
"Ma---Mama," ucap Orla tergagap dengan menatap kearah Mama Rina. Yang ditatap, ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Ini semua hanya editan. Kamu jangan percaya dengan video ini. Ini hanya editan percaya sama Mama," ujar Mama Rina meyakinkan putrinya.
Orla menggelengkan kepalanya, sebodoh-bodohnya orang, mereka pasti akan tau jika video itu asli bukan hasil editan seperti yang dikatakan Mama Rina tadi. Tapi berhubung Orla termasuk perempuan cerdas, ia sudah tau ke aslian video itu saat pertama kali di putar.
Saat Mama Rina ingin memberikan penjelasan kembali kepada Orla, dengan kasar dari arah samping lainnya, Papa Jaya menarik kursi yang tengah di duduki Mama Rina sampai posisi duduk Mama Rina kini berhadapan dengan Papa Jaya.
Kilatan amarah terpancar jelas dimata Papa Jaya dan tanpa hitungan detik, satu tamparan keras mendarat di pipi Mama Rina hingga membuat kepala wanita paruh baya itu menoleh kesamping.
Orla yang mendengar tamparan itu, ia memejamkan matanya dengan air mata yang tak kunjung berhenti.
"Apa yang kamu lakukan Rina! Saya sebagai suami kamu tidak pernah mengajarkan kamu berbuat hal nekat seperti ini! Ini benar-benar sudah kelewat batas! Saya sudah tidak ingin ikut campur lagi dengan perbuatan kamu ini! Sudah cukup hukuman yang sudah saya terima akibat ulah kita! Dan untuk masalah kamu ini, saya tidak ingin ikut campur! Selesaikan sendiri! Jangan pernah libatkan saya dan putri saya!" ucap Papa Jaya lalu setelahnya ia mendekati Orla yang mendudukkan kepalanya dengan tubuh yang bergetar.
__ADS_1
"Maaf tuan Aiden, nyonya Della dan dokter Adam. Saya dan putri saya permisi dulu. Lakukan apapun yang ingin kalian lakukan untuk menghukum istri saya yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri saya! Jangan libatkan saya dan putri saya lagi karena mulai sekarang kita berdua tidak ada hubungan apapun dengan dia. Saya permisi," ucap Papa Jaya lalu setelahnya ia mendorong kursi roda yang diduduki oleh Orla untuk keluar dari ruangan tersebut tanpa mendengar teriakkan Mama Rina yang mencegah mereka untuk pergi dengan tubuh yang terus memberontak dari cekalan dua orang berbadan besar yang merupakan anak buah Daddy Aiden yang entah munculnya darimana karena tiba-tiba tanpa sepengetahuan dirinya, dua orang itu sudah berdiri di belakangnya dan segera mencekal dirinya kala ingin menyusul kepergian suami dan anaknya.