PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 196


__ADS_3

"Ma, jantung Orla rasanya mau copot," ucap Orla dengan tangan yang ia letakkan di dada sebelah kirinya. Di depan sana, ruang kerja Adam sudah mereka lihat yang artinya sebentar lagi Orla maupun Mamanya akan bertemu dengan keluarga Abhivandya untuk yang pertama kalinya setelah kejadian lamaran yang gagal waktu itu.


Salah satu tangan Mama Rina bergerak, mengusap lembut kepala sang putri.


"Kamu tidak perlu gerogi bertemu dengan mereka, Orla."


Orla mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Mama Rina.


"Siapa coba yang tidak gerogi saat akan bertemu dengan calon mertua. Orla rasa tidak hanya Orla saja yang merasakan hal ini tapi hampir semua orang di muka bumi ini juga pernah merasakannya termasuk Mama, benar kan?" Mama Rina mendengus karena apa yang dikatakan Orla tadi benar adanya.


"Baiklah-baiklah terserah kamu saja. Tapi jangan memperlihatkan rasa grogi kamu itu. Kamu harus rileks dong. Dan sekarang ambil nafas dalam-dalam lalu buang," ujar Mama Rina saat ia menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan ruang kerja Adam.


Tanpa mengoceh lagi, Orla melakukan seperti apa yang di ucapkan oleh Mama Rina tadi.


"Gimana? Apa sekarang kamu sudah merasa rileks?" tanyanya yang tentunya diangguki oleh Orla.


"Kalau begitu, Mama akan mengetuk pintu ruangan ini," ujar Mama Rina yang lagi-lagi diangguki oleh Orla. Tidak bohong saat Mama Rina sudah mengetuk pintu itu dan samar terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekati pintu itu membuat jantung Orla kembali berdetak kencang, namun sebisa mungkin ia tetap tenang hingga pintu itu dibuka dari dalam dan langsung memunculkan seorang dokter tampan dengan wajah datarnya. Orla sangat tau siapa dokter di depannya itu, dia adalah Adam, Kakak pertama dari laki-laki kesayangannya.


Mama Rina yang melihat wajah datar dari Adam, ia berdehem sesaat sebelum ia angkat suara, risih juga jika lama-lama di tatapan Adam seolah-olah dirinya dan Orla adalah mangsa laki-laki itu yang kapan saja bisa di bunuh.


"Ehemmm, saya mau bertanya, apa benar Della dan Aiden ada disini dan ingin bertemu dengan saya?" tanya Mama Rina tanpa embel-embel memanggil kedua orangtuanya Erland itu dengan sebutan tuan dan nyonya.


Adam tentu saja ia memincingkan alisnya saat mendengar orang di hadapannya itu yang menurutnya sangat lancang sudah memanggil kedua orangtuanya seperti itu. Karena Adam rasa mereka tidak sedekat itu untuk memanggil dengan sebutan nama saja.


Namun Adam tetap tak bergeming di tempatnya, ia memblokir jalur masuk kedalam ruangannya karena ia berdiri tepat di tengah-tengah pintu ruang kerjanya hingga suara bariton mengalihkan atesi Adam, Mama Rina dan Orla.

__ADS_1


"Biarkan mereka masuk, Dam. Jangan bersikap seperti ingin membunuh mereka karena sikapmu itu bisa membuat nyonya Jaya merasa tidak nyaman. Menyingkirlah!" Adam melirik sekilas kearah sang Daddy sebelum ia menghela nafas panjang, sebenarnya ia sangat tidak ikhlas jika ruang kerjanya harus di masuki manusia titisan iblis itu. Tapi jika sang kepala keluarga Abhivandya sudah memerintah maka ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan dengan terpaksa ia menyingkir dari hadapan dua perempuan di depannya, memberikan mereka jalan untuk masuk kedalam ruangannya.


Setelah mereka masuk, Adam kembali menutup pintu ruang kerjanya lalu berjalan mendekati kedua orangtuanya yang saat ini sudah berhadapan dengan dua perempuan yang tengah tersenyum kepada mereka. Tentunya senyuman itu tak mendapat balasan sedikitpun dari ketiga orang yang berwajah datar tersebut. Namun sayangnya sikap ketiga orang itu tak dihiraukan oleh Mama Rina, perempuan yang mungkin seumuran dengan Mommy Della itu kini kembali angkat suara, "Tanpa basa-basi lagi, Aku mau tau hal apa yang akan kamu katakan ke aku?"


Mommy Della yang sudah gatal ingin mencakar wajah tak tau malu milik Mama Rina itu, terpaksa ia harus menahan keinginannya itu kala Daddy Aiden tiba-tiba mencekal lengannya, sebelum cekalan itu beralih menjadi genggaman tangan yang sangat erat. Dan tanpa Daddy Aiden bicara pun, Mommy Della sudah tau maksud sang suami apa hingga sampai menggenggam tangannya teramat kencang seperti sekarang ini jika bukan karena laki-laki itu ingin dirinya tetap diam di sampingnya.


Mommy Della hanya bisa mendengus pasrah dengan perintah tak kasat mata yang Daddy Aiden layangkan kepadanya.


Sedangkan Daddy Aiden, ia menatap lekat nan tajam tepat di manik mata Mama Rina, "Bukannya saya tadi menyuruh salah satu satpam disini hanya untuk memanggil anda dan suami anda, nyonya Jaya dan bukan dengan putri anda? Dan dimana tuan Jaya sekarang? Apa beliau tidak bersedia menemui saya dan istri saya?"


Mama Rina menggelengkan kepalanya.


"Tidak bukan begitu. Memang benar tadi satpam yang kamu perintahkan untuk menemuiku mengatakan kalau kamu dan Della hanya ingin bertemu denganku dan suamiku. Tapi Orla bersikeras ingin bertemu dengan kalian juga. Aku yang sudah tidak tega akhirnya membawa dia untuk bertemu dengan calon mertuanya. Lagian untuk mempermudah kalian juga agar tidak perlu ke ruang inap Orla untuk menjenguk dia. Dan untuk suamiku, dia baru ke kantin, sebentar lagi juga pasti sampai di sini. Jadi kalian tenang lah, kita bersedia saja untuk menemui kalian berdua apalagi untuk membahas hubungan Orla dan Erland," ujar Mama Rina yang urat malunya benar-benar sudah putus.


Sedangkan Daddy Aiden, laki-laki paruh baya itu masih sangat tenang sekali walaupun rasa ingin merobek mulut perempuan di depannya itu sudah menggebu-gebu di dalam dirinya.


"Baiklah kalau begitu, kita tunggu tuan Jaya baru kita mulai pembicaraan kita," ujar Daddy Aiden.


"Apakah tidak bisa sekarang saja? Nanti aku bisa ceritakan ke suamiku jika dia ketinggalan pembicaraan kita ini," ucap Mama Rina.


"Tidak!" ucap Mommy Della tiba-tiba yang membuat semua orang disana terkejut.


Daddy Aiden hanya bisa menghela nafas, "Kita tunggu tuan Jaya saja."


Mama Rina tampak berdecak tak suka, padahal ia sudah sangat kepo maksimal dengan apa yang akan mereka bicarakan namun kepala keluarga Abhivandya itu tetap kekeuh ingin menunggu suaminya yang entah kapan datangnya laki-laki satu itu.

__ADS_1


Orla yang melihat mood Mamanya sedikit tidak baik karena keinginannya tidak terpenuhi, tangannya bergerak mengelus lengan Mama Rina untuk memberikan ketenangan kepada wanita kesayangannya.


Dan hanya berselang lima menit dari pembicaraan singkat tadi, suara ketukan pintu kembali terdengar. Adam segera beranjak dari tempatnya berdiri, mendekati pintu ruang kerjanya. Tak seperti sebelumnya saat Mama Rina dan Orla datang, Adam sekarang justru langsung memberikan jalan masuk untuk kepala keluarga Jaya itu tanpa mengucapakan sepatah katapun. Dan lagi-lagi setelah memastikan jika laki-laki paruh baya yang terlihat mengurus dan tampak frustasi itu masuk, Adam kembali menutup pintu ruang kerjanya tapi tak urung senyum miring tercetak jelas di bibirnya. Jangan tanya penyebab ia tersenyum jika bukan saat melihat keadaan Papa Jaya yang cukup memprihatinkan namun sangat menyenangkan di mata Adam.


Seperti sebelumnya, Adam memilih berdiri disamping Daddy Aiden yang saat ini tengah menatap Papa Jaya yang tampak kebingungan sekaligus takut jika harus berurusan dengan keluarga Abhivandya lagi. Papa Jaya baru sadar jika hancurnya perusahaannya itu pasti ada orang yang sangat kuat sebagai pemicunya karena tidak mungkin jika perusahaannya itu hancur secara tiba-tiba. Awalnya dirinya juga bingung siapa orang kuat itu karena ia merasa tak pernah berbuat salah dengan orang-orang yang sangat berpengaruh itu, namun seklibat memori di otaknya yang mengarah ke satu acara lamaran yang gagal itu, disitulah ia tau mungkin hancurnya perusahaannya karena ada sangkut-pautnya dengan keluarga Abhivandya mengingat sikap dia dan keluarganya yang kurang sopan dengan keluarga itu.


"Ma---Maaf ini ada apa ya? Kata Rina tadi, saya dipanggil tuan Aiden dan Nyonya Della untuk membicarakan sesuatu hal yang sangat penting. Jika boleh tau hal penting itu apa ya?" tanya Papa Jaya yang sikapnya jauh lebih sopan daripada Mama Rina tadi.


"Ck, kamu ini berlagak bodoh apa gimana sih? Jelas-jelas mereka mau membicarakan hubungan antara Orla dan Erland masih pakai tanya segala, padahal sudah bisa di tebak lho," sela Mama Rina yang langsung mendapat pelototan dari Papa Jaya.


"Apa yang kamu katakan Rina? Jangan berkata seperti itu. Kita tau jika Erland sudah memiliki istri jadi jangan berbicara omong kosong lagi," tegur Papa Jaya yang membuat Mama Rina mencebikkan bibirnya.


"Istri? Bentar lagi juga mereka akan cerai."


Mommy Della yang mendengar ucapan dari Mama Rina tadi, mendelik tak terima. Enak saja rumah tangga Erland di doakan yang tidak-tidak dengan wanita yang minim akhlak itu.


"Jaga ucapan kamu, Rina! Jika kamu tidak bisa menjaga sikap dan ucapanmu lebih baik kamu keluar sekarang juga!" tekan Papa Jaya yang bertindak tegas.


"Kamu apa-apaan sih. Aku tidak mau keluar. Lagain apa yang aku ucapkan ini akan menjadi kenyataan, benar kan Della, Aiden jika Erland dan istrinya itu akan cerai? Atau mungkin sudah melakukan proses perceraian sekarang sehingga kalian menemui kita untuk membicarakan kelanjutan hubungan Orla dan Erland? Iya kan?"


Daddy Aiden yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya ia angkat bicara.


"Benar apa yang dikatakan oleh tuan Jaya tadi, jika anda jangan mengatakan omong kosong yang tidak jelas asal-usulnya. Erland dan Maura tidak akan pernah bercerai sampai kapanpun dan kita memanggil kalian kesini bukan untuk membahas hubungan Erland dan putri kalian karena mereka dari dulu tidak pernah memiliki hubungan apapun begitu juga di masa depan, mereka tetap tidak akan memiliki hubungan spesial seperti yang putri kalian inginkan. Saya tegaskan lagi dan harap telinganya di pasang baik-baik, Erland dan Maura tidak akan pernah bercerai sampai kapanpun, mereka saling mencintai dan tidak akan pernah ada manusia yang bisa memisahkan mereka. Dan tujuan kita menemui kalian untuk membicarakan hukuman apa yang pantas untuk seseorang yang sudah berniat melukai salah satu keluarga saya?" tutur Daddy Aiden dengan mata yang kini menatap kearah Mama Rina yang terlihat menegang di tempat duduknya.


Sedangkan Papa Jaya dan Orla yang tidak paham dengan maksud ucapan Daddy Aiden, mereka tampak bingung di tempatnya masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2