PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 198


__ADS_3

"Kalian percaya sama aku! Rekaman video itu di rekayasa! Jaya! Orla! Kembali kesini kalian!" teriak Mama Rina untuk yang kesekian kalinya. Namun sayangnya dua orang yang ia panggil tadi sudah tak peduli dengannya. Mereka benar-benar kecewa atas tindakan yang sudah di perbuat oleh Mama Rina. Tapi mereka tak urung menghela nafas lega kala Maura bisa menepis serangan mendadak dari Mama Rina tadi. Jika saja tidak, entah mereka akan sekecewa apa dengan perempuan yang mereka sayangi itu.


Papa Jaya yang mendengar teriakkan dari sang istri, ia memejamkan matanya dengan air mata yang kini menetes. Namun segara ia hapus sebelum dirinya menghentikan langkahnya saat ia memastikan jarak antara dirinya berada saat ini sudah jauh dari ruang kerja Adam. Ia kini melangkahkan kakinya sampai dirinya berada di depan sang putri, menjongkokkan tubuhnya untuk melihat wajah Orla yang sedari tadi menunduk.


Tanya Papa Jaya kini bergerak, menyentuh dagu Orla dan membawa kepala putrinya itu kembali tegak lagi.


Papa Jaya tampak menghela nafas panjang melihat seberapa kacaunya sang putri saat ini.


"Jangan sedih lagi ya. Papa tidak suka melihat kamu bersedih seperti ini," ucap Papa Jaya sembari menghapus air mata Orla. Lalu setelahnya tangannya itu menggenggam kedua tangan sang putri, ia menatap lekat mata yang berkaca-kaca itu sebelum ia angkat suara kembali, "Kita mulai dari nol lagi ya, nak tanpa Mama kamu. Kita mulai berdua. Kamu mau kan memulai lagi dengan Papa? Membuka lembaran baru hanya dengan Papa?"


Orla yang mendengar ucapan dari Papa Jaya, air matanya kembali menetes deras. Tapi tak urung ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas permintaan dari Papa Jaya tadi.


Papa Jaya yang melihat anggukkan kepala tersebut, ia langsung memeluk tubuh Orla. Ia memang tengah hancur saat ini, istrinya yang berulah dan hampir membunuh orang yang berakhir ia akan bercerai dengan istrinya, terlebih harta kekayaannya juga sudah hilang hanya tinggal rumah yang mereka tempati saat ini dan sedikit tabungan saja yang ia punya. Tapi semua itu sudah tak menjadi masalah baginya selagi obatnya yaitu putri semata wayangnya mau bersama dengannya. Ia akan tempuh batu krikil dalam hidupnya itu sekuat tenaga yang ia bisa dan ia sangat yakin badai ini berakhir pasti akan ada pelangi yang sangat indah bersamaan dengan dirinya yang merubah hal buruk di dalam dirinya.


Di sela-sela pelukan itu, Papa Jaya juga berkata, "Papa harap kamu bisa mengerti dengan keputusan Papa tadi, nak. Papa tidak menginginkan yang namanya perceraian tapi Papa juga tidak bisa mempertahankan Mama kamu untuk bersama kita lagi. Papa mohon kamu mengerti ya, sayang."

__ADS_1


Orla yang tak sanggup untuk bersuara lagi-lagi ia hanya membalas dengan anggukan kepala saja. Hancur memang hatinya saat tau jika kedua orangtuanya akan berpisah, tapi Orla tidak boleh egois. Ia tau sehancur-hancurnya dia lebih hancur hati Papa Jaya. Dan mungkin semua ini merupakan keputusan yang terbaik untuk keluarganya.


Sedangkan disisi lain lebih tepatnya di dalam ruang kerja Adam, Mommy Della berdecak dengan kedua tangan yang sedari tadi menutup telinganya.


"Ck, kamu akan sampai kapan teriak-teriak seperti itu? Ingat saat ini kamu yang berada di rumah sakit!" ucap Mommy Della yang melebihi suara Mama Rina yang tak kunjung berhenti memanggil suami dan putrinya.


Mendengar suara Mommy Della membuat Mama Rina mengepalkan kedua tangannya. Dan dengan emosi yang memuncak, Mama Rina menolehkan kepalanya dengan tatapan mata yang langsung tertuju kearah Mommy Della.


Mommy Della yang tengah di tatap dengan garang oleh Mama Rina, ia justru memincingkan alisnya.


Tentunya aksi Mommy Della itu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkejut bukan main tak terkecuali Daddy Aiden dan juga Adam, mereka berdua sama-sama terkejutnya seperti ketiga orang lainnya. Tak pernah terpikirkan oleh Adam ataupun Daddy Aiden sebelumnya jika Mommy Della membawa senjata api seperti ini.


Sedangkan Mama Rina, wanita paruh baya itu langsung menutup kedua matanya. Dan tertutupnya mata Mama Rina tersebut, membuat Mommy Della menahan mati-matian tawanya, namun Mommy Della tak bisa menahan tawanya lebih lama lagi sampai akhirnya...


"Pfttttt hahahaha!" Tawa menggelegar dari Mommy Della itu tentunya menyadarkan anak dan suaminya. Bahkan Mama Rina ia membuka matanya yang tadi tertutup rapat.

__ADS_1


"Hahahaha, bercanda elah. Saya masih terlalu sayang dengan tangan saya untuk membunuh kamu," ujar Mommy Della dengan menyimpan kembali pistolnya tadi di balik jaketnya kembali.


Sedangkan Daddy Aiden dan Adam dengan serempak kedua laki-laki itu menghela nafas lega.


"Kamu ini ya sayang, suka banget bikin orang lain jantungan," ujar Daddy Aiden. Mommy Della tersenyum hangat kepada suaminya.


"Terimakasih atas pujiannya. Dan lebih baik kamu segera beritahu dia hukuman yang akan dia terima atas perbuatannya tadi. Soalnya aku sudah benar-benar muak melihat wajah dan muak mendengar teriakan dia, bikin sakit telinga," ujar Mommy Della yang diangguki setuju oleh Daddy Aiden.


Dengan bersedekap dada, Daddy Aiden menatap kearah Mama Rina sebelum ia berkata, "Menyelesaikan masalah yang cukup besar seperti yang tengah terjadi saat ini dengan cara kekeluargaan, saya rasa tidak pantas karena dengan cara saling memaafkan tidak menjamin orang yang berniat jahat seperti kamu ini jera. Jadi karena dengan cara kekeluargaan tidak pantas untuk menyelesaikan masalah ini, maka saya selaku mertua dari orang yang berniat ingin kamu sakit, akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Biar hukumlah yang memutuskan hukuman untukmu."


Mama Rina yang mendengar ucapan Daddy Aiden, ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak! Aku tidak mau di penjara! Aku akui jika aku salah telah berbuat hal yang sangat berbahaya itu. Jadi lebih baik semua ini di selesaikan secara kekeluargaan saja," ucap Mama Rina menolak Daddy Aiden untuk membawanya ke kantor polisi.


Tapi sayangnya, penolakannya tadi tak diindahkan sedikitpun oleh Daddy Aiden, laki-laki itu justru berkata, "Iwan, Hulda, bawa perempuan ini ke kantor polisi yang paling dekat dengan rumah sakit ini. Nanti disana sudah ada pengacara saya yang menyambut kalian."

__ADS_1


Dengan tegas dan tanpa melihat reaksi yang diberikan oleh Mama Rina, kedua laki-laki yang sedari tadi memegangi tangan Mama Rina menganggukkan kepalanya, lalu setelahnya mereka menyeret Mama Rina untuk keluar dari ruang kerja Adam diiringi dengan Mama Rina yang terus berteriak, "Tidak! Aku tidak mau di penjara! Lepas, sialan! Arkhhhh! Aiden! Della! Tunggu aku! Aku akan membalas dendam ke kalian! Arkhhhh sialan!"


__ADS_2