PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 11


__ADS_3

Entah kebetulan atau memang sumpah serapan yang diucapkan oleh Erland tadi manjur, di malam harinya kaki Maura tidak bisa perempuan itu gerakan sama sekali dengan rasa sakit yang sangat luar biasa. Namun ia hanya bisa menahan rasa sakit itu dengan memberikan pijatan di kakinya karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Di mana di jam itu semua orang rumah sudah istirahat semua jadi tidak mungkin ia mengganggu waktu istirahat mereka, terlebih waktu istirahat kedua orang tuanya yang baru pulang dari kota sebelah jam 09.00 tadi untuk ia mintai tolong untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Tapi walaupun begitu Maura bersyukur setidaknya ketika kedua orang tuanya tadi pulang kakinya masih bisa ia gerakan walaupun rasanya sudah sangat sakit hingga ia bisa menyambut kedatangan mereka berdua.


"Semua ini gara-gara laki-laki sialan itu. Jika saja dia tidak bicara sembarangan aku tidak akan mungkin merasakan rasa sakit yang luar biasa di kakiku ini. Mana gak bisa aku gerakan lagi. Kalau terus-terusan begini bagaimana aku nanti ke kamar mandi saat aku kebelet buang air besar atau kecil. Masa iya aku harus menahannya atau mengeluarkannya di celana. Ishh gak banget deh," gerutu Maura masih dengan tangan yang memijat kakinya.


"Ihhhh kenapa aku bisa bertemu dengan dia sih? Aku rasa setelah aku kenal dia, hidupku jadi sial terus. Mana nantinya dia akan berada di sampingku terus-menerus lagi. Aaaa aku tidak bisa membayangkan kesialan apa saja yang akan aku hadapi nantinya setelah aku menikah dengan dia. Ya Tuhan kesalahan apa yang telah hamba buat sehingga engkau mengirimkan seorang laki-laki seperti Erland itu," sambung Maura sembari meratapi nasib sialnya tersebut.


Dan saat dirinya menangis di dalam hati, dering ponselnya mengalihkan pandangannya yang membuat tangannya yang tadinya sibuk untuk mijit kakinya, kini terulur untuk mengambil ponselnya tersebut. Dimana saat ia telah mengambil ponselnya itu, keningnya dibuat berkerut kala ia melihat sebuah nomor baru yang tak ia kenal sama sekali mengiriman sebuah pesan kepadanya.


"Nomor siapa ini?" tanya Maura pada dirinya sendiri.


"Astaga aku hampir lupa jika aku memiliki sebuah janji dengan sopir taksi malam itu. Dan mungkin nomor ini adalah nomor dari sopir taksi itu. Ya, ini mungkin memang dia." Jari lentik Maura kini bergerak lincah untuk membuka pesan dari nomor baru itu. Dan saat pesan tersebut sudah ia buka, ia mulai membaca isi pesan itu.


📨 From : 08*****

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kaki kamu baik-baik saja sekarang? Aku tebak jawabannya tidak."


Maura mencebikkan bibirnya setelah ia membaca pesan singkat yang ia yakini jika pesan tersebut bukan dari sopir taksi melainkan dari laki-laki menyebalkan yang sudah memberikan sumpahnya untuk Maura.


"Jika kamu sudah tahu jawabannya kenapa bertanya? Kelihatan banget kalau mau mengejek. Sialan," ucap Maura namun ia tak menulis setiap kata yang ia ucapkan barusan melainkan ia justru menulis satu kalimat berbeda.


📨To : 08*****


"Kamu sendiri, bagaimana kondisi kepalamu? Tidak benjol kan? Aku tebak jawabannya iya." Send.


"Darimana dia tahu nomor ponselku? Bukannya aku tidak pernah memberikannya kepada dia?" tanya Maura bingung. Karena tanpa ia sadari apa yang di mau oleh Erland, laki-laki itu pasti akan mendapatkannya tanpa minta langsung ke pihak yang bersangkutan.


Namun sesaat setelahnya, Maura menggedikkan bahunya.

__ADS_1


"Bodoamatlah, mau di mana dia mendapatkannya aku tidak peduli. Lagian aku juga tidak akan menyimpan nomor ponsel dia dan mungkin setelah ini aku akan memblokir nomor teleponnya hehehe," sambung Maura dengan senyum devil.


Erland yang sedang berada di dalam kamarnya tampak menggertakkan giginya setelah dirinya membaca pesan balasan dari Maura tadi.


"Sialan! Berarti dia menaruh sesuatu di dalam tasnya tadi. Jika tidak, dia pasti tidak akan menyakini jika kepalaku ini akan benjol setelah terkena tas dia tadi," ujar Erland.


"Dan beraninya dia mengejekku seperti itu. Awas aja ya kamu," sambungnya dan kala ia ingin menghubungi Maura untuk memarahi serta mencari tahu apa isi tas Maura tadi. Namun sayangnya hanya ada balasan dari operator telepon yang menyatakan jika nomor telepon yang Erland hubungi itu beralih ke pesan suara yang membuat Erland mengerutkan keringnya.


"Apa nomorku di blokir olehnya?" tanya Erland pada dirinya sendiri. Dan untuk memastikan kecurigaan itu, Erland mencoba untuk menghubungi nomor Maura sekali lagi. Tapi lagi-lagi yang ia dengar adalah suara operator yang membuat tangannya kini terkepal erat.


"Berani sekali dia memblokir nomorku! Maura, sialan. Akan aku buat kamu menyesali perbuatanmu ini," geram Erland sembari meletakkan ponselnya di atas nakas dengan kasar sebelum dirinya merebahkan tubuhnya lalu mulai memutuskan untuk menjelajahi alam mimpi.


Sedangkan disisi lain, Maura justru tengah tertawa saat ini dengan bayangan Erland yang tengah marah-marah karena ia tidak bisa menghubungi dirinya lagi.

__ADS_1


"Kasihan deh gak bisa ganggu aku lagi. Wlekkk emang enak. Syukurin!" ujar Maura dengan memeletkan lidahnya ke arah ponselnya. Tapi sesaat setelahnya rasa sakit yang tadinya mulai teralihkan kini kembali ia rasakan hingga membuat dirinya meringis dengan tangan yang memijat kembali kedua kakinya tersebut.


Ia berpikir jika malam ini ia tak akan bisa tidur karena rasa sakit yang ia rasakan saat ini dan orang yang selalu ia salahkan adalah Erland, laki-laki yang ia anggap sombong dan tidak memiliki perasaan sama sekali.


__ADS_2