
Disisi lain tepatnya di rumah keluarga Jaya, Orla langsung keluar dari dalam mobil saat mobil yang ia tumpangi itu sudah berhenti. Ia berlari masuk kedalam rumah tersebut dengan air mata yang sedari tadi masih menetes membasahi pipinya sampai riasan wajahnya sudah tak berbentuk lagi. Walaupun didalam perjalanan tadi Mama dan Papanya sudah berusaha untuk membujuk Orla agar tidak menangis lagi, tapi sayangnya semua bujuk dan rayuan yang di lontarkan oleh kedua orangtuanya itu tidak mempengaruhi Orla sedikitpun. Perempuan itu justru selalu menatap ke arah luar kaca mobil, terbengong dengan air mata yang mengalir deras.
Mama Rina dan Papa Jaya yang melihat kepergian dari sang putri pun keduanya tak tinggal diam, mereka juga turut berlari mengejar Orla. Mereka tau tujuan anaknya itu kemana jika bukan ke kamarnya. Jadi mereka berdua langsung menuju ke kamar Orla. Dan benar saja, saat keduanya sudah sampai di depan kamar putri mereka dan hendak membuka pintu tersebut, pintu itu tak bisa Papa Jaya maupun Mama Rina buka.
"Pintu ini di kunci," ucap Mama Rina yang diangguki oleh sang suami.
"Kita harus gimana ini Pa?" tanya Mama Rina kepalang khawatir jika terjadi sesuatu kepada Orla. Ia takut anaknya itu melukai dirinya sendiri karena keinginannya tak tercapai.
"Mama jangan panik gini dong. Kalau Mama panik, Papa juga ikut panik ini!" ucap Papa Jaya dengan mengacak rambutnya frustasi. Ia sendiri juga bingung apa yang akan ia lakukan ketika Orla justru menguntung dirinya sendiri di dalam kamar.
Dimana ucapan dari Papa Jaya itu langsung membuat bibir Mama Rina terkatup. Tak berani angkat suara lagi dan biarkan air matanya yang berbicara saat ini. Hingga saat kedua orang itu masih saja bergulat dengan pikiran mereka masing-masing sekaligus mencari cara agar keduanya masuk kedalam kamar putri mereka, tiba-tiba...
Prang!!
"Arkkhhhhhhh! Aku benci Erland!"
Suara pecahan yang bersumber dari dalam kamar tersebut disusul dengan suara jeritan Orla semakin membuat kedua orangtua itu panik. Hingga tangan Mama Rina kini bergerak untuk mengetuk pintu kamar sang putri. Tak peduli jika kepanikan yang tengah ia perlihatkan ini akan membuat suaminya marah.
__ADS_1
Tok! tok! tok!
"Orla! Apa yang kamu lakukan didalam nak?! Mama tidak mengizinkan kamu untuk melukai diri kamu sendiri sayang! Jadi keluar sekarang nak, kita lewati semua ini secara bersama-sama. Disini yang merasakan sakit hati bukan cuma kamu saja tapi Mama sama Papa juga sakit hati karena kelakuan keluarga sialan itu. Jadi keluar ya nak, Mama mohon. Jangan mengurung diri kamu didalam sendiri seperti ini. Hiks Mama mohon keluar," tutur Mama Rina yang tak mendapat balasan sama sekali dari Orla, justru ucapannya itu disambut dengan suara pecahan serta dentuman benda besar yang mendarat tepat di pintu yang saat ini di ketuk oleh Mama Rina. Dimana hal tersebut membuat kedua orang itu terkejut.
"Ini sudah tidak bisa di biarkan lagi. Ma, panggil satpam. Suruh mereka kesini buat dobrak pintu kamar Orla," ucap Papa Jaya yang baru mendapatkan ide tersebut.
Tanpa pikir panjang lagi, Mama Rina langsung melakukan apa yang Papa Jaya tadi perintahkan. Wanita paruh baya itu kini berlari menuruni anak tangga dengan pikiran negatif yang memenuhi otaknya. Kemungkinan-kemungkinan yang akan Orla lakukan saat putrinya itu dalam keadaan kacau seperti ini.
Sedangkan Papa Jaya, laki-laki itu sudah bergerak, mendobrak pintu kamar Orla sendirian. Berkali-kali ia berusaha mendobrak pintu itu namun tak berhasil. Hingga tak berselang lama dua satpam datang disusul oleh Mama Rina dan para art yang juga khawatir sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi dengan nona muda mereka.
Papa Jaya dan kedua satpam itu terus berusaha mendobrak pintu kamar Orla. Hingga yang ke tiga kalinya pintu kamar itu berhasil mereka dobrak. Dimana setelahnya, Mama Rian dan Papa Jaya langsung masuk kedalam kamar putri mereka yang sudah seperti kapal pecah. Tapi mereka tidak menemukan keberadaan Orla disana. Hingga tatapan mereka tertuju ke pintu kamar mandi yang terbuka. Dua orang itu segara berlari mendekati pintu kamar mandi tersebut. Dimana saat mereka sudah sampai, mata mereka langsung terbuka dengan lebar saat melihat keadaan Orla yang tampak mengenaskan di bawah guyuran shower dengan salah satu pergelangan tangan terluka serta mengeluarkan darah segara yang sangat banyak.
"Orla bangun sayang. Orla!" teriak Mama Rina dengan menggoyang-goyangkan tubuh Orla.
"Kalian semua kenapa diam saja. Cepat bawa Orla kerumah sakit sekarang juga!" perintah Mama Rina itu berhasil membuat semua orang yang tampak terkejut saat melihat kondisi Orla termasuk Papa Jaya, mereka langsung tersadar dan dengan cepat mereka langsung mendekati Orla, membopong tubuh perempuan itu untuk mereka bawa ke rumah sakit. Tentunya kepergian Orla itu disusul oleh Papa Jaya dan Mama Rina. Jangan tanya perasa dua orang itu, tentunya mereka semakin membenci keluarga Abhivandya terutama Erland. Dan jika sampai terjadi sesuatu dengan Orla, atau sampai Orla merenggang nyawa, mereka tidak akan segan-segan untuk membalas dendam ke keluarga Abhivandya. Tidak peduli mereka kalah atau menang yang terpenting mereka sudah berjuang untuk mendapatkan pertanggungjawaban dari mereka.
Sesampainya keluarga Jaya itu disalah satu rumah sakit terbesar yang lagi-lagi rumah sakit itu milik putra pertama dari keluarga Abhivandya, Orla langsung di bawa ke UGD dan langsung di tangani oleh dokter yang bertugas di ruangan itu.
__ADS_1
Sedangkan Mama Rina dan Papa Jaya hanya bisa menunggu di ruang tunggu saja dengan Mama Rina yang menangis didalam pelukan sang suami.
Waktu terus berlalu hingga 1 jam kemudian, salah satu dokter yang ada didalam ruang UGD keluar. Dimana hal tersebut membuat Mama Rina dan Papa Jaya berdiri kemudian mendekati dokter tersebut dengan harap-harap cemas.
Dan saat keduanya sudah berhadapan langsung dengan dokter tersebut, Mama Rina yang sudah kepalang ingin tau keadaan anaknya pun ia angkat suara, "Bagaimana keadaan anak saya dok? Dia baik-baik saja kan?"
Dokter tersebut tampak menghela nafas panjang.
"Kondisi nona Orla saat ini jauh dari kata baik-baik saja nyonya dan tuan. Nona Orla tadi sempat kehabisan darah. Dan beliau sekarang tengah kritisi dan mengalami yang namanya koma," ucap dokter tersebut menjelaskan kondisi Orla yang berada di ujung kematian. Karena luka yang di buat oleh perempuan tadi cukup dalam. Dan mungkin jika Orla telat sedikit saja dibawa ke rumah sakit, perempuan itu sudah mati didalam kamar mandi kamarnya.
Mama Rina lemas setengah mati saat mendengar penjelasan dari dokter tadi. Hampir saja tubuhnya ambruk, tapi untung saja Papa Jaya langsung sigap menahan tubuhnya.
Mama Rina kini menatap wajah suaminya dengan mata sayu sembari berkata, "Pa, Orla Pa."
Papa Jaya menganggukkan kepalanya dan dengan bersusah payah, ia membopong tubuh Mama Rina kembali ke kuris tunggu. Meletakkan tubuh istrinya tersebut sebelum tangannya kini bergerak untuk menghapus air mata istrinya.
"Kamu tenang ya. Dan yakinlah Orla bisa melewati semuanya. Kamu kan tau sendiri dia anak kuat. Dia akan tetap bersama kita sampai kita berumur 100 tahun. Jadi tenang oke. Semuanya akan baik-baik saja," ucap Papa Jaya dengan membawa tubuh Mama Rina kembali ke pelukannya, mengusap punggung istrinya itu agar menjadi tenang.
__ADS_1
Papa Jaya sebenarnya juga sangat terpukul mendengar penuturan dari dokter tadi. Tapi sebisa mungkin ia tetap tegar karena masih ada sang istri yang harus ia jaga dan perhatikan. Ia tak mau karena dirinya ikut terpuruk dan terus memikirkan Orla, ia sampai melupakan sang istri yang bisa saja istrinya itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Orla saat ini. Dan jika hal itu terjadi, yang ada dia akan kehilangan salah satu dari mereka atau malah kehilangan keduanya. Kedua perempuan yang sangat berarti untuknya. Jadi Papa Jaya sebisa mungkin menjaga kewarasan dengan hati yang terus berdoa agar Orla bisa melewati masa kritis dan segera tersadar dari komanya.