
Erland melirik kearah kliennya yang tengah memberikan kode kepada sekertarisnya untuk menyeret satu kursi agar menaruhnya tepat di samping kursi yang tengah Erland duduki. Sang sekretaris yang mengerti akan kode CEOnya pun dengan cepat melakukan perintah yang sudah di berikan. Dimana saat kuris tersebut baru saja ditaruh tepat di samping Erland, saat klien perempuan tersebut ingin duduk, entah karena jahil atau memang sengaja melakukannya, Erland menendang kursi tersebut tanpa beban hingga kursi itu melayang cukup jauh dari tempatnya sebelumnya. Bertepatan dengan melayangkan kursi tadi, suara rintihan dari seseorang terdengar saat bokong berisinya menghantam lantai di ruangan tersebut.
Brakkk!
"Awsss!" rintihnya yang membuat semua orang terkecuali Erland menatap kearah klien perempuan itu.
"Astaga nona," ucap sang sekertaris terkejut dan dengan cepat ia membantu sang atasan untuk berdiri. Sedangkan Afif yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu terkekeh melihat adegan lucu yang baru saja terjadi. Erland, laki-laki itu tetap mempertahankan wajah datarnya.
"Nona, nona tidak apa-apa?" tanya sekretaris yang terlihat jelas di raut wajahnya jika dia tengah khawatir dengan kondisi atasannya.
Perempuan itu tampak menatap kearah sang sekretaris dengan senyuman di bibirnya sembari berucap, "Aku tidak apa-apa. Kamu tenang saja."
Respon yang diberikan oleh perempuan itu sangat-sangat berbeda dari sebelumnya. Jika ia tadi tak segan-segan untuk memarahi sang sekretaris tapi sekarang dia justru berperilaku lembut. Tentunya hal itu sangat memuakkan bagi Afif karena ia tau kenapa perempuan itu bisa merubah tabiat buruknya menjadi baik jika bukan karena sang bos, Erland. Jika dulu ayahnya yang mengejar-ngejar Daddy Aiden agar menjodohkan sang putri yang sekarang menggantikan posisi dia sebagai CEO kepada Erland tapi berakhir gagal karena sampai sekarang Daddy Aiden tidak memberikan respon apapun jadi kini giliran sang putri sendiri yang turun tangan. Sudah hampir dua tahun lebih perempuan itu mengejar-ngejar Erland dengan berbagai cara yang sudah ia lakukan namun tetap saja laki-laki yang saat ini sudah mengisi hatinya itu sejak mereka bertemu pertama kali, tak pernah memberikan respon baik kepadanya. Hanya tolakan saja yang di berikan Erland walaupun perempuan yang bernama Orla itu hanya ingin mengajak makan bersama di luar pertemuan mereka sebagai rekan bisnis. Tapi Orla merupakan perempuan pantang menyerah, ia akan terus berusaha agar Erland luluh kepadanya.
Setelah mengucapakan hal tersebut kepada sang sekretaris, dengan rasa sakit yang masih ia rasakan Orla mendekati Erland dengan kerucutan di bibirnya. Ia pikir Erland akan merasa gemas dengannya begitu? Sayangnya Erland tak gemas sama sekali dengan apa yang tengah Orla lakukan.
__ADS_1
Erland masih tetap menatap lurus kedepan dengan kedua tangannya yang kini ia lipat di depan dadanya dengan kaki yang sebelumnya ia gunakan untuk menendang kursi Orla, ia letakkan diatas kakinya yang lain. Terkesan sangat angkuh dan tak tersentuh.
Orla yang tak di lirik sedikitpun oleh Erland, ia merasa kesal setengah mati namun dirinya harus tetap menahan kekesalannya itu. Tapi tetap saja ia ingin protes tentang Erland yang dengan teganya membuat dirinya terjatuh.
Saat Orla sudah membuka bibirnya, bersiap untuk bersuara, bibirnya di buat terkatup kembali saat Erland lebih dulu angkat suara.
"Lakukan seperti yang sudah di jadwalkan. Saya tidak memiliki waktu lebih hanya untuk mendengarkan ocehan yang tidak bermutu!" Ucap Erland penuh dengan penekanan.
Dimana hal tersebut membuat Afif dan sekertaris Orla langsung mengambil posisinya.
Sedangkan Orla, perempuan itu diam-diam mengepalkan tangannya.
"Apakah anda tuli sehingga tidak mendengarkan apa yang sudah saya katakan tadi? Jika tidak, duduk dan mulai apa yang akan kita lakukan disini! Jangan membuang waktu saya!" tegas Erland yang membuat Orla terkejut sekaligus membeku, sebelum ia tersadar dari keterkejutannya tadi dan langsung bergegas menuju ke salah satu kursi yang tak terlalu jauh dari posisi Erland duduk saat ini. Dan dengan kesal, ia mendudukkan tubuhnya di kursi tersebut. Kemudian dengan tatapan tajamnya ia menatap kearah sang sekretaris agar memberikan proposal kepada Erland dan sekertarisnya.
Dengan takut-takut sekretaris tersebut menganggukkan kepalanya kemudian ia segara membagikan proposal tentang perkembangan proyek yang tengah dua perusahaan itu jalankan. Lalu setelahnya, seperti perintah Erland tadi, mereka mulai membahas tentang kelangsungan proyek tersebut tentunya dengan profesional.
__ADS_1
Memakan waktu 1 jam lamanya, akhirnya pertemuan dengan sang klien telah selesai.
"Baik, karena semuanya sudah kita bahas dan tidak ada hal yang sekiranya harus kita pecahkan, pertemuan ini saya rasa cukup sampai disini. Terimakasih atas kehadiran nona Orla dan sekertaris," ujar Erland dengan berdiri dari posisi duduknya sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan kedua perempuan tersebut sebagai bentuk profesional dalam bekerja. Jika tidak, ia tidak akan sudi untuk bersalaman dengan perempuan yang kurang belaian itu.
Orla dengan senang hati menerima uluran tangan dari pujaan hati. Bahkan senyum merekah ia perlihatkan.
"Terimakasih juga atas waktu yang sudah tuan Erland berikan. Semoga kedepannya kita bisa selalu menjalin kerjasama yang berakhir memuaskan," ujar Orla yang hanya dibalas dengan anggukkan kepala oleh Erland sembari laki-laki itu mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Orla. Namun perempuan itu sepertinya tak ingin melepaskan genggaman tangannya, terbukti dengan semakin Erland berusaha untuk melepaskan tangannya, Orla semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Erland menghela nafas lelah dan dengan tatapan tajam yang ia arahkan kepada perempuan dihadapannya itu, ia menghentakkan tangannya cukup keras hingga akhirnya tangannya itu bebas dari genggaman perempuan itu. Dan tolong ingatkan Erland untuk membasuh tangannya setelah ini.
Orla tampak mendesis merasakan tangannya yang sempat terkantuk di pinggiran meja. Tapi sayangnya Erland tidak peduli sama sekali dengannya padahal sudah dua kali laki-laki itu sudah membuat dirinya kesakitan tapi rasanya Erland seperti orang yang tidak memiliki salah apapun kepadanya. Lihatlah Erland, dia saat ini malah dengan santainya bersalaman dengan sang sekretaris. Hanya sesaat saja memang tapi itu sudah membuat hatinya panas.
"Kalau begitu saya permisi," ujar Erland sebagai kata undur diri sebelum dirinya benar-benar pergi dari ruang meeting tersebut seorang diri karena Afif harus menunggu dua perempuan itu untuk pergi terlebih dahulu.
Dimana kepergian Erland, membuat Orla seperti orang kesetanan, ia mengacak-acak rambutnya dengan menggeram, "Arkhhhh sial sial sial, selalu saja respon yang dia berikan selalu seperti ini! Arkhhhh!"
__ADS_1
"Lihat saja nanti Erland akan aku buat kamu bertekuk lutut di hadapanku, memohon-mohon agar kita bisa bersama! Aku pastikan itu terjadi!" teriak Orla dengan menatap kearah pintu seakan-akan Erland saat ini masih berada di balik pintu tersebut padahal laki-laki itu sudah sampai di ruang kerjanya.
Setelah melupakan emosinya, Orla beranjak dari tempatnya berdiri. Dan tanpa mengucapakan sepatah katapun untuk berpamitan kepada Afif, ia main nyelonong begitu saja, melewati Afif yang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Namun tetap saja mulutnya yang seksi itu tak bisa menahan untuk tidak memberikan umpatan kepada perempuan yang sudah menghilang dibalik pintu, "Dasar wanita gila, murahan lagi. Bisa-bisanya di dunia ini ada wanita modelan seperti itu. Huh!"