
Hanya perlu waktu 5 menit saja Maura sudah keluar dari kamarnya dengan wajah yang memang sangat cantik dari sebelumnya. Maura memang tadi menghapus make-upnya tapi dia tidak lupa untuk mengoleskan lipstick serta maskara kembali agar wajahnya tidak terlalu polos, bagi Maura.
Maura tampak menghela nafas lega kala Erland masih duduk santai tak seperti tadi yang tiba-tiba pergi entah kemana.
"Aku sudah siap, Er," ucap Maura yang membuat Erland mengalihkan pandangannya dari ponsel ditangannya ke arah Maura yang berdiri disampingnya.
Erland tampak tersenyum lalu berdiri dari duduknya tak lupa ia menyimpan ponselnya di saku celananya.
"Berangkat sekarang?" tanya Erland yang diangguki oleh Maura.
Dimana hal tersebut membuat tangan Erland kini bergerak untuk mengelus rambut Maura, kegiatan yang mungkin akan menjadi kebiasaan untuk Erland, jika dia tidak mengacak maka ia akan mengelus rambut Maura seperti saat ini sembari ia berkata, "Let's go, kita pergi sekarang."
Erland berjalan terlebih dahulu dari Maura diikuti oleh perempuan itu dibelakangnya.
Sesampainya mereka berdua disamping motor Erland, Erland meraih satu helm dengan bentuk yang sama kemudian ia memakaikan helm tersebut ke kepala Maura.
Maura yang mendapat perlakuan yang ia anggap romantis itu pun ia hanya bisa senyum-senyum di balik helm full face yang sekarang sudah terpasang di kepalanya itu.
Erland menatap penampilan Maura kala dirinya telah selesai memasangkan helm tersebut ke kepala sang istri. Entah untuk yang keberapa kalinya Erland menghela nafas hari ini. Ia cukup sadar jika menang pakaian Maura jauh dari kata layak untuk di kenakan. Semua pakaian yang berada di lemari perempuan itu tak ada yang tidak kekurangan bahan dan Erland melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Jadi Erland tidak heran jika Maura memakai pakaian yang cukup terbuka itu. Tapi terus terang saja Erland tidak akan pernah rela tubuh Maura dilihat oleh orang lain apalagi kaum Adam. Tapi Erland untuk saat ini belum bisa melarang Maura merubah penampilannya, takutnya Maura akan marah dan justru akan berubah pikiran yang tadinya mau berubah, menjadi tidak ada niat sama sekali untuk berubah. Mungkin Erland akan mencoba untuk memberitahu Maura sedikit demi sedikit yang tentunya tidak menyinggung perasaan Maura.
Erland yang tak memungkinkan membiarkan paha mulus Maura terekspos lebih lebar lagi kala naik keatas motor, dengan gentle Erland membuka jaket yang tengah ia kenakan saat ini, kemudian ia melingkarkan jaket tersebut ke pinggang Maura hingga jaket itu berhasil menutupi paha Maura sampai lutut.
__ADS_1
Erland tersenyum kearah Maura sembari ia berkata, "Besok pakai baju yang di bawah lutut ya. Kalau tidak yang pas sampai lutut, juga tidak apa-apa yang terpenting jangan diatas lutut karena aku yakin kamu akan lebih cantik dan cocok saat kamu memakai pakaian yang potongan pakaiannya lebih panjang dari sekarang."
Maura tampak menggigit bibir bawahnya namun tak urung ia menganggukkan kepalanya.
Erland yang melihat anggukan kepala itu pun ia segera memasang helmnya kemudian naik keatas motor sportnya itu.
"Naik," ucap Erland yang suaranya sedikit ia naikkan agar Maura mendengar ucapannya itu.
Maura tampak bingung, ia ingin naik dengan cara bagaimana? Pasalnya ini bisa dibilang pengalaman pertama kali untuknya naik diatas motor sport seperti ini. Karena dulu-dulu semua mantannya jika mengajak dirinya keluar, mereka pasti menggunakan mobil bukan motor.
Erland yang paham kebingungan Maura pun ia meraih tangan Maura, membawanya ke atas pundaknya.
"Pengang pundakku, injak footstep ini dengan kaki kirimu dan naik lah," ucap Erland memberikan langkah yang harus Maura lakukan.
"Pegangan," ucap Erland yang diangguki Maura. Dimana hal itu Maura justru menjadikan pundak Erland sebagai pegangannya.
"Ra, kamu tidak dengar aku suruh kamu apa?" heran Erland karena ia tak melihat adanya pergerakan dari perempuan tersebut.
Maura mencondongkan tubuhnya hingga kepalanya saat ini berada disamping kepala Erland sebelum dirinya berucap, "Aku dengar kok. Kamu nyuruh aku buat pegangan kan?"
Erland menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Nah ini aku sudah pegangan," ucap Maura dengan menepuk kedua pundak Erland yang membuat laki-laki itu sempat melongo. Tapi sesaat setelahnya terdengar suara decakan yang tentunya berasal dari bibir Erland.
"Ck, aku bukan tukang ojek Ra. Jangan pegangan disitu. Aku juga risih kalau kamu pegangannya dibahu."
"Eh kamu risih ya. Kalau gitu aku harus pegangan dimana?" tanya Maura.
Erland yang mendengar perkataan dari Maura itu, senyum lebar tercetak jelas di bibirnya namun sayang Maura tak bisa melihat senyuman itu yang terhalang oleh helm full face milik Erland.
"Er, kok diam aja sih? Aku kan tanya aku harus pegangan dimana?" ucap Maura kembali kala tak ada jawaban dari Erland.
Tapi bukannya menjawab ucapan Maura terlebih dahulu, Erland justru menghidupkan mesin motornya yang membuat Maura kini takut. Takut Erland akan menjalankan motornya itu secara mendadak yang berakhir ia akan terjatuh karena dia belum pegangan sama sekali.
Pikiran negatifnya itu seketika hilang begitu saja kala Erland mengambil kedua tangan Maura yang tadi sempat memegang erat sisi kaos hitam yang tengah ia kenakan saat ini. Erland melingkarkan tangan Maura ke pinggangnya sembari ia berkata, "Pegangan yang benar itu seperti ini. Aku jamin kalau kamu pegangannya seperti ini, kamu tidak akan pernah jatuh dari atas motor hingga kita sampai di tempat tujuan kita. Dan kalau kamu tadi pegangannya dipundak, aku tidak bisa menjamin kalau kamu tidak akan terjatuh di tengah jalan nanti. Jadi jangan di lepas pegangannya ini jika kamu tidak mau terjatuh."
Maura yang memang tidak pernah membonceng motor sport pun ia hanya mengangguk saja, menurut dengan apa yang diperintahkan oleh Erland. Tanpa ia curiga jika di balik perintah Erland ini ada maksud terselubung didalamnya yaitu dengan maksud jika Erland tengah mengambil kesempatan dalam kesempitan agar dirinya bisa dipeluk oleh Maura, kata lainnya Erland tengah modus.
Erland yang merasakan anggukan kepala dari Maura dan memastikan jika kedua tangan Maura tak lepas dari perutnya pun ia segara menjalankan motornya tersebut tentunya dengan kecepatan sedang mengarah ke lambat dengan tujuan agar Erland bisa merasakan pelukan itu lebih lama lagi. Tak lupa selama didalam perjalanan menuju ke toko buku, senyumannya tak pernah luntur dari bibir Erland. Mimpi apa dia semalam sampai Maura tidak menolak perintahnya kali ini dan hal itu benar-benar membuat mood baik Erland meningkatkan berkali-kali lipat dari sebelumnya.
"Modus ke istri sendiri gak papa kan ya? Gak dosa kan atau justru dapat pahala?" tanya Erland dari dalam hatinya.
...****************...
__ADS_1
Siapa nih yang bisa jawab pertanyaan dari bang Erland? Hayo. Bang Erland bisa aja ya modusnya. Oh ya terimakasih 50 Likenya walaupun tadi tidak woro-woro terlebih dahulu tapi kalian bisa mencapai target 50 Like sebelum jam 12 siang. Tepuk tangan untuk kalian semua yang sudah kasih like, yang gak kasih like jangan ditemenin. Canda 🤭 Bab ini juga jangan mau kalah dong, 50 Like sebelum jam 6 sore. Gimana kalian sanggup? Harus dong ya. Jangan lupa juga kasih HADIAH, VOTE, dan KOMENTARNYA. Love you ❤️ See you next eps bye 👋