PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 64


__ADS_3

Selama acara sarapan itu, Maura maupun Erland tak ada yang bersuara sedikitpun, mereka tampak asik dengan makanannya sendiri-sendiri. Tapi lebih tepatnya yang asik dengan makanannya hanyalah Erland karena kalau Maura, perempuan itu selalu curi-curi pandang kepada Erland yang tentunya tanpa sepengetahuan laki-laki tersebut yang tengah duduk di depannya itu.


Hingga saat Erland telah selesai dengan makanannya dan sudah beranjak dari tempat duduknya, Maura akhirnya bersuara, "Mau kemana?"


Erland menghentikan langkahnya dengan kerutan di keningnya.


"Kamu tadi bertanya aku mau kemana?" tanya Erland untuk memastikan apa yang ia dengar tak salah. Maura tampak menganggukkan kepalanya.


"Aku mau cuci piring," jawab Erland kala sudah memastikan jika yang ia dengar tadi tak salah sama sekali.


Tatapan Maura kini beralih kearah piring dan gelas yang ada di tangan Erland.


"Kenapa kamu tanya seperti itu? Mau nyuciin piring sama gelasku?" tanya Erland.


"Ahhhh itu hmmmm oke, baiklah. Aku akan mencucikan piring dan gelasmu. Taruh saja di wastafel," ujar Maura. Padahal dirinya tadi hanya refleks bertanya saja tanpa berniat untuk mencucikan piring Erland. Tapi tak apalah sekali-kali, toh Erland tadi juga sudah menggantikan dirinya membersihkan seluruh rumah ini. Lagian hanya cuci piring saja, sangat mudah dan tak membuang tenaga yang cukup banyak, tidak seperti saat dirinya membersihkan seluruh rumah ini.


Erland tampak menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Maura yang ia yakini jika ucapan itu adalah ucapan yang tak tulus dari hati perempuan itu sendiri.


"Sudah tidak usah. Biar aku sendiri saja yang cuci piring bekas makanku," ujar Erland kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.


Maura yang memang juga sudah selesai makan pun ia bergegas menyusul Erland. Dan saat dirinya sudah berada di sisi Erland yang sudah berdiri didepan wastafel, dengan cepat tangan Maura menyahut piring yang ada ditangan Erland. Sampai membuat Erland terkejut bukan main.


"Maura, apa yang kamu lakukan? Gimana kalau piringnya tadi sampai jatuh dan pecah?" tegur Erland. Ia tak masalah jika piring yang tadi sempat di rebut paksa oleh Maura itu pecah, yang akan jadi masalah jika piring itu pecah dan mengenai kaki Maura yang artinya istrinya itu nanti akan terluka kembali untuk yang ketiga kalinya. Dan hal tersebut tak pernah Erland inginkan. Sudah cukup Maura terluka karena kecerobohan dirinya sendiri dan tidak akan ada lagi luka tambahan lainnya hanya gara-gara alasan yang sama. Erland sebisa mungkin tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Maura yang mendapat teguran dari sang suami pun ia kini menundukkan kepalanya sembari berkata, "Maaf."


Erland tampak menghela nafas panjang, kemudian tangannya kini bergerak untuk meraih dagu Maura, menuntun agar istrinya itu menegakkan kembali kepalanya.


"Coba tatap aku sebentar," ucap Erland dengan suara yang sudah lembut kembali.


Dan seperti yang diminta oleh Erland tadi, Maura menatap lekat mata tajam namun sangat meneduhkan itu.


"Dengarin apa yang aku katakan ini. Aku tidak masalah jika piring yang sekarang ada di tanganmu itu pecah tadi. Aku tidak mempermasalahkan itu. Toh piring di rumah ini juga masih banyak. Aku hanya tidak mau kamu terluka karena ulahmu sendiri. Jika memang kamu berniat mau mencucikan piringku, seperti apa yang kamu ucapkan sebelumnya, minta baik-baik saja kepadaku. Aku pasti akan memberikannya jika memang kamu ikhlas melakukannya. Tapi kalau kamu tidak ikhlas lebih baik aku yang melakukannya sendiri karena aku tidak mau membebani kamu. Jadi lain kali kalau kamu mau mencucikan piringku atau mau melakukan apapun yang akan aku lakukan, minta baik-baik saja oke, jangan seperti tadi. Aku hanya tidak ingin karena ulahmu itu kamu terluka kembali," ujar Erland panjang lebar tak lupa ia pun memberikan senyumannya kala dirinya telah selesai berucap.


"Maaf." Hanya satu kata itu saja yang sedari tadi keluar dari bibir Maura. Dimana hal tersebut membuat Erland kini langsung memeluk tubuh istrinya itu, memberikan usapan lembut di punggung Maura sembari berucap, "Sudah tidak apa-apa. Aku hanya ingin kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi."


Maura kini menganggukkan kepalanya dengan satu tetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Namun dengan cepat ia hapus air matanya itu sampai tak meninggalkan jejak, agar Erland tidak tau jika dirinya sempat menangis.


"Kamu mau cuci piringkan? Gih, cuci piring sana. Aku ke kamar dulu," ucap Erland dengan memberikan usapan lembut di kepala Maura. Lalu setelahnya barulah ia beranjak dari hadapan Maura, namun baru tiga langkah saja kakinya itu terhenti kala suara Maura masuk kedalam indra pendengarannya kembali.


"Er, tunggu sebentar." Erland memutar tubuhnya agar posisinya berhadapan lagi dengan Maura.


"Kenapa?" tanya Erland.


Maura tampak menggigit bibir bawahnya, ia ragu untuk memberitahu Erland.


"Ra, kenapa?" tanya Erland kembali kala tak ada jawaban dari pertanyaan tadi.

__ADS_1


"Anu itu Er. Hmmmm sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Sebenarnya aku---aku kehilangan rekaman tata cara sholat yang telah kamu praktekan tadi kepadaku. Aku tidak tau kenapa rekaman itu bisa hilang. Tapi percayalah Er, kalau rekaman itu bukan karena aku sengaja menghilangkannya," ucap Maura yang akhirnya ia bisa jujur juga.


Erland menganggukkan kepalanya sebelum ia berkata, "Sudah tidak apa. Nanti aku belikan kamu buku tuntunan sholat saja."


Maura yang tadi sempat menundukkan kepalanya karena takut Erland akan marah kepadanya pun kepalanya kembali tegak kala mendengar ucapan Erland tadi.


"Er, kamu tidak marah?" tanya Maura. Erland menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Untuk apa aku marah? Kalau rekaman itu hilang ya sudah mau bagaimana lagi. Kalaupun aku marah tidak mungkin bisa mengembalikan rekaman itu lagi bukan? Jadi daripada aku marah-marah tidak jelas lebih baik aku memikirkan solusinya saja dan solusinya aku akan belikan kamu buku tuntunan sholat yang mungkin lebih mudah kamu pelajari," tutur Erland.


Maura kini tersenyum lebar. Ada kelegaan dihatinya kala dia melihat Erland tak marah sama sekali kepadanya.


"Terimakasih Er," ucap Maura sangat tulus dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam.


Erland membalas ucapan dari Maura tadi dengan anggukkan kepalanya tak lupa ia juga tersenyum kepada Maura.


"Apa hanya itu saja yang akan kamu katakan kepadaku?" tanya Erland. Tidak lucu kan kalau dirinya nanti sudah jalan lagi, langkahnya harus terhenti untuk ketiga kalinya karena panggilan dari Maura.


Maura tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu aku ke kamar dulu. Kalau ada apa-apa yang membutuhkan bantuanku, panggil saja aku di kamar," ucap Erland yang lagi-lagi dibalas dengan gerakan kepala oleh Maura.


Erland yang melihat anggukan kepala dari istrinya itu, ia kini melanjutkan langkah kakinya menuju ke kamarnya. Dimana kepergiannya itu tak luput dari pandangan Maura sampai tubuh Erland hilang di balik pintu, barulah Maura melakukan aktivitasnya.

__ADS_1


__ADS_2