PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 74


__ADS_3

Tangan Erland yang sedari tadi ia pukul ke pintu kamar Maura, terhenti saat pintu kamar tersebut sudah di buka oleh sang pemilik kamar. Namun jangan harap wajah bahagia yang Maura perlihatkan kepada Erland, tapi wajah yang sama seperti sebelumnya yaitu wajah murung.


Erland yang melihat wajah itu ia kini menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia menjadi bingung sendiri. Ia benar menebak bukan karena Maura sudah membuka pintunya seperti yang perempuan itu katakan tadi? Tapi jika memang benar, kenapa ekspresi wajah Maura tidak berubah sama sekali dan hal itu membuat Erland bingung sendiri. Namun seperti yang ia katakan tadi jika dirinya tidak akan menyiksa otaknya untuk memikirkan hal yang tidak berguna dan lebih baik dirinya saat ini bertanya agar lebih jelas.


"Kamu keluar dari dalam kamar berarti tebakanku tadi benar kan?" tanya Erland.


Maura yang berdiri didepan Erland, ia menatap wajah suaminya itu sebelum helaan nafas terdengar keluar dari hidung mancung Maura. Lalu setelahnya Maura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Erland tadi.


"Ehhh tebakanku ternyata benar. Tapi kalau benar kenapa muka kamu masih seperti itu? Kamu pikir dengan kamu seperti itu akan terlihat lucu gitu? Gak sama sekali, Ra. Kamu itu tidak ada lucu-lucunya," ujar Erland terlalu jujur.


Maura yang mendengar ucapan dari suami laknatnya itu ia mendelik tak terima. Dan dengan berkacak pinggang Maura berkata, "Kalau aku tidak lucu terus kenapa? Hah?! Masalah buat kamu. Toh yang punya wajah aku bukan kamu. Jadi terserah aku dong kalau aku mau mengekpresikan wajahku ini seperti apa karena itu hakku si pemilik wajah. Dan kamu sebagai orang yang melihat, lebih baik tutup mulut kamu itu. Kalaupun aku tidak lucu aku juga tidak peduli. Lagian lucuan juga perempuan penjaga toko buku tadi. Iya kan? Ngaku kamu!"

__ADS_1


Erland yang mendapat tuduhan itu pun ia melongo tak percaya. Apalagi saat ia mendengar kalimat terakhir yang Maura katakan. Kenapa Maura selalu menyangkut-pautkan Erland dengan pegawai toko buku tadi sih? Padahal Erland tidak menyinggung tentang perempuan itu? Sebenarnya apa yang terjadi sih dengan Maura? Kenapa Erland hari ini selalu salah di mata perempuan itu dan selalu di kaitkan dengan pegawai toko buku itu? Apa jangan-jangan Maura?


Erland kini menatap lekat manik mata Maura yang tengah berkobar penuh amarah itu. Entah tidak ada angin, tidak ada hujan, Erland berpikir jika Maura...


"Ra, kamu cemburu?" Ya, Erland entah kenapa bisa berpikir jika Maura sekarang tengah cemburu dengannya.


Maura tampak memincingkan salah satu alisnya sebelum, "Hahahaha aku cemburu sama kamu? Untuk apa? Tidak ada gunanya sama sekali dan lebih baik jangan terlalu banyak bermimpi! Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah memiliki rasa ke kamu!"


Setelah mengucapakan perkataannya tadi, Maura memilih untuk beranjak dari hadapan Erland, berniat menuju ke dapur untuk mengambil air putih dingin untuk meredakan rasa panas di dirinya.


Saat Erland sudah sangat yakin dengan kesimpulannya itu, disisi lain Maura tengah menggerutu dengan mengambil botol air mineral dari dalam kulkas.

__ADS_1


"Mana ada aku cemburu dengan dia. Ngawur saja memang itu laki kalau bicara. Padahal aku sudah pastikan jika apa yang aku rasakan ini bukan rasa cemburu melainkan hanya merasa asing dengan sebutan mas itu. Dan aku juga tidak suka dia tidak memujiku. Padahal aku dulu sering mendapat pujian dari para laki-laki. Tapi sekarang dia dengan seenaknya malah ngatain aku jelek. Ck, sialan!" gerutuan Maura terus berlanjut hingga terhenti saat ia meminum air putih itu dari botolnya langsung. Namun saat dirinya baru meminum beberapa kali tenggukan, ia merasakan ada sepasang tangan yang memeluk dia dari belakang. Dan tak lama setelahnya terdengar suara seseorang tepat di samping telinganya.


"Kalau cemburu bilang saja. Aku tidak keberatan jika kamu cemburu denganku. Karena hal itu berarti kamu mulai peduli denganku. Dan jujur saja aku mengharapkan kamu memang cemburu denganku. Aku ini suami kamu, Ra. Jadi kamu berhak cemburu atas diriku," ucap Erland yang entah dapat keberanian darimana ia bisa memeluk tubuh Maura dari belakang seperti ini dan terkesan sangat romantis untuknya.


Maura yang mendapat pelukan mendadak serta mendengar suara Erland tadi ia hampir tersedak oleh air yang tengah ia minum itu.


Maura kini menaruh botol air mineral yang tadi berada ditangannya ke atas meja makan didepannya itu. Lalu setelahnya ia melepaskan pelukan Erland, memutar tubuhnya dan menatap tajam tepat di mata Erland.


"Aku tegaskan sekali lagi ya kalau aku tidak sedang cemburu kepadamu!" ucap Maura penuh penekanan.


Tapi Erland bukannya takut dengan aksi Maura itu, ia justru semakin mengembangkan senyumannya dan dengan kedua tangannya yang ia lipat di depan dada, dirinya berkata, "Kalau kamu tidak sedang cemburu lalu apa, hmm? Dan kenapa kamu selalu menyangkut-pautkan masalah ini dengan si pegawai toko buku itu, jika memang kamu tidak cemburu? Kenapa juga kamu mempermasalahkan dia yang memanggilku dengan sebutan mas? Memangnya ada yang salah dengan panggilan itu? Dan harusnya kalau kamu tidak cemburu yang berarti tidak memiliki rasa kepadaku, sikapmu biasa saja, Ra tidak seperti ini. Karena terus terang saja dengan sikapmu yang sepertinya ini, kamu dengan terang-terangan tengah menunjukkan rasa cemburumu itu kepadaku. Seakan-akan kamu itu berkata, kalau aku sedang cemburu sekarang! Dan untuk memastikan perasaanmu itu, lebih baik kamu bandingkan perasaanmu dulu yang tengah cemburu dengan mantan kekasihmu dengan perasaanmu yang sekarang. Jika kamu merasakan hal yang sama berarti kamu tengah cemburu sekarang."

__ADS_1


Maura tampak terdiam. Ia tadi sebenarnya juga meragukan perasaannya ini. Kalau dia merasa asing dengan sebutan mas kenapa rasanya hatinya tengah berkobar. Dan mungkin cara yang diberikan oleh Erland tadi harus Maura coba. Tapi Maura akan mencobanya saat sendiri agar ia bisa lebih khusyuk memikirkannya. Karena jika sekarang, bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu semua.


"Jangan terlalu percaya diri kamu, Er. Sudah aku katakan bukan, jika aku tidak sedang cemburu sama kamu. Jadi lebih baik kamu hentikan mimpi kamu itu. Jangan sampai kamu nanti bersedih karena kenyataan yang kamu hadapi tidak sesuai dengan harapan kamu. Karena aku tidak akan pernah berbohong ke kamu hanya untuk menyenangkan hatimu saja. Dan aku tegaskan sekali lagi, jika aku saat ini tidak tengah cemburu. Jadi stop hentikan mimpimu itu," ucap Maura dengan mantap lekat wajah Erland sebelum dirinya kembali beranjak dari depan laki-laki tersebut dan kali ini tujuannya pergi yaitu kembali ke kamarnya lagi, menutup rapat tak lupa ia kunci agar dirinya bisa tenang kembali.


__ADS_2