
Erland yang berada di negara lain, ia tampak menjambak rambutnya frustasi kala sambungan telepon dirinya diputus oleh Daddy Aiden.
"Sumpah demi apapun kalau aku mempunyai jurus membelah diri, aku akan membelah diriku menjadi dua. Yang satu disini dan yang satunya lagi di Indonesia. Lagian mana aku bisa bertanya sendiri ke Maura keadaan dia saat ini gimana jika aku saja tidak memiliki nomor dia. Lebih tepatnya nomorku diblokir sendiri oleh Maura. Astaga, pusing pusing pusing sudah! Daddy juga kenapa gak langsung kasih tau saja sih arkhhhh, sialan," ucap Erland yang tak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri untuk tidak mengumpat. Bayangkan saja kalau masalah tentang perusahaannya saja belum bisa ia atasi, sekarang ia mendapat masalah baru dengan sang istri. Ya Tuhan, rasanya Erland ingin menghilang saja dari muka bumi ini sekarang juga. Kepalanya hampir meledak sekarang karena dua masalah yang datang secara bersamaan.
Erland kini menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Oke Erland. Tenang sebentar," ucap Erland untuk dirinya sendiri. Dimana perkataannya itu terus ia ucapkan sampai dirinya benar-benar tenang sekarang.
"Oke, pertama. Kamu harus menyelesaikan masalahmu dengan Maura terlebih dahulu. Dan kamu harus telepon, hmmm siapa? Tidak mungkin kan aku telepon Daddy, Mommy atau mertuaku? Karena jika aku menelepon mereka yang ada aku tidak bisa berbicara dengan Maura tapi malah kena omel sama mereka," ucap Erland dengan berpikir sesaat. Sampai akhirnya otaknya yang hampir meledak itu menemukan satu nama yaitu adiknya tercinta.
"Edrea! Ya, aku harus tanya ke dia. Karena Maura sekarang ada di rumah Mommy sama Daddy yang berarti dia juga bertemu dengan Edrea. Ya ya ya aku harus menghubungi dia sekarang juga," ujar Erland tanpa berpikir apakah Maura sudah mengetahui identitas aslinya atau belum. Biarkan saja Edrea sendiri yang memberikan alasan kepada Maura karena ia yakin adiknya itu tidak bodoh sehingga ia dengan gampangnya membongkar rahasianya itu.
Erland dengan cepat menghubungi Edrea dan hanya sekali saja ia mencoba untuk menelepon, telepon darinya langsung diangkat oleh Edrea.
📞 : "Halo bang! Kamu ada dimana sih? Gak tau apa kepergianmu itu bikin istri kamu bingung cariin kamu. Kalau ada masalah itu mbok ya diselesaikan dulu gitu lho jangan asal pergi aja. Kamu gak kasihan apa sama istri kamu yang seperti orang linglung?" cerocos Edrea. Ternyata menelepon adiknya tak jauh ne, dengan ia menghubungi sang Daddy tadi.
"Stop! Jangan bicara lagi. Katakan sama Abang kalau Maura sekarang ada bersama kamu kan?" ucap Erland yang tak ingin mendengar omelan dari Edrea. Sudah cukup, dirinya pusing. Jangan sampai adiknya itu semakin membuat dirinya pusing.
Edrea yang berada di sebrang sana tampak memutar bola matanya malas namun tak urung ia tetap menjawab pertanyaan dari sang Abang. Ia tau mungkin sebelum abangnya itu menghubungi dirinya, dia sudah menghubungi sang Daddy yang berakhir kena semprot oleh laki-laki paruh baya itu.
"Rea, cepat katakan!" Erland menuntut adiknya itu agar segera menjawab. Ia benar-benar tidak sabaran sekali. Dimana hal tersebut membuat Edrea diseberang sana berdecak.
📞 : "Ck, Edrea juga lagi mau bilang bang. Tapi Abang gak sabaran banget. Iya, Kak Maura ada sama Rea. Mau apa kamu hah? Mau bikin Kak Maura nangis lagi?" tanya Edrea tak santai.
"Berikan ponsel kamu ke Maura sekarang juga. Aku mau bicara sama dia," pinta Erland tanpa peduli perkataan Edrea yang sebelumnya.
📞 : "Gak mau ah nanti bang Er malah bikin nangis Kak Maura lagi."
"Edrea! Jangan bikin Abang semakin pusing! Berikan ponselmu ke Maura, cepat!" sentak Erland.
📞 : "Ck, iya iya. Tunggu sebentar!" balas Edrea kemudian ia segera mendekati Maura yang saat ini tengah bercanda gurau dengan si twins, anak Edrea tentunya.
__ADS_1
"Kak Maura. Ada yang mau bicara sama kamu, nih," ucap Edrea kala dirinya telah berada dihadapan Maura.
Maura tampak mengerutkan keningnya sembari berkata, "Siapa?"
"Ambil aja dulu ponselnya Rea. Nanti Kakak tau sendiri. Buruan gih ambil." Edrea menyodorkan ponselnya tadi kearah Maura berada. Maura yang sebenarnya masih bingung pun, ia tetap mengambil ponsel milik Edrea lalu setelahnya ia berjalan menjauh dari twins dan Edrea.
Dan setelah jauh, tanpa melihat layar ponsel Edrea, ia menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Halo, ini siapa ya?" tanya Maura.
Dimana Erland yang mendengar suara sang istri pun ia tampak menghela nafas lega.
📞 : "Ra, ini aku, Erland."
Tubuh Maura mematung ditempat saat mendengar suara sang suami. Air mata yang sedari tadi sudah tak keluar, saat ini keluar kembali. Katakan Maura cengeng karena itu memang benar adanya.
"Er---Erland. Kamu dimana sekarang? Maafin aku, Er. Aku tau aku salah tapi aku mohon kembalilah. Aku tidak tau harus berbuat apa jika tidak ada kamu. Aku sudah benar-benar ketergantungan dengan kamu. Er, maafin aku. Aku salah Er. Jangan hukum aku seperti ini. Aku terlalu takut sendirian disini. Pulang Er, aku mohon. Hiks," tutur Maura.
📞 : "Ra, jangan seperti ini. Kamu tidak salah. Jadi jangan minta maaf lagi ya. Aku yang salah disini karena tidak bisa mengontrol napsuku sendiri sampai berbuat nekat seperti semalam tanpa bertanya untuk memastikan ke kamu terlebih dahulu. Aku minta maaf, Ra. Aku minta maaf," ujar Erland tak terasa air matanya pun juga ikut keluar saat ini.
"Tidak kamu tidak salah. Aku yang salah Er. Aku---"
📞 : "Baiklah-baiklah aku memaafkan kamu. Tapi aku mau tau keadaan kamu sekarang gimana? Kamu baik-baik saja kan? Kata Rea kamu dari tadi menangis, benarkah begitu?" tanya Erland untuk memastikan.
Maura diam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan dari Erland tadi. Tapi walaupun ia tak menjawab, Erland juga sudah tau jawabannya.
📞 : "Ra, aku mohon jangan nangis lagi ya. Aku hanya pergi sebentar. Aku tidak akan meninggalkan kamu selamanya kok, hanya beberapa hari saja. Aku kan juga sudah memaafkan kamu. Jadi aku tidak mau melihat atau mendapat laporan dari Edrea jika kamu menangis lagi," ujar Erland yang diangguki oleh Maura. Namun sesaat setelahnya saat ia baru sadar jika anggukkan kepalanya itu tak bisa dilihat oleh sang suami, ia berkata.
"Baiklah. Aku tidak akan menangis lagi. Tapi kamu besok sudah pulang kan?"
Erland tampak tersenyum ditempatnya.
__ADS_1
📞 : "Untuk besok sepertinya aku belum bisa pulang."
"Kenapa? Memangnya rumah anak Daddy Aiden jauh sampai satu hari saja tidak bisa buat kamu pulang lagi?"
Erland tampak terdiam, ternyata semua keluarganya masih merahasiakan identitasnya.
"Erland," panggil Maura kala Erland tak bersuara.
📞 : "Hmmm ya. Rumah salah satu putra bosku sangat jauh. Jadi harus butuh beberapa hari didalam perjalanan. Jadi kamu sabar saja ya," pinta Erland. Dimana hal tersebut membuat Maura mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah kalau gitu, tidak apa-apa. Tapi kamu hati-hati ya disana," ujar Maura.
📞 : "Siap sayang. Oh ya Ra, gunakan uang yang aku berikan tadi untuk biaya makanmu selama aku tinggal. Jangan mencoba untuk masak, oke. Aku tidak mau kamu kenapa-napa," ucap Erland.
"Iya. Aku tidak akan memasak seperti perintahmu."
📞 : "Ya sudah kalau begitu aku tutup dulu ya teleponnya. Soalnya aku masih dijalan ini. Hati-hati dijalan kalau mau pulang ke rumah kita. Tapi kalau kamu mau menginap di rumah Mama sama Papa tidak apa-apa aku mengizinkan," ujar Erland.
"Tidak. Aku akan pulang ke rumah kita saja. Hati-hati dijalan. Aku tunggu kepulanganmu," ucap Maura dengan malu-malu kucing.
Tapi ucapan dari Maura itu membuat Erland diseberang sana semangatnya bertambah bahkan otaknya yang hampir meledak menjadi dingin kembali. Dan yang bisa memberikan pengaruh besar kepadanya siapa lagi jika bukan Maura, istri yang sangat ia sayangi itu.
Namun agar Erland tak kelepasan dan berakhir akan menggila, ia berdehem sesaat.
📞 : "Ehemmm. baiklah kalau begitu. Hati-hati ya. See you sayang. Assalamualaikum," ucap Erland menutup pembicaraan mereka berdua tadi.
Dengan pipi yang merona Maura menjawab, "See you. Waalaikumsalam."
Setelah balasan dari Maura tadi, sambungan telepon sepasang suami-istri yang selalu saja mengalami masalah itu tertutup juga. Dimana hal tersebut membuat keduanya tampak senyum-senyum sendiri. Oke fiks, sudah dipastikan jika sepasang suami-istri itu tengah dilanda yang namanya kebucinan.
...****************...
__ADS_1
60 Like yukkk. Semangat untuk kalian itu semangat untukku. See you next eps bye 👋