PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 84


__ADS_3

Setelah mengatakan hal tersebut, Maura langsung menundukkan kepalanya. Ia sekarang akhirnya mengakui jika apa yang ia rasakan saat ini adalah sebuah kecemburuan setelah dirinya merenung dan memastikan perasaannya sendiri.


Sedangkan Erland yang mendengar pengakuan dari Maura, ia tersenyum puas. Akhirnya apa yang ia tunggu-tunggu terungkap juga. Dan dengan cepat ia melepaskan bungkaman Maura tadi, lalu kemudian ia memeluk tubuh Maura.


"Dari tadi kek bilangnya. Kalau kamu cemburu berarti kamu sayang sama aku kan?'' tanya Erland benar-benar ngelunjak ingin sekali diakui oleh Maura jika dirinya sudah menjadi kesayangan perempuan itu.


Tapi tak disangka-sangka, Maura justru menganggukkan kepalanya. Dimana hal tersebut semakin membuat Erland bahagia bukan kepalang. Namun ia harus memastikan sejak kapan istrinya itu memiliki rasa sayang kepadanya.


"Sejak kapan?" tanya Erland tanpa melepaskan pelukannya yang saat ini pelukan itu dibalas oleh Maura.


"Gak tau. Mungkin sejak saat aku mengacaukan rumah ini. Tapi aku saat itu belum sadar saja," jawab Maura yang membuat Erland semakin melebarkan senyumannya. Tidak peduli jika ia kebanyakan tersenyum dan membuat giginya kering nanti. Namun ucapan Maura selanjutnya membuat senyum di bibir Erland dengan cepat menghilang. Dan ucapan dari Maura adalah...


"Tapi Er, hubungan kita ini tidak bisa kita lanjutkan lagi."


Erland melepaskan pelukannya tadi.


"Kok kamu ngomong gitu? Memangnya kenapa tidak bisa di lanjutkan? Kalau kamu sayang sama aku dan aku juga memiliki rasa yang sama, kenapa tidak kita pertahankan? Kita juga sudah menikah Ra dan Allah sangat benci dengan yang namanya perceraian. Juga, apa kamu tidak ingat tentang perjanjian yang kita buat dulu kalau tidak akan ada kata cerai di pernikahan kita ini. Jadi aku menolak apapun yang membuat kita berpisah," ujar Erland dengan tegas diakhir ucapannya yang membuat Maura kini menggigit bibir bawahnya. Setelah ia menyadari perasaannya pun sebenarnya ia juga tidak mau berpisah dengan Erland. Tapi ingat, ia tak ingin dicap sebagai wanita pelakor dan lain sebagainya.


"Er, berpisah adalah jalan terbaik untuk kita berdua. Aku tidak mau menjadi benalu dalam rumah tanggamu dengan istri pertamamu itu. Biarkan aku mengalah sebelum perasaan kita lebih dalam lagi," ujar Maura.


Erland yang baru menyadari jika ada hal yang harus ia luruskan pun ia kini menghela nafas lega. Ternyata Maura ingin pisah dengannya karena perempuan itu masih menyangka jika Erland memiliki istri lain selain dirinya.

__ADS_1


Dan hal itu lagi-lagi membuat Erland kembali memperlihatkan senyumannya.


"Dengar baik-baik ya sayang. Aku akan menjelaskan kesalahpahaman ini. Mungkin masalah ini berawal dari kamu yang lihat aku di cafe you and me kan?"


Maura tampak terkejut darimana Erland tau cafe itu? Apa Erland mengetahui jika dia ada di tempat yang sama dengannya tadi? Astaga kalau iya, berarti Maura tidak memiliki bakat dalam hal memata-matai orang.


Erland yang melihat keterkejutan dari Maura, tangannya bergerak untuk mencolek hidung istrinya tersebut agar Maura sadar kembali.


"Perhatikan aku dulu, sayang. Karena aku tidak mau kesalahpahaman ini terus berlanjut dan tidak ada titik terangnya sama sekali. Dan keterdiaman kamu itu aku anggap sebagai jawaban ya. Nah aku akan mulai meluruskan apa yang kamu lihat tadi. Jadi perempuan yang bersamaku adalah adikku lebih tepatnya adalah saudara kembarku dan kedua anak laki-laki tadi adalah anak dia dan suaminya. Kebetulan dia dapat jodoh orang luar negeri jadi dia tinggal di negara orang. Kehidupan dia yang awalnya juga hidup sederhana berubah total saat dia menikah karena memang suaminya adalah orang kaya. Jadi kamu tidak perlu kaget lagi kenapa penampilan dia terkesan mewah. Nama dia, Edrea. Kalau kamu tidak percaya aku tunjukkan foto kita berdua waktu muda dulu," ucap Erland sembari merogoh ponselnya kemudian dengan cepat ia mencari foto kebersamaan dia dengan Edrea. Dan untung saja wajah mereka berdua tidak ada yang mirip seperti kedua orangtuanya yang tentunya masih akan aman kalau Erland memperlihatkan foto mereka berdua.


"Nah, ini lihat. Ini foto ketika kita waktu SMA." Erland menyodorkan ponselnya kehadapan Maura yang membuat perempuan itu kini bisa melihat foto tersebut.


"Tapi tunggu dulu. Ada hal yang perlu aku tanyakan ke kamu," ucap Maura yang membuat Erland mengerutkan keningnya.


"Mau tanya apa hmmm?" kata Erland dengan tangannya yang kembali ia lingkarkan di pinggang Maura. Dan sumpah demi apapun apa yang dilakukan oleh Erland membuat jantung Maura berdebar hebat.


"It---itu anu hmmm, a---apa kamu tadi melihatku di cafe you and me?" tanya Maura dengan menundukkan kepalanya, menyembunyikan semburat merah muda di kedua pipinya.


Tapi hanya berselang beberapa detik saja kepalanya itu tertunduk sebelum Erland memegang dagunya dan membawa kepala itu agar tegak kembali. Bahkan agar wajah mereka saling berhadapan lagi.


"Kamu hanya tanya itu saja?" Maura menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu akan aku jawab kalau memang aku melihat kamu di dalam cafe itu. Bahkan saat kamu baru tiba di cafe, aku tau kamu ada disana." Maura mengerutkan keningnya.


"Apa maksud dari perkataan kamu itu kalau kamu sebenarnya mengikutiku?" tanya Maura.


"Hmmmm bisa jadi. Tapi lebih tepatnya aku menyuruh seseorang untuk mengikuti kemanapun kamu pergi tanpa kamu sadari."


"Seseorang?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Hmmmm dan orang itu adalah Bayu yang mengantar kamu kemanapun kamu pergi tadi. Dia juga yang melaporkan semua apa yang telah kamu lakukan di luar sana. Mulai dari kamu yang datang ke toko buku untuk melabrak seseorang tapi berakhir kamu bertengkar dengan para karyawan di toko itu dan kamu juga---" Ucapan Erland terhenti kala teriakan Maura terdengar di telinganya.


"Stop hentikan. Jangan bahas itu lagi. Bukan saatnya membahas kesalahanku itu karena saat ini yang perlu di bahas itu ulah kamu yang sudah berhasil bikin aku naik darah. Mana tadi pakai nangis-nangis segala lagi, Ck." Muara mengerucutkan bibirnya.


Erland yang melihat hal itu pun ia terkekeh kemudian tangannya mencubit pelan salah satu pipi Maura yang sangat-sangat menggemaskan itu sebelum dirinya berucap, "Maafkan aku. Gak lagi-lagi deh buat kamu darah tinggi."


"Awas saja kalau sampai ngulangi hal yang sama seperti tadi. Tapi btw, apa semua ini adalah skenario yang kamu buat hanya untuk membuat aku cemburu?" tanya Maura yang masih penasaran apakah kejadian tadi disengaja atau tidak.


"Hmmm, benar sekali semua yang terjadi hari ini adalah skenario dariku kecuali saat kita di toko buku tadi ya. Itu bukan termasuk kedalam rencanaku sama sekali," jawab Erland yang membuat Maura memelototkan matanya.


Erland yang melihat pelototan mata dari sang istri pun ia nyengir kuda. Ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Jadi untuk menghindari kemungkinan yang akan terjadi, Erland melepaskan pelukannya dan setelah ia menjauh dari Maura, bahkan ia kini sudah kabur dari dalam kamar sang istri, bertepatan dengan hal itu suara nyaring Maura terdengar memenuhi kediaman mereka berdua.


"Erland! Sini kamu! Aku akan menghukummu!"

__ADS_1


__ADS_2