PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 133


__ADS_3

"Tunggu. Tunggu sebentar. Kamu tadi bilang apa sayang? Coba ulangi lagi. Takutnya aku tadi salah dengar," ucap Mama Rina masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar sembari tangannya ia usap-usapkan ke kedua telinganya.


Papa Jaya menggelengkan kepalanya, "Kamu tidak salah dengar sayang. Aku tadi memang berniat mengajak kamu untuk pergi ke kediaman keluarga Abhivandya, meminta Erland untuk menikahi Orla, menjadikan dia sebagai menantu kita seperti yang kamu mau tadi."


Dengan seketika mulut Mama Rina terbuka lebar dan matanya melotot sempurna.


Dimana hal tersebut membuat Orla mencebikkan bibirnya sebelum tangannya bergerak, mengusap wajah sang Mama, "Mama kenapa sih sampai reaksinya lebay kayak gini? Mama gak mau ya ikut Papa buat melamar Erland untuk Orla? Padahal Mama tadi bilang kalau mau menjadikan Erland menantu Mama. Dan cara itu adalah satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini."


Mama Rina menolehkan kepalanya kearah sang putri.


"Kamu yakin hanya ada cara itu saja?" Tanpa ragu Orla menganggukkan kepalanya.


"Tapi gimana kalau kita di tolak sama keluarga Abhivandya?" tanya Mama Rina, mencoba mengungkap kekhawatiran yang melanda dirinya.


"Tidak akan. Mama tenang saja. Mereka tidak akan menolak niat baik kita. Jadi Mama mau ya, please." Orla menangkupkan kedua tangannya kedepan dada dengan memperlihatkan wajah memelasnya.


"Tapi La, bukannya---"


"Ya sudah kalau Mama tidak mau. Biar Papa saja yang pergi untuk melamar Erland. Kalau sampai Erland menerima lamaran Papa dan kita berdua akhirnya menikah, aku tidak akan memberikan sedikit uang Erland untuk Mama nanti. Aku akan membagi kekayaan Erland sama Papa saja," ucap Orla dengan bersedekap dada.


Mama Rina mendelik tak terima dan dengan melayangkan sebuah pukulan yang mendarat tepat di lengan Orla, ia berkata, "Enak saja kamu. Mama juga harus kebagian dong. Masak kamu sama Papa kamu saja yang kecipratan harta Erland. Gak, Mama gak terima. Mama juga mau!"


Orla meringis, Mamanya itu memang sangat ringan tangan sekali jika bersama dengan dirinya.

__ADS_1


"Makanya kalau Mama juga mau harta dari Erland, Mama juga harus ikut melamar Erland besok. Jangan cuma mau enaknya aja dong. Harus ikut usaha," tutur Orla.


"Benar apa kata Orla, Ma. Kalau kita menginginkan sesuatu, kita kan harus usaha dulu. Tentang hasilnya, pikir saja nanti. Tapi aku sangat yakin sih, keluarga Abhivandya kan sudah kenal kita sejak lama. Kamu juga teman arisan Della yang otomatis kalian juga saling kenal. Kalau sampai Erland menolak kita yang ada mereka nanti akan malu sendiri dong. Dan kalau hal itu terjadi pasti Della merasa tak enak hati dengan kamu yang berakhir dia nanti akan membujuk Erland sampai dia mau menikah dengan Orla. Itu sangat membantu kita lho sayang," timpal Papa Jaya yang membuat sang istri tampak menimbang-nimbang ide yang putri dan suaminya rencanakan.


"Huh, baiklah. Aku setuju dengan ide kalian. Demi warisan dari keluarga Abhivandya akan aku lakukan berbagai cara untuk mendapatkan Erland," ucap Mama Rina dengan semangat yang membara.


"Nah gitu dong dari tadi. Jadi besok kita mau ke rumah keluarga Abhivandya jam berapa?" tanya Orla tak sabaran.


"Mungkin sore hari saja kita kesananya. Kalau pagi yang ada Erland akan sibuk dengan urusan kantor dia dan belum tentu juga Aiden sama Della ada dirumah," usul Papa Jaya.


"Hmmm boleh juga tuh Pa. Oh ya kalau begitu Orla besok libur kerja ya. Mau beli dress baru. Ya kali mau melamar pujaan hati pakai pakaian Orla yang lama." Papa Jaya hanya bisa menganggukkan kepalanya, memberikan izin kepada sang anak. Tentunya hal tersebut membuat Orla tersenyum lebar.


"Heyyyy kamu tidak mau mengajak Mama, beli baju baru? Mama juga harus tampil cantik lho di hadapan besan."


Dengan antusias Mama Rina menganggukkan kepalanya sembari membalas pelukan dari Orla. Sedangkan Papa Jaya, ia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dua perempuan kesayangannya yang hanya akan kompak jika di suruh berbelanja.


Sedangkan disisi lain, Erland baru sampai di kediamannya. Kedua tangannya kini sudah membawa bahan makanan yang sudah ia beli tadi. Dan saat dirinya ingin menurunkan salah satu kantong plastik di tangannya agar ia bisa membuka pintu utama rumah tersebut. Belum juga kantong plastik itu menyentuh lantai, pintu dihadapannya sudah di buka terlebih dahulu dari dalam. Menampilkan Maura dengan senyum termanisnya.


Senyuman Maura mampu membuat Erland yang tadi cemberut karena ia merasa jika hari yang ia lalui hari ini sangat sial baginya, kini kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman.


"Selamat datang sayang. Sini aku bantu bawa," ucap Maura dengan meraih kantong plastik yang berada di tangan kanan Erland. Namun dengan cepat Erland langsung menjauhkan tangannya agar tak bisa di gapai oleh Maura.


"Tidak perlu sayang. Aku masih kuat hanya membawa bahan makanan ini saja. Kamu cukup bantu aku untuk menata bahan makanan ini nanti di kulkas," kata Erland.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Silahkan masuk," ujar Maura dengan membuka lebar pintu rumah tersebut supaya Erland bisa masuk.


Maura berjalan mengikuti Erland yang lebih dulu melangkahkan kakinya menuju ke arah dapur.


Dan saat mereka berdua telah sampai, Erland meletakkan dua kantong plastik yang cukup besar itu di atas meja makan.


Maura mendekati Erland, mengusap lembut lengan sang suami sembari berkata, "Lebih baik kamu mandi dulu. Biar aku sendiri yang menata bahan makanan ini."


Erland bersiap menolak perintah dari Maura tadi. Namun jari telunjuk Maura lebih dulu mendarat di bibirnya. Hingga bibir Erland yang ingin terbuka, kembali terkatup.


"Stttt gak boleh protes. Kalau protes tidak ada jatah untuk satu minggu." Erland yang mendengar ancaman dari Maura, ia hanya bisa menghela nafas panjang. Ini lah yang menjadi kelemahannya sekarang. Dimana Maura yang sudah tau kelemahannya pasti akan menggunakan kelemahannya tersebut untuk mengancam dirinya. Licik sekali memang istrinya itu.


Erland menjauhkan jari telunjuk Maura dari depan bibirnya. Lalu tangannya bergerak, mencubit pelan hidung Maura hanya sesaat saja sebelum ia melepaskan cubitannya itu sembari berkata, "Sekarang sudah berani mengancam ya? Tapi tidak apa-apa karena kamu perempuan kesayanganku, maka aku akan membiarkan kamu terus mengancamku se-maumu. Aku akan mandi dulu. Nanti kalau aku sudah selesai mandi dan kamu belum selesai membereskan semua ini. Aku akan membantumu. Terimakasih dan Love you, kesayangan."


Erland mengecup sekilas bibir milik Maura sebelum dirinya berlari menuju ke kamar mereka berdua, sebelum Maura nanti mengamuk kepadanya.


Padahal Maura saat ini tengah tersenyum melihat tingkah Erland, ia tak berniat marah sama sekali dengan suaminya itu. Memangnya alasan ia marah apa? Karena di cubit hidungnya? Tidak, Maura tidak marah karena cubitan dari Erland sama sekali tak ia rasakan. Karena Erland sudah mencuri ciumannya? Tentu saja Maura tidak marah sama sekali, ia justru senang Erland mencium dirinya karena ia bisa merasakan ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya.


Dan dengan memegang dadanya yang terasa berdetak sangat kencang Maura membalas ucapan dari Erland tadi, "Love you too kesayangan."


...****************...


Ciaaaa elah yang nulis senyum-senyum sendiri 🤭 Dan ya seperti yang aku janjikan kemarin aku double up hari ini yey. Kalau kalian mau aku up lebih, yuk kencengin lagi LIKENYA, 70 LIKE. VOTE, KOMEN dan kalau bisa HADIAHNYA YANG BANYAK🤭 biar sekali-kali masuk 10 besar rangking hadiah😂 semoga aja ya harapan ini kesampaian hihihi🤭 kalau hal bisa gak papa aku gak akan marah sama kalian. See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2