PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 170


__ADS_3

Masih dengan jantung yang berdegup kencang, Mama Dian berlari menuju ke balkon kamar Maura. Berhenti tepat di tempat sambungan kain yang menjuntai ke bawah, Mama Dian tanpa menolehkan kepalanya kearah samping kiri dan kanannya, ia justru menatap kearah bawah. Ia benar-benar takut jika putri satu-satunya itu ingin kabur atau lebih parahnya bunuh diri. Tapi saat dirinya melihat kearah bawah, ia tak menemukan seorang pun dibawah sana. Ia hanya bisa melihat keranjang pakaian kotor yang ternyata juga diikat tepat di ujung kain yang ada di bawah sana.


"Itu keranjang kenapa ikut di ikat dengan beberapa kain ini? Apa manfaatnya coba? Gak mungkin kan Maura turun dengan masuk kedalam keranjang itu dulu, yang ada dia akan wasallam sampai bawah," gumam Mama Dian yang merasa aneh serta bingung dengan cara Maura yang ia pikir tengah melarikan diri itu.


Tapi pertanyaan-pertanyaan serta dugaan Mama Dian terjawab sudah ketika...


"Lho Mama kok ada disini?" Mama Dian terdiam sesaat sebelum ia memutar tubuhnya menghadap ke belakang tubuhnya. Saat ia sudah menghadap belakang, matanya terbuka lebar ketika ia melihat orang yang ia curigai tengah melarikan diri itu justru saat ini berada di hadapannya.


"Lho kok kamu ada disini?" ucap Mama Dian yang membuat Maura mengerutkan keningnya bingung.


"Lah kan Maura emang dari tadi ada disini. Hanya saja tadi Maura sempat ke kamar mandi buang hajat," jawab Maura.


"Kamu dari tadi ada disini?" Dengan mantap Maura menganggukkan kepalanya.


"Kamu gak kabur?"


"Hah? Kabur?" tanya Maura tak paham.


"Iya. Kamu gak jadi kabur?" Maura semakin bingung dibuatnya.


"Kabur apaan sih Ma? Orang Maura gak mau kabur dan gak punya niatan buat kabur juga. Lagian kalau Maura kabur yang ada Maura mati di jalanan karena Maura masih jadi anak yang manja. Gak tau cara cari uang itu gimana. Lagian kurang kerjaan banget kabur-kaburan segala, habisin tenaga tau gak," balas Maura sembari mendekati tubuh Mama Dian yang masih diam di tempatnya.


"Kalau kamu memang tidak mau kabur atau tidak ada niatan untuk kabur, lalu dengan kain menjuntai ke bawah ini untuk apa?" tanya Mama Dian penasaran sembari menunjuk kearah sambungan kain tersebut.

__ADS_1


Maura mengikuti arah tunjuk Mama Dian. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Oh kain itu Maura pakai untuk---" Belum sempat Maura menyelesaikan ucapannya, suara lonceng terdengar yang otomatis membuat senyum Maura terbit. Tanpa menyambung ucapannya tadi terlebih dahulu, Maura justru semakin mendekati besi pembatas balkon, menundukkan kepalanya kearah bawah. Dan tak berselang lama terdengar, "Non, kupat tahu, pecel, sama sotonya sudah saya taruh di dalam keranjang ini. Untuk pesanan nona yang lainnya masih di cariin!"


"Siap mang. Terimakasih ya mang. Nanti kalau udah sampai yang lainnya, taruh di keranjang ini lagi dan bunyiin loncengnya!" balas Maura yang diangguki serta di acungi jari jempol oleh satpam yang menjaga rumah tersebut.


"Kalau begitu saya ke depan lagi Non." Maura menjawab dengan mengacungkan jari jempolnya. Dan setelah itu, satpam tadi kembali ke pos satpam lagi. Sedangkan Maura, ia langsung menarik kain yang di ujungnya terdapat makanan yang ia inginkan.


Mama Dian yang tadi juga sempat melihat ke bawah, ia melongo di buatnya.


"Jadi kain yang kamu sambung dengan keranjang di ujung kain ini kamu gunakan bukan untuk kabur tadi untuk mengambil makanan yang kamu mau?" tanya Mama Dian.


Maura menolehkan kepalanya sesaat kepada Mama Dian sebelum ia menatap kembali kearah keranjang yang sebentar lagi sudah bisa ia raih. Tapi tak lupa Maura juga membalas ucapan Mama Dian, "Tepat sekali."


Maura mengambil satu kantung plastik yang berada di dalam keranjang. Kemudian, ia kembali melempar keranjang itu ke bawah, menunggu makanan lain yang sudah ia pesan tadi tiba.


Lalu setelahnya, ia baru masuk kedalam kamarnya meninggalkan Mama Dian yang masih tak percaya dengan ide anaknya itu. Jika ia tau niat Maura itu, ia tak mungkin akan membiarkan otaknya berpikir yang tidak-tidak karena hasilnya ya seperti ini, tidak sesuai dengan apa yang ada di pikirannya.


Mama Dian tampak menghela nafas sembari menggelengkan kepalanya sebelum dirinya ikut masuk kedalam, menyusul Maura yang sudah duduk lesehan hanya beralasan karpet saja.


Mama Dian yang sudah duduk di samping Maura yang sudah mulai memakan makanan itu, ia berkata, "Kenapa harus pakai cara seperti itu sih, Ra? Kan kamu bisa keluar kamar dulu untuk meminta tolong sama mang Adin untuk cariin makanan kamu dan bisa tunggu sebentar di bawah sampai makanan kamu datang. Kamu tau apa yang kamu lakukan itu tidak sopan," ujar Mama Dian mulai menasehati Maura.


"Ck, tapi kalau Maura harus turun dulu, Maura pasti ketemu sama Erland. Maura kan sudah bilang kalau Maura tidak mau bertemu dengan dia lagi. Jadi untuk menghindari dia, lebih baik Maura melakukan hal seperti tadi. Maura juga tau kok kalau apa yang Maura lakukan ini tidak sopan. Tapi tidak apa-apa lah sekali doang dan Maura juga tidak akan mengulangi lagi," balas Maura dengan mulut yang penuh dengan makanan.

__ADS_1


"Telan dulu kalau mau bicara itu. Tidak baik bicara ketika makanan masih banyak di mulut. Takut tersedak. Dan kalau kamu tau apa yang kamu lakukan itu adalah tindakan yang sangat salah dan kamu tidak mau mengulanginya lagi. Baiklah Mama maklumi kamu. Tapi jika kamu ulangi lagi, Mama tidak akan segan-segan buat hukum kamu. Kamu mengerti?" Maura memutar bola matanya malas. Dan dia hanya menjawab ucapan dari Mama Dian tadi dengan deheman saja. Kemudian ia kembali fokus kearah makanan-makanan itu.


Sedangkan Mama Dian, ia lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Namun Mama Dian cukup senang kala melihat Maura memakan makanannya dengan lahap. Tapi tunggu dulu, sepertinya ada yang salah dengan penglihatannya. Hingga Mama Dian kini mengucek matanya. Namun yang ia lihat masih sama. Ia terus mengulanginya kembali sampai 3 kali dan barulah ia percaya jika apa yang ia lihat itu nyata. Lalu ia berkata, "Tunggu dulu sebentar, Ra."


Maura menolehkan kepalanya dengan mulut yang sibuk mengunyah.


"Kamu gak salah pesan kan?" Maura mengalihkan pandangannya kearah makanannya kembali sebelum ia menggelengkan kepalanya.


"Kamu yakin?" Maura menganggukkan kepalanya. Dan dengan sudah payah, Maura menelan makanannya. Setelah makanan itu tertelan, ia baru angkat suara, "Yakin 100% Mama. Lagian kenapa sih? Ada yang salah gitu Maura pesan makanan ini?"


Mama Dian menganggukkan kepalanya.


"Bukan salah lagi, Ra tapi ini cukup mencengangkan. Kamu makan soto, oke memang tidak ada yang salah. Tapi kesalahannya itu ada di dua makanan ini. Kamu tidak lupakan kalau kamu itu paling tidak suka dengan yang namanya kacang. Entah kacang apapun itu? Dan kamu juga tidak lupa kan kalau kamu itu benci banget sama ketupat?"


"Iya, Maura ingat. Terus?"


"Terus di dua makanan ini yang satu ada ketupatnya, yang satunya lagi ada campuran kacangnya. Kamu tau kan?" tanya Mama Dian yang diangguki oleh Maura.


"Iya Maura tau kok Ma."


"Kalau tau, kenapa kamu beli makanan yang kamu tidak suka?" tanya Mama Dian yang dibalas dengan gedikkan di bahu Maura.


"Maura hanya pengen saja. Nurutin kata hati," kata Maura yang membuat Mama Dian dengan seketika terdiam dengan tatapan lurus kearah putrinya yang sudah kembali ke makanan-makanannya. Entah kenapa ia mencurigai satu hal yang saat ini tiba-tiba muncul di otaknya.

__ADS_1


__ADS_2